
Jangan di bayangkan jika ruang sidang nya seperti babang icad di kasus jenderal FS ya???
Please...kaum mamak yang lagi tericad-icad acungkan jari ✌️🤫🤫🤫
*****
Aku dan lek Sarman serta bapak dan pak Kalingga duduk di bangku tunggu. Ada nomor antrian juga lho gaes....! Ternyata 'ditempat' ini bukan cuma aku yang berniat untuk.....
Ehem....
Alby berdehem, lalu duduk di bangku yang berhadapan dengan ku. Aku mencoba mengalihkan perhatian ku pada benda pipih ku saja. Berusaha untuk mengabaikan kehadiran Alby. Meski aku tahu dia memperhatikanku. Jujur aku sangat merindukannya. Tapi kembali lagi semuanya harus segera selesai. Lebih cepat lebih baik. Tak ada lagi drama di dalam kehidupan ku dan Alby.
"Neng, bisa kita bicara berdua sebelum masuk ke dalam sana?", tanya nya yang pasti tertuju padaku. Aku menghirup udara semampu ku. Ada masker yang menghalangi wajahku.
"Tidak ada yang perlu kalian bicarakan lagi!", sergah Sarman lantang. Anton menepuk lengan Sarman agar tak membuat keributan di instansi ini.
Sarman menoleh pada Anton.
"Kalo memang Bia mau bicara berdua dengan Alby, biarkan saja!", bisik Anton.
"Tapi mas...!", ucapan Sarman terpotong karena gelengan Anton. Sarman pun memilih diam.
"Neng, tolong kasih Aa kesempatan untuk bicara berdua sama neng!", kata Alby lagi.
"Kenapa tidak bicara di sini saja?", tanyaku.
"Ini urusan pribadi kita neng. Sekali ini, tolong ya neng!", ujar Alby menghiba.
"Pak Kalingga, masih berapa lama lagi sidang di mulai?"
"Masih ada waktu dua puluh menitan nyonya Bia", jawab pak Kalingga.
Aku menarik nafas.
"Baiklah, kita bicara!", aku bangkit dari bangku di ikuti oleh Alby yang hanya beberapa langkah di belakang ku.
Aku memilih duduk di teras gedung instansi pemerintah itu. Yang tak terlalu banyak di lewati orang untuk berlalu lalang.
"Mau ngomong apa?", tanya ku datar dan tertutup masker. Alby hendak menjangkau bahuku, tapi aku mundur. Aku tak mau dia menyentuh ku. Meski dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku merindukan Alby ku!
"Neng, tidak bisakah kita perbaiki semua dari awal ?", tanya Alby dengan wajah memelas. Aku tak mau menatap mata teduhnya, lebih baik aku memandang arah lain yang sebenarnya tak jauh lebih menarik daripada pemandangan di hadapan ku.
"Ngga ada yang bisa di perbaiki!", sahutku setenang mungkin, padahal dadaku bergemuruh hebat.
Tiba-tiba tubuh Alby luruh, bertumpu dengan lututnya tepat di hadapan ku. Hal itu membuat ku mundur beberapa langkah.
"Aa minta maaf!", ujarnya sambil tertunduk.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkan mu!"
Alby mendongak menatap wajah cantik istrinya yang hanya menunjukkan kedua matanya yang sembab.
Alby menarik nafas dalam-dalam lalu memejamkan matanya.
"Untuk terakhir kalinya, benarkah neng sudah tidak lagi memberikan kesempatan buat Aa?"
Aku meneguk ludahku. Apa aku yakin dengan keputusan ini??? Berat ya Allah, berat! Tapi aku sudah melangkah sejauh ini. Aku sudah tidak bisa mundur lagi. Soal kedepannya nanti apakah kami bisa kembali, itu rahasia othor.
"Tidak!", jawabku sedikit bergetar. Aku pun melangkah perlahan untuk menjauh dari Alby. Tapi baru selangkah aku menjauh, tubuh tertarik hingga aku berada tepat di dekapan Alby.
Aku berusaha mendorong agar tubuh kami terlepas. Tapi tenagaku tak sebanding dengan nya. Bukan, aku tidak berpikir dia akan melakukan hal yang terakhir dia lakukan beberapa waktu lalu. Aku aku hanya tidak ingin jika aku kembali goyah. Aku tidak ingin lengah!
Alby menenggelamkan kepalanya di leherku. Aku tahu dia sedang menangis. Untuk kesekian kalinya aku melihat dan mendengar Alby menangis sejak pernikahan kami yang mulai tak sehat itu.
"Biarkan Neng, biarkan seperti ini! Aa akan sangat merindukan momen ini!", bisiknya di samping telinga ku.
Tanpa bisa ku kontrol, air mataku ku pun meleleh. Aku membalas pelukannya. Mungkin benar, ini akan jadi yang terakhir kalinya. Karena kedepannya nanti kami tidak akan bisa seperti ini lagi.
Alby melepas pelukannya, menakup kedua pipiku lalu mengecup puncak kepalaku yang tepat di bawah dagunya cukup lama. Sedih??? Tentu kami sedih. Tapi aku harap ini yang terbaik. Tak ada lagi yang akan tersakiti setelah ini!
"Terimakasih!", bisik Alby."Semoga setelah ini, kita masih bisa menjalin silaturahmi, neng!"
Aku mengangguk pelan. Benarkah perpisahan ini terjadi?
Alby memejamkan matanya sambil mendongakkan kepalanya ke atas.
"Shabia Ayu binti Salman Abdullah, mulai hari ini saya Alby Gunawan menjatuhkan talak padamu."
Deg!
Tes!
Air mataku kembali meleleh. Mimpi itu telah menjadi nyata. Mimpi itu bukan hanya bunga tidur. Dan iya...Alby ku....bukan...Alby sudah menjatuhkan talak nya pada ku.
Sakit! Sakit! Sakit!
Aku terisak pelan tak sanggup lagi untuk sekedar berdiri. Badan ku hampir terhuyung jika pak Kalingga tak segera menangkap ku.
Dan setelah itu, Alby meninggalkan ku bersama pak Kalingga. Pengacara Alby membawa Alby menuju ruang sidang karena nomor antrian kami sudah di panggil.
"Nyonya Bia bisa mengikuti sidang?", tanya pak Kalingga. Aku mengangguk. Tak henti-henti nya aku menghapus air mataku. Pak Kalingga membimbing ku berjalan menuju ke ruang itu.
"Nduk?", lek Sarman menghampiri ku. Dia cemas melihat ku yang terisak dengan bahu yang terguncang.
"Kenapa nduk?" tanya lek Sarman dengan nada khawatir nya.
__ADS_1
Aku menghambur memeluk lek Sarman. Tangis ku menjadi-jadi. Lek Sarman memberi kode pada Pak Kalingga tapi pak Kalingga hanya menggeleng.
"Semua sudah selesai lek! Semua sudah selesai!", kataku dalam pelukan lek Sarman.
Lek Sarman mengusap puncak kepala ku. Ia mengecup nya beberapa kali.
"Sabar! Semoga ini yang terbaik Nduk. Karena sekeras apa pun kamu berusaha kuat, saat ini akan tiba nduk. Percaya lah, Allah maha tahu apa yang terbaik untuk umatnya."
Aku mengangguk. Setelah itu, kami masuk ke dalam ruangan sidang.
.
.
.
Febri tengah gelisah di sela kegiatannya di markas. Dia sama sekali tak fokus dengan pekerjaan yang ada di hadapannya.
Entah, Febri sendiri tak tahu kenapa dia bisa segelisah ini.
(Febri ngga tahu lho kalo sang pujaan hati nya lagi mau sidang perdana)
"Kenapa Kapt?", sapa rekan Febri.
Febri yang sedang tak konsentrasi pun tergagap, lebih tepatnya sedikit terkejut.
"Hah? Oh, maaf. Sedang ngga enak badan kayanya?!", sahut Febri seadanya.
"Yau udah, istirahat saja dulu di klinik. Ada ****angin kok, lumayan buat ngangetin badan biar ngga terlanjur meriyang", ujar rekannya.
"Iya, terima kasih Kapt. Tapi, ngga sampai masuk angin deh kayanya cuma ngga enak badan aja."
Rekan Febri pun mengangguk. Mereka kembali melanjutkan pekerjaannya. Setelah beberapa saat, Febri pun ijin untuk ke kamar mandi.
Ada perasaan yang mendorong nya untuk menghubungi Bia, tapi entah apa! Dengan sedikit ragu, Febri meraih ponsel di sakunya. Mendial nomor Bia untuk panggilan suara.
Tapi beberapa kali panggilan itu hanya berdering tak di angkat oleh Bia. Dan itu membuat Febri semakin cemas pada mantan kekasihnya itu.
'Kamu kenapa sih nduk'
Febri meremas wajah nya kasar.
*****
Mon maap, sejujurnya Mak ngga tahu mekanismenya orang bubaran itu kaya gimana. Maafkan mamak kalo terlalu halu! Mungkin lain kali mamak kudu cari referensi dulu kali yakkkk....
Btw....makasih udah baca sampe sini. Jatah nya, satu bab lagi! Insyaallah nanti sore/malam. Hatur nuhun 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
Sekali lagi maaf kalo ngga sesuai ekspektasi & keinginan reader's kesayangan 🤗🤗🤗🤗