Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 47


__ADS_3

Alby dan Silvy menuju ke rumah sakit. Mang sapto sekarang berada di mobi yang ia kendarai sendiri mengikuti mobil Alby.


Silvy tak henti-hentinya menebar senyuman. Dia seolah tak peduli dengan apa yang Alby dan Bia rasakan. Yang dia pikirkan adalah dirinya saat ini sudah memiliki hak atas Alby, suaminya.


Silvy menggelendot manja pada lengan Alby yang mahir memainkan tuas mobilnya. Sesekali ia menepis tapi Silvy terus saja memegangi lengannya.


"Hubby, aku pengen manja-manjaan sama kamu."


Silvy mendongak di samping Alby.


"Lepas! Jangan menggangguku konsentrasi ku!", kata Alby datar.


"Uccch.... Sayang....gemes banget sih liat bibir manyun mu kaya gitu. Jadi pengen gigit deh!", kata Silvy dengan nada manjanya.


Alby berdecih mendengar kalimat itu dari bibir perempuan yang sudah ia nikahi kemarin.


"Kamu sama papa kamu tuh sama aja. Pembohong!", kata Alby ketus.


"Pembohong apa sih sayang?", tanya Silvy manja. Alby masih berusaha menepis Silvy yang masih nyaman di lengannya.


"Aku mau melakukannya dengan mu karena kamu udah janji mau membiarkan ku bersama Bia buat menghabiskan Minggu ini. Tapi apa? kamu tiba-tiba datang dan mengacaukan semuanya!"


"Ohhh...aku baru tahu kamu bisa marah juga Sayang?"


Kali ini Alby benar-benar melepaskan jeratan tangan Silvy.


"Suruh siapa Bia melarang ku masuk? Andai ia bersikap lembut dan ramah padaku , aku tidak akan seperti ini sayang!"


Silvy mencolek dagu suaminya itu. Spontan Alby menoleh ke arah samping.


"Habis ini kita ke hotel lagi yuk? Aku kangen....!", bisik Silvy pelan di dekat telinga Alby.


Alby membelalakkan matanya pada Silvy. Dia tak habis pikir jika istri keduanya ini benar-benar gila!


"Biasa aja kali tuh mata! Becanda doang! Kita ke rumah sakit, nanti siang kita langsing balik ke kota. Papa sudah nungguin di rumah sakit!"


Perasaan Alby semakin tak karuan. Itu artinya ia akan benar-benar berjauhan lagi dengan Bia.


"Sebenarnya apa tujuan mu membuat rumah tangga ku berantakan seperti ini?"


Silvy melirik suaminya yang rupawan itu.


"Karena aku mencintaimu sayang! Memang salah kalo perasaan cinta ini tiba-tiba ada di hatiku?"


"Tapi kamu egois!"


"Hei!", Silvy menuding jarinya di depan Alby.


"Aku Silvy Hartama! aku bisa mendapatkan apapun yang aku inginkan! Termasuk kamu! Aku masih berbaik hati membiarkan mu masih jadi suami Bia! Andai aku mau, aku bisa saja mendepak nya dari hidup mu, bahkan dari dunia ini!", kata Silvy penuh dengan emosinya.


"Apa maksudmu? kamu mengancamku?", gigi Albu bergemeletuk.


"Ya! Kenapa? Mau melawanku? Hahahah...coba saja! Itu artinya hari ini kamu terakhir bertemu dengan Bia!", sahut Silvy lantang.

__ADS_1


Alby sungguh tidak menyangka jika perempuan yang sudah menjadi istri keduanya bisa menjadi seorang psikopat.


"Jaga bicara mu Silvy!", bentak Alby.


"Berani sekali kamu membentakku sayang?"


Alby mencengkram kemudinya dengan begitu erat. Terlihat jemari nya memutih saat meremas lingkaran di depan matanya.


"Harusnya kamu berterima kasih sayang ku!", Silvy kembali menggelayut manja. Lalu jemarinya menekan dada Alby dengan manjanya.


"Aku masih mau berbagi sama Bia kok. Andai aku egois, aku maunya kamu tetap bersamaku dan selalu di sisiku. Tapi sebagai wanita, aku masih punya hati kok sayang. Bia sedang hamil anakmu. Berarti anakku juga bukan?", tanya Silvy dengan jarinya yang masih menekan-nekan dada Alby.


Tak terasa,mobil mereka sudah sampai di rumah sakit. Sepasang suami istri itu pun turun dari mobil. Silvy masih setia menggandeng lengan sang suami.


Andai Alby tak punya jiwa kemanusiaan, dia segan untuk di gandeng seperti itu. Tapi nalurinya masih berfungsi dengan baik, dia tidak tega melihat Silvy yang susah berjalan.


Di lorong rumah sakit, mereka berdua berpapasan dengan dokter Sakti. Sejak pernikahan mereka, sakti baru bertemu mereka lagi.


Sakti memandang Alby dengan tatapan tak suka. Tapi ia berusaha tetap bersikap profesional.


"Hai dokter Sakti!", sapa Silvy. Sakti hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


"Bagaimana keadaan mama sekarang? Sudah bisa di bawa ke kota kan?", tanya Silvy.


"Sudah jauh lebih baik nona. Dan insya Allah nanti siang nyonya Titin bisa di pindahkan ke rumah sakit kota", jawab sakti tenang.


Alby hanya menatap sakti yang sedang menjelaskan keadaan Mak.


"Ayok sayang, kita masuk. Pasti papa udah nungguin kita!", ajak Silvy.


"Oh...oke! Jangan lama-lama ya sayang!", kata Silvy manja.


Cup ...


Sebelum Silvy masuk ke ruang rawat Mak, ia menyempatkan diri mengecup pipi suaminya. Sakti yang berada di hadapannya sedikit terkejut dengan ulah Silvy. Begitu pula dengan Alby yang tak kalah terkejutnya mendapat perlakukan seperti itu dari Silvy.


"Bisa kita bicara dok?", tanya Alby.


Sakti melirik jam tangannya.


"Apa ada yang penting sekali mas Alby? Bukannya soal kesehatan nyonya Titin sudah saya jelaskan, beliau bisa keluar dari rumah sakit ini nanti siang?"


"Kita bicara tentang urusan pribadi mas sakti!"


Sakti menghela nafasnya.


"Baiklah, tapi waktu saya tidak banyak mas. Saya masih harus mengecek pasien lain."


"Lima belas menit!"


Akhirnya Sakti mengiyakan. Keduanya berjalan lalu duduk di kursi tunggu.


"Ada apa mas Alby?", tanya sakti yang sebenarnya juga bingung kenapa tiba-tiba Alby mengajaknya bicara. Urusan pribadi juga katanya.

__ADS_1


"Saya tahu, anda laki-laki yang sama yang mendekati Bia beberapa tahun yang lalu dok!"


Sakti melirik Alby sekian detik.


"Lalu?"


"Saya tahu, dari cara anda menatap istri ku...anda masih menyimpan rasa padanya."


Sakti tersenyum tipis.


"Lalu?", tanya sakti lagi. Alby yang merasa tak di tanggapi menatap sakti.


"Jangan harap kamu bisa mendekati istriku!"


Sakti kali ini justru tertawa sambil menepuk bahu Alby.


"Sebegitu takutnya Bia meninggal kan mu mas Alby? Jika iya, kenapa kamu tega membuat Bia di posisi seperti sekarang!", ujar sakti geram. sudah tidak ada senyum di wajah tampannya.


Alby meremas kedua tangannya yang bertumpu di atas lututnya.


"Kamu tak tahu apa-apa!", ujar Alby.


"Iya, tapi aku tahu seperti apa perasaan Bia."


"Persepsi mu tidak akan merubah apapun. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan Bia!"


Sakti lagi-lagi tersenyum, tapi sekarang senyum sinis yang menghiasi wajahnya.


"Jangan terlalu percaya diri mas Alby!", Sakti berdiri dari bangkunya lalu kembali menepuk bahu Alby.


"Cepat atau lambat, waktu itu akan tiba. Sekali pun aku tidak ada kesempatan bersama Bia, setidaknya aku tidak menyakiti Bia. Itu sudah cukup buat ku. Aku bukan laki-laki yang merebut apa yang bukan hakku. Tapi aku siap pasang badan jika suatu saat nanti Bia benar-benar ingin lepas dari jeratan egoismu!"


Setelah mengucapkan kata-kata itu, sakti melenggang pergi. Lagi, Alby kembali meremas tangannya hingga memutih. Dia tak menyangka jika dokter sakti justru lebih menyeramkan di banding dengan Febri.


Sakti menjauh dari lorong ruang rawat Mak. Tiba-tiba saja seseorang menarik tangannya.


Orang itu tak lain dokter Kirana, sepupunya sendiri.


"Mbak!", pekik sakti.


"Kamu apa-apaan sih Sa? Mau jadi perebut istri orang? Memang tidak ada perempuan lain lagi hah?", hardik Rana.


"Aku tak melakukan apapun!", sanggah Sakti.


"Kamu pikir mbak ngga denger sendiri barusan apa yang kamu dan suami Bia obrolin?"


"Oh...mba Rana denger? Ya udah sih, terus buat apa tanya ke aku?"


"Sakti!"


"Mbak, sebagai sesama wanita bukannya mbak juga akan merasakan hal yang sama seperti yang Bia rasakan kan mbak? Ditengah kehamilannya dia harus mendapatkan kenyataan jika suami nya menikah lagi di depan matanya! Apa itu tidak menyakitkan mba?"


"Tapi sa...!"

__ADS_1


"Stop mbak! Aku tidak akan merebut Bia dari suaminya, aku akan menunggu Bia lepas dengan sendirinya dari hubungan toxic itu!", sakti pun menjauh dari dokter Rana.


Kirana memijat pelipisnya. Semua orang tahu tentang pernikahan Alby dengan Silvy putri sang pemilik saham utama rumah sakit ini.


__ADS_2