
Aku dan Febri sudah membersihkan diri usai pendakian singkat tadi. Menyadari di rumah ini ada orang lain hehehe
"Aku mau siapin masak dulu ya mas!", kata ku memakai bergo.
"Rambut mu masih basah sayang!", katanya sambil melepaskan lagi jilbab ku. Lalu ia mendudukkan ku di ranjang. Mas Febri menggosok rambut ku agar lekas kering.
Entah aku harus senang atau sedih dengan perlakuan nya kali ini.
"Aku bisa sendiri mas!", kataku sambil mencoba menghentikan tangannya di kepala ku.
Febri pun menghentikannya. Dia berjongkok di depan ku. Menatap ku begitu intens.
"Jangan terlalu memikirkan apa yang tidak seharusnya kamu pikirkan nduk."
Mas Febri mengusap perut ku, lalu mengecupnya. Matanya kembali menatapku lekat.
"Jika secepat Allah memberikan kepercayaan untuk kita ya Alhamdulillah. Kalo memang belum, mungkin Allah sedang ingin membuat kita menikmati masa-masa berdua kita. Karena kita sudah terpisah begitu lama, heum?", Mas Febri menakup kedua pipiku. Tak terasa air mataku meleleh karena terharu. Dia menghapus air mataku dengan jarinya.
"Kan mas udah bilang, mas ngga suka liat kamu nangis nduk?!"
"Aku...aku menangis bahagia mas hiks ..hiks...aku... beruntung memilikimu!", gantian aku yang menakupkan kedua tanganku di pipinya. Dahi kami beradu dan mata kami saling terpejam.
Perlahan kami saling melepaskan. Mas Febri tersenyum padaku. Mendadak aku curiga dengan senyuman 'aneh' nya itu.
"Kenapa?", tanya heran.
"Ngga!", sahutnya.
Aku mengambil kembali bergo ku. Sudah jam lima sore. Paling tidak sebelum magrib aku harus sudah selesai masak. Apalagi aku harus menjamu tamu.
"Ya udah aku mau masak."
Tapi sebelum sampai pintu, dia kembali menarikku.
"Ada apa lagi mas?", tanyaku dengan nada geregetan. Tadi aja sok sweet, sekarang pasti bakal absurb lagi. Herannya...dia begini kalo di depan ku atau sahabat dekatnya doang!!!
"Ssst...kita ke ruang tamu dulu yuk!", ajaknya.
"Ngga usah iseng deh ah! Aku tahu suamiku ini mau ngisengin temen!", kata ku menjewer telinganya. Ngga kencang sih, tapi cukup menjadi perhatiannya.
"Kamu lho nduk. Masiyo su'uzon ambek bojomu dewe'."
Aku memutar bola mataku malas mendengar protes darinya. Tapi...dia kan kalo sama Dimas dan Seto pasti bertingkah absurb. Pasti itu!
Mau tak mau aku ikut mas Febri yang menggandeng tangan ku menuju ruang tamu.
Kami mengendap-endap seperti mau nge-gep sesuatu.
Mungkin kalo ada musik pengiringnya seperti musiknya warkop DKI 😆😆🤣
"Mas mau ngapain sih??", kataku menarik baju Kokonya.
"Sssttt...mau mantau lapangan, masih aman apa gak!"
Huffft! Benar kan tebakanku! Mulai lagi kan dia????
Ehemmm.... tiba-tiba Febri berdehem yang tentu saja mengejutkan dua sejoli yang di mabuk cinta, eh ... melepas rindu eh ...nggak!
Wait.... jangan suudzon dulu!
"Apa sih Feb?", tanya Dimas dengan suara bangun tidur tapi dia masih berbaring di pangkuan Anika. Anika hanya mengangkat kedua tangannya di samping kepalanya sambil menggeleng. Persis kaya tawanan yang lagi di todong.
"Ngapain koe ?", tanya Febri.
"Turu lah! Ngantuk aku!", jawab Dimas malah memutar kepala nya menghadap perut Anika. Anika hanya nyengir kuda.
"Yakin Lo??? Wes meh sejam lho. Mosok gur turu???", tanya Febri penuh curiga.
(Sudah hampir sejam. Masa cuma tidur?)
Dimas menoleh lalu bangkit dari rebahannya sambil menatap bingung pada pengantin baru yang terlihat sudah fresh.
"Lha iya. Kon ngapa sih?", tanya Dimas, back to ngapakers!
__ADS_1
(Lha iya. Suruh ngapain?)
"Tenane? Ga bar ijolan idu Tah koe?", tanya Febri dengan frontalnya.
(Beneran? Ngga habis tukeran ludah tah kamu?)
Aku mencubit pinggang nya yang bahkan tak bisa ku cubit.
"Mas, awakmu kok tiba'e ga di ayak nek ngomong iku. Isin de'e mas. Kek ngunu ae ditakok'e!", bisiku pelan. Beruntung Anika tak paham omongan kami.
(Mas , kamu kok ga di saring kalo ngomong. Malu dia nya mas. Gitu aja di tanyain)
"Ckkk...halo??? Kuwe mah jelas iya lah Feb. Tapi aku ora kaya koe pas esih pacaran mbiyen. Aku esih eling. Nek wes rampung ijolan ido, ya wes rampung gari turu. Emang koe cah loro, bar kaya kuwe gari mendaki gunung lewati lembah, menyelam lagi! Ah.... kita mah normal-normal aja ya dek!'', kata Dimas. Aku sampai ternganga di buatnya.
(Hallo? Itu mah jelas lah Feb. Tapi aku ga kaya kamu pas masih pacaran dulu. Aku masih inget. Kalo udah tukeran **dah, ya udah tinggal tidur. Emang kalian, habis itu tinggal mendaki gunung lewati lembah, menyelam lagi)
"Astaghfirullahaladzim!", gumam ku.
"Beneran dek?", tanya Febri pada Anika.
"Apanya yang beneran?", tanya Anika yang bingung dengan obrolan ketiga orang Jawa itu, meski beda daerah dan dialeknya.
"Itu, kamu cuma di cium doang kan sama kak Dim kamu?", tanya Febri.
Anika mengerutkan kedua alisnya hampir bersatu karena memang alisnya tebal dan rapih.
"Ya Allah mas, engga! Kita belom ngapa-ngapain dari tadi kok. Ya kan kak? Orang habis pelukan, kak dim malah tidur di pangkuan ku dari tadi", jawab Anika jujur.
Aku menutup wajah ku di punggung mas Febri. Entahlah, kenapa jadi aku yang malu sendiri wkwkwkwk
"Serius?", kata Anika mengangkat kedua jari nya bentuk V.
"Nanti dulu dek!", kata Dimas. Anika pun menoleh pada kekasihnya itu.
"Apa?"
"Kamu bilang apa? Belom ngapa-ngapain?", tanya Dimas pada kekasih kecil nya itu. Anika dengan lugunya mengangguk.
Aku menyeret mas Febri untuk tidak ikut campur. Aku yakin jika Dimas benar-benar menjaga Anika dengan baik. Kalo sampai terjadi sesuatu, urusannya bakal panjang sama pak jendral Galang.
"Beri mereka ruang privasi mas."
"Maksudnya suruh di kamar gitu?"
"Ish, ya bukan. Maksudnya biarin mereka ngobrol berdua. Kita masak aja. Toh aku yakin, mereka ga ngapa-ngapain. Justru tuduhan kamu ke Dimas yang bikin kita malu sendiri tahu ngga mas!", kataku. Febri menggaruk-garuk kepalanya.
"Iya sih. Ya udah, mas bantu istri tercinta masak deh kalo gitu!"
"Heum! Ayok lah!"
Kami masak untuk makan malam berduaan di dapur mini kami.
.
.
.
Disebuah kamar rawat inap....
"Ayo mas, makan dulu! Perut mu harus diisi!", pinta Bina pada sakti yang saat ini terpasang jarum infus ditangan kirinya.
"Mas ngga nafsu makan sayang !"
"Gimana mau cepat sembuh kalo mas Sakti begini terus? Kamu ngga kasian sama aku heum? Aku kurang tidur sama istirahat lho mas. Ga kasian sama bayi kamu?"
Sakti mendesah pelan.
"Ya Allah, gini amat sih mau punya anak!", keluh Sakti. Bina terkekeh melihat keluhan suaminya.
"Nikmati mas. Waktu bikin aja menikmatinya kan? Nah sekarang lagi di suruh menikmati hasil awal nya", kata Bina. Bukan semakin tenang, Sakti malah makin menjadi.
"Iya...iya... mas makan!", kata Sakti. Bina pun menyuapi suaminya dengan telaten. Selang beberapa menit kemudian, ada orang yang masuk ke dalam ruangan Sakti.
__ADS_1
"Ayah?", sapa Bina dan Sakti bersamaan.
"Gimana kondisi kamu Mas?", tanya Galang penuh perhatian.
"Begini lah yah, lemes!", keluh Sakti manja.
"Gitu aja ngadu mas!", ledek Bina. Galang hanya terkekeh pelan.
"Nikmati saja. Enak kan?", ledek Galang.
"Ayah kok malah ikutan meledek gitu!", kata Sakti.
"Ngga mas. Tapi ngomong-ngomong, kamu ngga ngidam apa gitu Na?", tanya Galang pada Bina.
"Ngga sih yah. Bina biasa saja."
"Aku yang pengen makan sesuatu Yah, Bina!", kata Sakti.
"Makan apa mas?", tanya Bina.
"Tapi kayanya nggak mungkin deh. Jauh soalnya!", jawab Sakti lagi.
"Iya apa?", tanya Galang sekarang. Sakti benar-benar seperti anak kecil.
"Tapi aku takut bina marah!"
"Ngga, aku ngga marah mas. Mau apa?", tanya Bina.
"Ayah masih inget ngga, kita pernah makan masakan Bia waktu di kota G. Makanan nya itu caramelize, pedes asem manis, ada taburan bawang goreng sama potongan rawit kecil-kecil. Tapi aku maunya Bia yang masak. Terus istriku yang menyuapi!", kata Sakti.
Bina dan mertuanya saling berpandangan.
"Yang bener aja mas. Bia kan di Jawa timur sana!", kata Bina.
"Makanya tadi ku bilang kayanya ngga mungkin!", kata Sakti lemas.
Diam-diam, Galang menelpon Febri. Di seberang sana, Febri mendengar obrolan sahabatnya itu.
"Ya gimana mas. Kamu tahu aku ga pinter masak. Apalagi makanan yang kaya kamu pengen, aku ga tahu mas!'', kata Bina.
"Ya udah, mas kan ga maksa. Mungkin lain kali aja."
"Memang harus masakan Bia? Jangan bikin istri mu cemburu lho mas!", kata Galang.
''Gak lah. Istri ku ngga cemburu! Ya kan sayang?", tanya Sakti pada Bina.
"Ngga lah. Ngapa kudu cemburu yah."
"Tuh kan ayah denger. Pokoknya aku pengen Bia yang masak makanan kaya waktu itu!", kata Sakti kekeh.
Aku yang berada di dapur bersama mas Febri pun mendengarkan siaran langsung calon bapak yang sedang ngidam.
[Ya mas, besok aku masakin. Aku anterin ke ruang rawat kamu]
Aku mengatakan kesanggupan ku menuruti ngidam nya calon bapak 😁
Prinsip nya, siapa yang memudahkan urusan orang lain, insyaallah dia juga akan dimudahkan urusannya.
[Heh? Bia?]
[Iya mas. Aku sama mas Febri di Jakarta. Aku janji, insya Allah besok pagi aku bawain makanan yang kamu pengen mas]
[Beneran Bi?]
[Iya....calon bapak hahahah]
Bina tak sanggup menahan tawanya. Berbeda dengan Galang yang hanya tersenyum.
Panggilan pun berakhir. Semua sudah kembali ke kegiatan masing-masing.
*****
Maaf kalo gaJe. Otewe tamat heheh
__ADS_1
Tapi ga janji berapa bab lagi. Pokoknya seperti di awal mamak bilang, happy ending buat Bia ✌️✌️✌️🤗🤗✌️
Makasih ✌️🙏