
Ketiga pasangan suami istri itu memutuskan untuk kembali ke kotanya malam itu juga untuk melihat keadaan Bia di rumah pak Bambang.
"Yang aku takutkan terjadi,sus!", ujar Asih pada Sus.
"Iya ya mba, kok mba Asih bisa sampai kepikiran ke arah sana?", tanya Sus.
"Gimana ya Sus, aku tahu kalo Alby cinta banget sama Bia. Ngga mungkin dia akan mudah melepaskan Bia begitu saja. Pasti dia bakal punya rencana atau apa pun itu yang membuat Bia ngga bisa lepas dari dia. Contoh nya buat Bia hamil!"
Sus mengangguk mendengar penjelasan Asih.
.
.
.
Aku bermimpi kejadian dimana Alby memaksa ku untuk bersamanya kemarin siang. Rasanya benar-benar nyata dan aku aku menangis tersedu-sedu dalam tidur ku sampai suara Bu Sri membangunkan ku.
"Bia, bangun nduk!", Bu Sri menepuk pelan pipi Bia yang menangis dalam tidurnya. Setelah mulai menguasai diri, aku pun membuka mataku.
Bu Sri memeluk tubuhku.
"Kamu cuma mimpi nduk, ada ibu di sini!", bu Sri mengusap kepalaku dengan sayang. Aku sudah tak memakai jilbab sekarang.
"Sakit Bu...Aku takut!", kataku masih terisak meski pelan.
"Ngga usah takut, kamu sama ibu kok. Semua baik-baik saja Nduk. Ya?", kata Bu Sri masih dengan ramahnya yang tak pernah kulihat sebelumnya.
Aku mengangguk lirih. Mataku menatap ke sekeliling kamar Febri. Masih ada foto Febri dan almarhumah Aisyah. Febri memakai seragam hijaunya dan Aisyah memakai seragam putih khas perawat. Wajah mereka begitu serasi dan terlihat senyum bahagia di sana.
Bu Sri yang nampak menyadari mataku tertuju ke arah sana, mengusap bahuku pelan.
"Besok ibu turunin bingkai foto itu. Sekarang kamu tidur lagi aja, masih malam!"
Ku tatap mata wanita sepuh di hadapan ku.
"Buat apa di turunkan Bu? Bagus kok fotonya!", ujar ku.
"Karena ibu yakin, suatu saat nanti foto itu akan terganti!", katanya lalu tersenyum.
"Masih malam, tidur lagi ya! Besok pagi bapak anterin kamu ke rumah ibu atau lek Sarman? Mereka udah jalan pulang ke sini kok."
Aku mengangguk.
"Makasih Bu. Tapi Bia mau pulang ke rumah bapak saja."
Bu Sri hanya mengiyakan dengan anggukan kecil. Setelah itu ia pun mereview diri di sampingku. Mengusap-usap kepalaku. Aku jadi de Javu , kembali ke masa-masa kecil ku dulu. Masa di mana ibu dan almarhum bapak masih ada. Bukannya tenang, aku justru malah menangis. Bayangan kebahagiaan itu seolah nyata. Bu Sri mengeratkan pelukannya padaku. Ini semua seperti mimpi! Wanita yang dulu jelas-jelas menentang hubungan ku dengan Febri sekarang sedang memeluk ku penuh kasih sayang.
Jika ini nyata, tolong selalu seperti ini. Jikapun ini mimpi, tolong jangan biarkan aku terjaga dari mimpi ini.
"Tidur nduk!", titah Bu Sri. Aku hanya mengiyakannya, tapi aku belum bisa tidur.
Bu Sri miris melihat mantan kekasih anaknya tidur tidak nyaman, mengigau ketakutan. Karena Bia seperti terlihat gelisah dan kepanasan dengan jilbab yang masih menempel di kepala nya, Bu Sri membuka jilbab itu dengan hati-hati.
Hatinya merasa tercubit. Leher Bia penuh jejak percintaan antara Bia dan suaminya. Mungkin jika keadaannya normal, itu bukan hal yang aneh. Hanya saja ...posisi Bia di paksa melakukannya. Pantas saja dalam mimpinya pun Bia nampak ketakutan.
Sebagai seorang wanita sekaligus ibu, tentu saja ia merasa iba. Rasa bersalahnya yang menentang hubungannya dengan Febri pun semakin membuat pensiunnya guru itu semakin sedih.
Aku mendengar dengkuran halus Bu sri. Saat ku menoleh ke wajahku, beliau seperti nya sudah tertidur pulas.
Ku pandangi lagi dinding kamar ini. Kamar ini pernah jadi saksi 'dosa terindah' yang pernah ku lakukan bersama Febri dulu. Tak hanya sekali, tapi berulang kali. Memalukan memang, tapi...masih beruntung kami tak sampai sejauh 'itu'.
Tapi tetap saja, selain rasa berdosa tentu aku malu karena pada akhirnya kami tak berhak di pelaminan. Kami menikah dengan orang yang berbeda. Aku menutup wajahku, malu sendiri mengingat kenangan di masa lalu ku bersama Febri.
Astaghfirullah....aku menggumamkan istighfar di dalam hatiku. Takut mengganggu istirahat Bu Sri.
Aku memantapkan hatiku! Semua harus berakhir!
.
.
__ADS_1
.
"Sab!", panggil Sakti pagi ini. Ia menjemput Sabrina.
"Sabrina mas, masa Sab doang! Bukan sableng kan?", kata Sabrina manyun.
Sakti tersenyum, ia gemas melihat gadis di hadapannya itu yang kini sudah duduk di sampingnya di dalam mobil.
"Kalo mas panggil Bina? Boleh?", tanya pria berkacamata dan lesung pipi itu. Sabrina nampak tertegun mendengar panggilannya yang hanya biasa ia dengar dari orang-orang terdekatnya.
"Eum...ya...itu lebih baik, dari pada Sab aja!", sahut Sabrina sedikit tergagap.
Sakti kembali tersenyum mendengar jawaban gadis cantik itu. Postur tubuh tinggi langsing, lebih tinggi dari Bia. Eh...kok bandingin sama Bia sih?
Wong kok ngene kok di banding-bandingke...? Batin Sakti mengingat lagu yang lagi viral di bawakan anak kecil.
"Oh iya, mas sakti ngajak aku pergi sepagi ini mau ngomong apa? Emang ngga praktek? Aku jam sembilan kerja lho mas!", cerocos Sabrina.
"Nanya nya satu-satu dong Bina sayang!", kata Sakti. Pipi Sabrina merona di panggil sayang dibelakang namanya.
Ehem...ehem...sakti menetralisir degub jantung nya sendiri. Ini hal paling konyol yang pernah ia lakukan di hadapan lawan jenis, selain Bia.
Sabrina sendiri juga salah tingkah. Entah, malu sekali rasanya ingin masuk ke lubang semut saja.
"Eum...maaf mas, maksud ku mas sakti mau ngomong apa?", tanya Sabrina pada akhirnya karena dari tadi mereka diam, sama-sama malu meong.
"Sambil sarapan mau?", tanya Sakti.
"Aku udah sarapan sih mas. Tapi kalo mas sakti mau aku temenin sarapan ya ayok!", tawar Sabrina.
"Gitu ya? Ya udah deh, drive thru di Donald deh!", sahut Sakti.
Sabrina mengangguk pelan.
Selera sarapan Lo aja beda Bin, ngga usah mengkhayal sama sakti deh! Lo minder sama Dimas, kenapa percaya diri sekali jalan sama dokter sakti yang pasti kastanya jauh di atas Lo! Ayo bangun Sabrina Maulida! Jangan mimpi!
Suara sakti yang menerima makanan dari Donald itu pun menyadarkan Sabrina.
"Turun di sana mau ngga? Aku makan dulu?", tanya sakti sambil menepikan mobilnya.
Usai mobil itu berhenti, keduanya pun memilih duduk di bangku yang berhadapan dengan danau.
"Yakin ngga mau sarapan bareng?", tanya Sakit sambil mengunyah makanannya. Sabrina menggeleng."Ngga, makasih mas."
Kedua insan berbeda jenis kelamin itu sama-sama sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Dimas nitip salam, buat kamu!", kata Sakti di sela makannya. Sabrina menautkan kedua alisnya.
"Heum?", hanya itu sahutan Sabrina. Sakti sudah menyelesaikan sarapannya, ia menyeruput minumannya. Lalu menatap gadis cantik yang sedang menatapnya juga. Pandangan keduanya terputus saat Sabrina menunduk.
"Dimas, ajudan ayahku yang menemani adikku ke mana-mana."
Sabrina menelan salivanya.
"Dan sekarang, Dimas pacaran sama adikku!", ujar Sakti masih terus menatap gadis cantik itu. Sabrina tak menyahuti apa pun.
"Kamu ngga mau komen apa-apa?", tanya sakti. Sabrina mendongak menatap balik Sakti.
"Heheh aku harus komen apa mas?", tanya Sabrina. Sakti tak menyangka jika reaksi Sabrina hanya seperti itu.
"Kamu ngga mau tahu kabar Dimas?",tanya sakti lagi.
"Buat apa?", tanya Sabrina sambil meremas bangku yang ia duduki. Sakti tak tahu saja seperti apa perjuangan Sabrina untuk bersikap biasa saja.
"Kamu yakin sudah tak ada perasaan apa pun sama Dimas?", tanya Sakti lagi. Sabrina menatap wajah tampan dan putih bersih itu. Tampak sekali jika pria ini sangat menjaga penampilannya. Berbanding terbalik dengan dirinya yang apa adanya. Make up saja yang murah meriah.
"Mas Sakti ada-ada saja, ngapain tanya kaya gitu ah. Yang udah ya udah lah."
"Kalo kamu belum bisa ngilangin perasaan itu ke Dimas, boleh ngga mas bantu buat ngilanginnya?", tanya Sakti dengan wajah serius. Sabrina bingung dengan pertanyaan sakti.
"Maksud mas Sakti apa?"
__ADS_1
"Mau ngga kalo aku, gantiin posisi Dimas di hati kamu?", tanya Sakti yang sekarang sudah siap mental.
"Maksud mas Sakti apa sih? Ngga usah aneh-aneh deh...heheheh!", kata Sabrina masih berusaha menutupi kegugupannya.
"Aku serius Sabrina Maulida! Aku ngga minta kamu jadi pacarku, aku meminta mu buat jadi pendamping ku? Bisa kan?"
Mata Sabrina membulat lebar. Ini cerita nya dokter sakti lagi ngelamar gue apa nembak gue? Ya Allah Gusti, mimpi apa aku semalam????
"Ngga usah bercanda deh mas!"
"Aku ngga bercanda Sabrina, oke.... mungkin kamu berpikir ini amat sangat terlalu cepat. Tapi aku serius, aku serius sama kamu. Aku tahu, yang bikin kamu ragu itu karena kita belum lama saling mengenal kan? Aku...ngga minta kamu buat jadi pacar aku, aku ingin kita pacaran setelah sah dimata agama."
Suara Sabrina tercekat di tenggorokannya. Mimpi ngga sih ini woyyyy?? Di lamar dokter ganteng padahal baru kenal kemarin-kemarin?
"Ini bercanda kan mas? Ngga lucu! Cuma terjadi di dunia halu mas, dunia novel kaya ini!", sanggah Sabrina.
Sakti tersenyum tipis.
"Aku serius Bina!"
Sabrina terdiam membeku.
"Aku ngga pantas sama kamu mas. Aku cuma orang susah, aku...."
"Itu juga alasan yang kamu pakai untuk memutuskan hubungan mu dengan Dimas kan?", tanya sakti. Sabrina menatap wajah tampan yang sedang terlihat serius itu.
"Mas...aku..."
"Kenapa kamu harus rendah diri seperti itu?Aku tak pernah membeda-bedakan status sosial Bina!"
Mata Sabrina berkaca-kaca.
"Mas serius Sabrina Maulida! Tolong, beri kesempatan untuk membuktikan kalau mas tulus dan serius sama kamu. Kamu mau kan kita pacaran setelah menikah?",tanya Sakti menakupkan kedua tangannya di pipi Sabrina. Tak ada anggukan atau gelengan dari Sabrina. Gadis itu hanya menatap balik pada lelaki yang baru saja menyatakan keinginannya untuk menghalalkannya.
"Kamu mau kan Bina?", tanya Sakti. Dengan perlahan, akhirnya Sabrina pun mengangguk.
Sakti memeluk gadis berjilbab navy itu.
"Terimakasih!", kata Sakti tulus. Sabrina mengangguk dalam pelukannya.
"Nanti malam, aku ajak kamu ketemu sama ayah ku. Tapi ...kamu ngga apa-apa kan kalo ketemu sama Dimas?", tanya Sakti menatap Sabrina dengan penuh cinta.
"Ketemu ayah mu mas?",tanya Sabrina gugup. Sakti mengangguk cepat.
"Iya, lebih cepat lebih baik."
" Tapi mas....!"
"Please!", kata sakti memohon.
"Aku malu mas!", kata Sabrina lirih.
"Malu sama ayahku, atau....takut ketemu Dimas?", ledek Sakti. Sabrina mencubit lengan Sakti.
"Awsss....belum apa-apa udah main cubit, namanya kdrt lho sayang!", kata Sakti mengeluh. Sabrina tersipu malu mendengar kata sayang dari bibir Sakti, calon pendamping nya. Ihiiiirrrr.....🤣🤣🤣🤣
Lalu detik berikutnya, Sabrina yang memeluk Sakti.
"Makasih ya mas!", kata Sabrina. Sakti membalas pelukan kekasihnya itu.
"Bisa halalin sekarang ngga sih Bin?", bisik Sakti.
Sabrina kembali mencubit sakti. Tapi kali ini ngga bisa. Perutnya gak berlemak sama sekali? Batin Sabrina.
"Ishhh...jangan raba-raba Sabrina, halalin yuk ah!"
Akhirnya mereka tergelak berdua.
****
Gaje ngga sih??? Happy dikit ngapa ya??? Ben gak spaneng masehhhh ...🤣🤭🤭
__ADS_1
Insyaallah nanti update lagi kok ✌️✌️✌️
Makasih....🙏🙏🙏