
"Bik...bibik!", teriak Silvy dari ruang makan. Mila yang sedang mengobrol dengan Alby pun tergopoh-gopoh menghampiri anak majikannya itu.
"Iya non, ada apa?", tanya Mila.
"Bik Mila, aku pengen sarapan nasi putih sama telor ceplok di kecapin! Buruan!", perintah Silvy.
"Baik non, sebentar!", kata Mila. Dia pun buru-buru ke dapur untuk membuatkan permintaan Silvy.
Tak sampai lima menit, apa yang Silvy minta sudah terhidang di hadapannya.
"Papa udah pergi dari pagi Bik?", tanya Silvy.
"Sudah non. Dari jam tujuh!", jawab Mila.
"Kalo A Alby? Dia ke kantor juga?"
"Ngga non, Alby ada di belakang."
"Kenapa ngga ke kantor sama papa?"
"Kan si Alby mah emang kerjaannya anter jemput non silvy."
"Oh...jadi di rumah dia dari pagi? Nungguin Silvy gitu?"
Mila tak menjawab hanya membatin.
Bukan nungguin situ, tapi perintah situ! Kalo udah setengah jalan ke kantor tiba-tiba minta di anterin ke kampus, repot kan???
"Ya...kan Alby mah ngga tahu jadwal non Silvy ke kampus!"
Silvy mengangguk lalu melanjutkan sarapannya.
"Kalo gitu, saya permisi non."
Silvy hanya mengangguk pelan. Tapi belum jauh Mila melangkah, Silvy memanggilnya.
"Ntar panggil A Alby ke ruang tengah ya bik. Kalo aku udah selesai makan!"
Mila mengiyakan dengan anggukan.
"By, nanti di suruh nemuin non Silvy di ruang tengah."
"Suruh ngapain ya teh? Emang dia ngga ke kampus?"
"Ngga tahu, mungkin siang kali ke kampusnya."
Alby memainkan gelasnya yang ada di meja.
"Apa saya pulang kampung aja ya teh! Beneran deh, saya mah ngga suka situasi kaya gini."
"Jangan grusa grusu By. Kita semua tahu seperti apa tuan Hartama."
"Kayanya lebih baik kamu diskusi sama istri dan ibu mu By. Berhadapan dengan tuan Hartama itu...ngga main-main lah!", Mila turut duduk di depan Alby. Ucapan mang Sapto cukup terngiang-ngiang di kepalanya.
"Solat istikharah Jang. Insyaallah nanti di kasih jawaban sama Gusti Allah."
Alby mengangguk. Poin-poin di surat perjalanan yang tuan Hartama buat sungguh sangat memberatkan pihak Alby.
"Bibik ....!", suara Silvy melengking dari dalam rumah induk.
"Jang, samperin non Silvy di ruang tengah deh. Hadapi semuanya! Bismilah saja ya By!", Mila menepuk bahu pria berusia menjelang tiga puluh tahun itu.
Dengan sedikit malas, Alby menemui Silvy di ruang tengah.
"Kata Teh Mila, non silvy panggil saya?", tanya Alby. Silvy yang sedang memainkan ponselnya pun mendongakkan kepalanya.
"Iya. Kenapa? Keberatan?", tanya Silvy dengan suara judesnya.
"Maaf non, ngga keberatan kok. Ada yang bisa saya bantu?", tanya Alby sopan.
Silvy tersenyum tipis.
"Gue udah bilang kan kemaren, gue suka sama Lo! Gue mau, Lo nikahin gue!"
__ADS_1
Alby menggeleng heran.
"Maaf non, bukan maksud saya menolak anda. Tapi anda tahu, saya pria beristri. Lagi pula saya hanya sopir anda! Masih banyak laki-laki yang jauh lebih pantas bersama anda."
"Tapi ...gue maunya Lo!", skak Silvy. Setelah itu, dia bangkit dari sofa menghampiri Alby yang sedang berdiri tapi tak berani menatap majikannya itu.
Dengan tiba-tiba, Silvy mengecup bibir Alby dengan cepat lalu mengabadikannya di ponsel pintarnya.
Alby terkejut dan spontan mendorong Silvy. Gadis itu pun terhuyung ke belakang.
"Awwww!", pekik Silvy.
"Maaf...maaf non, saya tidak bermaksud menyakiti anda", tangan Alby meraih pinggang Silvy.
"Lo udah kecewain gue! Gue jamin setelah ini, Lo bakal nyesel!", Silvy menunjuk wajah Alby dengan penuh emosi. Dengan tertatih Silvy menaiki tangga menuju kamarnya.
Alby mengusap kasar wajahnya. Bagi orang lain, mungkin sebuah anugerah di cium oleh seorang gadis. Tapi tidak bagi Alby, selain rasa berdosa nya ia juga merasa berkhanat pada sang istri.
"Astaghfirullah!", Alby meremas rambutnya. Masih dengan ekspresi yang sulit tergambarkan, Alby berjalan menuju belakang lagi.
"Kunaon Jang?", tanya Mila.
"Teh!", Alby menakupkan kedua tangannya di wajah.
Mila yang bingung pun menepuk bahu Alby.
"Ada apa?", Mila mengulang pertanyaan.
Dengan perlakuan, Alby menjelaskan kejadian yang baru saja ia alami dengan nona nya.
Teh Mila juga cukup tercengang mendengar cerita dari alby. Mendengarnya saja membuat Mila prihatin.
"Setelah ini, pasti tuan Hartama tidak akan tinggal diam By!", Mila mengusap bahu laki-laki itu.
Keduanya terdiam dengan pemikiran masing-masing. Di tengah 'kediamannya' ,ponsel Alby berdering. Alby dan Mila melirik nama yang memanggil.
"Tuan Hartama?", gumam keduanya. Lalu saling berpandangan.
"Angkat saja By. Hadapi semuanya dengan sabar !"
Dengan sedikit gemetar, Alby mengangkat telepon dari majikannya.
[Kamu, siap-siap menerima akibatnya Alby]
Suara Hartama terdengar begitu emosi.
[Tu..tuan...saya...]
[Tunggu saya di rumah!]
Sambungan telepon pun langsung terputus.
"Teh!", suara Alby bergetar.
"Sabar ya Jang."
Mila mencoba menenangkan Alby semampu nya. Tak lupa ia memberikan segelas air putih.
.
.
.
Aku menstater sepeda motor matic ku. Siang ini aku memang akan ke pasar untuk membeli bahan makanan. Tadi pagi mas Febri memberikan uang untuk belanja seminggu. Tentu saja tidak dengan cuma-cuma. Dia memberi beberapa daftar menu makanan. Apa-apa saja yang ingin dia pesan untuk seminggu ke depan. Sesaat, aku merasa seperti seorang istri yang sedang di nafkahi untuk belanja kebutuhan makanan keluarga. Tapi lagi-lagi aku berusaha berpikir positif, setidaknya aku bisa membantu mas Febri dan juga menyalurkan hobi memasak ku.
Aku memilih beberapa bahan yang akan ku eksekusi lima hari ke depan.
Di perjalanan pulang, sebuah mobil mengklakson ku terus. Aku pun menghentikan laju motor ku. Ku lihat mobil yang dari tadi menggangguku. Ternyata, Mas Febri dan kang Cecep yang ada di mobil tersebut.
"Neng Bia!", panggil Cecep.
"Eh...ya..kang Cecep."
__ADS_1
Aku tersenyum basa-basi.
"Dari mana neng?", tanya Cecep.
"Beres belanja di pasar kang. Buat stok , pesanan komandan mu!", aku menunjuk Febri dengan dagu ku sedikit ku gerakan.
Cecep menoleh ke komandannya yang sedang berada di balik kemudi.
"Biar saya bawa pake mobil aja belanjaannya",tawar Cecep.
"Ngga usah kang. Ngga susah juga kok", tolakku.
"Jangan nolak! Ambil aja cep!", perintah Febri.
"Punten ya Neng!", Cecep pun mengambil karung beras dan kantong keresek besar yang ada di motorku.
"Eh...kang...ngga....!"
Omongan ku tak di gubris. Ini semua ulah Mas Febri. Cecep hanya menjalani perintah komandannya, komandan sementara lebih tepatnya.
"Wes toh nduk. Angel kie dalane. Mberke ae di gowo mobil. Nek ga, Cecep bawa motor mu. Koe mrene, Melu mas wae."
(Sudah toh nduk. Susah ini jalannya. Biarin aja di bawa mobil. Kalo ngga, Cecep bawa motor mu. Kamu ke sini, ikut mas aja)
"Muaturun!", aku menaiki motorku langsung melesat meninggalkan kedua pria gagah itu.
"Eling atuh Ndan, istri orang!", nasehat Cecep.
"Ya eling lah Cep. Saya kan hanya meringankan bebannya. Tau sendiri kan tanjakan sana, kalo motor nya roboh terus belanjaannya jatuh semua gimana? Rugi kan saya?"
"Ya Allah Ndan, segitunya amat. Ucapan itu doa lho. Hati-hati!", kata Cecep.
"Apa sih cep! Udah ah...ayok buruan!", perintah Febri. Keduanya baru saja pulang dari kantor pusat di kota. Cecep mendampinginya komandan sementaranya untuk mengurus berkas-berkas penting.
Entah kenapa dadaku tiba-tiba nyeri. Apa sesuatu terjadi pada A Alby? Tanpa ku sadari, ternyata roda depan ku menginjak bongkahan batu yang cukup besar. Dan membuatku tiba-tiba oleng dan roboh.
Mobil Febri yang tak jauh dari motor Bia pun mempercepat lajunya.
"Astaghfirullah!", pekik Febri dan Cecep.
"Ndan! Apa saya bilang. Ucapan itu doa! Lain kali jangan ngomong yang enggak-enggak!", kata Cecep.
"Udah ngga usah ceramah. Buruan turun, bantuin Bia!", titah Febri.
Cecep dan Febri tergopoh-gopoh menghampiri ku. Cecep mengangkat motor ku, dan Febri membantu ku berdiri. Ada ras nyeri di pergelangan kaki ku.
"Apa ku bilang! Tadi udah mas tawarin kamu naik mobil mas aja kan!", kata Febri mencak-mencak seperti sedang memarahi adiknya sendiri.
Cecep memandangi dua orang yang ada di hadapannya.
"Bener neng, ikut komandan aja. Biar motor neng Bia Cecep yang bawa!", ujar Cecep.
"Tapi kang....!", ucapan ku terhenti saat Cecep melajukan motor ku.
"Buruan naik nduk!", perintah Febri. Aku berjalan tertatih masuk ke dalam mobil Febri. Sebenarnya ada rasa tak enak, tapi.... terpaksa.
"Udah, ngga usah mikir macam-macam."
Aku hanya terdiam.
"Ngga ada luka yang parah kan?", tanya Febri perhatian.
Aku menggeleng. Ku ambil ponsel di sakuku. Tak ada pesan dari si Aa. Tapi entah kenapa aku merasa terjadi sesuatu dengan A Alby.
"Ada yang kamu pikirkan?", tanya Febri yang dari tadi memperhatikan wajah mantan nya itu.
"Nggak."
"Kalo ngga, kok bisa roboh? Pasti melamun. Ada apa?", tanya Febri penuh perhatian.
"Ngga apa-apa", ku jawab singkat. Tak ada obrolan apa pun hingga kami sampai di rumah. Motor ku parkir di halaman rumah Febri dengan Cecep yang masih duduk di atasnya.
''Mas, kang!", panggil ku setelah aku turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Tolong jangan bilang Mak kalo aku habis jatoh, aku ngga mau Mak khawatir."
Kedua pria itupun mengangguk.