Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 37


__ADS_3

Masih Febri


Aku tak ingin banyak tanya lagi. Jadi aku langsung menghampiri Mak Titin.


"Maaf Mak, baru jenguk. Cepat sembuh ya!", kata ku.


"Makasih Nak Febri!", ujar Mak. Mata ku bertemu dengan mata gadis yang berkebaya itu yang tak lain adalah Silvy.


"Habis ada acara ya Mak?", tanya ku.


Mak Titin mengangguk pelan.


"Ya udah, Febri pamit ya. Mak cepet sehat!", kata ku pada Mak.


Alby sudah berdiri di depan Bia. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak berhak tahu ada apa. Tapi seperti aku menangkap sesuatu. Pakaian Alby dan gadis di sebuah brankar Mak seperti orang yang baru menikah.


"Dok, sepertinya saya langsung keluar saja." Aku menepuk pelan bahu dokter sakti.


"Kamu siapanya Alby atau Bia?", tanya pria berjas hitam itu padaku. Sakti yang tadi ingin mengatakan sesuatu pun urung.


Aku berbalik badan menghadap ke pria dewasa yang sudah kupastikan dia orang kaya.


"Saya teman Bia di kampung. Tadi pagi saya sudah menghubungi Bia sebelum saya kemari."


"Heum. Teman?", sarkas pria itu.


Teman apa? emangnya dia pikir aku tak bisa menangkap matamu yang memandang lebih pada Bia saat pertama masuk ke ruangan ini. Hartama melipat kedua tangannya di dada.


"Iya, kami dari daerah yang sama. Dan kebetulan, saya tinggal di sebelah rumah Mak Titin."


Sepertinya aku hanya akan emosi menghadapi pria itu.


Bia terlihat duduk di sofa, diikuti oleh Alby. Dia sudah tak tergugu seperti tadi.


"Bia...!", aku menghampirinya yang sedang duduk bersama Alby.


"Apa mas? Kamu juga mau mentertawakan ku seperti mas Sakti?", tanya Bia padaku.


Maksud Bia apa?


"Kamu ngomong opo toh nduk??",tanyaku. Alby menatap ku tak suka. Oke! Mungkin aku terlalu berlebih-lebihan menghadapi Bia yang menangis.


"Neng...!", Alby meraih bahu istrinya.


"Pergi lah A. Ngga usah mikirin perasaan ku. Dia pun punya hak yang sama dengan ku. Aku akan tetap merawat Mak sampai Mak benar-benar bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Tapi...aku akan tetap mendaftarkan gugatan cerai dari mu!", kata Bia lantang.


Apa? Cerai?


"Kamu ngga bisa begitu Neng. Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan mu Bia. Sampai kapan pun!"


"Kenapa? Kamu ngga rela aku bahagia dengan cara ku sendiri? Apa yang harus ku pertimbangan di sini? Coba? Beri aku alasan untuk ku bertahan di sini?! Mak? Aku memang sayang sama Mak, tapi lagi-lagi gadis itu juga lebih berhak terhadap Mak karena ia anak kandung Mak di banding aku A. Aku ini siapa????!", pekik Bia.


Aku terperangah mendengar ucapan Bia. Sebenarnya ada hal berat apa di sini? Alby menikah lagi? Gadis itu istri Alby? Anak Mak Titin?


Sekarang Bia menatap ku dengan emosi.


"Kamu mau tertawa dengan apa yang ku hadapi saat ini mas?", tanya Bia padaku yang terpaku.


Aku menggeleng pelan. Aku tak paham dengan apa yang dia tanya kan.


"Koe ngomong opo toh nduk?", tanyaku bingung.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa semua tak pernah berpihak padaku."


Bia meremas gamisnya. Ingin sekali aku merengkuh tubuh kecil nya itu. Tapi apa hakku?


"Sayang! Dengarkan Aa!", Alby menakupkan kedua tangannya di pipi Bia.


"Aa sayang sama Bia. Cinta sama Bia."


"Ngga ada yang sayang sama Bia. Aku benci kalian semua!", Bia bangkit dari sofanya.


Alby hendak menyusul Bia, tapi pria berjas itu memanggil Alby.


"Selangkah kamu keluar dari ruangan ini, lihat apa yang akan terjadi padanya!", kata pria itu mengancam.


Alby membeku di sana. Dokter sakti sedikit berlari menyusul Bia.


"Jika terjadi apapun dengan Bia, saya akan menganggap anda yang bertanggung jawab tuan!", hardik ku di hadapan pria kaya itu.


Aku pun menyusul Bia dan sakti.


Sebenarnya apa yang terjadi di sini????


.


.


Aku sudah tak bisa memikirkan apa pun. Yang ada di pikiran ku saat ini hanya ingin keluar dari situasi ini. Aku lelah ya Allah, aku lelah!


Aku tak tahu akan ke mana. Kaki ku pun terus melangkah sampai bahuku di raih oleh seorang.


"Jangan gegabah Bia. Ingat ada nyawa yang harus kamu lindungi juga!", pekik orang itu yang tak lain adalah sakti.


Aku pun berdiri di tempat. Aku sudah merasa dunia ku berhenti.


"Aku kalah!", kataku lirih.


Sakti ikut duduk di hadapan ku.


"Maaf, aku memang orang asing Bi. Aku tidak berhak tahu. Tapi... sayangnya aku harus menyaksikan itu semua."


"Apa aku egois jika aku tak merestui pernikahan mereka? Apa aku bodoh jika aku memilih bertahan dan setia pada suamiku?", aku mendongak menatap sakti yang pasti iba menatap ku.


"Apa pun pilihan mu, aku harap yang terbaik. Benar kata Alby, jika kecewa mu adalah alasan mu tidak menerima pernikahan mereka maka anakmu pun alasan mu bertahan mempertahankan pernikahan mu. Maaf, bukan maksud ku mengguruimu. Tapi...sebisa mungkin, kamu memikirkan semua ini dengan kepala dingin."


Iya, mas Sakti benar.


"Jujur Bi. Aku memang belum atau mungkin tidak akan pernah bisa melupakan perasaan ku padamu. Maaf, mungkin ini waktu yang tak tepat. Tapi...aku ingin menepis tuduhan mu jika aku mentertawakan keterpurukan mu. Ngga Bi. Justru aku pun merasakan sakit yang sama saat melihat mu sedih seperti ini."


Ingin rasanya ku benamkan saja wajahku Ki dalam inti bumi. Ucapan ku saat emosi tadi menuduh Sakti mentertawakan ku, sungguh membuat ku malu.


Tunggu! Mas Febri pun tahu keadaan ku seperti apa sekarang? Apa aku juga salah menuduh hal yang sama seperti aku menuduh mas Sakti?


Derap langkah kaki mendekat ke arah ku dan Sakti. Benar saja, pria berbaju loreng itu kini turut jongkok di hadapan ku. Aku mendongak menatap wajah tegas pria itu.


"Apa kamu juga mau mengasihani ku mas?", tanyaku saat dia sudah berada tepat di samping Sakti.


"Alasan apa yang mengharuskan aku mengasihani mu?", tanya nya padaku.


Aku tersenyum simpul. Miris sekali hidupku. Aku menolak dua pria mapan di hadapan ku hanya demi di sakiti oleh seorang Alby. Apa aku menyesali semua di hidupku ini...???


Batin ku tertawa melihat nasibku sendiri. Tidak! Aku tidak akan menyesal. Toh... kehidupan yang akan datang memang rahasia yang kuasa. Andai aku tahu dari awal seperti apa kehidupan rumah tangga ku akan begini, aku pasti tidak akan mau melakoninya. Tapi...semua memang harus ku lewati bukan?

__ADS_1


Dua pria tampan itu saling berpandangan.


"Aku memang tak berhak atas dirimu lagi Bi. Tapi, harus kamu tahu. Kapan pun kamu membutuhkan ku, aku akan selalu ada buat kamu", ucap Febri sungguh-sungguh. Tak mau kalah dari Febri, Sakti pun mengatakan hal yang sama.


"Kami tak sedang mengambil kesempatan Bi. Jika itu kamu menganggap kami seperti itu, tapi...kami tulus. Kamu tidak sendiri. Dan... seperti yang ku bilang, jangan gegabah mengambil keputusan. Apa pun itu!", kata sakti. Setelah itu ia pun berdiri, menepuk bahu Febri sebentar lalu melangkah dan menjauh dari kami.


"Aku antar kamu pulang Bi!", Febri mengajak ku.


"Pulang? Memang ke mana aku akan pulang?", tanya ku sambil menatap Febri.


"Bia....?", panggil Febri lirih.


"Aku sudah tak punya rumah untuk bernaung mas Febri. Rumah itu sudah bukan hanya milikku!", aku tertunduk dan lagi-lagi aku menangis di depan mata mas Febri.


"Kamu tidak selemah itu Bia!", kata Febri tegas.


"Tapi kenyataannya aku lemas mas. Aku kalah!", pekikku.


"Kamu tunjukkan pada mereka, kamu mampu. Kamu kuat Bia. Kamu bukan perempuan yang lemah dan mudah di tindas apalagi oleh pria tua yang sok berkuasa itu!", kata Febri penuh emosi.


Maksud Mas Febri pasti tuan Hartama.


"Tunjukkan, kamu punya kuasa. Kamu bisa lakukan apa pun, kamu berhak mendapatkan apa pun yang memang menjadi hak mu."


"Tapi aku tidak suka berbagi Mas. Aku ngga bisa berbagi! Apa laki-laki memang egois seperti itu?"


"Bia. Mas memang ngga tahu apa alasan apa yang membuat Alby mendua kan kamu. Tapi aku tahu sekali , sebagai sesama pria. Aku tahu dia sangat mencintai mu. Meski aku pun memiliki perasaan yang sama seperti itu padamu Bi!", Febri sedikit terbawa emosi.


"Gila! Hari ini sungguh di luar batas kewajaran. Dua pria di masa lalu ku mengungkapkan perasaan masih memiliki perasaan padaku di saat aku sedang terpuruk dengan pria masa depan ku. Aku mungkin sudah tidak waras!", kataku. Setelah itu aku bangkit lalu berjalan menuju ruangan Mak lagi. Dompet dan ponsel ku ada di sana. Hanya itu yang akan ku ambil. Tanpa basa-basi aku kembali masuk ke dalam ruangan Mak.


Cuiiih ... pemandangan pertama yang ku lihat justru Silvy yang sedang bergelayut manja di lengan Alby.


Melihat aku masuk, Alby hendak bangkit dari sofa. Tapi Silvy menahannya.


Aku melewati mereka berdua dan tuan Hartama juga ada di sofa yang lain. Mak di temani dua orang lagi. Iya, teh Mila. Aku pernah video call dengannya.


Mak menatap ku penuh iba.


"Bia pamit Mak. Sudah ada yang jagain Mak. Bia tunggu di rumah, Mak cepet sehat biar ya. Assalamualaikum!", aku mencium punggung tangan Mak.


"Titip Mak ya teh Mila!", kataku. Ini kalinya pertama yang ku katakan pada Mila sejak bertemu tadi pagi. Teh Mila hanya mengangguk, mengiyakan ucapanku.


Aku pun melangkah menuju ke pintu. Sungguh wajah Alby begitu tertekan. Sebenarnya aku tak tega melihat wajah suamiku seperti itu, tapi mah bagaimana lagi. Aku tidak bisa berpura-pura baik-baik saja.


"Neng, kamu pulang sama siapa?", tanya Alby padaku.


"Sama Mas Febri!", sahutku singkat. Padahal aku sendiri tak tahu apa mas Febri masih di sini atau tidak.


"Biar Aa antar ya?", tawar Alby.


"Eh...ngga! Silvy mau kita langsung ke hotel aja A!", kata Silvy merajuk.


Aku tersenyum sinis.


Hotel??? Membayangkan mereka melakukan malam pertama saja aku sudah emosi!


"Tidak usah. Terimakasih! Aku bisa pulang sendiri!", kataku lalu keluar sambil membanting pintu.


Ternyata dugaan ku salah. Febri masih di depan. Menyandarkan punggungnya di dinding.


"Mas antar pulang. Sekalian mas balik ke kantor."

__ADS_1


Aku pun mengangguk. Bodo amat dengan persepsi orang lain. Saat ini memang aku butuh tempat dan waktu untuk sendiri, meski itu di rumah almarhum bapak mertua ku.


__ADS_2