Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 206


__ADS_3

Pemakaman Hartama telah selesai. Kediamannya pun sudah mulai sepi dari para pelayat. Kantor di liburkan selama tiga hari. Dan kondisi Nabil pun sudah bisa di bawa pulang besok pagi.


Alby menjenguk Silvy yang masih berada di ICU. Entah berapa lama lagi perempuan itu tertidur di sana.


"Vy, papa udah ngga ada. Kamu bangun ya Vy! Nabil butuh kamu!", monolog Alby. Alby hanya bisa memandang wajah Silvy yang tertutup alat bantu pernafasan.


"Bia udah maafin papa. Insyaallah papa udah tenang di sana. Sekarang kamu yang bangun! Kamu bilang sayang sama aku dan Nabil! Bangunlah!", bisik Alby.


Pria itu meninggalkan kamar ICU lalu menuju ka kamar bayi. Dokter yang merawat Nabil mengatakan bahwa besok pagi Nabil sudah bisa di bawa pulang.


Mak Titin masih berada di rumah. Fisik nya lemah mungkin karena masih shock dengan kepergian suaminya.


Alby berganti pakaian medis. Ia menggendong Nabil yang masih rapi dengan bedongnya. Kondisi Nabil sudah siap untuk di berada di udara luar.


"Untuk malam ini, adek Nabil masih di pantau ya pak. Jadi, Nabil harus menginap satu malam lagi."


"Iya dok. Lakukan yang terbaik!", ujar Alby. Setelah mengurus segala sesuatunya, Nabil di bawa ke ruang rawat. Alby sendiri yang mengurus Nabil meski dia tak memiliki pengalaman tentang mengurus bayi.


Fisik dan pikirannya lelah, membuat papa baru itu tertidur di samping bayinya. Baru saja memejamkan matanya, Nabil menangis. Dengan sigap, Alby pun bangun.


Menepuk pelan betis Nabil yang sudah tak di bedong. Di lihat nya popok Nabil, barang kali si kecil pipis atau pup. Tapi ternyata tidak.


Nabil masih menangis, Alby mencoba memberikan susu. Dia sudah belajar pada suster cara membuat susu untuk Nabil.


Setelah memastikan air susunya hangat kuku, Alby menggendong Nabil dengan kaku, lalu memberikan dot ke mulut Nabil.


Bayi lelaki itu langsung menghisap dotnya dengan kuat. Nabil mungil merasa lapar, atau mungkin dia gelisah karena kakeknya sudah tak ada.


Usai menghabiskan setengah dot susunya, Nabil kembali terlelap. Alby menimang-nimang putranya, setelah pulas barulah Alby meletakkan Nabil kembali.


Alby menghela nafasnya sambil menatap darah dagingnya.


Lelah! Papa lelah, Nak! Tapi demi kamu, papa akan berusaha memberikan yang terbaik buat kamu sayang!


Tangan Alby terulur mengusap pipi chubby anak lelakinya itu. Selang beberapa lama, Alby pun turut terpejam lagi. Papa baru itu, merasakan lelah yang sangat dalam tubuhnya. Beruntung, kantor libur tiga hari. Minimal dia punya banyak waktu untuk mengurus Nabil dan menjenguk Silvy.


.


.


"Bunda, masih di sini?", tanya Nabil. Silvy tersenyum ramah.


"Sebentar lagi bunda pergi dari sini Nabila!", jawab Silvy.


"Nabil sama papa pasti akan merindukan bunda!"


"Iya, bunda tahu. Tapi bunda harus pergi, sama Nabila."


Silvy bangkit dari duduknya, meminta Nabil meraih tangannya.


"Bunda yakin?"

__ADS_1


"Iya sayang!", kata Silvy mengusap pipi Nabila. Keduanya pun berjalan beriringan sambil bergandengan tangan.


.


.


Aku tak bisa memejamkan mataku hingga lewat tengah malam. Padahal aktivitas ku di warung cukup melelahkan. Sekarang aku menginap di rumah lek Sarman. Beliau yang minta.


Sejak Bu Sri memasangkan cincin pemberian Febri, aku lebih sering memainkan cincin di jari ku ini. Siapa pun yang melihat cincin ini akan menilai jika cincin ini begitu indah, sederhana tapi sangat detail.


Aku mendesah pelan. Sebenarnya apa yang aku rasakan saat ini?


Benarkah aku sudah kembali memiliki perasaan terhadap Febri? Atau hanya karena perasaan tak enak?


Lalu bagaimana dengan perasaan ku sendiri pada Alby?


Huffft...kamu pikir kamu siapa Bia! Sok kecakapan amat sih! Aku memukul kepala ku sendiri.


Ponsel ku dari tadi anteng, tak ada notifikasi apa pun. Bingung ingin melakukan apa, aku menyalakan televisi. Hanya ada acara berita malam yang menyiarkan segala kejadian di seluruh penjuru.


Ada berita yang menyiarkan tentang konflik besar di sebuah negara. Dan ternyata, ada prajurit TNI juga yang berada di sana. Apakah Febri salah satunya? Tim Febri yang ikut berperan dalam misi kemanusiaan itu????


Melihat bom bardir yang menyerang kota itu hingga bangunan nyaris rata dengan tanah, membuat ku khawatir tak jelas. Bagaimana jika posisi Febri berada di sana???


Aku mematikan televisi. Berjalan mondar-mandir di dalam kamar ku sambil menggigit kuku-kuku ku.


Masih jam satu malam, bagaimana aku mau bertanya pada Dimas. Apakah Febri salah satu tim yang berangkat ke daerah konflik itu....???


Dari berjalan, duduk, sampai berdiri lagi! Sudah kuulang beberapa kali.


Aku memejamkan mataku sambil melafalkan segala pujian pada yang maha kuasa. Andai saat ini aku dalam keadaan suci, aku pasti sudah sholat malam. Tapi aku yakin, Allah akan mendengar doaku meski aku sedang tak bebas dari hadas besar ini.


'Mas, aku tak tahu seperti apa perasaan ku sama kamu, tapi harus kamu tahu. Aku menunggu mu pulang! Kembali lah padaku tanpa kurang apa pun!'


Di seberang negeri sana, Febri dan rekan sesama pejuang sedang perang dalam artian yang sebenarnya. Sesekali pikiran nya terpaut pada sosok perempuan yang selalu mengisi hatinya. Jarak yang kembali memisahkan dirinya dengan sang pujaan hati.


Febri sadar, semua bisa terjadi di sini. Tapi dia akan tetap berusaha untuk selalu siap menghadapi apapun. Dia akan kembali pada sang pemilik hati di negeri tercinta.


Aku akan kembali Nduk, buat kamu! Tekad Febri.


Suara gempuran bom menggema di segala penjuru. Markas mereka tiba-tiba di serang oleh pasukan pengkhianat negeri itu.


Beruntungnya, semua selamat. Termasuk Febri dan rekan-rekannya. Saat ini mereka harus berlindung di reruntuhan gedung yang sudah porak poranda.


Febri berpencar dengan rekannya, Seto sendiri juga berada di situasi yang sama. Hari masih cukup gelap. Hampir subuh di negeri itu sudah di serang oleh orang-orang yang tak berperikemanusiaan. Febri bersama seseorang warga sipil yang terluka cukup parah.


Tanpa Febri sadari, ada salah satu pengkhianat yang mengintai keberadaan Febri. Febri yang kurang fokus karena ada warga sipil yang terluka di hadapannya pun menjadi incaran si pengkhianat itu.


Saat orang itu mengarah senpi, bersiap menembak Febri dari jarak dekat seseorang berlari meneriaki namanya.


"Awas Kapt!!!!!", teriaknya. Febri pun menoleh, tapi sayangnya orang itu terlalu cepat menyerang sehingga Febri tak mampu menghindar.

__ADS_1


Dor...dor...dor....


Orang yang memanggil Febri menghajar si penembak dengan membabi buta. Ya, Lettu Amara yang menghajar pengkhianat itu.


Dengan air mata dan amarah nya, dia menghajar si penembak dengan sekuat tenaganya. Tak memikirkan apakah dia akan mati atau tidak! Dia ingin meluapkan emosinya karena sudah menyakiti lelaki yang sangat ia sayangi.


.


.


Bu Sri yang baru selesai solat malam tiba-tiba merasakan sesak di dadanya. Dia merasakan suatu hal yang tidak bisa ia jabarkan.


"Ya Allah, Lek!", kata Bu Sri dan suara itu menarik atensi pak Bambang yang baru saja dari kamar mandi.


"Ada apa toh Bu?", tanya pak Bambang yang cemas karena melihat istrinya seperti mengkhawatirkan sesuatu.


"Pak, perasaan ibu ngga enak!", kata Bu Sri.


"Semoga Febri baik-baik saja ya pak. Ini bukan pertama kalinya Febri ikut ke misi itu, tapi... entah kenapa perasaan ibu nggak enak!", lanjut Bu Sri lagi.


"Istighfar, Bu! Ucapan adalah doa. Apalagi ibu ini ibunya Febri. do'akan yang terbaik untuk anak kita. Insyaallah Febri baik-baik saja dan selamat di manapun dia berada!", pak Bambang mengusap bahu istrinya.


Aku sudah mulai terlelap tapi tiba-tiba saja seperti ada yang membangunkan ku sampai membuat ku terjaga.


Aku beringsut dari kasur ku bermaksud untuk minum, tapi ternyata gelas ku sudah kosong. Akhirnya aku pun bangkit menuju ke dapur.


Masih jam setengah empat pagi. Berati aku benar-benar baru tidur beberapa menit yang lalu.


Aku mengambil gelas yang ada di rak. Saat akan menuangkan air ke dalam gelas ku, tiba-tiba ada anak cicak jatuh tepat di jari manis ku yang melingkar cincin pemberian Febri.


Spontan aku mengibaskan nya, gelas yang ada di samping ku pun jatuh hingga pecah. Dan cincin ku pun lepas dengan sendirinya.


Aku beristighfar berulang. Menenangkan degub jantung ku yang tak beraturan.


Ya Allah, ada apa ini? Semoga bukan pertanda buruk ya Allah!


Suara pecahan gelas membuat kedua lek ku bangun. Mereka langsung menuju ke dapur.


Saat mereka sampai ke dapur, aku sedang berjongkok mencari cincin ku yang jatuh entah ke mana.


"Nduk, ada apa?", tanya lek Sarman.


Aku berdiri lagi untuk menegakkan tubuh ku.


"Cincin ku jatuh lek. Ngga tahu jatuh di mana? Tadi aku minum, tiba-tiba ada cicak di jariku. Makanya ngga sengaja nyenggol gelas kena kibasan tanganku."


"Ya udah, besok pagi kalo udah terang, kita cari nduk!", ujar lek Dar.


Aku menggeleng.


"Perasaan ku dari semalam ngga enak Lek. Aku... aku khawatir mas Febri kenapa-kenapa lek! Dia belum hubungi aku sama sekali sejak berangkat ke sana."

__ADS_1


"Nduk, insyaallah Febri baik-baik saja. Doakan saja nduk! Kamu yang tenang! Jangan berpikir yang macam-macam!", Lek Dar mencoba menenangkan ku.


Aku menarik nafas dalam-dalam lalu ku hembuskan. Tak lupa, batin ku tetap beristigfar!


__ADS_2