Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 192


__ADS_3

"Kalian mau ninggalin gue? Kok ngga ada yang bilang sama gue?", Sakti mendorong bahu Febri dengan telunjuknya. Tak ada gerakan yang pasti dari dorongan telunjuk Sakit.


"Mas!", Galang memanggil putra sulungnya.


Sakti pun menoleh kepada ayahnya.


"Kok ayah ngga bilang sih? Kalo mereka mau di mutasi? Mereka bikin salah apa sama ayah?"


"Astaghfirullah, gak gitu mas!", ujar Galang. Lalu pria gagah yang sudah tak muda lagi itu merangkul Sakti.


Galang sadar, Sakti baru kali ini bisa dekat dan bersahabat. Tapi ikatan persahabatan mereka tak perlu di ragukan meski keempat lelaki gagah itu belum lama saling mengenal.


Terlebih Sakti dengan Febri. Keduanya menjalin persahabatan karena sama-sama menyukai perempuan yang sama. Konyol sekali bukan?


"Lalu apa yah? Ayah ganti ajudan ayah anak-anak yang lebih muda?", tunjuk Sakti pada ajudan baru ayahnya.


"Tolong dengarkan penjelasan ayah dulu! Sini, duduk sama ayah!", titah Galang. Kadang jika sedang emosi, Sakti melebihi sikap kekanak-kanakannya Anika.


Sakti turut duduk di bangku yang sedang ayahnya duduki.


"Mas, kamu tahu pangkat sahabat-sahabat kamu bukan lagi pangkat 'terendah'?",tanya Galang.


Sakti mengangguk. Meski bukan bidangnya, tapi dia juga tahu perjalanan ayahnya hingga di titik ini.


"Ayah, bukan ngga butuh mereka lagi mas. Gak kaya gitu!", Galang menghadap Sakti.


"Lalu?"


"Kamu ingin kan karir sahabat-sahabat kamu lebih berkembang. Kalo mereka masih disini terus, kapan mereka bisa naik level? Oke, mereka sesekali ke kantor, ke markas tapi pekerjaan mereka cuma mengawal ayah. Kapan mereka bisa membuktikan bahwa mereka layak untuk naik ke level yang lebih tinggi?"


Sakti terdiam. Ucapan ayahnya memang benar. Tapi Sakit segan menjawabnya.


"Febri, dia sudah satu tingkat di atas Dimas dan Seto. Bahkan dia sudah bisa memimpin *****m!"


Seto menatap sahabat-sahabat nya satu persatu yang sedang bersikap istirahat di tempat.


"Oke, Febri memang lebih senior dari mereka? Lalu Dimas? Seto?"


"Mereka pun sama Mas. Merasa akan berusaha untuk lebih baik lagi."


"Apa adek tahu?", tanya Sakti melirik Dimas.


"Tahu!", jawab Galang.


"Dia mau menerima begitu saja?", tanya Sakti lagi.


"Ayah sudah menjelaskan padanya mas. Semoga saja dia mengerti. Toh, mereka bisa LDR-an. Itung-itung latihan jarak jauh dari pasangan, kalo memang mereka berjodoh!"


"Oke...kalo itu memang keputusan yang terbaik buat mereka. Semoga saja, kita masih bisa sering bertemu. Terutama Lo,Dim! Kasian adek gue!", ujar Sakti. Dimas mengangguk pelan.


"Ya sudah, kalo kalian mau ngobrol dulu silahkan! Ayah mau istirahat lagi!", Galang berpamitan.

__ADS_1


"Sini Lo!", panggil Sakti pada Dimas. Dimas pun mendekat.


"Ya, mas?"


"Lo ,udah pamitan sama Adek?", tanya Sakti. Dimas menggeleng.


"Belum mas, adek di telpon ngga di angkat. Dari pagi belum keluar kamar. Kayanya dia marah mas!", kata Dimas menunduk.


"Kenapa Lo ngga samperin ke kamar nya?", tanya Sakti.


"Mana ada kaya begitu sih mas, yang ada gue di pecat sama bapak!"


"Ya udah, gue temenin Lo deh nemuin adek!"


"Eum...iya mas!", kata Dimas.


"Gue...tinggal ke dalam dulu ya!" ,pamit Dimas pada Febri dan Seto.


Duo sahabat itu mengiyakan dengan anggukan.


"Sakno Dimas yo!", kata Seto.


(Kasian Dimas ya)


"Awakmu dewek piye To? Lha po ga LDR ambek Naya? Sok-sokan kasian sama temen, sendiri nya aja perlu di kasihani!" , celetuk Febri.


(Kamu sendiri gimana To? Emang ga LDR sa Naya?)


"Hehehe Iyo!", sahut Seto sambil cengengesan.


Sakti dan Dimas menuju ke kamar Anika. Ternyata, di sana sudah ada Bina yang sedang menenangkan Anika. Dua pria tampan itu memilih berdiam diri di tembok sebelah pintu. Menguping obrolan Anika dan Bina.


"Maaf ya kak, Ika brisik ya jadi kak Bina keganggu!",kata Anika.


"Ngga usah minta maaf Dek. Kan adek juga adiknya kak Bina sekarang!"


Anika mengangguk dalam pelukan Bina.


"Kamu kenapa sih dek? Boleh kok cerita sama kakak kalo emang adek punya masalah yang pengen adek curhatin?"


Anika melonggarkan pelukannya. Keduanya kin berhadapan.


"Kak Dim ,mau di mutasi kak!", kata Anika.


"Owh...! Terus?", tanya Bina.


"Kok gitu doang reaksinya?", tanya Anika sambil manyun. Dua lelaki di balik tembok hanya menahan senyum. Bisa dibayangkan seperti apa menggemaskannya wajah Anika jika sedang merajuk begitu.


"Hehehe ya maaf. Bukan maksud kakak mau nyepelein gitu!", Bina memperbaiki posisi duduknya.


"Kalo kak Dim di mutasi jauh gimana? Kan...kita jadi susah ketemu nya? Terus kalo di tempat barunya dia naksir apa di taksir sama cewek lagi gimana Hua....Hua...Hua....!"

__ADS_1


Sakti dan Dimas ternganga.


"Jadi itu yang bikin kamu khawatir dek?", Bina mengusap kepala Anika. Gadis itu masih terisak.


"Heum!", gumamnya singkat.


"Kakak mau cerita sedikit soal Dimas, tapi...adek jangan salah sangka dulu ya!"


Anika mengangguk. Sedang Sakti dan Dimas saling beradu pandang.


"Adek ngga usah khawatirkan, kak Dimas mu itu kalo udah sayang sama satu cewek, dia ngga bakal berpaling. Insyaallah Kak Dim setia kok sama adek. Mau di manapun dia berada!", kata Bina.


Sakti melirik ke Dimas yang garuk-garuk lehernya yang sepertinya digigit semut.


"Berati...kak Dim masih suka sama kak Bina dong Hua...Hua ..Hua...!"


Lha? Malah nangis lagi...???


"Sttty...tuh kan, tadi kakak udah bilang jangan salah sangka! Malah nangis lagi!"


Anika menghapus ingus dan air matanya.


"Terus gimana biar aku ngga salah sangka?"


"Gini, selama tiga tahun kak Bina sama kak Dim, dia selalu berusaha menjaga komunikasi dengan Kak Bina meskipun dia dinas di manapun. Dari situ, kak Bina yakin. Kalo dia juga akan melakukan hal yang sama ke adek. Jadi tenang aja, adek ngga usah khawatir. Kak Dim nya adek pasti setia kok!"


Dimas yang dipuji seperti itu hidungnya megar, tapi Sakti malah menyikut lengan Dimas.


"Terus, kenapa kak Bina putus sama kak Dim?"


"Karena ngga jodoh heheheh kan kak Bina jodohnya mas Sakti!", sahut Bina. Sepertinya dia enggan untuk berbagi alasan putus dengan Dimas pada Anika.


"Ishhh....gitu deh!"


"Udah, ngga usah bahas kakak sama kak Dim. Kan sekarang kak Bina udah sama Mas sakti. Kisah sama kak dim kamu udah lama..... banget tutup buku! Ngga perlu di bahas lagi, di ungkit-ungkit lagi, udah selesai!"


"Heum, oke!", jawab Anika pelan.


Mendengar obrolan itu berhenti, dua cowok ganteng itu masuk ke kamar Anika.


Kedua perempuan beda status itu pun menoleh ke arah pintu melihat siapa yang datang ke kamar.


Anika bangkit lalu menghambur ke pelukan Dimas. Badan Anika yang kecil seperti tenggelam dalam pelukan Dimas.


Gadis itu kembali menangis di pelukan Dimas. Bina memberi kode pada agar mereka berdua keluar lebih dulu dari kamar anika, tanpa menutup pintu tapi ya ...takut ada yang khilaf! Heheheh


Sakti pun menghela nafas. Sepasang pengantin baru itu memilih menunggu di luar kamar, ya ... seperti posisi tadi dimana Sakti dan Dimas menguping pembicaraan Bina dan Anika.


*****


Segini dulu y? Insyaallah nanti lagi. Maafin kalo GaJe 🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


makasih ✌️


__ADS_2