Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 231


__ADS_3

Akhirnya aku bisa membebaskan diri dari suamiku. Hah! Menuruti nya ga akan pernah ada habisnya.


Usai solat subuh, aku menyiapkan kopi untuk mas Febri dan teh hangat untuk ku. Mas Febri sendiri masih melanjut tadarusannya. Ya, mesum-mesum begitu, masih ada nilai plusnya. Di banding aku???


Setelah menyeduh kopi, aku tak langsung mengantarkan ke kamar. Melainkan ku letakkan di meja belakang. Aku ingin menikmati waktu subuh di halaman belakang.


Masih ada sisa kue basah bekas pesta kemarin. Aku pun menyuguhkannya di atas meja.


Dan lauk seperti daging serta sayur yang masih bisa ku hangatkan, akan aku pakai untuk sarapan nanti. Urusan nasi, tinggal pencet tombol on di rice cooker.


Setelah ku rasa siap semua nya, aku memanggil mas Febri.


Pintu kamar ku memang tak tertutup, makanya aku tahu kalo mas Febri belum selesai.


Aku memilih duduk di bangku meja rias untuk menunggu nya selesai mengaji. Ku akui, suaranya saat mengaji terdengar merdu dan menenangkan. Mungkin dia merasa aku menunggu nya, ia pun menghentikan bacaannya.


Dia bangkit dari sajadah lalu meletakkan Al Qur'an di atas meja rias.


"Nungguin mas, heum?", tanyanya sambil melepas peci hitamnya lalu ia letakkan di gantungan.


"Iya, mau ngopi dulu?"


"Kalo boleh nyusu dulu ngga apa-apa sih!", katanya.


"Ngga punya stok susu mas, aku kan jarang minum susu. Ada juga kopi, gula sama teh aja!"


Febri terkekeh pelan. Aku tahu maksudnya, tapi lebih baik pura-pura tak tahu saja. Dari pada berujung adegan naninu yang mungkin dia ga ada bosennya.


"Ya udah, ayok kita Medang bareng-bareng!", kata Febri sambil mendorong bahuku dari belakang.


"Udah di pake salep nya?"


Ckkk...ngapain sih bahas salep mulu! Ga jelas banget, kaya ngga ada bahasan lain aja!


"Nduk?"


"Eum, udah!", jawabku singkat. Aku ngga mau ada drama neko-neko yang akan keluar dari mulut suamiku.


"Masih sakit?"

__ADS_1


"Udah deh mas, ngga usah nanya kaya gitu mulu!"


"Yo wes...Yo wes! kirain mas, kalo masih sakit nanti mas tanggung jawab ngobatin!", katanya dengan nada yang sangat meyakinkan. Aku memandangi nya dari samping dengan mataku sedikit mendelik.


"Heheheh serem amat sih Nduk melotot nya!", ia memencet pipi ku. Setelah itu, kami duduk di bangku yang ada di halaman belakang.


Hening untuk beberapa saat sampai Febri merangkul bahuku. Mengusap lengan atasku yang memang masih memakai daster meski aku sudah mandi.


"Mas masih kaya mimpi lho, bisa kaya gini sama kamu nduk!", katanya. Pandangan nya menerawang ke atas langit yang sudah mulai berubah warna menjadi lembayung.


"Aku juga mas!"


"Kita sudah melewati semua rintangan yang begitu panjang, hingga akhirnya kita bisa bersatu kaya sekarang."


Aku mengangguk.


"Janji ya Nduk, jangan pernah tinggalin mas lagi."


"Insyaallah, aku tak bisa banyak janji Mas. Hidup mati kita kan Dia yang menentukannya. Bagaimana aku bisa janji, seandainya aku pergi lebih dulu dari kamu...."


"Ssst...mas ga bahas seperti itu. Dan aku ngga mau mendengar kalimat seperti itu ataupun sejenisnya."


"Apa pun masalah mu, sekarang adalah masalah ku. Begitu pula sebaliknya. Jangan pernah tutupi apa pun sama aku ya mas! Aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama dengan percaya begitu saja, terlebih...aku sudah mempercayakan semuanya sama kamu mas!"


Mas Febri mengecup puncak kepalaku yang masih sedikit basah.


"Heumm, mas harap kamu juga begitu. Mas ngga akan membatasi kamu berhubungan baik sama Alby. Tapi...mas harap kamu tahu batasan nya ya?"


Febri menowel hidung ku.


"Mas pencemburu, kamu tahu itu!", katanya sambil tersenyum tipis. Aku mengangguk, mengusap rahang nya.


"Sebenarnya, kalo boleh mas aku ngga mau terlalu dekat atau berinteraksi lagi sama Alby mas. Tapi...ada agenda bulanan yang harus mempertemukan aku san Alby, mas!"


"Itu kan urusan pekerjaan!", kata Febri.


"Iya sih!"


"Oh iya nduk, setelah masa cuti mas habis, mas dinas di Jakarta lagi. Kamu harus ikut! Ya kan?"

__ADS_1


Aku mengangguk dalam dekapannya.


"Iya lah, kemanapun kamu pergi aku ikut!", kataku sambil menenggelamkan kepala ku di dadanya.


Apa Bia trauma LDR ya? Bagaimana kalo suatu saat nanti aku di tugaskan lagi untuk keluar kota atau luar negeri???


"Heum, kamu harus dampingi mas di mana pun berada meski nantinya kita harus ngontrak di Jakarta!"


Aku mendongak menatap wajah gantengnya yang makin terlihat mempesona meski hanya memakai baju Koko putih.


"Dan...soal uang nafkah yang nanti mas kasih, mas minta maaf. Gaji mas tidak sebanyak pendapatan warung mu atau penghasil mu yang lain Nduk!"


"Aku udah pernah bilang mas. Berapa pun yang kamu kasih, aku terima. Dan aku gunakan sebaik-baiknya untuk kebutuhan kita. Dan soal apa yang aku miliki, bukan berarti kamu tak berhak mas. Aku mau, jika suatu saat nanti kita benar-benar membutuhkan nya, jangan pernah sungkan untuk menggunakannya."


Aku menghela nafas setelah berbicara sepanjang itu. Aku jadi ingat soal 'harga diri' yang Alby katakan, sampai akhirnya ada orang lain yang mampu membeli harga dirinya di banding aku yang istrinya.


"Ssst...udah, ngga usah diingat-ingat lagi. Apa yang terjadi saat itu, anggap saja pelajaran hidup. Dan semoga kita jangan pernah menghadapi masa sulit seperti itu."


"Iya mas!", kami saling berpelukan sambil menatap mentari yang mulai memancarkan sinarnya.


"Kalo kamu lagi mode kaya gini, aku seneng deh mas!"


"Emang ada mode apa lagi?", ia mengernyitkan alisnya.


"Mode mesum lah!"


"Hahaha ada aja koe Nduk!", mas Febri mengecup pipiku.


"Tuh, baru juga dibilangin!"


"Heheh, hawanya kalo deket sama kamu tuh sinyalnya kuat gitu. Maunya..."


"Stop!"


Aku menutup mulutnya dengan telapak tangan ku. Dan sebelum telapak tangan ku di jilat lagi, aku segera melepaskannya.


"Nasi nya udah mateng. Sarapan dulu yuk!", ajakku sambil berdiri.


"Iya ..iya ..! Ayok!", kata mas Febri. Rencananya, hari ini kami akan mendatangi rumah orang tuaku, mertua ku dan tentu saja kedua lek kesayangan ku.

__ADS_1


__ADS_2