
Sekarang hanya tersisa aku dan A Alby di ruang tunggu.
"A, kalo mau liat Mak mending Aa ke kamar mandi dulu deh."
Alby nampak ragu apakah akan menemui Mak saat ini, atau besok pagi setelah Mak selesai operasi.
"Kok diem toh A?"
"Eum...iya, Aa ke cai heula!", katanya sambil mengusap kepala ku.
Alby meninggalkan ranselnya di sebelah ku. Sepertinya tak banyak baju yang ia bawa. Terlihat ranselnya begitu tipis.
Resleting bagian depan terbuka sedikit, ada ujung kertas atau map yang menyembul di bagian itu.
Aku pun bermaksud untuk memperbaiki posisi map itu. Tapi aku penasaran dengan map yang ada di situ. Aku pun mengambilnya.
Tapi ternyata di dalam map itulah hanya ada kertas HVS putih polos.
Ini buat apa ya? Ngapain si Aa bawa kertas sama map begini? Aku bertanya pada diri ku sendiri. Aku akan bertanya nanti saat si Aa kembali dari kamar mandi.
Mataku sudah mulai sulit di kondisikan. Ngantuk, capek dan pokoknya tak tergambarkan. Hanya saja aku sedikit tenang karena ada si Aa di samping ku. Aku merasa tak sendiri lagi. Meski tadi di temani mas Febri, tapi tentu saja rasanya tak enak sendiri.
Setelah beberapa saat, A Alby sudah kembali bersama ku. Dia terlihat lebih segar dari sebelumnya.
"Kamu sudah solat neng?", tanya si Aa.
"Udah tadi bada isya. Setelah itu, Bia di kabari sama perawat kalo Mak sudah siuman."
Alby mengangguk. Kok aku merasa suamiku itu beda ya? Dia seperti tak ada khawatir-khawatirnya sama Mak. Tadi, saat baru sampai malah A Alby menyempatkan diri untuk makan malam bersama aku dan yang lain. Kenapa dia tidak langsung menemui Mak?
"Aa, tadi ada map sama HVS kosong, buat apa? Emang Aa mau melamar kerja lagi? Kan udah dapet kerjaan enak?"
Alby menatap manik mataku. Lalu setelah itu, ia mengambil map dan kertas itu.
Ku dengar ia menghela nafasnya.
"Tadi Aa beli di jalan. Ini, surat pernyataan kalo aku sama neng berhutang sama majikan Aa soal operasi dan pengobatan Mak."
Aku merasa aneh mendengarnya.
"Maksudnya, ini Aa mau bikin surat keterangan kita hutang gitu?", tanya ku.
Aa mengangguk.
Maafin Aa ya neng! Aa sudah membohongi mu.
"Emang berapa nominalnya A? Dari pada utang sama majikan mu, mending pakai tabungan ku atau kalo perlu aku jual sawah sama tanah ku di Jawa buat bayarnya?"
Aa mengusap kepala ku lagi, ku lihat wajahnya menjadi murung.
"Aa ngga mau nantinya akan berakibat buruk. Apalagi persepsi keluarga besarmu. Biar ini jadi tanggung jawab Aa. Maaf ya sayang, bukan bermaksud menolak bantuan mu."
Iya, aku paham maksud si Aa. Dia tidak ingin di anggap memanfaat harta keluarga istri nya di mata keluarga ku. Meski sebenarnya, hanya aku yang berhak atas harta itu.
"Jadi, aku dan Aa harus tanda tangan di sini? Tapi kan ini kosong?"
"Iya, nanti kalo udah di tandatangani Aa kan bawa ke kota lagi. Baru di sana di ketik sama orangnya bos Aa."
"Kok aneh sih A? Kenapa ngga kita aja yang isi? Kesannya gimana gitu, takut di salah gunakan aja A."
"Eum...ya sudah kalo neng gak mau gak apa-apa. Biar Aa aja yang bertanggung jawab di sini."
__ADS_1
"Bukan gitu A...! Oke...aku tanda tangan disini. Tapi tolong, nanti kalo udah di isi form nya kasih tahu Bia ya."
Aku tahu kamu ngga sebodoh itu Bia. Maafin Aa ya sayang....maaf!
Aku membubuhkan tanda tangan ku di salah satu sudut kertas putih itu. Saat giliran Aa akan tanda tangan, seorang perawat menghampiri kami. Jadi, si Aa urung menandatanganinya.
"Kenapa sus?", tanya ku.
"Maaf mba, tadi pasien tanya apa putranya sudah datang, kalo sudah datang katanya beliau mau bertemu", kata perawat tersebut.
"Oh, iya. Saya anaknya sus. Saya akan masuk!", kata Alby.
Masyaallah, meuni kasep pisan! Batin si perawat.
Suster pun meninggalkan kami berdua.
"Ya udah Aa masuk, Bia di sini. Kan ngga bisa masuk bareng. Kecuali besok kalo udah berada di ruang rawat."
Si Aa mengangguk mengerti. Ia pun masuk ke dalam ruangan Mak.
Mata Alby langsung tertuju pada wanita ringkih yang ada di brankar rumah sakit.
"Mak...!", panggil Alby lirih. Mak yang awalnya terpejam kini menatap nyalang putranya itu.
"Mak, Mak yang kuat ya. Besok pagi Mak mau operasi. Istirahat yang cukup ya Mak."
"Apa yang sudah maneh lakukan dikota sana Jang?", tanya Mak lirih, sangat lirih.
"Maksud mak apa?", Alby duduk di sebelah Mak.
"Siapa gadis yang ciu*** sama kamu? Dan apa maksudnya mengirim ke nomor Bia? Bagaimana perasaan Bia jika dia lihat kelakuan kamu seperti itu?", mata Mak menatap nanar ke arah Alby. Air matanya meluncur begitu saja.
"Astaghfirullah Mak. Demi Allah, Alby ga mengkhianati Bia. Percaya sama Alby Mak."
Apa karena video itu, Mak jadi kambuh??? Batin Alby.
"Mak sedih Jang. Malu sama Bia."
Alby menggenggam tangan Mak. Di hapusnya air mata yang mengalir di pipi Mak.
"Mak, Mak lihat sendiri bukan. Gadis itu yang menghampiri Alby. Bukan Alby."
"Dia siapa?"
"Anak majikan Alby Mak."
"Dia suka sama kamu Jang?", tanya Mak.
Alby terdiam sejenak. Setelah itu, barulah ia mengangguk.
"Dan kamu...kamu menanggapi gadis itu?"
"Mak, demi apa pun. Alby tak pernah sedikitpun mencoba mengkhianati Bia Mak."
Mak terdiam. Memang, di video itu Alby tampak terkejut dengan perlakuan anak majikannya yang tiba-tiba menyerangnya.
"Kamu keluar saja dari pekerjaan itu. Biarlah kita kekurangan uang, asal kamu dan istri mu bahagia."
Alby menggeleng.
"Alby ngga bisa Mak."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena Alby hutang budi sama majikan Alby."
"Hutang budi?"
"Hutang uang Mak, buat biaya berobat Mak sampai sembuh."
"Astaghfirullah!", ucap Mak lirih.
"Mak. Alby tahu, Bia juga bisa membiayai pengobatan Mak. Tapi Alby tidak mau di anggap memanfaatkan Bia di mata keluarga nya di kampung sana Mak."
"Kamu pinjam berapa banyak Jang? Dan bagaimana mencicilnya?"
"Mak ngga usah cemas, itu urusan Alby."
Mak pun terdiam.
"Mak istirahat ya udah malam banget. Alby sama Bia di luar. Besok kalo udah selesai di operasi, Alby sama Bia bisa nemenin Mak di ruang rawat. Kalo sekarang belum boleh. Ngga apa-apa kan Mak?"
Mak mengangguk pelan.
Alby pun pamit ke luar. Saat sudah berada di luar, Alby melihat istrinya yang tertidur sambil duduk.
Alby pun mendekati lalu mengusap kepala istri nya yang terlihat sangat lelah. Dirinya pun sama, lelah hati , pikiran dan tentu saja fisiknya.
Saat akan mencari posisi yang nyaman untuk dirinya dan juga istri nya, seseorang menghampiri Alby.
"Permisi. Tuan Hartama meminta saya mengambil map yang ada pada anda!", kata orang tersebut.
Tuan Hartama memerintah orang untuk mengikuti ku???
"Anda siapa?" tanya Alby.
"Saya suruhan tuan Hartama. Jika anda tidak percaya, silahkan hubungi beliau."
Alby pun meraih ponsel di sakunya. Benar, ternyata tuan Hartama mengirimkan chat soal orang suruhannya yang di minta mengambil kertas itu.
Dengan sedikit ragu, Alby menyerahkan map itu. Setelah pria itu mendapat map dari Alby, dia pun langsing pergi begitu saja.
Wajah lelah istrinya semakin membuat Alby semakin merasa bersalah. Alby sudah mengkhianati kepercayaan istri dan ibunya.
Rasa rindu yang membuncah hanya bisa Alby salurkan dengan memeluk istrinya agar berbaring di pangkuannya.
.
.
"Sapto, besok pagi kamu antar ke alamat Alby di kampung."
"Ke kampung Alby tuan?", tanya mang Sapto.
"Iya."
"Maaf tuan, ada apa ya? Bukannya Alby baru saja berangkat tadi sore?"
"Kamu kerja sama saya, jadi ngga usah banyak tanya. Turuti saja perintah saya!", tegur Hartama.
Sapto hanya mengangguk saja.
Hartama langsung menuju kamarnya. Dia menatap langit-langit kamarnya.
__ADS_1
Balas dendam yang menyenangkan bukan? Titin Zulaikha??? Kamu berhutang nyawa padaku!
Hartama merasa bahagia. Dirinya bisa memulai aksi balas dendam nya lewat Alby yang dengan sengaja menghampirinya. Kebetulan yang sangat menguntungkan!