Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 56


__ADS_3

Febri keluar dari mess saat malam hari untuk membeli makan malam. Dia keluar bersama beberapa rekan sesama prajurit yang dinas di sana. Febri memang mudah akrab dengan siapapun, termasuk rekan barunya itu.


"Mas Feb, dengar-dengar udah lama jomblo nih belum ada keinginan gitu buat cari istri lagi?", tanya Aris, teman barunya.


"Heheh belum ada yang cocok mas Aris."


Ya, mereka tampak terbuka satu sama lain. Dari cerita yang Febri dengar, Aris sudah menikah dan istrinya saat ini tengah mengandung tapi ia memilih untuk tinggal bersama orang tuanya di pulau seberang.


"Tapi udah move on kan?"


Febri tersenyum tipis. Almarhumah istrinya memang istri yang baik, tapi sayangnya hati Febri masih terpaut pada orang lain, lebih tepatnya istri orang lain. Biarlah di kata dosa, toh selama ini ia menyimpan sendiri. Tak berniat mengambil atau merebut Bia dari suaminya. Kecuali, jika Alby benar-benar sudah melepaskan Bia. Maka ia akan memperjuangkan cintanya lagi yang pernah kandas terhalang restu ibunya.


"Eh .. kok bengong? Mau makan apa kita nih?", tanya Aris.


"Kalo ada warteg ya warteg aja!", sahut Febri.


"Di sini ga ada warteg kali? Ada nya warsun, warung Sunda hehhehe!", sahut Aris.


"Hahaha iya, mungkin belum ada warteg di sini. Ayok lah ...apa aja masuk kok!", kata Febri enteng.


Keduanya berjalan cukup jauh dari mess, hingga rumah sakit pun terlihat hanya beberapa puluh meter di hadapan mereka.


"Nah, itu warsun nya!", pekik Aris. Ya, Aris juga belum lama pindah ke sini. Dia sering beli makanan secara online biar lebih praktis. Tapi ternyata saat ini, ia memiliki partner yang satu server. Dialah Febri.


Dua pria gagah itu masuk ke dalam warsun dan memesan makanan. Keduanya pun makan dalam diam. Sampai akhirnya, Febri menyadari suara seseorang yang sepertinya ia kenal berada di sampingnya sedang memesan makanan.


"dokter sakti?", sapa Febri. Sakti yang merasa di panggil pun menoleh ke Febri.


"Ndan? Di sini? Apa kabar?", sakti menyalami tangan Febri. Di susul juga oleh Aris.


"Iya dok, baru pindah."


"Panggil sakti saja mas Febri", pungkas Sakti.


Sakti pun akhirnya turut duduk di samping Febri dan setelah itu ia pun menikmati makan malamnya.


Ketiga pria tampan itu tampak keluar dari warsun bersama-sama.


"Masih mau ngobrol nih!",kata sakti.


"Gimana mas Aris?", tanya Febri.


"Kalo saya pulang duluan boleh ngga? Mau vc sama istri heheheh!"


Febri dan Sakti tersenyum ramah.


"Iya, pejuang LDR!", ledek Febri. Kemudian, Aris pun berpamitan kepada kedua pria yang duduk di kap mobil sakti.


"ngomong-ngomong apa kabar Bia ya mas Febri?", tanya sakti.


"Ngga usah embel-embel mas segala ah, panggil nama saja. Kayanya usia kita cuma beda berapa tahun aja kok."


Sakti tersenyum tipis.


"Lo gue nih?", tanya sakti. Febri mengangguk saja.


"Bia...eum... kemarin sebelum gue ke sini sih, kayanya udah lebih baik. Tapi entah sekarang. Gue belum menghubunginya lagi."


"Lo, ketemu sama Bia?", tanya Sakti sambil memicingkan matanya.


"Lo lupa ? Kan gue yang bawa mertua Bia ke rumah sakit? Karena apa? Karena kontrakan gue sebelahan sama rumah Bia."

__ADS_1


"Oh ya? sampe ngga ngeuh gue!", kata sakti.


"Ya...wajar aja sih. Lagian, gue kan emang bukan siapa-siapa Bia. Cuma tetangga! Mau kasih perhatian lebih juga, dia istri orang kan!"


Sakti terkekeh.


"So... intinya kita suka sama perempuan yang sama? Dan...ngenesnya lagi, status nya istri orang. Hahahah benar-benar keterlaluan kita ya!"


Ucapan Sakti sontak membuat ia tersenyum miris.


"Ya...soal hati siapa sih yang tahu? Toh...selama kita ngga merebut paksa Bia dari suaminya sah-sah saja kan? Ngga ada potongan juga kali kita mau merebut istri orang."


"Heum! Mencintai istri orang, menyakitkan ya hahahhah! Herannya, kita senasib!", ucap sakti masih dengan tawa nya.


"Ya, seperti apa pun nanti kehidupan Bia...gue harap dia bahagia."


"Gue juga berharap begitu Feb, cuma ya...naluri gue sebagai manusia yang punya hati, bukankah alangkah baiknya jika mereka berpisah saja. Toh, selama yang gue lihat Bia cuma tertekan di posisi ini. Dia juga berhak bahagia."


"Masalahnya, bahagianya Bia itu Alby. Kita bisa apa? Maksa? Ngga kan?", tanya sakti.


"Jahat ngga sih kalo gue berharap mereka pisah aja?", canda Sakti. Entah itu hanya di mulut atau memang murni dari hati.


"Saat Lo mikir jahat apa ngga kalo berharap mereka pisah, apa Lo mikir dosa apa kagak cinta sama istri orang?", tanya Febri sambil menahan senyumnya lalu mata mereka bertemu.


Di detik berikutnya mereka tertawa-tawa bersama. Keduanya memang 'gila' karena cinta.


"Btw, gue lagi pesan makanan sama Bia. Masakan yang kemarin di postingan wa nya!"


"Oh ya? Tahu gitu gue nitip pesan. Ya walopun Bia janjiin sih kalo pas gue balik ke rumah, mau di bikinin sama dia."


"Ya udah, besok gue kasih deh khusus buat Lo. Gue persen lumayan banyak ko."


Keduanya pun saling bertukar nomor hp.


"Kalo jumlah banyak, gimana bawanya?", tanya Febri.


"Gue yang ambil!", kata sakti.


"Modus aja !"


"Ngga lah, gue murni mau pesan makanan dia. Sumpah!", kata sakti mengangkat dua jarinya. Dua orang beda profesi ini seperti sahabat lama yang sudah akrab dari dulu. Padahal keduanya belum lama saling kenal. Siapa yang akan mengira jika di masa depan mereka akan menjadi rival???


"Eum...gue penasaran, Lo satu kampung sama Bia? Mantan pacar Bia gitu?", tanya sakti.


"Iya, masih satu kecamatan cuma beda desa aja. Di bilang mantan? Kita ngga pernah putus sih!", kata Febri alay.


"Dih, alay!", sakti mencebikkan bibirnya.


"Heheheh... serius! Gue pacaran sama Bia waktu masih sama-sama SMA. Gue kakak kelas dua tingkat, tapi usia kami terpaut tiga tahun. Gue pacaran lama lah sama dia, dari masih sekolah terus masa pendidikan gue sampe gue jadi prajurit. Tapi ...ngga saat itu, tahu-tahu dia ngilang gitu aja. Kita lost contack! Bubar gitu aja, sampai akhirnya gue di jodohin sama ibu gue dan menikah."


"Hah? Lo udah nikah?", tanya Sakti.


"Udah pernah lebih tepatnya dok! Almarhumah istri ku itu perawat, dulu waktu wabah covid merajalela...dia meninggal, termasuk calon anak kami."


Sakti tercengang beberapa saat.


"Sorry bro! Bukan maksud gue bikin Lo sedih."


"Heheh tenang aja. Gue udah ikhlaskan mereka kok."


"Tapi, baru belakangan ini gue tahu kalo ternyata Bia udah nikah sama orang sini. Gue emang sempat dengar dia menikah, tapi ngga nyangka kalo kami malah ketemu di sini dan di situasi Bia yang seperti ini."

__ADS_1


Sakti mendengarkan curhatan Febri yang mungkin awalnya hanya sekedar obrolan ringan.


"Dan gue baru tahu, alasan dia ninggalin gue. Karena ibu gue emang dari dulu ngga restuin hubungan kami. Buat ibu, mencari menantu itu dilihat dari latar belakangnya juga. Sedangkan Bia, dia tumbuh di dalam keluarga yang ya...broken home gitu lah. Ibunya selingkuh, dan sekarang sudah menikah dengan selingkuhannya. Ibuku menganggap Bia seperti itu."


"Kasian Bia!", ujar Sakti.


"Eum... jangan-jangan pas gue coba deketin Bia, dia masih cewek Lo ya bro?"


"Kapan?"


"Ya... sekitar lima atau empat tahun lalu?"


"Mungkin...!", Febri mengedikan bahunya.


"Eh...tunggu, Lo kenal Bia di mana?", tanya Febri pada sakti.


"Di kota. Dia kerja di minimarket kan? Dulu, gue masih koas. Ya... deket-deket gitu lah, sayang nya gue di tolak mulu. Ngga tahunya, di embat sama Alby. Ternyata good rekening aja ngga cukup bro! heheheh", canda sakti.


"Kayanya Lo ga cuma good rekening aja sih, good looking juga lah. Ya... sebagai cowok, gue juga ngakuin sih kalo suami Bia standarnya di atas kita hahahha."


"Hahahaha! Ngenes amat ya?", tawa sakti kembali berderai. Padahal biasanya sakti tak banyak bicara, tapi dia bisa bicara bebas dengan orang yang belum lama ia kenal.


"Sebenarnya Bia bukan orang yang susah-susah amat kok. Dia kelas menengah lah. Punya warung makan yang cukup ramai di kampung kami. Kalo dulu dia kuliah, mungkin ngga berada di sini. Mungkin...ini mungkin....! Cuma Bia berpikiran pendek saat itu. Toh, meskipun dia mampu bertitel sarjanapun ibuku tetap saja ga restuin kami."


"So... sekali pun nanti misal Bia lepas dari Alby, Lo juga ga bisa sama Bia dengan kendala yang sama, restu ibu Lo? So...gue yang bakal maju!", kata Sakti tak lupa di ikuti dengan tawa khasnya.


"Udah , doakan saja Bia sabar dan bertahan sama pernikahan nya."


"Bijak sekaleee anda komandan!", ledek sakti.


"Heum. Jadi, dulu apa Lo sempat deket sama Bia?",tanya Febri penasaran.


"Deket doang, jadian kagak. Kan tadi gue bilang,kalah start sama Alby."


"Bia terlalu insecure kalo dekat sama orang macam kita mungkin. Makanya dia milih sama Alby. Tapi ... ternyata dia malah kaya gini!", ujar Febri.


"Masa depan itu kan misteri bro!", kata sakti.


"Heum. Doakan saja yang terbaik buat Bia. Btw, udah malem. Gue mau balik ke mess. Jangan lupa masakan Bia buat gue besok!"


"Siap komandan. Mau gue anterin?", tanya sakti.


"Ga usah. Kita beda arah kan? Gue jalan aja , sekalian olahraga."


"Oke deh! Makasih buat obrolan kita malam ini!", kata Sakti menepuk bahu Febri.


"Anggap aja sekarang kita berteman, sebelum berkompetisi mendapatkan Bia di masa yang akan datang hahahah!"


"Bisa ae komandan, malu sama netijen tahu!"


"Biarlah komentar netijen seperti apa, kita mah ikut alur aja. Ya kan?", sahut Febri.


"Buat hal ini, gue setuju Ndan!", kata sakti.


Akhirnya keduanya pun berpisah. Febri berjalan ke mess, Sakti pulang ke kost nya.


******


Maafkeun kalo retjeh gini ya gaes 🙏🙏🙏🙏🙏


Makasih

__ADS_1


__ADS_2