
Hari ini aku bermaksiat untuk berjalan-jalan setelah dua hari kemarin aku mengistirahatkan diri di rumah. Ku non aktifkan ponselku.
Setelah ku rasa cukup menenangkan diri, aku aktifkan lagi pagi ini.
Banyak notifikasi bersahutan di ponselku. Dari aplikasi hijau, banyak chat yang menumpuk.
Ku hela nafasku setelah ku baca satu persatu begitu pun dengan balasannya.
Saat ku letakkan ponselku, benda pipih itulah berdering. Alby menghubungi ku setelah tahu ponsel ku aktif.
[Assalamualaikum!]
[Walaikumsalam, neng? Dagoan Aa. Aa arek kaditu!]
(Tunggu Aa. Aa mau ke situ?]
Aku membelalakkan mataku. Apa katanya? Mau ke sini?
[Mau ngapain aa ke sini?]
[Pokokna mah, Aa kaditu neng! Tos nyak, assalamualaikum!]
(Pokoknya mah, Aa kesitu neng. Udah ya)
[Walaikumsalam]
Aku menyandarkan punggung ku ke bahu sofa. Dari pada sibuk memikirkan Alby, lebih baik aku keluar rumah untuk berjalan-jalan. Ya, jalan dari rumah ke warung sudah cukup untuk sekedar cuci mata.
"Mba Bia ....!", teriak sesekali. Aku pun menengok ke arah suara yang memanggilku. Ternyata seorang gadis berusia belasan tahun.
"Ya?", tanyaku.
"Peyan kapan muleh?", tanya gadis itu.
(Kamu kapan pulang?)
Aku mengernyitkan alisku. Sungguh, aku tak mengenalnya. Apalagi dia memakai masker. Dari tadi aku bertegur sapa dengan tetangga, sekedar basa-basi tapi tidak ada yang memakai masker. Jadi aku masih bisa mengenalinya.
"Aku Rina mbak."
Gadis itupun membuka maskernya.
"Oh...maaf, gak liat mukanya soale Rin!", kataku sambil tersenyum lalu kuulurkan tanganku untuk bersalaman dengannya.
"Gak opo-opo mbak. Pasti peyan pangling toh, aku saiki iso luemu!?"
(Gak apa-apa mba. Pasti kamu pangling, aku sekarang gemuk)
"Hehehe Iyo Rin."
"Lha Yo, saiki aku kan wes gadis. Wes kena siklus bulanan!", kata Rina dengan bangga.
Ah, iya aku lupa. Saat aku menikah dia masih kelas satu SMP.
"Heheh koe sekolah Nang ndi toh Rin?"
(Kamu sekolah dimana?)
"SMA negeri dua mbak!"
"Kok Yo adoh? Ga SMA siji ae?"
(Kok jauh? Ngga SMA satu aja)
"Pen metu Seko kandang mbak. Masiyo di sini-sini ae. Kurang pergaulan mbak!"
(Pengen keluar kandang mba. Masa di sini Mulu)
"Ngekost Tah koe?"
"Ga mba. Di laju. PP cuma dua jam, masih bisa lah hehehe."
"Sekolah sing tenanan Rin."
(serius)
"Iyo mba, eh....btw mbak Bia muleh kapan? Ambi yang mu toh?''
"Winginane. Duduk yang Rin, bojoku!"
(Kemarin lusa. Bukan pacar Rin, suamiku)
"Hahaha Yo iku maksude."
"Gak. Bojoku lagi kerja."
"Eum...ngunuh Tah. Ya wes, peyan mau ke mana toh? Ke warung? Rina anterin!"
(Begitu Tah? Ta udah, kamu mau ke mana?)
"Ke warung sih. Tapi pengen jalan-jalan dulu."
"Ke mana? yuk Rina anterin. Rina juga lagi bete, makanya pengen keluar. Sayange ga punya temen."
__ADS_1
"Sakno!"
(Kasian!)
"Makanya ayok mba, mau ke mana?"
"Heheh aku cuma mau ke situ!", aku menunjuk jalan menuju kali yang tercipta alami.
"Oh...yowes. Rina Melu ae!"
Akhirnya aku berkata beriringan. Kebetulan aku membawa cemilan.
"Duduk sini mbak!", kata Rina. Kami pun duduk bersebelahan.
"Mba, pembangunan staycation itu berhenti gegara sampeyan sama om Sarman ga setuju pembebasan tanah itu ya mbak?", Rina menunjuk dengan telunjuknya ke arah proyek pembangunan.
"Heum? Lek Sarman emang pernah bilang Rin. Tapi, kalo mba pribadi juga ngga mau lah. Mau semahal apa pun itu."
"Kenapa? Kan lumayan harganya tahu mbak."
Aku terkekeh tipis.
"Kamu lihat kan di sana?", aku menunjuk dengan jariku.
"Liat opo?"
"Itu, yang lagi pada di sawah."
Rina mengangguk.
"Mba ngga mau memutus mata pencaharian mereka. Bukan mba mau mendahului dan membatasi rezeki dari yang kuasa. Tapi setahu mbak, mereka biasa sistem maro sawah Rin. Mereka ga punya lahan, tapi cukup menggarapnya saja. Kasian mereka udah pada tua, mau kerja apa coba? Kemampuan mereka cuma di bidang pertanian."
Rina masih menatapku.
"Lagi pula, kalo staycation itu selesai ada jaminan apa buat mereka yang terbiasa bekerja di sawah? Memang, ada sebagian yang mungkin di rekrut jadi pekerja di sana. Tapi kembali lagi, apa yang bakal mereka lakukan di usia mereka yang sudah sepuh itu. Bertani mungkin ngga bikin mereka kaya, tapi setidaknya passion mereka memang di bidang itu."
Rina masih menatap ku tanpa berkedip.
"Ngomong'o Rin. Diem Bae!"
"Hehehe...aku kaya lagi dengerin penyuluhan pertanian mbak!", celutuk Rina.
Aku menggeleng heran.
Aku meluruskan kakiku ke pinggiran kali yang berbatu. Mungkin aku salah kostum, harusnya aku tak memakai tunik berwarna putih tulang seperti ini. Toh, aku malah kotor-kotoran di pinggir kali.
Tanpa di sadari oleh kedua perempuan berbeda usia itu, ada seorang pria yang diam-diam memperhatikan Keduanya.
Pria tampan yang tak lain adalah William itu pun mengunggah foto Bia yang sedang mengulurkan kakinya di pinggir sungai.
William membubuhi caption yang menarik para followernya.
(Gambar Bia)
Beautiful in white
Belum lama di unggah, foto itu sudah mengambil atensi para follower William. Tak terkecuali Anika yang berada di Jakarta. Dia salah satu follower William.
Anika sontak menyipitkan matanya.
Ini, mba Bia kan???Kok William bisa ambil foto mba Bia sih? Bia di mana? Gumam Anika.
Berbeda dengan Anika, Rina justru heboh sendiri. Dia celingukan melihat ke selilingnya. Mencari seseorang yang diam-diam mengambil foto Bia.
"Kenapa sih Rin?", tanyaku. Aku heran melihat Rina yang celingukan.
"Mba, kayaknya ngga cuma kita berdua yang ada di sini deh!", kata Rina pelan.
"Ya emang, masih ada makhluk Allah yang lain Rin!", kataku santai. Rina mau menakut-nakuti ku?
"Iiih....bukan mba!", kata Rina kesal.
Rina menunjukkan gambar itu padaku. Mataku membulat melihat fotoku berada di postingan Instagram orang yang ngga ku kenal.
"Astaghfirullah! Kelakuan siapa sih ini?", tanyaku pada Rina.
"Ini mbak, selebgram William Adiraja. Mba kenal sama dia?", tanya Rina.
"Siapa? William?", tanyaku. Rina mengangguk.
William saudaranya bapak Esa?
"Ngapain sih tuh bocah aplod foto ku segala!", kataku kesal.
"Sampeyan kenal mbak???", tanya Rina girang.
"Ngga Rin. Tahu aja. Ketemu kemaren di kereta pas aku balik ke sini, eh ketemu lagi di warung!"
"Oh...jadi dia itu udah ketemu kamu mba? Pantes dia review makanan di mana gitu, kaya kenal. Ngga tahunya di warung mba Bia."
"Heum!", sahutku singkat.
"Kenalin dong mbak!", kata Rina menyenggol bahuku.
__ADS_1
"Kenalan aja sendiri. Kali aja dia nginep dirumah pak Lurah mu!", kataku.
''Kok pak lurah?"
"Ya dari yang ku dengar dia masih kerabat pak lurah."
Rina mengangguk paham.
"Eh mba, ada yang komen tuh. Nanyain, itu calon kak Wil apa bukan! di jawab iya sama kak Wil, mbak!"
"Astaghfirullah!", kataku lirih.
"Wes mbak. Ngga udah di pikirin. Toh mereka ngga kenal mba. Ya kan?"
''Iya sih Rin. Ya udah, ke warung yuk!"
Rina pun yang setuju.
.
.
Rombongan Alby sudah sampai di dekat penginapan yang tak jauh dari warung.
"Kita makan di restoran penginapan sini?", tanya Hartama.
"Iya tuan. Tapi kalau tuan mau mencoba makan di warung yang lagi hits juga boleh tuan!", kata Marsha.
"Warung? Warteg maksudnya?"
Marsha menggeleng.
"Namanya aja warung tuan, tapi penampakan sama masakannya itu restoran tuan."
"Dari mana kamu tahu?", tanya Hartama.
"Ini, ada selebgram yang mereview makanannya!", kata Marsha penuh semangat.
Alby melepaskan jasnya, ia mengganti jas hitamnya dengan kaos oblong panjang.
"Mau ke mana kamu?", tanya Hartama.
"Mau keluar sebentar."
Tanpa menghiraukan mertuanya, Alby pun keluar dari area penginapan.
"Urusan pembebasan lahan masih belum dapat titik temu Sha?", tanya Hartama pada sekretarisnya.
"Pengurus dan ahli waris masih menolak soal pembebasan lahan Tuan!", jawab Marsha.
Ya, pembebasan lahan itu begitu alot karena selalu di ditolak oleh pewarisnya.
"Kamu udah hubungi pemerintah setempat kalo kita akan bertemu besok?", tanya Hartama lagi.
"Sudah tuan, jam sepuluh kita bertemu dengan pak lurah Anton."
Hartama mengangguk paham.
"Oh iya, warung apa yang kamu bilang tadi Sha?"
Marsha yang tak biasa melihat bos nya berkata pelan dan lembut begini merasa heran kenapa bosnya mendadak berubah. Jangan-jangan udah diincer sama malaikat Izrail! Marsha menggelengkan kepalaku sendiri.
"Warung Sahabat tuan."
Hartama bergeming. Ingatannya kembali pada sahabatnya, Salman.
"*Besok kalo aku bikin resto mau ku kasih nama warung sahabat!", kata Salman.
"Kok namanya aneh? Kurang menjual Man!",Kata Hartama.
"Heheheh di sebut warung, biar merakyat Tam. Di kasih nama Sahabat, biar kita inget tentang persahabatan kota*. SaHaBat. *Salman Abdullah, Hartama Adi Bahtiar."
Hartama tersenyum mendengar makna nama itu*.
Apa itu warung kamu ya Man??? Kenapa aku kehilangan kontak kamu???? Sekarang kamu dimana ya Man??? Hartama menyandarkan punggungnya.
"Tuan, anda mau makan di resto ini? Biar saya pesankan?", tawar Marsha.
"Ngga. Nanti biar aku ke warung yang kamu maksud Sha."
Dia pun berdiri dari bangkunya. Lagi-lagi Marsha heran dengan tingkah bosnya yang berada di luar kebiasaannya.
"Baik tuan!", sahut Marsha.
Sejak Hartama bermimpi tentang sahabat nya yang marah, dia tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.
*****
Mendungnya syahdu beuuuut....! Bikin mager ye....????
Kumaha??? Aya nu tiasa nebak kelanjutanna???
Hatur nuhun pisan gaes 🙏🙏🙏😉😉😉
__ADS_1