Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 32


__ADS_3

Aku memasuki ruangan Mak. Mak masih memejamkan matanya. Sedangkan Alby, kulihat ia sedang menggelar sajadah di dekat brankar Mak. Dia memilih solat ashar di sini.


"Neng, kamu udah balik?", sapa Alby. Bagiku itu pertanyaan yang tak perlu di jawab sama sekali.


Aku menghampiri brankar Mak, lalu duduk di samping beliau.


Alby bangkit dari duduknya. Lalu mendekati ku.


"Kita perlu bicara!", katanya pelan sambil memegang tangan ku. Saat aku berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya, ia malah semakin kuat menggenggam.


"Neng. Tolong, dengerin Aa sekali ini. Kita benar-benar harus bicara!"


Aku menghela nafas ku. Setelah itu aku bangkit menuju ke sofa. Alby menutup tirai yang ada disekeliling brankar Mak.


Usai aku duduk di sofa, Alby mengunci pintu ruangan Mak.


Mungkin benar, kami harus bicara. Alby tak ingin ada yang mengganggu saat kami serius.


Alby duduk di samping ku. Meraih kedua tangan ku.


"Neng. Aa minta maaf!", katanya memulai obrolan kami. Aku masih diam.


"Kamu tahu, seperti apa rasa sayang Aa ke kamu. Cinta nya aa ke kamu. Dan Aa juga tahu, kamu cinta sama Aa. Meskipun kamu marah, kamu masih peduli sama Aa."


Kulirik tangan Alby yang sudah berbalut kain kasa.


"Bia....!", ia menakupkan salah satu pipiku. Tapi aku menepisnya.


"Tolong...lihat Aa!", ia meraih dagu ku agar aku mengangkat wajah ku untuk menatapnya.


"Apa kamu ngga percaya kalau Aa cinta sama kamu sayang?"


"Kalo aa memang cinta sama Bia, ngga mungkin Aa melakukan hal ini. Aa mempermainkan pernikahan kita."


"Ngga neng. Ngga!"


"Lalu apa namanya A? Aku udah bilang dari awal, pakai uang ku! Uang ku juga uang mu. Kalo kamu cemas sama keluarga ku, kamu bisa meminjamnya dan mengembalikan sewaktu-waktu. Bukan seperti ini! Kamu yang kekeh menjujung harga diri, tapi kamu sendiri yang menjual harga diri itu pada majikan mu!",air mataku kembali lolos.


Alby menggeleng sambil memeluk erat tubuh ku. Aku pasrah saat tubuh ku yang sebenarnya merindukan sentuhan lelaki ku.


"Semua tidak seperti yang kamu pikirkan Sayang! nggak!", Alby mengusap kepala ku. Aku masih tergugu dalam dekapannya.


"Aa terpaksa melakukan ini sayang. Percaya sama aa."

__ADS_1


"Tapi aku ngga bisa kalau harus berbagi A. Aku ngga bisa...!", aku masih menggeleng pelan di sela isakku.


Alby melonggarkan pelukannya. Menatap mataku sambil mengusap air mata di pipiku.


"Aku tahu ini sulit neng. Begitu pun Aa."


Tak sadar aku mengusap perut ku yang rata. Tapi aku juga tidak ingin buru-buru mengatakan perihal kehamilan ku padanya. Aku masih ragu akan hal ini. Apa aku bisa melanjutkan kehidupan rumah tangga ku dengan Alby.


Alby menakupkan kedua tangannya di pipiku. Ia mengecup kening ku begitu lama. Semakin lama justru air mataku semakin luruh. Usai mengecup kedua mataku bergantian, ia mengecup bibir dengan pelan. Dan bodoh nya, aku tak mengelak. Aku membiarkan Alby melakukannya. Ya, aku akui. Aku sangat merindukan sentuhan nya, belaiannya. Kami saling merindukan.


Dan... aktivitas saling melepas rindu itu berlangsung di atas sofa dengan Mak yang masih terbaring di brankar.


Usai membenahi pakaian kami masing-masing, Alby kembali memelukku.


"Aa sangat mencintai mu Bia. Sangat. Tolong, jangan tinggalkan Aa apapun yang terjadi. Aa tahu, ini tak adil bagimu. Tapi...kamu harus yakin, cinta Aa tidak akan berubah sampai kapanpun."


Aku menenggelamkan kepala ku di dadanya. Aku merindukan Alby ku yang hanya untuk ku seutuhnya. Apa ini artinya aku ikhlas untuk berbagi dengan gadis itu?


"Tetap lah bersama ku Bi", Alby kembali mengecup kening ku.


Ku pejamkan mataku menikmati pelukan hangatnya yang esok tidak hanya untuk ku seorang. Perlahan, aku pun terlelap. Entah karena aku lelah usai pertempuran tadi atau memang bawaan kehamilan ku.


Alby memandangi wajah polos istrinya yang sudah terlelap. Wajah teduhnya semakin membuat nya merasa bersalah. Kenapa harus seperti ini kehidupan rumah tangganya?


Akhirnya, menjelang sore sepasang suami istri itu tertidur di sofa.


.


.


.


Hartama sedang menyuruh anak buahnya untuk mengurus apa pun yang berhubungan dengan pernikahan putrinya.


"Papa...!", Silvy memeluk papanya.


"Sayang, tumben ke kantor?", tanya Hartama.


"Silvy seneng banget. Makasih ya Pa. Papa selalu memenuhi apa pun yang Silvy mau!"


Tangan Hartama mengibas meminta karyawannya keluar. Di ruangan ini tersisa Silvy , Hartama dan Marsha sekretaris Hartama.


"Marsha, selama saya tidak di kantor. Tolong handle semuanya."

__ADS_1


"Baik tuan."


"Nak, setelah kalian menikah. Marsha akan menjadi partner kerja buat Alby. Papa yakin , Marsha bisa membimbing Alby agar ia bisa melakukan pekerjaannya."


"Kak Marsha? Kenapa ngga cowok aja sih pa?", tanya Silvy sambil menatap Marsha dengan pandangan tak suka nya.


Marsha yang di pandang seperti itu pun merasa tak enak hati sendiri.


"Sayang, kenapa kamu tanya seperti itu? Marsha itu orang kepercayaan Papa."


"Tapi...aku ngga mau ya pa kalau kak Marsha kecentilan sama A Alby."


Hartama tersenyum tipis sambil mengacak rambut putrinya.


Yang ada Lo kali yang kecentilan! Udah tahu suami orang, masih aja Lo embat! Gadis tidak tahu diri! Batin Marsha begitu kesal.


"Baiklah Marsha, kamu bisa keluar!", perintah Hartama. Marsha pun keluar dari ruangan bos nya.


"Persiapan sudah selesai sayang. Nanti malam kita berangkat ke kota G. Jadi besok pagi kamu bisa langsung menikah di rumah sakit. Di depan ibu mertua mu."


Silvy mengangguk senang.


"Makasih pa!"


Hartama meminta Sapto dan istrinya untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk di bawa ke kota G.


"Pak, kita ikut ke sana?", tanya Mila.


"Kan bapak yang bawa mobil nya Bu."


Sapto memasukan koper tuan dan nona nya ke dalam bagasi.


"Ya Allah pak. Gimana perasaan istrinya Alby menyaksikan pernikahan suaminya sendiri?!", Mila mendesah pelan memikirkan nasib istri Alby yang sebenarnya tak ia kenal secara langsung.


"Kita ini siapa Bu? Hanya orang lain yang kebetulan peduli dan tahu asal muasal kejadian ini."


"Tapi kenapa harus Alby pak? Pria tampan dan sederajat sama non Silvy juga banyak."


"Bu, nanti ibu juga akan tahu setelah sampai di sana."


"Maksud bapak apa?"


"Ada hal lain yang menjadi alasan tuan Hartama memaksa Alby menikahi putrinya. Kita doakan saja, semoga semuanya berakhir dengan baik. Alby dan Bia bisa bersabar menjalani cobaan keluarga mereka."

__ADS_1


"Iya pak!"


__ADS_2