Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 55


__ADS_3

Alby dan Marsha masih serius dengan beberapa pekerjaan yang harus Alby pelajari.


"Sampai sini paham kan mas?", tanya Marsha.


"Iya Sha. Makasih!", jawab Alby sambil mengetik laptop nya.


Keduanya sedikit terkejut saat tiba-tiba Silvy memasuki ruangan Alby. Posisi Marsha yang berdiri di samping Alby sambil menunjuk beberapa tulisan di layar laptop membuat Silvy berpikir yang tidak-tidak.


"Marsha! Apa-apaan Lo deket-deket sama suami gue!", kata Silvy sambil menarik Marsha dari samping Alby.


Marsha hampir terjungkal karena tarikan Silvy.


"Silvy!", pekik Alby. Dia pun segera berdiri di depan kursinya.


"Gatel banget sih jadi cewek, ngapain Lo dektin suami gue!", kata Silvy kasar.


"Maaf non, saya hanya mengajari mas Alby", cicit Marsha.


"Modus aja Lo, bilang aja Lo mau godain suami gue! Dasar gatel Lo, perawan *** Lo!", kata Silvy kasar.


"Silvy, jaga ucapan mu. Marsha memang cuma ngajarin aku!", sahut Alby membela Marsha.


"Kalau begitu saya permisi!", kata Marsha pamit keluar.


"Maaf ya Marsha!", kata Alby tak enak. Marsha hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Sama satu lagi! Jangan panggil suami ku 'mas' , panggil dia pak atau tuan. Ngerti ngga?", Silvy masih ketus pada Marsha.


"Iya nona Silvy!", ujar Marsha sambil keluar dari ruangan Alby.


Dia yang pelakor,ngapa dia nuduh orang lain macem-macem sama lakinya? Gue emang belum merit , tapi bukan berarti ga laku apalagi mau ngembat laki orang. Ngga kaya Lo Silvy! Lo dapet suami aja nyerobot suami orang. Ihhh ...ngga inget Lo anak bos mah udah gue gibeng! Tapi sayangnya ucapan itu hanya ada di dalam batinnya saja. Dia masih butuh pekerjaan di kantor ini. Marsha misuh-misuh di depan pintu ruangan Alby.


"Ehem...kenapa Sha?", tanya Hartama yang baru keluar dari ruangan nya.


Marsha sedikit gugup mendengar suara bosnya itu.


"Ah..em...ngga kok tuan!," sahut Marsha gugup.


"Ooh...ya sudah. Kapan meeting di mulai?", tanya Hartama.


"Jam setengah empat tuan, masih ada waktu satu jam lagi."


Tanpa mengucap apa-apa, Hartama pun melenggang pergi meninggalkan Marsha.


Ngga bapaknya, ngga anaknya sama aja ngeselin. Batin Marsha.


Dia pun kembali duduk di bangku kebanggaannya. Di meja nya sudah ada pekerjaan yang sempat ia tinggalkan karena tadi mengajari Alby.


Ada memo di mejanya, bos nya meminta mengurus dokumen pribadi Alby.

__ADS_1


Memang nya Alby mau ke mana ya? Ngapain gue di suruh ngurus beginian? Gumam Marsha. Tapi ia juga tak berani membantah.


.


.


Azan ashar sudah berkumandang sejak sejam yang lalu. Aku pun sudah bersantai di bangku teras. Menyapu halaman rumah yang cukup luas membuat ku merasa sedikit lelah, mungkin karena kondisi badanku yang sedang hamil muda.


Aku meluruskan kaki ku sambil sesekali menegakkan kepalaku dan memiringkan ke kiri dan kanan.


"Nuju naon neng!", sapa teh Salamah yang lewat sambil menenteng kantong keresek.


(Ngapain)


"Eh...teh, hehehe biasa teh. Ngadem!", jawabku. Teh Salamah pun mampir lalu ikut duduk di samping ku.


"Teteh mau ke mana atau dari mana ini?", tanyaku.


"Dari rumah calon si Cecep."


"Ohh...jalan kaki? Dimana rumah nya?"


"Ngga, tadi sama A Salman. Tapi A salman langsung ke bengkel."


Aku mengangguk-angguk pelan.


Aku masuk ke dalam rumah untuk bersiap mandi sore. Tapi sebelum nya, aku masuk ke kamar ku untuk mengambil pakaian ganti. Saat ku lirik ponsel ku, ternyata ada panggilan tak terjawab dari Lek Sarman beberapa kali.


Akhirnya aku memutuskan untuk menghubunginya balik.


[Assalamualaikum lek?]


[Walaikumsalam]


[Maaf lek, Bia selesai nyapu halaman. Ga denger ada hape bunyi]


[Gak opo-opo nduk.]


[Eum...ada apa ya Lek? Kaya nya penting banget?]


[Nduk, adek mu mau sunatan. Kamu ga mudik tah?]


Aku menghela nafas panjang.


[Ga lek. Biarin aja. Waktu Bia nikah aja ,ibu ga datang kok. Timbang sunatan aja di bahas Mulu, sampe nyuruh lek Sarman segala.]


Sarman terkekeh di seberang sana.


[Lek mu ga di suruh nduk, ini inisiatif sendiri kok. Kalo ngga bisa pulang ya gak apa-apa.]

__ADS_1


[Nitip ae lek. Kasih duit aja buat Esa, lima ratus ribu. Bilang dari aku di titipin lek Sarman.]


[Iyo, nanti lek sampein]


[Makasih lek]


[Oh iya nduk, lek mu wis transfer mau Yo. Laba bulan Iki.]


[Iyo lek. makasih]


[Iyo. Oh iya nduk, warung lagi rada sepi. Kayanya pengen ada resep yang lain deh. Coba kasih ke lek mu Iki, resep sing kamu posting tadi siang]


[Namanya jualan ya ada rame ada sepi lek. Ya nanti Bia kirimi resep nya lek. Pake wa aja ya lek?]


[Iya. Yo wes, wes sore kan? Ndang mandi!]


[Iyo lek. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Aku pun mulai mengetik resep masakan ku yang tadi siang ku posting. Barang kali , resep ini bisa untuk menambah daftar menu warung makan kami.


(Reader's pun boleh coba kok resep ini. Moga di ijinkan sama admin ya 😁😁😁. Soalnya ini juga salah satu menu jualan mamak othor. Kali aja ada yang mau nyobain heheheh )


[Iki lek resepnya. Ayam bagian dada, difilet. Setelah itu di rendam air jeruk nipis, kalo udah tinggal cuci deh. Setelah di cuci bersih, jangan lupa di marinasi. Pakai lada bubuk, bubuk bawang putih, garam, penyedap rasa. Kalo udah di marinasi, balurkan irisan ayam yang sudah di marinasi, kedalam tepung yang encer. Nah, tepung nya itu terdiri dari tepung terigu, sedikit tepung tapioka. Jangan lupa tepung nya dibubuhi penyedap rasa dan lada bubuk juga. Usai di gulang-guling di tepung encer, barulah di balur-balurin di tepung kering. Setelah itu baru goreng]


Aku lelah mengetiknya, untuk beberapa saat aku duduk di dipan. Setelah beberapa saat, aku kembali mengirim chat pada pamanku.


[Bahan saosnya, saos tomat, saos cabek, saos barbeque, bawang putih & Bombay, gula, garam ,air secukupnya dan jangan lupa irisan cabe rawit. Bawang dan cabe di goreng terlebih dulu, baru di masukin saos, tambahkan sedikit air dan gula garam. Silahkan di coba Yo lek. Semoga enak heheheh]


Aku pun cengeng sendiri menulis chat itu pada lek ku. Setidaknya aku sedikit melupakan rasa kesendirian ku karena masalah rumah tangga ini.


Baru saja akan beranjak, Alby menghubungi ku. Perasaan senang begitu membuncah di dalam dadaku.


[Assalamualaikum A]


[Walaikumsalam, neng? Ngapain sayang?]


Dan setelah itu, obrolan pun mengalir begitu saja. Seolah-olah antara aku dan Alby tak pernah ada masalah apapun. Ya, mungkin aku sudah benar-benar menerima situasi ini. Aku tahu, setelah aku bisa menerima pernikahan Alby dan Silvy, itu artinya aku juga harus menerima kenyataan bahwa Alby juga berkewajiban yang sama kepada Silvy.


Aku memang bukan wanita yang hebat dan kuat seperti perempuan-perempuan sana yang bisa dan pasrah saat di madu. Aku tetap lah aku. Sekalipun aku beribadah, solat lima waktu misalnya. Tapi kadar iman ku masih sangat rendah untuk menerimanya semua ini.


Ya, sejauh ini aku masih bisa bertahan di sini. Tapi entah yang akan datang, aku hanya bisa berpasrah diri. Apa pun yang DIA takdir kan untuk ku, aku akan menerimanya.


*****


Maaf kan kalo eps ini meleceng atau tidak menarik sama sekali.


Mohon krisannya yang teman-teman reader 🙏🙏🙏🙏 Makasih 😄

__ADS_1


__ADS_2