
Aku sudah rapi dengan gamis rumahan yang Febri belikan. Dia tahu sekali selera ku. Warna tua dan model simpel. Jangankan hanya warna dan model, ukurannya pun dia terlalu tahu.
Argggggghhhh! Aku mengusap wajah ku dengan kasar. Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya! Malu rasanya jika mengingat 'dosa terindah' kami saat itu. Yang bahkan sering terulang berkali-kali. Beruntungnya, Alby yang mendapatkan hal yang pertama dariku. Kalau tidak...awsssshhhh....aku gak bisa membayangkan dan melanjutkannya deh ah! Malu sama kalian!!!!
Usai memakai pakaian ku, aku bercermin di depan lemari. Alby masih memakai kaos tipis yang ku pakai semalam. Dan celana piyamanya juga sudah kering, dia pakai lagi.
Aku menyisir rambut ku yang panjang sepunggung. Tak terlalu hitam, tapi juga tidak pirang. Masih ada sisa lurus karena efek smoothing setahun yang lalu.
Alby mendekapku dari belakang. Ia letakkan dagu nya tepat di bahuku. Sesekali ia mengecup leher ku yang belum berbalut jilbab.
Aku berusaha melepaskan pelukan Alby. Tapi Alby tak mau melepas ku.
"Kemana?", bisiknya pelan tepat di samping telinga ku. Aku tahu, aku masih halal untuk nya. Tapi saat aku ingat bahwa kami akan segera berpisah, rasanya kok tidak etis sekali yang sedang kami lakukan.
"Aku mau beli sarapan." Tangan ku masih berusaha melepaskan tangan Alby dari perutku.
"Biar Aa yang beli, neng di rumah aja. Aa ngga mau kalo neng perginya lama!"
"Ngga usah. Kamu disini saja. Aku cuma beli nasi uduk di gang depan!"
"Beneran kan? Cuma ke depan?", tanya Alby memastikan. Aku mengangguk.
Cup! Alby mengecup pipiku dari samping. Aku beranjak menjauh dari tempat kami berdiri di depan cermin tadi.
"Ulah poho make tiyung neng!", kata Alby.
(Jangan lupa pakai kerudung neng)
Aku baru sadar, jika kepala ku masih plontos tanpa hijab. Padahal aku sudah memegang gagang pintu akan keluar. Bagaimana bisa lupa sih Bia????
Aku merutuki kesalahan ku sendiri. Bisa-bisanya aku lupa!
Alby kembali mendekati ku. Ia memasangkan jilbab instan padaku.
"Cuma Aa yang berhak menikmati kecantikan neng tanpa hijab. Neng cuma punya Aa!'' katanya lagi dengan suara yang pelan.
Aku hampir tak mengenali suami ku sendiri. Dia benar-benar sosok yang berbeda dari yang ku kenal sejak dulu. Apa karena keinginan ku yang berusaha lepas dari nya, dia jadi seperti ini????
Tanpa mengatakan apa pun pada Alby, aku keluar dari kamar ku. Di saat yang sama, Dewi pun keluar.
"Sapiiii!", pekik Dewi.
"Eh, Ndul!", sapa ku balik. Dia masih memakai daster batik nya, itu artinya dia belum siap bekerja hari ini.
"Kemana?", tanya nya.
"Beli nasi uduk."
"Bareng gue !", ajaknya sambil menggandeng lengan ku.
"Lo udah nikah belum sih Ndul?", tanyaku.
"Udah."
"Oh ya? Kapan? Sama siapa?", tanya ku lagi dengan rasa penasaran.
"Sama bang Malik."
"Malik?", tanyaku.
"Heum, bang Malik yang nembak Lo tapi Lo tolak gara-gara lagi di deketin sama dokter Sakti dulu!", kata Dewi dengan santainya.
"Aish.....sekate-kate kalo ngomong Lo!", kata ku menabok pelan lengan nya.
"Eh, emang bener kok. Dia nembak Lo kan waktu itu, tapi ama Lo ditolak. Di kira Lo mau sama tuh dokter. Ngga tahu nya tuh dokter juga gagal dapet seorang Sapi!", dewi cengengesan dengan suara khasnya.
"Ngarang! Tapi gue belum pernah liat bang Malik?", tanyaku.
__ADS_1
"Masih molor lah jam segini mah. Dia kan sekuriti. Habis jaga malem."
Aku mengangguk. Banyak yang berubah setelah beberapa tahun berlalu.
"Gue udah punya anak Bi. Gue titip sama mertua gue. Lo tahu sendiri gue anak yatim piatu. Bang Malik, cuma punya ibu. Tapi...punya bapak mertua tiri juga sih gue. Cuma ya....kalo suruh tinggal bareng, gue ngga mau lah. Makanya gue kerja lagi. Ngumpulin duit buat bikin rumah."
Aku menatap Lamat wajah Dewi yang biasa cerah sedikit mendung. Dia biasa ceplas-ceplos kalo mode kaya gini jastru aneh.
"Mertua Lo ga keberatan di titipin cucu?", tanyaku. Dewi menggeleng.
"Dia yang nyuruh!", kata Dewi sambil mengangkat bahunya.
"Eum...sorry kalo gue banyak nanya ya Nduk!"
"Ya wajar lah Lo nanya. Kita pernah kerja bareng, tidur bareng dikamar yang engap pula. Dan kita baru ketemu lagi sekarang. Ngga salah kalo kita tanya-tanya banyak hal. Iya kan?", Dewi minta persetujuan ku atau bertanya?
"Iya sih!"
"Btw...gue kemaren ketemu laki Lo. Sumpah Bi, gantengnya Masya Allah!", kata Dewi mendramatisir.
"Lebay Lo! Ngapa muji suami orang, puji aja bang Malik. Dia juga ganteng kan?"
"Heheh ya ganteng dong laki gue. Tapi kalo laki Lo emang ganteng di atas rata-rata sih!", kaya Dewo sambil mengetuk jarinya di dagu.
"Emang rata-rata berapa? Kaya apa?"
"Ya...gitu lah pokoknya!"
"Ngga jelas Ndul!"
"Eum...laki Lo kerja di mana? Kayanya lagi sakit deh? Kemaren gue liat mukanya pucat banget."
"Iya, dia emang abis sakit. Gue juga kemaren-kemaaren di rawat. Gue keguguran Ndul!"
Dewi menghentikan langkahnya, lalu menarik ku hingga aku berhenti di depan nya.
"Lo? Keguguran?", ulang Dewi.
"Lo yang sabar ya Sapi, gue tahu Lo kuat. Heum, kalian bisa kok bikin lagi hehehe."
Aku tersenyum kecut, tak lagi menanggapi Dewi.
"Laki Lo kerja apa sapi?", tanya Dewi lagi. Aku bingung mau jawab apa? Alby kerja jadi sopir keluarga Hartama atau staf di kantor HS grup?
"Kalo bang Malik, jadi sekuriti di HS grup. Lumayan lah gajinya, buktinya gue bisa kos di sini. Lo tahu sendiri kerja di minimarket kita berapa sih?"
Hs grup? Itu bukan perusahaan yang sama?
"Alby juga kerja di sana. Tapi gue ngga tahu di divisi apa!", jawabku.
"Oh...! Gue pikir kerja di mana gitu. Habisnya gue heran sama Lo, Lo nolak Si Febri yang ketahuan abdi negara sama dokter Sakti yang mapan. Pasti laki Lo jauh lebih segala nya di banding mereka kan?"
Aku diam. Bukan soal materi Ndul! Tapi soal perasaan!
"Heum!", aku hanya menyahuti itu. Huffft...kalo aku masih tinggal di sini, pasti lambat lain Dewi bakal tahu masalah yang ku alami.
"Eh, buruan yuk! Keburu siang, ngantri nya lama!", ajakku pada Dewi untuk mempercepat langkah kami.
"Sapi...inget dong, Lo abis keguguran. Jangan grusa-grusu! Lo sama aja kaya abis lahiran tahu!", kata Dewi mengingatkan ku.
"Oh...iya, gue lupa Ndul!", akhirnya Dewi menggandeng lengan ku.
"Gue bukan orang sakit gendul!", protes ku. Ya, Dewi menggandeng lengan ku dengan kencang.
"Gue nggak mau sahabat gue kenapa-kenapa. Rahim Lo masih lemah!", sanggahnya. Mau gak mau aku pun mendengar nasehat ibu beranda satu ini.
.
__ADS_1
.
"Febri!", panggil Galang.
"Siap pak!", jawab Febri.
"Hari ini, biar Seto dan Rio yang menemani Ika. Kamu sama Dimas ikut saya!"
"Siap, laksanakan!", sahut Febri.
Galang masuk ke dalam rumah nya lagi. Pak Jend Galang sedang sarapan bersama putrinya yang baru genap dua puluh tahun beberapa bulan yang lalu.
"Dek, ayah mau kalo mulai hari ini Seto dan Rio yang dampingi kamu dek!"
Anika mengehentikan sarapannya.
"Kok bisa? Emang mas Febri kemana?"
"Febri yang ikut ayah, sama Dimas."
Anika diam beberapa saat. Tapi setelah itu , ia melanjutkan sarapannya.
"Kenapa dek?", tanya Galang.
"Ngga yah!", jawab Anika.
"Ngga boleh? Kalo Febri ikut ayah? Atau malah adek keberatan Dimas ikut ayah?", cerocos Galang.
"Ngga yah! Ika cuma cocok aja sama mas Feb, kak Dimas, Kak Seto. Bukan Ika ngga mau, pak Rio kan udah tua yah. Ngga enak di ajak bercanda Yah!"
Galang tersenyum tipis.
"Jadi, adek mau nya antara Dimas, Febri, atau Seto gitu?", tanya Galang lagi.
"Ika mah ngga bisa nolak juga kali yah!", jawab Anika dengan bibir manyunnya.
"Tapi kamu ga keberatan dek, Dimas ikut kemana pun ayah dinas. Yang pacar kamu kan Dimas? bukan Febri?"
"Ih...ayah ih...Ika malu deh! Jangan bahas gitu!", sahut Ika dengan malu-malu.
"Ya, kan ayah cuma mau pastiin apa Dimas layak jadi menantu ayah"
Anika menganga. Jadi, tujuan ayah menjadikan Dimas ajudan nya sekarang karena itu? Ayah mau lebih mengenal Dimas?
"Ish...Jan bahas mantu ah yah! Ika belum kepikiran sampe sejauh itu."
"Terus? Kenapa ade malah pacaran sama Dimas? Ada motivasi lain kah?"
"Ya...kak Dimas baik, selain itu kak Dimas juga sosok yang nyenengin. Sering hibur Ika. Apalagi kalo dia lagi ngomong pake bahasa ngapak nya yah."
"Yakin hanya itu???", tanya Galang lagi.
"Ya...Ika mah kalo nanti emang berjodoh sama kak Dimas...Ika pengen rasain upacara pedang pora Yah heheh...kayanya gimana gitu !"
"Tadi bilang nya masih kecil, belom kepikiran Eh... sekarang bayangin acara pedang pora segala!", ledek sang ayah.
"Ika kan cuma bilang kalo nanti jodoh. Ya kan ngga tahu yah kedepannya gimana!", Anika mengerucutkan bibirnya.
"Ayah ngga mau, kalo Febri ikut kamu dia pasti bakal deketin istri orang lagi. Kamu pro kan sama Bia?"
"Kok ayah kayanya tahu banget gitu ya? Bakat Intel ya Yah?"
Galang menggeleng perlahan sambil tersenyum tipis.
"Tahu aja. Udah buruan habisin sarapannya. Nanti ayah bilang lagi, Febri yang ngawal kamu dek. Tapi ingat, jangan ajak-ajak Febri nemuin Bia. Mas mu juga iya tuh! Ayah udah siapkan jodoh buat mas mu!"
"Iya Yah, Ika ngga akan minta mas Feb anter ke mba Bia kok. Tapi beneran deh, serius tanya. Ayah tahu apa soal mba Bia, maksud adek soal mas Feb dan mas Sakti yang masih belum move on dari mba Bia?"
__ADS_1
"Anak kecil ngga usah kepo! Ayah cuma ngga mau ada masalah dengan anak-anak ayah. Ajudan ayah, udah ayah anggap anak-anak ayah sendiri. Mereka kan juga keluarga kita. Sebagai orang yang lebih berpengalaman, ayah ngga mau nantinya Sakti atau Febri mendapatkan masalah dari gagal move on nya itu."
Anika mengangguk paham. Dia segan bertanya lagi pada ayahnya. Pasti jawabannya akan jauh diplomatis.