
Empat rakaat sudah ku kerjakan sejak beberapa menit yang lalu. Aku menuju meja makan. Mak sedang duduk di sana.
"Mak ngga makan?", tanyaku.
"Masih kenyang neng!", sahut Mak.
Aku pun ikut duduk di hadapan beliau.
"Makan Mak!", tawarku.
"Sok atuh neng!", jawab Mak. Aku pun mulai menikmati makanan ku. Untuk beberapa menit suasana pun hening. Sekarang aku sudah selesai mencuci piring bekas ku makan. Mak pun sudah duduk di ruang tengah.
Aku turut duduk di sana. Melepaskan jilbab ku.
"Neng...!", panggil Mak.
"Iya Mak?", aku duduk di dekat Mak.
"Nak Febri pernah dekat sama kamu?", tanya Mak tiba-tiba.
"Maksud Mak apa?", tanyaku.
"Mak denger semalam neng!", jawab Mak. Aku menunduk malu. Malu jika aku ketahuan berbohong.
"Iya Mak . Maaf, Bia ngga bermaksud bohong dan nyembunyiin hal ini dari Mak."
Tapi Mak malah tersenyum mendengar pengakuan ku.
"Kunaon mesti minta maaf? Itu kan cuma masa lalu, kamu aja kenal sama mantan-mantan Alby!", kata Mak terkekeh.
Iya, mantan A Alby di kampung memang cukup banyak. Hufttt... resiko dadi wong ganteng Yo ngunu Kuwi....
"Iya sih Mak."
"Sikap mu jangan ketus begitu, ngga enak juga sama tetangga. Apalagi dia juga orang penting di kampung kita."
"Sementara kok Mak, nanti kalo kepala Koramil kembali, dia juga ga di sini lagi."
"Iya...tapi Mak cuma pesen, dulu mungkin dia udah nyakitin neng. Tapi kan sekarang neng kan juga udah punya alby. Jadi ngga usah nyimpen dendam."
"Bia ngga dendam kok Mak. Cuma...ya...udah lah Mak!", aku memilih memijat kaki Mak.
Usai mengatakan hal itu, terdengar suara deru mobil meninggalkan kawasan ini. jelas itu mobil mas Febri. Siapa lagi?
.
.
[Jemput gue]
Chat dari Silvy hanya di tatap oleh Alby tanpa niat membalasnya.
Dia pun keluar dari ruangannya lagi. Padahal baru beberapa menit lalu ia masuk setelah solat dhuhur.
Di saat yang bersamaan pula, Hartama keluar dari ruangan nya.
"Maaf tuan, non silvy menghubungi saya minta di jemput!", kata Alby sopan.
"Biasakan panggil saya papa!", sahut Hartama lalu meninggalkan Alby yang terpaku di depan pintu ruangan nya.
Marsha menatap Alby dengan pandangan penuh pertanyaan. Dia mendapatkan Alby menghela nafasnya begitu berat.
Ponsel Alby berdering. Senyumnya terbit di wajah tampannya itu.
[Assalamualaikum A]
[Walaikumsalam,neng.Aya naon neng?]
Keduanya kembali melakukan video call. Dan...Marsha berada di situ memperhatikan Alby yang sedang menerima panggilan video nya.
[Tadi mas Febri, mmmaksud Bia komandan nya kang Cecep ke sini nanya soal katering, setelah Konsul sama Mak...ya...Bia setuju aja A]
__ADS_1
[Alhamdulillah kalo gitu atuh neng. Aa mah dukung we lamun neng seneng mah]
[Makasih Aa ku sayang]
[Sama-sama sayang!]
Apa??? Sayang? Tapi... bukannya tadi bilangnya tuh calon menantu pak bos? Batin Marsha.
[Aa di mana?]
[Dikantor nya bos neng. Huffft...ngke penting wae nyak Aa cerita. Sekarang Aa mah jemput anak majikan Aa ke kampus]
[Oh...nya nggeus atuh. Assalamualaikum]
[Walaikumsalam neng nya aa]
Keduanya saling melempar senyum.
Marsha yang mendengar obrolan itu pun terpaku.
"Saya memang sudah menikah mba Marsha. Soal saya di bilang calon menantu tuan Hartama, saya sendiri tidak tahu. Saya hanya supir pribadi non Silvy."
"Hah? Supir?", tanya Marsha.
"Ngga tahu saya mba. Kenapa tuan Hartama bersikap seperti itu sama saya."
"Maaf ya...pak...Alby!"
"Panggil Alby saja."
"Em...mas Alby aja ya. Maaf sebelumnya, apa pak Hartama memaksa suatu hal sama mas Alby?", tanya Marsha takut-takut.
Alby bergeming. Apa dia harus mengatakan hal itu pada orang yang baru di kenal nya?
"Ya...ya... seperti itu lah mba!", Alby memijat pelipisnya.
"Em...tadi yang telpon istrinya mas Alby? Cantik ya?", puji Marsha.
"Ya udah, untuk sementara ikut saja apa kata tuan Hartama sambil memikirkan jalan keluar nya."
"Ya mba Marsha. Terimakasih sudah menjadi teman curhat saya!"
"Ngga apa-apa mas Alby, gimana pun juga kita kan jadi partner kerja."
Alby mengangguk pelan.
"Kalo begitu, saya permisi ya mba Marsha. Sekali lagi terimakasih. Dan...satu lagi, tolong jaga rahasia ini. Hanya mba Marsha yang tahu."
"Iya mas Alby!", kata Marsha. Setelah itu, Alby pun meninggalkan ruangan itu.
Resiko jadi orang ganteng, bonusnya baik pula! Ngga inget udah punya istri, gue Pepet Lo mas Alby! Sayangnya, anak bos juga demen sama tuh cowok! Marsha menggeleng kan kepalanya.
Setengah jam berlalu, Alby belum juga muncul di parkiran kampus.
"Vy, mas Alby ngga jemput?", tanya Anika.
"Udah otw mungkin. Kayanya kerjaan di kantor banyak deh!", kata Silvy.
"sambil nunggu mas Alby, gue temenin deg!", tawar Anika.
"Makasih BESTie...!", ujar Silvy. Keduanya fokus memainkan ponselnya.
"Vy....!", panggil seseorang tiba-tiba. Silvy yang merasa di panggil pun mendongakkan kepalanya.
"Malvin? Ngapain Lo?", Anika yang bertanya.
"Gue mau ngomong sama Silvy!", sahut Malvin pelan.
"Ngomong apa?", tanya Silvy.
"Kita ngomong berdua bisa? Ngga di sini?", tanya Malvin.
__ADS_1
"Kalo mau ngomong, ya ngomong aja. Udah gue minggir dari sini!", ujar Anika.
"Tapi gue mau ngomong berdua di suatu tempat, ada yang penting yang pengen gue omongin sama Silvy!"
Anika menyingkirkan dirinya dari sana.
"Gue mau kita ngomong di sini! Mau syukur, ngga mau ya udah!", sahut Silvy.
Sial! Kenapa dia ngga mau sih! Batin Malvin.
"Oke...jujur, gue mau minta maaf sama Lo Vy!", kata Malvin. Silvy mengernyitkan dahinya.
"Gue ngga salah dengar?", tanya Silvy.
"Gue beneran minta maaf Vy. Gue nyesel udah bikin Lo kaya gini!"
Silvy menatap intens wajah Malvin. Tiba-tiba saja tawa Silvy meledak.
"Hahahaha... akting Lo masih terlalu kentara Vin. Sorry...gue ga mempan sama akting Lo kali ini!", kata Silvy sambil berdiri karena ia melihat Alby berjalan ke arahnya.
Malvin pun menengok ke arah Silvy berjalan.
"Sayang, kok lama sih?", tanya Silvy sambil bergelayut manja.
"Maaf, tadi solat dhuhur dulu!", sahut Alby singkat. Malvin menatap tajam pria tampan itu.
"Ya udah deh, kita langsung pulang apa mau makan dulu di kafe A?", tanya Silvy.
A?? Aa maksudnya? Tanya Alby dalam hati.
"Eem...terserah...!", jawab Alby bingung.
"Makan di rumah aja deh, biar ga malu kalo lagi di suapin kamu A!", kata Silvy.
Hah? Suapi? Tapi sedetik kemudian dia sadar, di belakang Silvy ada mantan kekasihnya itu.
"Yuk, pulang!", Silvy menggandeng lengan Alby. Pria itu pun menuruti ajakan majikannya. Usai menutup pintu mobilnya, Alby mengitari mobil dan duduk di belakang kemudi.
Wajah cantik Silvy terlihat senyam senyum dengan bahagianya.
"Non...?!", panggil alby. Silvy pun menengok ke arahnya.
"Kenapa A?", tanya Silvy.
"Ehemmm....maaf sebelum non, tapi...tadi tuan Hartama bilang..."
"Iya, gue suka sama Lo, Aa Alby!", kata Silvy to the point.
Alby terperangah tak percaya.
"Tapi non...?"
"Kenapa? Lo mau bilang kalo gue salah? Emang salah kalo jatuh cinta? atau Aa Alby mau bilang kalo Lo udah punya istri? Gitu?"
Alby menggeleng heran.
Astaghfirullah! Batin Alby. Dia memijat pelipisnya dengan tangan yang bersandar ke kaca pintu mobil.
"Gue ga masalah jadi yang kedua A!", kata Silvy.
"Astaghfirullah Non, ini salah non!"
"Mungkin Lo lupa ucapan papa? Atau...mau buktiin dulu ucapan papa?", tanya Silvy.
"Astaghfirullah Non!", lagi-lagi Alby merasa jadi laki-laki tak berguna.
"Ikuti apa perintah papa. Lagian, gue masih vir*** kok. Oke...gue masih ca*** , papa belum nemuin dokter yang bisa bantu sembuhin kaki gue. Tapi tenang aja, gue masih jauh sangat layak di jadikan istri."
Alby semakin banyak beristighfar dalam hatinya.
Kenapa harus ada hal seperti ini?????
__ADS_1
Mobil pun melesat menuju perumahan elit itu.