
"Punten A!"sapa seorang kurir.
"Iya?", sahut Cecep yang tadi di sapa Aa oleh kurir.
" alamat ieu teh ti dieu lin?", tanya kurir.
(Alamat ini di sini bukan?)
"Muhun A, pikeun saha?", tanya Cecep.
(Iya A, buat siapa?)
"Eum...Alby Gunawan!"
"Alby? Kadieukeun!"
(Kesiniin)
Pengadilan Agama Kab. Xxxx? Batin Cecep. Ini surat panggilan sidang, dari Bia? Batin Cecep.
"Harus ada yang menerima A. Lamun henteu, ngke kudu baralik deui ke kantor sana."
"Oh, nya tos atuh. Di terima ku uruang. Ngke di bejakeun ke A Alby!", kata Cecep
(Ya sudah. Di terima sama aku. Nanti di bilangin ke Alby)
"Haturnuhun A!"
Cecep mengangguk. Si kurir pun meninggalkan Cecep.
"Surat ti saha Cep?", tanya teh Salamah.
"Buat Alby teh, surat panggilan sidang perceraian dari Bia."
"Ya Allah, mereka jadi pisah gitu?", tanya Teh Salamah.
Cecep mengedikan bahunya. Lalu ia memotret sampul coklat itu dan ia kirimkan ke Alby.
Alby yang sedang sibuk di delapan pagi itu melirik sekilas saat ada notifikasi di ponselnya.
Cecep? Kirim gambar apa.
Alby memperbesar gambar nya, ia membaca kop dari sampul coklat itu. Ya, itu kop surat pengadilan agama kampung Bia.
Alby memejamkan matanya, lalu menghubungi Cecep.
[Assalamualaikum Cep]
[Walaikumsalam A]
[Bisa minta tolong, buka amplopnya. Kapan sidang itu di mulai?]
Cecep menelan salivanya. Dia ...merasa tak enak hati.
[Ngga apa-apa cep]
Cecep pun menuruti permintaan Alby.
[Tanggal tujuh belas A]
[Makasih ya cep]
Alby langsung mematikan ponsel. Ia memandangi ponselnya yang bahkan sudah menghitam karena ia mematikan aplikasinya.
Neng benar-benar sudah ingin lepas dari Aa neng!
Alby menundukkan kepalanya di meja. Bahunya naik turun menahan sesak di dadanya. Cengeng! Bukan! Bahkan laki-laki pun berhak menangis juga kan? Ia sudah kalah. Ia laki-laki yang tak becus menjaga janjinya. Ia hanya laki-laki yang menyakiti perempuan yang dia sayangi. Air mata Alby sudah habis untuk meminta ampunan pada yang kuasa. Hanya perasaan sesak yang mengisi rongga dadanya.
Marsha masuk ke dalam ruangan Alby. Dia heran menatap bahu Alby yang naik turun.
"Mas Alby?", panggil Marsha. Meski ia sempat marah karena Alby kemarin, dia bersikap profesional. Pekerjaan tetap pekerjaan. Mereka harus saling kerja sama.
"Mas Alby?", panggil Marsha lagi.
Akhirnya Alby mengangkat wajahnya. Pria tampan berkulit putih itu tampak merah. Mungkin karena marah atau emosi?
"Kamu kenapa mas Alby?", tanya Marsha perhatian lalu mendekatinya.
"Aku kalah Sha, aku kalah!", jawab Alby.
"Ada apa?", Marsha semakin di buat bingung.
"Bia sudah mendaftarkan gugatan nya. Surat panggilan sidang udah di kirim ke kampung ku."
__ADS_1
Marsha menghela nafasnya lalu duduk di hadapan Alby.
"Masih ada sidang mediasi, mungkin ada harapan!", kata Marsha.
Alby mendongak.
"Sidang mediasi?", tanya Alby.
"Heum, kakak ku dulu pernah mau cerai tapi pas mediasi mereka kembali membuka hati dan ya...ngga jadi cerai. Tapi.... kalo mas Alby sama Bia, aku ngga tahu ya mas. Masalahnya...Mba Bia yang gugat."
Alby mengangguk. Marsha mengulurkan tisu ke hadapan Alby.
"Hapus air mata nya, jadi cowok yang strong mas. Kalaupun nanti kamu harus berpisah sama mba Bia, kamu harus menyiapkan mental. Kamu harus ikhlas. Ngga selamanya apa yang kita mau harus sesuai. Sabar!"
Alby mengangguk. Dia tak menyangka jika sekretaris papa mertua nya yang masih muda ini tampak lebih dewasa di bandingkan dirinya.
"Ya Sha! Tapi aku ngga nangis Marsha!"
"Nanti jam sebelas ada meeting. Jangan lupa, di lap dulu ingusnya. Malu! Ganteng-ganteng masa ingusnya meler. Jatuh dong wibawanya sebagai lelaki beristri dua!", kata Marsha sambil berdiri meninggalkan Alby.
"Astaghfirullah, Marsha!", pekik Alby. Beruntung Marsha lebih dulu keluar. Siapa yang menyangka jika Marsha nyaman bekerja sama dengan Alby. Padahal sejak dua tahun menjadi sekretaris Hartama, dia sama sekali tak pernah mampu tertawa apa lagi meledek atasannya. Tuan Hartama terlalu menyeramkan meski dia royal. Tak segan-segan memberikan bonus pada Marsha.
.
.
"Nduk, ada bapak di depan. Temuin sana!", kata lek Dar.
"Bapak? Tumben lek, ada apa?"
"Lek ngga tahu, coba temui dulu. Lek mau mandi, gerah!", pamit lek Dar. Aku pun memaksa pastan lalu keluar menuju ruang tamu untuk menemui bapak tiri ku.
Beruntung lek Dar di rumah, ngga tahu deh kalo ngga. Aku pasti segan menemuinya sekalipun dia baik padaku. Tapi ....ah... sudah lah.
"Pak...!", sapaku lalu mengecup punggung tangannya.
"Lagi ngga ngapa-ngapain toh Nduk?", tanya Anton.
"Ngga pak, lagi rebahan aja. Sama lek Sarman belum boleh bantu di warung."
"Iya, kamu istirahat dulu sampe benar-benar fit ya?!"
Aku mengangguk pelan.
"Hem...ini, kemarin Malvin telpon bapak."
"Malvin? Kenapa? Oma Marini baik-baik aja kan?", tanyaku. Saat menyebut Malvin otomatis aku teringat Oma Marini.
"Oma baik-baik saja Nduk." Aku mengangguk.
"Lalu?"
"Alby menemui Malvin di kampus."
"Ngapain pak?", tanya ku penasaran.
"Minta nomor bapak."
"Bapak... Anton?", tanyaku membeo. Anton tertawa.
"Ya bapak lah Bi. Masa bapak Salman."
Aku jadi malu sendiri menanyakan hal yang tak seharusnya ku tanyakan. Bodoh!
"Malvin kasih ngga pak? Tapi buat apa Alby minta nomor bapak?"
"Malvin langsung menghubungi bapak dan ya ... bapak sempat ngobrol sama Alby."
Aku diam.
"Alby kekeuh ngga mau pisah sama kamu Nduk. Bapak tahu, kalian saling mencintai. Tapi keadaan yang memaksa kalian di situasi ini."
Aku menghembuskan nafas kasar. Selang beberapa lama, lek dar membawakan minuman dan cemilan ke meja.
"Monggo pak lurah!", ujar Lek Dar.
''Maturnuwun mba Dar."
Ya, walaupun lek Dar pernah jadi ipar Asih yang sekarang menjadi istri Anton, tak serta merta hubungan keduanya seperti keluarga dekat.
Lek Dar ikut duduk di samping ku. Sedang bapak menyesap kopi buatan Lek Dar.
"Apa dia ngomong sesuatu Pak?"
__ADS_1
Anton menghela nafasnya.
"Dia mencoba menghubungi bapak karena katanya kamu memblokir nomor nya. Benar?", tanya Bapak. Aku mengangguk.
"Bia cuma...ngga mau kalo nantinya bakal goyah lagi, pak. Bia capek?!", aku menunduk dalam. Lek Dar mengusap bahuku pelan.
"Bapak dukung apa pun keputusan kamu, kalo kamu butuh bantuan bapak. Jangan segan-segan ngomong. Kamu memang bukan darah daging bapak. Tapi...kamu tetap anak bapak."
Mendadak aku terharu ya???
"Makasih pak."
"Jadi, gimana kelanjutannya? Bapak dengar lek mu sudah menyiapkan pengacara untuk mu?"
Aku mengangguk.
"Udah pak. Pak Kalingga. Bahkan katanya hari dimana Bia menghubungi pak Kalingga, beliau langsung mengurusnya. Jadi... tinggal menunggu sidang perdana nya lek."
Anton mengangguk tipis.
"Banyak berdoa ya Nduk. Semoga di lancarkan semuanya. Mudah-mudahan setelahnya ini, kalian mendapatkan kebahagiaan masing-masing."
"Iya pak, makasih udah dukung Bia."
"Iya nduk!"
.
.
"Vy, kamu udah bilang kalo kita mau mengadaptasi acara empat bulanan?", tanya Titin.
"Belum Bu, Alby kan sibuk Bu. Lagi pula masih dua Minggu lagi kandungan Silvy genap empat bulan."
Perempuan itu kini makin kurus, hanya perut nya saja yang membesar. Mungkin...ini karman untuk nya. Menyakiti sepasang suami istri dan malah sekarang memisahkannya.
"Ya udah, nanti ibu yang bilang sama Alby."
Silvy mengangguk.
"Oh ya Bu, eum...Anika sama teman-teman yang lain mau jenguk Silvy."
"Kapan?", tanya Titin.
"Mungkin sore, Bu. Habis kuliah."
"Oh ,ya udah nanti ibu siapin cemilan. Jadi kalo mereka datang, sudah ada makanan buat menjamu mereka."
"Makasih ya Bu!"
Titin mengusap kepala putrinya yang kini berhijab. Entah kenapa, ia merasa semua begitu singkat. Benarkah putri yang ia lahirkan dua puluh tahun yang lalu akan segelas meninggalkannya? Bahkan belum cukup puas Titin menyayangi dan menjaga putri kecilnya.
.
.
"Gue ikut!", sela seseorang menyerobot masuk ke dalam mobil Anika.
Febri menoleh ke asal suara itu. Siapa lagi kalo bukan Malvin?
"Lo ngapain?", tanya Anika ketus. Gimana ngga? Anika duduk di apit Nara dan Malvin. Di depan ada kekasihnya, Dimas serta Febri.
"Lo mau ke rumah Silvy kan? Gue ikut!", seru Malvin.
"Ckkk....Lo kan punya mobil, ngapain nebeng gue?"
"Ayolah An, Lo lupa kita pernah sahabatan lho!", rengek Malvin.
Dimas dan Febri belom merespon. Mereka berdua hanya mengamati dari spion.
"Jauh-jauh Sono, ngga liat di depan ada cowok gue. Di gibeng mau Lo?", kata Anika nyolot. Dimas hanya menggeleng heran. Nara yang ada di samping Anika hanya menggeleng.
"Ayolah An, Kak Dimas, boleh ikut ya ? Mas Febri?", rengek Malvin lagi. Persis kaya anak kecil.
"Ckkk...ya udah.Yuk mas Febri, jalan!", ujar Anika pada akhirnya.
*****
Kira-kira Malvin mau ngapain ya ikut ke rumah Silvy??? 🤔🤔🤔
Masih proses review ya gaes 🙏🙏🙏🙏
Lanjut besok ya....makasih 🙏😅
__ADS_1