Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 198


__ADS_3

Bu Sri mengambil pakaian kotor Febri yang teronggok di ember pakaian kotor. Sekalipun anak bungsu nya bukan lagi ABG, tapi baginya Febri tetap lah si bungsu yang akan menjadi anak manja.


Perlahan, pensiunan guru itu merogoh saku celana putranya. Takut-takut ada barang berharga atau uang yang sayang jika nanti rusak saat digiling ke mesin cuci.


Saat tangan kanannya merogoh salah satu saku celana putranya, ia meraba ada sebuah kotak kecil berbahan beludru.


Tanpa basa-basi ia langsung mengambilnya. Di buka nya kota kecil yang ukurannya tak sampai sepuluh sentimeter itu.


Ceklakkkk....


Kota kecil itu pun terbuka. Sebuah cincin emas dengan model minimalis dan sangat simpel tanpa mata berkilauan tertimpa cahaya lampu kamar mandi.


"Febri mau kasih cincin buat siapa?", gumam Bu Sri.


Setelah itu, ia menyimpan di pinggiran bak mandi. Dan ia merendam pakaian kotor Febri lebih dulu.


Dia bangkit sambil membawa kotak cincin tersebut. Bu Sri langsung menuju ke kamar Febri, tak ada si bungsu di sana. Samar-samar Bu Sri mendengar obrolan dari arah samping rumah. Samping rumah yang memang di khususkan untuk menyimpan padi hasil panen mereka. Jangan di tanya berapa banyak?! Pokoknya sawahnya pak Bambang luas dan berada tidak hanya di desanya. Definisi orang kaya yang sebenarnya di kampung!! Rumah bagus, sawah banyak! Humm! Wong sugih cenah!


Bu Sri menghampiri suami dan anaknya yang sepertinya sedang serius membahas sesuatu.


"Le, ini cincin siapa?", tanya Bu Sri pada Febri.


Febri yang sedang mengobrol dengan bapaknya pun menoleh.


Dengan malu-malu ia menghampiri ibunya. Jari tangan kanannya sibuk menggaruk rambutnya yang sebenarnya tak gatal.


"Apa Bu?", tanya pak Bambang yang turut menghampiri istrinya.


"Cincin nih, Nemu di saku celana Febri."


Pak Bambang menoleh pada putra nya. Tanpa berucap, ia meminta penjelasannya.


"Ehem, jadi gini pak, Bu. Hari ini, Bia tuh ceritanya ulang tahun. Dan kebetulan, ada rute ke kantor pusat. Febri ijin dua hari dari markas sana tapi nanti malam Febri juga ke kantor kok. Ngga nganggur apalagi makan gaji buta."


"Terus? Apa hubungannya sama tuh cincin?", tanya pak Bambang.


"Niatnya sih, mau kasih hadiah cincin ke Bia pak. Tapi belum sempat diterima atau ditolak, keburu ada lek Sarman. Gagal deh!"


Sepasang suami-istri itu saling berpandangan. Lalu menatap heran putra nya yang sudah berpangkat lumayan itu.


"Bagus tuh sikap si Sarman!", kata pak Bambang. Febri menautkan kedua alisnya.


"Betul! Kalo kamu mau lamar Bia, minimal ada lek nya. Ga cuma asal ngasih. Di pikir drama novel? Berlutut di depan Bia, kasih cincin, terus di terima, saling berpelukan??? Hahahaha mustahil!", sahut Bu Sri.


"Astaghfirullah ibu....!"


"Kamu niat banget gitu lamar Bia?", tanya pak Bambang lagi.


"Tadi belum ada niat buat lamar pak, murni cuma mau kasih hadiah aja. Itu bagus pak emasnya, kan dari Papua asli!", kata Febri.


"Bapak ngga nanya bagus ngga nya Febri. Tapi keseriusan kamu! Kalo kamu memang serius mau lamar Bia, ayok bapak minta sama si Sarman!", sahut bapak tegas.


"Hah? Sek...sek...toh pak!", Febri menahan lengan pak Bambang.(Sebentar toh pak)


"Opo meneh???", tanya pak Bambang. (Apa lagi)


"Pak, kan bapak tadi sendiri yang bilang katanya Bia masih baru beres Iddah masa iya Febri tiba-tiba mau melamar Bia? Apa kata orang nanti?", kata Febri.


"Nah itu kamu tahu!", kata Bu Sri.


"Udah tahu begitu, kamu kasih hadiah cincin. Kaya orang melamar kan? Di terima atau di tolak kan belum tahu jawaban Bia.", tanya pak Bambang lagi.


Terdengar suara helaan nafas Febri.


"Pak, Febri bukan takut ditolak. Tapi yang kaya bapak dan ibu bilang tadi."


"Emang kalo bapak lamar Bia sekarang, dianya mau terus mau saat itu juga kalian nikah? Ngga kan?", tanya Bu Sri.


Febri mengusap wajahnya. Bingung dengan bahasan kedua orangtuanya.


"Kalo orang biasa, boleh lah nikah siri dulu. Kalo kamu??? Sekalipun status kalian jelas pernah menikah sebelumnya, tapi instansi kamu ngga ada terima istilah nikah siri. Jadi, seandainya Bia terima lamaran kamu, kemungkinan menikah nya pun beberapa bulan yang akan datang! Apalagi kamu dinasnya jauh!"


Ya Allah, pak! Kenapa pemaparan anda sampai segitunya ya??? Percaya diri sekali kalo Bia bakalan memberikan kesempatan buat anakmu ini???? Batin Febri.


"Wes, nanti malam kita ke warung Bia. Kita temui Sarman. Minta Bia jadi calon istri kamu!", kata bapak sambil mengambil cincin itu dari tangan Febri. Selang beberapa detik Bu Sri pun mengikuti suaminya.


Lha???? Kok gini???? Aku kudu seneng apa gimana ini???? Febri sampai terduduk di teras samping.


Lelaki gagah itu mengambil ponselnya. Ia menghubungi Bia untuk mengabarkan rencana kedua orang tuanya. Seandainya rencana itu benar-benar terjadi, minimal Bia sudah menyiapkan mentalnya.


[Assalamualaikum mas?]


[Walaikumsalam, lagi sibuk nduk?]


[Lagi jaga kasir, kenapa?]


Febri menarik nafas dalam-dalam.


[Nduk, kalo...eum...kalo ...]


[Opo seh mas? Kalo-kalo?]


[Iku Bi, kalo bapak ibuku nanti ke situ mau lamar kamu, menurut kamu gimana?]


Suara Febri sedikit tersendat-sendat.

__ADS_1


[Hah? Lamar?]


[Iya Nduk]


[Ga usah aneh-aneh mas]


Febri menoleh ke arah pintu, dilihatnya kedua orang tuanya itu sudah berganti pakaian batik sarimbit.


[Tunggu nduk! Jangan di matiin dulu]


[Iya mas]


Febri menghampiri kedua orang tuanya yang sudah rapi. Tangan pak Bambang sudah menggenggam kunci mobil mereka.


"Bapak sama ibu mau ke mana?", tanya Febri. ponsel nya masih terhubung dengan Bia.


"Ya kan tadi bapak udah bilang, mau lamarin Bia buat kamu", jawab pak Bambang. Jawaban pak Bambang masih terdengar jelas di ponsel Bia yang ada di seberang sana.


"Bapak serius?", tanya Febri.


"Menurut kamu???", tanya pak Bambang balik.


"Ayok pak, mumpung bukan jam makan. Jadi warungnya ngga terlalu rame, bisa ajak Sarman pulang dulu buat ngomongin ini!", kata Bu Sri sambil menyeret suaminya.


Mereka melenggang pergi tanpa memikirkan anak bungsunya yang masih terheran-heran tak percaya.


[Mas...mas...mas Febri, masih di situ ngga??]


[Eh, ya ndok. Masih! Eum, kamu dengar sendiri kan apa kata kedua orang tuaku? Mereka otewe ke situ nduk! Haduh!!!]


Febri mulai terdengar panik. Eh???? Bukannya seneng ya???


[Ya udah kalo bapak ibu mau ke sini ya ngga apa-apa mas]


[Masalahnya kan mereka mau lamarin kamu buat aku nduk! Kamu sendiri saja belum mau buka hati kamu buat aku, tapi orang tuaku kenapa percaya diri sekali lamar kamu sekarang? Oh, ya Allah!]


[Biarkan saja. Maaf mas, ada yang mau bayar nih. Aku matiin ya? Assalamualaikum!]


Tanpa menunggu sahutan, aku mematikan sambungan telepon Febri.


Dari tadi aku bersikap tenang. Tak tahu saja Febri, jantung ku nyut-nyutan mendengar kedua orang tua Febri mau melamar ku?


Ya Allah? Aku harus apa ini? Eh, kok panik ya??? Tadi aku bisa nenangin Febri buat biasa aja, kenapa sekarang malah aku yang kaya cacing kepanasan.


Aku mondar-mandir di belakang kasir sambil menggigiti kuku jariku. Kebiasaan!


"Ada apa mba?", tanya kasir utama, tadi dia ijin solat ashar.


"Em, ngga apa-apa. Kalo gitu, aku mau ke ruangan lek Sarman dulu ya!", kataku sambil menepuk bahu mba kasir. Aku pun menghampiri lek Sarman yang ada di dalam ruangan itu.


"Ada apa nduk?", tanya lek Sarman, duduk di hadapan ku.


"Heum? Ngga kok!", jawabku.


"Beneran?", tanya lek Sarman tapi nada suaranya kok terdengar aneh ya???


"Eum, itu Lek!"


"Itu apa?", tanya lek Sarman lagi.


"Tadi mas Febri telpon Bia!"


"Terus?"


"Anu...itu...katanya..."


"Apa sih?"


"Katanya bapak ibu nya mas Febri mau ke sini."


"Ya emang kenapa kalo mereka ke sini? Udah lama juga kan beliau berdua ngga makan di sini."


"Buk...bukan gitu lek!"


"Apa?"


"Mas Febri bilang...katanya bapak ibunya ke sini mau lamar Bia...Lek!", kata ku takut-takut. Takut lek Sarman marah 😔


"Melamar kamu?", tanya Lek Sarman. Aku mengangguk.


"Ya udah, ngga apa-apa. Kita tunggu saja di depan. Kalo memang mereka mau lamar kamu ya kita hadapi saja."


Aku meneguk salivaku. Sungguh aku tak ingin melihat lek Sarman marah-marah apalagi jika ia menolak lamaran itu. Pasti akan sangat memalukan bagi keluarga Febri.


Eh??? Kalo aku mikirin rasa malu mereka jika di tolak, apa iya aku harus menerima nya????


Astaghfirullah, Bia!!! Ngga usah kegeeran deh! Kali aja Febri cuma ngerjain kamu aja!


"Lek mau ke depan dulu!", lek Sarman memasukan ponselnya ke saku kemejanya. Dia pun meninggalkan ku di ruangan kami.


.


.


.

__ADS_1


Alby baru saja turun dari pesawat bersama tuan Hotma. Di dalam bandara,ia baru mengaktifkan ponselnya. Banyak panggilan tak terjawab dan beberapa chat.


Saat akan menghubungi balik nomor itu, keburu Mak nya telpon.


[Assalamualaikum Mak?]


[Walaikumsalam, kami di mana Jang? Kenapa nomor kamu baru aktif?]


[Baru turun dari pesawat Mak. Ini di dalam bandara]


[Jang, langsung ke rumah sakit Xxx ya! Ketuban Silvy sudah pecah duluan.]


[Tunggu Mak, bukannya usia kandungannya belum sembilan bulan ya?]


[Jangan tanya itu dulu, kamu cepet ke sini Jang]


[Iya Mak. Alby langsung ke sana sekarang. Assalamualaikum]


Alby dan Hotma berpisah di pintu keluar bandara. Tujuan Alby sekarang adalah ke rumah sakit. Apa di tempuh secepatnya ke sana? Paling tidak dua jam baru sampai.


Alby memasuki taksinya lalu meminta supir taksi mengantar ke rumah sakit Xxx.


"Bisa lebih cepat ngga pak? Istri saya mau melahirkan!", kata Alby pada pak supir.


"Iya pak!", jawab pak supir. Dalam hatinya Alby merapalkan doa. Dia berharap jika anak dan istrinya nya selamat. Meski dari awal dokter sudah memperingatkan andai terjadi sesuatu hal yang buruk, itu sudah menjadi keputusan dirinya dan juga silvy.


Di saat suasana gelisah seperti ini, Alby teringat ucapan Febri saat itu.


Gue pernah kehilangan istri dan calon anak gue dalam waktu yang bersamaan. Bahkan gue aja ngga bisa ikut dalam prosesi pemakaman mereka. Sebagai seorang suami, gue cuma mau ingetin Lo.Jangan sampai Lo nyesel karena sikap Lo!


Meski mereka tak akur, tapi ucapan Febri saat Bia keguguran dulu begitu membekas di hati Alby.


Ya, dia tidak ingin kehilangan calon anaknya lagi. Apalagi....istri! Dia sudah melangkah sejauh ini. Dia sudah berusaha membuka hatinya untuk Silvy. Meski belum sepenuhnya menghapus nama Bia dalam hatinya.


Satu setengah jam berlalu. Taksi sudah berada di pintu masuk rumah sakit. Alby langsung menuju ketempat yang Mak arahkan.


"Assalamualaikum Mak!"


"Walaikumsalam!", Alby mencium punggung tangan Mak Titin. Ada Hartama juga di sana yang duduk melamun. Seolah tak menyadari kedatangan Alby.


"Apa kata dokter Mak?", tanya Alby.


"Sekarang sedang di bius biar operasinya secepatnya di lakukan."


Pintu pun terbuka, dokter keluar dari ruangan itu bersama Silvy yang sudah terpasang infus ditangan kirinya.


''Vy!", Alby menghampiri istrinya yang terbaring lemah. Silvy menunjukkan senyum nya.


"By, akhirnya hari ini tiba!", katanya pelan.


"Kamu dan anak kita akan baik-baik saja!" , Alby mengusap kepala Silvy dengan pelan. Sedangkan brankar nya di dorong menuju ke ruang operasi.


"Bapak bisa menemani ibu di dalam kok pak! Tapi pakai pakaian ini dulu!", Suster memberikan pakaian itu pada Alby.


Suasana cukup mencekam. Alby melihat para nakes sedang memulai proses operasi nya. Dada Alby terasa begitu sesak. Ia mengusap-usap kepala Silvy yang tersenyum memandangi suaminya.


"By, katanya kalo meninggal saat melahirkan itu ... termasuk mati syahid ya? Apa aku termasuk begitu? Dosaku banyak?", suara Silvy serak.


"Psssts....kamu akan baik-baik saja. Begitu pula anak kita. Kita akan membesarkan anak kita sama-sama."


Tanpa Alby sadari, air matanya meleleh. Cengeng? Entahlah!


"Terimakasih By. Sudah mau menerim kehadiran ku di sisa hidup ku kemarin."


"Tolong jangan bicara seperti itu!"


"Sekali saja, aku pengen denger kamu bilang sayang sama aku. Mungkin untuk pertama dan terakhir kalinya By."


Alby terisak pelan, tangan nya tak berhenti terus mengusap kepala Silvy.


"Ngga bisa ya? Ya udah, ngga apa-apa. Tapi ...aku pengen kasih nama anak kita, Nabil. Ya By!", perlahan Silvy memejamkan matanya.


"Aku ngantuk By!", kata Silvy lirih.


Alby tak tahu harus berbuat apa saat istrinya bilang ngantuk.


"Aku sayang kamu Silvy, aku sayang anak kita!", bisik Alby di telinga Silvy. Silvy yang tadi mulai memejamkan matanya kini terbuka kembali sebentar.


"Terimakasih By!", kata Silvy lirih dia pun memejamkan matanya. Di saat yang bersamaan, suara tangis bayi pun terdengar.


Alby mengusap air matanya.


"Vy....bangun Vy! Nabil kita udah lahir! Ayo, buka mata mu sebentar saja!", Alby menepuk pipi silvy.


Suster yang menyadari hal itu pun menghampiri Alby.


******


Lumayan panjang kan bab ini???


Mamak ngga tahu prosedur operasi Caesar kaya gimana heheheh pokoknya mah yang tahu anggap aja begitu 🤫🤭


Segini dulu ya????


Makasih yang udah sampai di sini 🙏🙏🙏

__ADS_1


insyaallah up lagi nanti malam. Haturnuhun 🙏


__ADS_2