Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 164


__ADS_3

Alby membawa mobil yang berisi istri dan kedua mertuanya dengan kecepatan tinggi. Ya, emosinya sedang memuncak. Rasa marah karena Febri tahu lebih dulu keadaan Bia dan tentu saja rasa cemas kenapa bisa kejadian buruk menimpa Bia. Bukankah saat ia meninggalkan Bia usai pertempuran itu, istrinya masih baik-baik saja?


Penumbuh mobil Alby pun tak banyak bertanya. Jika biasanya Hartama akan membentak dan memarahi Alby, kali ini ia tidak bisa melakukannya. Keterbatasan untuk bicara membuat ia mengurungkan niatnya.


Sepertinya Tuhan sudah perlahan menghukum kesalahannya. Meski dia masih mensyukurinya bahwa ia tak sepenuhnya stroke.


"Jang, lalaunan!", Mak mengusap bahu Alby dari belakang.


Tapi sepertinya Alby tak menggubris ucapan Mak Titin. Sekarang mobil sedan itu sudah terparkir di halaman milik keluarga Hartama.


Titin membantu Hartama, sedang Alby menurunkan Silvy dari bangku penumpang. Tanpa banyak bicara, Alby membawa Silvy masuk ke dalam rumah.


Setelah memastikan Silvy berada di kamarnya, Alby pun keluar dari sana. Silvy hanya menarik nafas.


Kamu tak pernah sedikitpun melipat Bia,By. Kamu sangat mencintai Bia, bahkan sepertinya aku tak ada kesempatan untuk memiliki hatimu meski sedikit saja! Bisik hati kecil Silvy. Penyesalannya tak akan merubah semua yang sudah terjadi.


Alby menuruni tangga dengan sedikit tergesa-gesa.


"Jang, obati dulu luka kamu!", kata Mak.


"Ngga usah!", sahut Alby.


"Kamu mau ke kantor lagi?",tanya Titin. Bukan menjawab, Alby justru menatap Mak tirinya. Ucapan Febri terngiang-ngiang di telinganya. Untuk apa Bia di korbankan jika pada akhirnya Mak dan tuan Hartama menikah? Bukankah semua berawal dari dendam tuan Hartama?


"Jang!", panggil Titin lirih sambil memegangi lengannya. Tapi Alby menepisnya. Tak ada sahutan apapun dari pria tampan itu. Dia berlalu begitu saja dari ruangan itu meninggalkan sepasang suami istri yang baru menikah lagi itu.


"Tin!"


"Ya mas?"


"Semua salah ku Tin!", ucap Hartama terbata. Titin mendekati suaminya itu.


"Aku juga bersalah di sini mas. Biar lah, mungkin saat ini Alby masih emosi."


"Aku takut kalo tiba-tiba Alby berubah pikiran,tak mau lagi melanjutkan perusahaan ku. Bagaimana....?"


Tiba-tiba saja Alby kembali ke dalam, rupanya kunci mobil nya tertinggal di kamarnya.


"Aku bekerja di perusahaan bukan karena aku memanfaatkan kesempatan yang papa kasih, tapi aku memikirkan nasib orang-orang yang bergantung pada perusahaan papa."


Setelah itu ia benar-benar keluar dari rumah itu lalu melesat dengan mobil sedan yang biasa ia pakai.


Tujuannya kali ini adalah kantor. Ya, dia ingin memastikan pekerjaan nya di kantor apakah bisa ia selesai kan agar ia bisa kembali ke Jawa timur.


.


.


"Semua dokumen sudah lengkap mas Sarman!", kata Pak Kalingga, pengacara ku.


"Jadi, kira-kira kapan bisa di ajukan ke PA?", tanya Sarman.


"Hari ini juga saya masukin, dan mungkin tak sampai seminggu surat panggilan untuk sudah terkirim ke alamat tergugat."


Lek Sarman mengangguk paham.


"Kalau begitu terima kasih pak Kalingga!", lek Sarman mengulurkan tangannya sedangkan aku menakupkan kedua tanganku di dada.


"Lek, kenapa di sana ngga di buat alasan bahwa Alby sudah melecehkan ku?", tanyaku. Lek Sarman tersenyum.


"Benar, itu bisa saja jadi alasan untuk menggugat Alby. Tapi...dia melakukan itu saat kalian masih berstatus suami istri. Lagi pula, lek ngga mau kalo sampai banyak orang yang tahu kejadian yang menimpamu. Lek ngga mau mereka menatap mu iba."


Aku menghela nafas.


"Bukankah tak ada bedane lek? Toh, semua orang akan mengasihani ku pada akhirnya."

__ADS_1


Lek Sarman menepuk bahu keponakan tersayangnya itu.


"Percaya sama Lek, insya Allah semua di permudah. Yang penting, kamu sudah yakin kan sama keputusan mu?", tanya lek Sarman.


"Insyaallah aku yakin Lek. Meski tak ada kejadian kemarin pun, aku sudah yakin dengan keputusan ku."


"Syukur lah kalau begitu, lek mau ke warung. Kamu istirahat saja ya Nduk!"


"Iya lek!"


.


.


Galang membawa Febri kembali ke rumah induk. Kondisi rumah induk jam segini sangat sepi. Hanya ada satpam dan art yang berada di rumah itu.


"Bapak mau bicara Feb!", ujar Galang sambil turun dari mobil. Febri pun mengekor di belakang Galang.


"Duduk!", perintah Galang. Febri pun menuruti perintah atasannya tersebut.


"Febri, saya sudah pernah bilang. Jangan pernah mempermalukan diri kamu sendiri dengan bersikap arogan seperti tadi. Jika ada hal yang buruk pada mu, bukan hanya merusak nama personal tapi juga instansi kita. Kamu tahu kan sekarang, sedikit-sedikit viral. TNI nyuapin kucing aja viral, apalagi kalau kita main kasar seperti kamu ke Alby tadi. Kekuatan deterjen itu luar biasa lho Feb!", jelas Galang.


Febri menunduk malu. Malu lah, yang menegur atasnya langsung.


"Iya pak!", sahut Febri dengan masih menunduk.


"Saya ngga tahu kamu emosi seperti itu karena kamu peduli sama Bia atau karena... perasaan kamu. Saya ngga berhak menghakimi kamu karena saya hanya orang luar, atasan kamu. Tapi yang mau saya bilang ke kamu Feb, bagi saya kamu itu udah bagian dari keluarga Wibisono! Saya ingin anak-anak saya jangan ada yang salah langkah. Cinta boleh, gob*** jangan. Sabar! Kalau memang Bia itu jodoh kamu, dia bakal sama kamu. Sekarang jangan terlalu ikut campur dulu Feb!", Galang menasehati panjang kali lebar.


"Bapak akan mengatakan hal yang sama entah itu ke kamu, sakti, Dimas atau Seto. Sama! Ngga ada yang bapak beda-bedakan!", lanjut nya lagi.


Ya ampun, gue di katain gob*** sama bapak??? Batin Febri, ya kali mau protes di hadapan pak jenderal.


"Tapi Sakti ngga gitu kok Yah!", sakti nyelonong masuk ke ruangan. Ikut nimbrung obrolan ayah dan juga sahabatnya.


"Kamu ngapain jam segini di rumah?", tanya Galang sambil melihat jam tangannya.


"Sembarangan! Ya ngga lah, habis ini juga kita balik ke kantor. Emang negara gaji kita buat leha-leha aja Mas!", sahut Galang mengikuti candaan anak sulungnya.


"Iya yah, becanda. Ngga usah di ambil hati. Yang di sindir Ayah, yang tersinggung banyak ntar!",ujar Sakti.


"Kok ngga jawab, kenapa jam segini malah ke sini? Ngga praktek?", tanya Galang.


"Harusnya mah praktek siang, tapi tuker shift sama dokter lain!", jawab Sakti.


"Bisa gitu?", celetuk Febri sambil mengangkat salah satu alisnya.


"Bisa lah, namanya juga dunia halu. Suka-suka maknya Ditca aja! Kalo realita nya ya ngga bakal bisa gitu!", jawab Sakti sekenanya.


Galang dan Febri mendengus mendengar jawaban sakti yang asal-asalan meski benar adanya.


"Ngomong-ngomong Lo kenapa Feb, sampe dapat ceramah panjang lebar dari ayah?", tanya Sakti.


Bukan Febri yang menjawabnya, melainkan Galang yang menjelaskan sedetail mungkin kejadian di rumah sakit.


Sakti hanya menghela nafas, dia memaklumi kemarahan Febri. Andai dunianya tak beralih pada Sabrina, masih Ter-Bia-Bia pasti dia bakal melakukan hal yang sama kalo ketemu Alby.


"Sabar Feb, kalo jodoh ngga kemana!", Sakti menepuk bahu sahabatnya. Febri memicingkan matanya, curiga pada gelagat Sakti yang mendadak bijak.


"Heum, emang udah official Lo sama Bina?", tanya Febri. Sakti cengengesan.


"Apa ada yang ayah tidak tahu mas?", tanya Galang pada putra sulungnya.


"Hehehehe iya yah, nanti malam Sakti mau ajak Bina ketemu ayah. Ayah ada waktu kan?"


"Heum? Gercep Lo!", sahut Febri.

__ADS_1


"Tunggu! Bina? Siapa?", tanya Galang.


"Calon menantu ayah!", sahut Sakti penuh percaya diri.


"Iya pak, mantan nya Dimas!", celetuk Febri lirih tapi 'bapak' masih mendengar celetukan Febri.


Sakti memukul lengan Febri karena membocorkan hal yang sebenarnya ayahnya tak perlu tahu. Bergaul dengan Dimas dan Seto membuat kedua pria kaku itu ikutan lemes.


Galang memijat pelipisnya. Heran dengan tingkah anak-anaknya.


"Memang ngga ada stok lain toh Mas? Kenapa kudu mantane Dimas!", Galang menggelengkan kepala. Mau heran, tapi itu Sakti.


"Ayah....!", kata Sakti merajuk, ngga banget deh!


"Ya... ya... siapa pun itu, yang penting kamu bahagia, cocok sama dia, dan dia mau sama kamu. Perjaka tua!", sahut Galang.


"Astaghfirullahaladzim, ayah...tega banget ngatain anaknya perjaka tua!", kata Sakti dengan wajah memelas.


Tiba-tiba saja Galang menepuk bahu putra tampannya itu.


"Alhamdulillah, akhirnya ada gadis apes yang mau sama kamu. Dan kamu bisa move on dari Bia." Galang melirik Febri, yang di lirik pun salting.


"Ya Allah yah!", Sakti memeluk ayahnya."Makasih ya yah!"


"Heum, ayah tak mempermasalahkan dari mana gadis itu, pekerjaan atau apa pun itu selama menurut mu itu baik, ayah setuju saja."


Sakti mengangguk senang.


"Ya udah ayo Feb, balik ke kantor. Saya malas di sindir, makan gaji buta!", kata Galang sambil berdiri.


"Siap pak!", sahut Febri. Galang lebih dulu keluar dari ruangan itu.


"Anjirrrr....Bina ngga lagi khilaf kan mau sama Lo?", bisik Febri.


"Gak! Bukan cuma khilaf tapi udah kepalangtanggung!", sahut Sakti mendengus


"Hahahaha.... selamat ya bro!", Febri menepuk bahu dokter tampan itu.


"Makasih bro!", balas Sakti. Febri pun keluar menyusul atasannya. Mereka akan kembali ke kantor.


.


.


Di kantor Alby, dia sibuk mencoba menghubungi Bia. Tapi panggilannya tak tersambung. Dia yakin nomornya sudah di blokir. Begitu juga nomor Lek Sarman. Sayang nya Alby tak punya nomor Anton ataupun Asih.


Entah kenapa, terlintas di kepala nya ia mengingat Malvin keponakan Anton. Ya, dia akan mencoba menemui Malvin. Tapi dia ragu, apakah Malvin bisa membantunya.


Dan selain itu, ternyata pekerjaan yang Hartama tinggalkan untuk nya tak bisa ia selesai kan hari ini juga. Padahal dia sudah berniat akan kembali ke kampung Bia.


.


.


Aku sudah lebih tenang saat ini. Memberikan makan ikan-ikan di kolam belakang rumah lek Sarman mengingatkan ikan-ikan ku yang ada di kampung Alby. Entah apa yang terjadi dengan peliharaannya di sana. Semoga ada warga yang memanfaatkannya. Sayang banget kalo terbengkalai begitu saja.


Aku sudah pernah melewati masa-masa sulit bersama Alby. Tapi... masalah yang terjadi saat ini tak bisa lagi ku maklumi. Aku sudah lelah.


Ku pejamkan mataku sambil bersandar di kursi. Bayangan kebahagiaan kami saat itu. Saat dimana Silvy belum mengusik kehidupan kami.


Makan sepiring berdua, solat berjamaah,kadang mandi berdua. Setiap hari Sabtu di kasih lima lembar uang seratusan saja aku bahagia. Bukan karena nominal nya, tapi karena rasa bahagia yang kurasakan. Dinafkahi seberapapun aku terima dan aku bersyukur.


Alby juga sosok suami yang sering mengajak ku berpuasa sunah. Tapi...sosok itu kini sudah berubah. Apalagi terakhir saat kami bertemu. Dia benar-benar bukan lagi Alby ku!


Ya... mungkin semua harus berakhir. Kisah Bia dan Alby harus berakhir.

__ADS_1


*****


Makasih yang udah sampe sini 😁🙏


__ADS_2