Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 240


__ADS_3

Aku tak ikut bicara apa pun saat Alby berada di ruangan yang sama dengan ku. Yang aku rasakan justru tanganku berkeringat.


Oh ... tidak, bukan hanya tangan. Tapi hampir semua anggota tubuh ku terasa panas dan berkeringat. Ini bukan keringat dingin, tapi rasanya benar-benar tak nyaman.


Ingin sekali aku berpamitan untuk ke kamar lebih dulu. Tapi tatapan mas Febri padaku nampaknya berbeda. Jangan bilang sekarang dia yang salah sangka padaku.


Jangan-jangan dia berpikir aku gemetar seperti ini karena melihat Alby. Semoga tidak!


Detik dan menit berlalu, tapi kenapa semua belum berakhir. Andai aku meninggalkan para tamu, apakah sopan?


Mereka tak tahu apa yang aku rasakan saat ini. Beruntung, Alby mengajak Amara pulang. Sebenarnya aku cukup terkejut, bagaimana Alby bisa kenal dengan Amara. Apalagi saat mereka berpakaian tadi, aku melihat Alby menggandeng tangan Amara.


Apa aku cemburu? Tidak! Itu bukan lagi hak ku! Perlahan, Mas Febri melepaskan genggaman tangan ku. Saat aku menoleh padanya, ia membuang muka.


Aduh...aku pastikan dia sedang mode cemburu!


Alhamdulillah, sepeninggal Alby dan Amara, yang lain pun ikut pulang. Hanya sisa Seto dan dua rekan mereka.


"Mas, maaf! Aku....aku... permisi ke dalam dulu!", kataku dengan suara bergetar. Febri hanya mengangguk. Dia pasti marah!


Tapi terserah lah! Itu urusan nanti! Yang penting sekarang, aku harus buru-buru ke kamar mandi untuk segera mendingan tubuh ku yang entah kenapa begini.


Di ruang tamu, Febri, Seto serta Dio dan Viko masih duduk lesehan.


Terlihat Dio dan Viko saling sikut. Hal itu membuat Seto dan Febri curiga pada keduanya.


"Kenapa?", tanya Seto pada dua junior nya. Mereka berdua satu pangkat di bawah Seto.


Dio dan Viko masih saling sikut. Entah apa yang sebenarnya yang ingin mereka sampaikan.


"Maaf Kapt!", kata Dio memberanikan diri untuk bicara.


"Maaf buat apa?", tanya Febri. Dia bingung kenapa anak buahnya tiba-tiba minta maaf.


"Lo aja yang ngaku!", bisik Dio pada Viko.


"Ga ah, Lo aja! Gue takut?", balas Viko berbisik juga pada Dio.


"Heh! Kalian kalo mau bisik-bisikan jangan di sini!", kata Seto sedikit keras. Viko dan Dia tersentak mendengar suara Seto yang meninggi.


"Ada apa? Apa yang mau kalian akuin?", tanya Febri tenang.

__ADS_1


Dio dan Viko meneguk ludahnya. Mereka saling berpandangan. Menguatkan hati dan fisik tentunya. Karena setelah ini, keselamatan mereka berdua tidak hanya terancam tapi mungkin berakhir.


Keisengan mereka justru salah sasaran!


"Cepet, mau ngomong apa?", tanya Seto lagi.


"Itu...maaf Kapt?", tiba-tiba Viko dan Dio menghambur ke kaki Febri.


"Eh, apa-apaan kalian? Awas!", kata Febri yang heran dan tak enak anak buahnya seperti itu.


"Kami salah Kapt?! Maafin kami!", kata Dio dan Viko masih dengan tertunduk.


Febri dan Seto saling memberi kode, kode dengan saling pandang yang menandakan mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Duduk!", pinta Febri. Dio dan Viko pun menurut.


"Ada apa?", tanya Febri masih dengan sikap datar nya.


"Anu... itu....maaf sebelumnya Kapt. Sebenarnya kami....", Viko menceritakan semuanya.


Febri dan Seto ternganga tak percaya. Tapi setelah nya, justru Seto tertawa terbahak-bahak.


Febri menatap tajam pada satu sahabat nya itu.


Seto berhenti tertawa.


"Udah, urusan hukuman di tunda besok. Sekarang kalian pulang! Ayo! Gue juga pulang!"


Viko dan Dio meneguk ludah nya dengan kasar. Mereka akan menanti hukumnya besok pagi setelah di kantor karena Kapten Febrianto sudah mulai aktif besok pagi.


"Udah sana Feb! Kita balik dulu!", kata Seto menggiring dua bawahannya.


Setelah Seto dan dua anak buahnya pulang, Febri mengunci pintu ruang tamunya. Dia bergegas ke kamar.


Tapi dia tak mendapati istrinya di dalam kamar. Hanya saja, suara air dari kran kamar mandi menunjukkan bahwa istri nya berada di dalam.


Tok...tok...


"Nduk, kamu di dalam? Mandi lagi?"


"Iya mas?", sahutku. Beberapa saat kemudian aku keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk.

__ADS_1


Rasa panas yang menguasai tubuh ku benar-benar membuatku tak nyaman. Aku kenapa??? Apa aku alergi makanan tadi? Tapi selama ini aku tak pernah bermasalah dengan makanan apapun.


Aku melihat mas Febri sudah berganti pakaian. Hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek.


Entah kenapa melihat Mas Febri yang memakai seperti itu saja membuat ku merasa ingin....


Ahhhh! Ngga! Ini memalukan!


Aku bergeming di depan pintu kamar mandi. Dan Febri menatap ku dengan heran. Mungkin karena aku masih betah memakai handuk ku. Dia perlahan mendekati ku. Aku meneguk ludahku pelan.


Bodoh nya aku, mataku malah tertuju pada aset berharga miliknya.


"Kenapa?", tanya Febri heran. Aku membuang rasa malu ku untuk meraup bibir seksinya meskipun aku harus berjuang sedikit, aku harus berjinjit lebih dulu.


Febri mungkin terkejut karena ulahku. Tapi bodo amat! Toh kami suami istri!


Aku seperti bukan aku yang biasanya. Kenapa aku jadi liar seperti ini. Aku tak pernah seperti ini. Beruntung Febri menuruti ku. Bagaimana kalo dia menolak ku? Bukankah ini memalukan????


Akhirnya permainan kami berakhir di ranjang. Kami sama-sama sudah berbaring karena lelah!


Mas Febri memelukku begitu erat. Senyumnya merekah menatap ku dengan penuh cinta.


"Mas suka kamu begini nduk?", katanya sambil mengusap pipiku. Aku jadi merasa malu sendiri karena tadi aku benar-benar berani dan ah... memalukan!


"Aku malu mas!", bisikku.


"Ngapain malu, kita pasangan yang sah? Bukan sedang berzinah?", jawabnya sambil mendusel ke leherku.


Assshhh...jadi mau lagi!


"Mas!", rengekku.


"Apa?", tanya nya penuh perhatian.


"Ngga tahu kenapa aku...mau lagi! Maaf!!!", kataku menunduk.


Febri dengan senang hati menunaikan kewajibannya lagi. Meski dia pun sebenarnya merasa lelah, tapi tetap menikmatinya.


'Sialan Dio sama Viko! Dia kasih dosis berapa banyak sih? Bini gue jadi korban keisengan mereka berdua. Mereka pikir gegara gue libur lama terus mendadak hilang kemampuan gue? Gue pikir bini gue lagi nostalgia dengan masa lalunya sampe keringat dingin! Ternyata!!!! Issshhh....bisa-bisa besok pagi gue ga bisa jalan ini. Lemas lutut gue! **go! Dio...Viko...gue hukum Lo berdua besok pagi ', batin Febri.


****

__ADS_1


Nrimo ae mas....😆😆😆😆🤭🤭🤭


__ADS_2