Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 96


__ADS_3

Menjelang tengah malam, aku merasa ada yang mengusap kepala ku. Aku yang tertidur di samping Alby pun mendongakan kepalaku. Kulihat Alby memandangi ku entah dengan pandangan apa. Tangannya tak berhenti mengusap kepala ku.


"A? Butuh sesuatu?", tanyaku. Alby mengangguk pelan.


"Minum!", katanya dengan suara lirih. Aku heran, kenapa Mak atau yang lain tak ada yang ke sini. Benarkah karena sudah ada aku?


Aku memberikan minuman mineral dengan sedotan. Alby meminumnya perlahan.


"Makasih!", ucap Alby lirih. Aku mengangguk untuk mengiyakan.


"Neng tahu Aa di sini dari mana?", suara Alby terdengar parau.


"Mas Sakti yang ngasih tahu tadi pagi."


"Dokter sakti?", Alby membeo.


"Iya, dia tugas di rumah sakit ini." Alby terdiam.


"Maaf!", kata Alby lagi.


"Ngga usah pikirkan yang lain dulu, kamu istirahat saja A. Kalau butuh apa-apa bilang aja!", kataku.


"Maaf sudah menyakiti mu, maaf sudah merepotkan mu neng!"


Aku tahu harus berkata apa kalo sudah begini. Di satu sisi, aku merasa iba dengan apa yang sedang di derita alby. Tapi di sisi lain....


"Masih tengah malam A, istirahat lagi aja!", pintaku. Alby menggeleng lemah.


"Aa ngga mau tidur lagi."


Aku mengernyitkan alisku.


"Kenapa?Ya udah, mau apa kalo udah terlanjur melek begini?"


"Aa ngga mau tidur lagi. Aa takut kalo nanti pas bangun, neng ngga ada. Aa mau neng di sini, sama Aa. Jangan pergi-pergi lagi dari Aa."


Ya ampun, apa segitunya dia takut ku tinggalkan?


"Aku bakal nemenin Aa sampe Aa sembuh!", kata ku. Tapi Alby malah menggeleng.


"Aa ngga mau sembuh. Kalo aa sembuh, neng punya alasan buat pergi dari Aa. Aa ngga mau!"


Ya Allah, sejak kapan dia melow begini sih? Apa karena efek sakitnya?


"Iya, aku ngga akan kemana-mana A."


Alby menyunggingkan senyumnya meski wajahnya masih terlihat pucat.


"Janji? Neng ga akan gugat cerai Aa?", tanya Alby memelas seperti anak kecil yang takut kehilangan mainannya.


Aku menarik nafas ku, lalu ku buang perlahan.


"Insyaallah, selama aku masih sanggup bertahan A. Tapi .. seperti yang aku bilang, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan."


Alby menggenggam tangan ku.


"Sampai kapan pun, neng cuma punya Aa. Cinta Aa cuma buat neng Bia seorang!"


"Ya udah istirahat lagi, masih malam A!"


Alby lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Dan mencoba mengangkat badannya agar tak terlalu berbaring.


"Mau duduk? Memang ngga sakit?", tanyaku.


"Dikit aja naikin!", ucap Alby. Aku pun menaikan hidrolik brankar agar Alby bisa sedikit tegak. Meski aku mendengar ia meringis menahan sakit di perutnya.


Posisi ku saat ini sedang berdiri di samping brankar.

__ADS_1


"Segini cukup?", tanyaku. Alby mengangguk.


"Cukup neng!", sahut Alby. Saat aku akan bersiap duduk lagi, Alby menahan ku.


"Apa?", tanya ku.


"Aa mau tahu keadaan anak kita neng. Boleh kan Aa usap perut neng?", tanya Alby menatap mataku. Aku pun mengangguk. Menuntun tangan Alby untuk menyentuh perut ku.


Telapak tangan kekar Alby mengusap perut ku yang sudah mulai mengeras.


"Udah mulai kelihatan neng?", tanyanya mendongak menatap ku. Karena posisi ku memang lebih tinggi. Aku mengangguk.


"Aa pengen cium perut neng! Gimana ?", tanya Alby.


"Lain kali saja A. Sekarang kondisi Aa belum memungkinkan!", tolak ku secara halus. Padahal sebenarnya bisa saja aku berbaring di sampingnya, tapi aku memilih untuk tidak melakukannya.


"Ya udah!", jawabnya lesu.


"Yang penting kamu udah pegang kan? Si utun juga tahu, kalo tadi tangan ayahnya!"


Alby sedikit menyunggingkan senyumannya.


"Kemari!", katanya.


"Apa?", aku mendekat ke kepalanya.


Alby meraih kepalaku, posisi ku yang sedikit membungkuk memudahkan Alby mengecup puncak kepalaku.


Ya, aku sangat merindukan kecupan penuh sayang ini darinya. Aku menarik diri darinya, tapi Alby kembali menahanku.


"Tolong! Bertahan lah sayang! Apa pun akan Aa lakukan untuk tetap mempertahankan rumah tangga kita."


Aku membeku di tempat. Lalu kecupan singkat di bibirku mendarat dengan sempurna. Aku membeliakan mataku. Sempat-sempatnya dia mencuri kesempatan dalam kesempitan.


Aku memundurkan tubuhku untuk kembali duduk ke bangku. Tangan ku kembali di raih Alby.


"Neng tidur sini aja, sama Aa. Masih muat kok!"


''Ngga usah. Di sini saja!", tolakku. Alby pun perlahan memejamkan matanya. Aku pun melakukan hal yang sama. Hanya saja aku dalam posisi duduk.


.


.


"Papa bilang mau jagain Alby? Kenapa papa balik? Biar Silvy saja yang jagain Alby pa!", kata Silvy kesal melihat kedatangan Papanya. Kehadiran Hartama yang kembali pulang, menjadi hal yang menarik bagi Titin, Mila dan Sapto. Karena sebelumnya, Titin yang akan menjaga anaknya itu. Tapi Hartama melarangnya. Hartama meminta Titin dan Mila menjaga Silvy dirumah. Begitu pula dengan Sapto. Dia hanya takut jika Silvy membutuhkan apa-apa.


"Ada yang jagain Alby!", jawab Hartama singkat.


"Siapa pa?"


"Istrinya!"


"Apa? Bia?", tanya Silvy.


"Bia yang nemenin Alby mas?", tanya Titin.


"Iya."


"Kok papa malah biarin Bia yang jaga Alby sih? Ada aku lho pa! Kalo ngga, ada bibik sama ibuk!"


Hartama menatap mata putrinya.


"Papa yang minta mereka nemenin kamu di sini!"


"Tapi kenapa pa?"


"Karena dia punya hak untuk melakukannya."

__ADS_1


"Tapi Silvy ngga suka Pa! Alby akan semakin dekat sama Bia. Silvy ngga suka!"


"Suka ngga suka tapi itulah kenyataannya Silvy! Jujur! Papa kecewa dengan tindakan kamu yang mau mengakhiri hidupmu dan calon cucu papa."


"Tapi ini semua karena Alby bilang mau ninggalin Silvy pa!", pekik Silvy.


Hartama masih diam di tempat semula. Dia akhirnya menyadari bertapa besar kesalahan yang dia lakukan pada putrinya, menantu dan juga putri sahabatnya karena perasaan dendam yang belum usai pada Titin, mantan istrinya dulu.


"Nak! Lepaskan Alby!", kata Hartama tiba-tiba. Mata Silvy terbelalak, begitu pun tiga manusia yang lain yang ada di tempat itu.


"Pa!"


''Papa ngga mau kamu mengharapkan Alby yang tidak akan pernah cinta sama kamu Vy! Kamu juga berhak bahagia Nak!", Hartama memegang bahu anaknya.


Silvy menghempaskan tangan papanya dari bahunya.


"Maksud papa apa? Bukankah papa bilang akan menuruti semua keinginanku? Termasuk membuat Alby dan Bia berpisah? Papa ingat kan?"


Hartama mengangguk pelan.


"Tapi ini ngga adil buat kamu Nak. Sekalipun Alby sama kamu, tapi cinta Alby buat Bia. Papa ngga mau kamu semakin kecewa Nak!"


"Ngga! Ini bukan papa! Papaku pasti akan menuruti semua keinginanku!", pekik Silvy tidak terima ucapan papanya tidak seperti biasanya. Papanya selalu mendukung apapun keinginannya selama ini termasuk saat keinginan konyol Silvy yang minta Alby menikahi nya.


"Nak...!"


"Stop pa!", kata Silvy memundurkan tubuhnya lalu berjalan tertatih menuju kamarnya. Mila dengan sigap membantu silvy. Silvy memang lebih memilih bersama Mila dibanding dengan Titin, ibunya sendiri.


Hartama menjatuhkan bobot tubuhnya kesofa. Matanya terpejam dengan kepala menengadah ke langit-langit ruangan.


"To, temenin saya ngobrol!", pinta Hartama pada Sapto.


''Baik tuan!", sahut Sapto tanpa penolakan. Hartama bangkit dari sofa, lalu berjalan menuju taman belakang.


Kedua pria yang sudah berumur itu duduk di bangku teras.


"Ternyata, Bia anak sahabat ku To!", kata Hartama memulai percakapannya. Sapto tertegun mendengar ucapan majikannya. Tapi dia belum berani menyela ucapan Hartama.


Hartama menghela nafasnya.


"Almarhumah Salman, papanya Bia, sahabat ku. Apa yang ku dapatkan saat ini, tak lain karena bantuan dan campur tangan Salman."


"Salman membantu ku, dia memberikan modal usaha padaku hingga sampai sekarang ini perusahaan ku semakin besar."


"Tapi saat usahaku sudah mulai berdiri dan berjalan stabil, aku kembali ke Surabaya, Salman sudah tidak ada di sana. Aku kehilangan jejak Salman, To. Sampai akhirnya, beberapa hari yang lalu aku bermimpi bertemu dengannya lagi. Saat aku kunjungi proyek ku yang ada di Jawa timur, aku mendapatkan kenyataan kalau...Bia adalah putri Salman."


Sapto masih menyimak cerita dari bosnya.


"Dendam ku pada Titin, menyakiti banyak orang. Tidak hanya putriku, tapi juga Bia dan Alby, To!"


Sapto duduk di samping bosnya.


"Apa yang harus ku lakukan To?", tanya Hartama.


"Jika bicara soal materi, sepertinya anda harus mengembalikan hak Bia, itu menurut saya. Tapi kalo bicara tentang pernikahan anak-anak, sepertinya hanya mereka yang bisa memutuskannya tuan. Maaf, jika apa yang saya katakan lancang!", kata Sapto.


Hartama memandangi langit ibukota yang menghitam tanpa bintang.


Benar kata Sapto, harusnya dia sadar diri jika ada hak Bia di dalam hartanya. Dan pernikahan mereka, Alby yang harus menyelesaikannya meski nantinya putrinya yang akan merasakan kesedihan itu. Tapi setidaknya itu lebih baik, dari pada kedepannya justru akan menyakiti mereka semua.


****


Hartama tobat? Mungkin sudah! Etsss...tapi..


tapi.....


Makasih yang udah mampir 🙏🙏🙏

__ADS_1


Maapkeun lamun loba typo ya 😁


__ADS_2