Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 71


__ADS_3

"Enak banget sarapan kaya gini di pinggir kolam ya mbak. Uuum...sayangnya Ika harus pulang. Boleh ngga sih mas, Ika di sini aja?", kata Ika merajuk di depan kakaknya.


"Sembarangan! Udah buruan abisin sarapannya. Mas belum ketemu Ayah juga",sakti meminta Anika menghabiskan sarapannya. Dimas yang tadi sempat kikuk karena terbukti berpacaran dengan Anika pun masih dalam mode diamnya.


Ponsel di saku celana Alby bergetar. Dia yang sudah selesai mencuci tangannya pun menarik ponselnya.


Alby melirik ku sekilas. Seolah meminta persetujuan ku untuk mengangkat telpon itu. Aku tak menghiraukan kode darinya hingga akhirnya ia inisiatif sendiri untuk bangkit dan menjauh dari kami.


[Hallo?]


[Kamu kapan balik? Titin masuk rumah sakit!]


[Astaghfirullah! Alby akan segera balik ke kota pa]


Aku melihat Alby yang panik. Ada apa???


[Iya, harusnya seperti itu! Dan lagi, ibumu minta bertemu dengan istri mu!]


[Mak kangen sama Bia pa]


[Emang apa peduliku? Sekarang yang penting kamu pulang, Titin di rawat dan sedang membutuhkan mu!]


Hartama mengoceh dengan suara yang sangat kesal. Mungkin merasa di repotkan dengan kehadiran Mak di sana. Tapi itu kan atas kemauan Hartama sendiri???


Panggilan dari Hartama pun selesai begitu saja. Ya, tuan besar itu memang tak pernah mau mendengarkan orang lain. Perintahnya itu mutlak bagi siapa pun!


Alby duduk di samping ku.


"Kunaon A?", tanya ku pelan. Tapi tentu saja mereka semua mendengar pertanyaan ku pada Alby.


"Mak, neng!", kata Alby lirih.


"Mak kunaon?", aku mulai penasaran.


"Mak di rawat di rumah sakit neng."


"Astaghfirullah, Mak sakit lagi A? Kok bisa?"


Alby menggeleng.


"Papa cuma bilang seperti itu!", sahut Alby.


Papa??? Huh! Kenapa rasanya tak nyaman sekali saat kamu memanggilnua papa sih A?


"Ya sudah, Aa siap-siap deh. Nanti Bia buatin bekel buat Aa di jalan."


"Ngga neng."


Aku bingung, bagiku jawaban 'ngga' itu terlalu membingungkan. Banyak yang bisa ditafsirkan dengan kata itu yang tidak di perjelas dengan kata lanjutannya.


"Kita akan ke kota sama-sama neng!", kata Alby.

__ADS_1


Apa???


"Ehem...maaf Bia, Alby! Kayanya aku harus langsung berangkat deh. Maklum kantor sekarang jauh! Makasih buat sarapannya Bia!", kata Febri. Dia terlalu peka jika mungkin Alby dan Bia butuh waktu untuk berbicara secara pribadi.


"Kami juga deh mbak. Ika mewakilkan semua nya ya. Makasih udah nampung Ika dan ngasih sarapan buat kami semua."


Aku pun mengangguk.


"Sama-sama!"


Mereka semua berpamitan. Sejak sakti di sini, tak sepatah katapun ia lontarkan pertanyaan padaku. Entah itu sekedar menyapa seperti biasa atau ya basa basi. Entah, mungkin hanya perasaan ku.


Usai mereka semua pergi, aku tinggal berdua dengan Alby.


Alby memegang kedua tangan ku.


"Neng, Mak pengen ketemu sama Neng!", bujuk Alby padaku.


"Aku juga kangen sama Mak. Tapi kalau aku disuruh ke sana, aku ngga mau A."


Ya jelas aku ngga mau, itulah artinya aku mendatangi rumah mertuanya suami ku dong???


"Tapi kondisi Mak sekarang lagi gak baik sayang. Kamu paham kan maksud Aa?", tanya Alby sambil menakupkan kedua tangannya di pipiku.


"Aku di tuntut harus paham sama kamu, sama kalian! Tapi pernah ngga kalian semua paham sama aku? Ngga A! Aku ngga pengen egois, tapi kamu justru membuat ku jadi egois jika dipandang dari sisi kamu!"


"Ngga neng. Aa ngga nuduh neng egois! Sama sekali ngga! Tolong sekali ini pahami keadaan Mak. Nanti kalo Mak memang sudah membaik, Aa akan bujuk papa biar Mak bisa tinggal sama kamu lagi seperti sebelumnya neng!", Alby masih mencoba meyakinkanku.


.


.


"Mas!", panggil Anika.


"Heum! Apa dek?", tanya Sakti. Iya, sekarang Anika sedang bersama di mobil Sakti. Sedangkan kedua ajudannya berada di depan, mobil Febri sendiri ada di paling belakang.


"Kok Ika liat, mas Alby sama mbak Bia akur-akur aja sih?", celetuk Anika.


"Maksud nya? Kamu mengharap mereka berantem gitu?", tanya sakti balik.


"Ya ngga gitu juga sih Mas. Tapi...kayanya mereka mesra-mesraan aja deh. Gimana sama Silvy nantinya? Kasian dong! Terlepas Silvy salah apa ngga? Silvy juga udah di unboxing sama mas Alby. Rugi dianya dong!"


Sakti melotot ke arah adiknya yang mengatakan hal menjurus.


"Tahu apa kamu soal unboxing??", tanya sakti masih dengan fokusnya di belakang kemudi.


"Hehehehe Silvy yang cerita, ngga ditail sih. Ika tanya rasanya kaya apa, eh...malah di timpuk!", kata Anika. Sakti menggeleng heran. Kok bisa adiknya itu berbanderol terbalik dengan dirinya???


"Dek, lain kali ngga usah tanya-tanya urusan pribadi seperti itu. Kita mah ngga tahu, tingkat kenyamanan seseorang seperti apa. Bisa saja maksud candaan kita malah membuat orang lain marah?"


"Iya juga sih mas. Tapi...Ika rasa... setelah ini, Ika ngga mu berteman sama Silvy lagi."

__ADS_1


"Kok gitu?", tanya Sakti.


"Iya, ngapain! Dia udah membohongi kita semua dengan skenarionya. Jahatnya lagi, dia tega gitu merusak kebahagiaan keluarga mbak Bia. Salah apa coba mbak Bia sama dia???"


"Jangan langsung begitu dek, ngga baik!", nasehat sakti.


"Emang sih...mas Alby ganteng, ganteng banget malah!", celetuk Anika.


Cetak...sebuah sentilan mendarat di kening Anika.


"Awww...sakit massehhh!", pekik Anika.


"Muji-muji suami orang. Ngga boleh! Muji mas nya kek apa pacar nya kek! Malah muji suaminya si Bia! Inget, udah ada si Dimas noh!"


"Iiih...Ika belum kelar ngomong mas!"


Sakti tak menyahut lagi.


"Jadi gini mas. Dulu, sebelum Silvy nikah sama Alby. Dia tuh pacaran sama Malvin. Lumayan lama lah. Tapi...si Malvin tuh berkhianat. Dia malah pacaran juga sama si Vega! Sahabat kita juga! Siapa yang ga kesel coba? Pacar nya di embat sama sahabat nya, udah gitu di putusin didepan umum lagi si Silvynya. Makanya Silvy sampai kakinya ca*** itu karena kecelakaan."


Sakti yang terkesan cuek, sebenernya mendengarkan ocehan adiknya.


"Mana si Malvin dan Vega sering ngebully Silvy sejak kakinya pincang lagi. Tapi sejak ada Alby, Silvy seperti punya semangat baru. Mungkin...mas Alby ngga malu-maluin tampangnya di ajak jalan."


Sakti tampaknya merasa ngantuk dan lelah karena semalaman terjaga tak bisa tidur.


"Mas denger Ika ngomong nggak sih? Kok ngga di sahuti gitu?!"


"Denger dek!", kata Sakti sambil mengusap kepala adiknya.


"Jadi, menurut mas, Ika kudu gimana? Ika udah terlanjur kecewa sama dia. Dia tega banget masuk kedalam rumah tangga Alby dan bia. Kan keterlaluan namanya! Kesel nya si situ mas!"


"Kamu mau dengerin mas ngga?",tanya sakti pada Ika.


"Apa?"


"Jangan langsung menjauh dari Silvy!"


"Kenapa mas?"


"Ada baiknya kalian ngobrol dulu. Lagi pula kalian teman dekat kan? Ngga boleh memutuskan tali silaturahmi Dek."


"Ini mamasku bukan sih?", tanya Anika.


"Ya iya lah!", sahut Sakti.


"Heum....liat besok aja. Jadi males mau ngampus lagi.


"Inget dek! Udah semester lima. Ngga usah aneh-aneh!"


"Aneh apa sih??? "

__ADS_1


Keduanya kembali terdiam hingga mobil sudah masuk ke jalan protokol menuju kantor Kodim dimana ayah mereka sedang kunjungan.


__ADS_2