Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 149


__ADS_3

"Hari ini ada meeting di resto Xxx jam 10 ya mas Alby!", kata Marsha.


Alby menghela nafasnya.


"Sha, aku ngga bisa Sha. Kamu saja. Aku takut malah merugikan perusahaan nantinya. Malu-maluin Hs grup."


Marsha merapikannya berkas yang akan di bawa nanti lalu ia berdiri di depan meja Alby sambil menopang kedua tangannya di meja.


"Masih minder?", tanya Marsha. Tak ada jawaban dari Alby.


"Sha...kamu tahu...!"


"Aku hanya lulusan SMK, ngga tahu sama sekali soal bisnis! Mau bilang gitu? Bosen dengernya tahu ngga mas! Udah sering aku bilangin, kamu percaya sama kemampuan mu. Tunjukkan pada semua kamu bisa , kamu mampu dan layak untuk menjadi pemimpin masa depan Hs grup."


Alby menatap rekan kerjanya itu.


"Aku ngga menginginkan itu Sha!"


"Tapi kenyataannya tuan Hartama memang menyiapkan mu untuk menjadi penggantinya Mas Alby. Apalagi kondisinya tuan Hartama sekarang seperti itu. Kamu mau membuat Hs grup ini runtuh? Ada banyak ribuan karyawan yang bergantung kepada perusahaan ini By!"


Marsha menciptakan kepercayaan diri Alby. Tapi kalau Alby nya saja tak ada semangat untuk melakukannya, percuma saja kan?


"Masih ada waktu satu jam buat mempersiapkan diri, aku mau ke ruangan ku dulu ya!", Marsha meninggalkan ruangan Alby begitu saja.


Alby ingin sekali menghubungi istrinya, Bia tentunya. Tapi, pertengkaran semalaman masih tersisa. Bia pasti belum bisa di ajak bicara lagi sekarang. Alby sama sekali tidak menyangka jika istrinya akan bersikap seperti itu.


Bukankah harusnya dia bahagia mendengar kabar itu? Setidaknya kesempatan bersama kembali lebih besar kan? Silvy bisa menjalani kehidupannya yang jauh lebih baik senada ia terbebas dari pernikahannya dengan Alby?


Tapi entah seperti apa cara berpikir Bia, sampai ia mengatakan dirinya jahat! Alby akui, dia memang jahat sudah membagi dirinya untuk perempuan lain selain Bia. Tapi ini????


Sepertinya Febri juga turut campur tangan terlalu jauh di sini! Batin Alby.


Dengan terpaksa, Alby mempelajari dokumen yang akan di bahas selama meeting nanti. Sampai tak terasa, waktu berjalan begitu cepat dan Marsha mengajak nya menuju ke restoran Xx.


Tak sampai setengah jam, Alby dan Marsha sudah sampai di restoran itu. Mereka menuju ke meja yang sudah di pesan sebelumnya. Ternyata di sana juga sudah ada pebisnis yang lain. Keduanya bertegur sapa dengan rekan yang lain.


"Saya permisi ke toilet sebentar!", ijin Alby pada Marsha dan yang lain.


Alby pun menuju ke toilet. Usai menuntaskan hajatnya, Alby bercermin sebentar. Tak sengaja ia menangkap percakapan seorang gadis yang memakai seragam restoran Xx ini.


[Ya Bu, semalam kan Bina udah konsul sama dokter Sakti. Ibu tenang saja, insyaallah nanti di bantu sama dokter sakti kok]


[.....]


[Iya Bu, ibu ngga usah mikirin lain-lain. Sejauh ini, Bina sama dokter sakti ngga ada hubungan apa-apa kok. Lagian Bina juga sadar diri lah Bu hehehe]


[....]

__ADS_1


[Udah deh Bu, ibu ngga usah merasa bersalah terus. Huhh...Bina emang ngga jodoh sama mas Dimas, Bu]


Ucapan itu terdengar lirih, tapi Alby masih cukup mendengarnya.


[.....]


[Bu, mas Dimas pasti udah dapet pengganti Bina yang lebih pantas Bu. Udah ah Bu, jangan bahas mas Dimas terus. Ibu jangan lupa makan ya! Bina mau kerja lagi. Dah...ibu, assalamualaikum]


Sabrina memasukan ponselnya ke dalam saku celemek. Bersamaan dengan Alby yang keluar dari toilet. Keduanya saling menengok.


Alby sedikit penasaran mendengar percakapan gadis itu, entah kebetulan atau bagaimana. Nama dokter Sakti dan juga Dimas si ajudan cukup terdengar jelas di telinga Alby.


Sedang Sabrina sendiri tertegun melihat wajah tampan yang berada di hadapannya. Dia menginga-ingat seperti pernah melihat cowok itu, tapi di mana. Sampai akhirnya ia mengingat kejadian di mana ia hampir tertabrak mobil cowok itu.


"Eh...mas yang waktu itu kan?", tanya Sabrina. Alby mengernyitkan dahinya.


"Oh...masnya pasti lupa, beberapa malam lalu saya hampir ketabrak sama mobilnya mas!", kata Sabrina. Alby yang baru mengingat pun mengangguk perlahan.


"Maaf, saya lupa mba. Sekali lagi maaf,tapi...ngga ada luka yang serius kan?", tanya Alby. Sabrina menggeleng sambil tersenyum tipis.


"Alhamdulillah ngga mas."


Alby mengangguk.


"Kalau begitu, saya permisi ke meja saya!", kata Alby sambil tersenyum ramah.


Sabrina mengangguk pelan sambil menatap cowok tampan itu berlalu dari hadapannya.


"Maaf Bu, iya saya balik ke depan ya Bu!", Sabrina pun meninggalkan menejer nya itu. Malas jika harus meladeninya yang akan berbuntut panjang.


.


.


"Katanya kak Dim yang anterin Ika!", kata Anika merajuk pada Febri. Ternyata Febri yang menjemput Anika ke kampus.


"Kak Dim kamu sama kak Seto mu ikut bapak ke Semarang, dek!", kata Febri.


"Huhh! Kok kak dim ngga pamit sih!",Anika masih kesal.


"Nanti juga telpon, dek. Ngga usah uring-uringan gitu lah. Pasti sekarang lagi gantian setir mobil sama Seto atau pak Rio."


"Ya...ya...!", sahut Anika pasrah.


"Mau langsung pulang?", tanya Febri.


"Eum... menurut mas, kalo aku jenguk Silvy gimana?"

__ADS_1


"Dia sakit?", tanya Febri balik. Anika menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ya...udah, tengok lah. Dia kan sahabat kamu."


"Dulu iya, sekarang kan ngga mas!"


"Dek, yang bermasalah kan Silvy sama Bia. Kamu ngga boleh kaya gitu. Biar gimana juga, kalian sahabatan udah lama kan?"


Anika mengangguk lagi.


"Mas temenin mau ya!", rengek Anika sambil memasang puppy eyes.


"Iya, tapi ...kayanya masmu juga piket siang deh, dek!"


"Uuum...ya biarin deh. Kan ke sana mau nengok Silvy bukan mau konsultasi sama mas sakti."


"Iya sih!"


Kedua pun diam, Anika yang duduk di sebelahnya Febri pun sesekali menguap.


"Ngantuk? Tidur lah!", kata Febri.


"Iya lah, laper makan!", sahut Anika tak mau kalah.


"Oh ya dek, mau nanya."


''Hem, apa?"


"Kamu panggil Dimas sama Seto,kakak! Kok sama aku 'mas' ? Kami seumuran, satu angkatan juga. Kok panggil nya beda sih?"


"Oooh...itu...eeum...gimana ya, udah kebiasaan mungkin karena cuma mas sakti yang aku panggil mas. Dan kenapa aku panggil mas Febri, ya...itu ikut-ikutan mba Bia heheheh."


"Dih??? Ngga nyambung amat ya?", tanya Febri heran.


"Hehehe, oh iya mas. Semalam aku kalo ngga salah dengar, mas sakti teleponan sama cewek deh. Mas Feb tahu ngga?"


"Ya ngga lah dek, kan mas ngga lagi sama Sakti."


''Ishh.... itu aku juga tahu mas, maksudnya tuh cewek yang ditelpon itu siapa gitu. Kok kayanya mas sakti heboh banget, biasanya kan kaya balok kayu! Lempeng!"


"Sakti belum cerita apa-apa sih dek!"


"Kirain...mas Feb tahu. Kalo emang mas sakti udah move on dari mba Bia mah... Alhamdulillah mas."


"Huum, doakan saja."


Mobil pun sampai ke pelataran parkir rumah sakit. Keduanya turun lalu menuju ke resepsionis untuk bertanya ruangan silvy di rawat.

__ADS_1


****


🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2