
Febri menyetir mobilnya, sedang Cecep memutuskan untuk kembali ke kantor. Meski di jam dinas, Febri mengatarkan Mak ke rumah sakit. Nyatanya TNI itu pengayom masyarakat bukan? Jadi, membantu warga di bawah naungan wilayahnya sudah menjadi kewajiban dari seorang TNI. Eh...di manapun berada, TNI siap membantu tak pandang bulu.
Bravo TNI 👍👍👍😉!!!
"Nduk, udah telpon suami mu?", tanya Febri.
Aku mengangguk.
"Sudah mas, tapi ga di angkat dari tadi!", jawabku lirih karena dari tadi aku menangis.
"Berikan nomornya, coba aku yang menghubunginya!"
Aku mengerjapkan mataku sebentar.
"Ya udah kamu yang telpon sendiri! Tadi telpon pake Wa?", lanjut Febri.
"Iya mas."
"Ngga di angkat atau ngga nyambung?"
"Ngga nyambung mas. Mungkin kuotanya habis."
"Ya udah kamu telpon biasa saja, jangan wa dong!"
"Aku ngga pernah isi pulsa mas. Cuma kuota!", jawabku sedikit malu.
"Ya Allah nduk ...apa segitu kurangnya kehidupan mu di sini?", gumam Febri tapi aku masih mampu mendengar nya.
"Jangan menghina ku mas!", kataku lirih.
Febri menengok ke bangku penumpang yang ada aku dan Mak.
"Aku ngga menghina mu nduk. Mas cuma ngga habis pikir! Kamu ninggalin mas demi kehidupan seperti ini?"
"Kam..."
"Kamu memilih meninggalkan ku karena ucapan ibuku yang sebenarnya bisa kita bicarakan dari awal nduk? Kenapa-kenapa????"
"Mas!", pekikku. Bagiku, saat ini bukan waktu yang tepat membicarakan masa lalu kelam kami. Toh itu sudah lama berlangsung bertahun-tahun yang lalu.
"Kemarikan ponsel mu, aku mau menelpon suamimu!", pintanya.
Dengan ragu-ragu aku menyerahkan ponselku. Dia langsung menepikan mobilnya, tapi mobil masih berjalan.
Dia menyalin nama Alby dan memasukkannya di ponselnya.
.
.
.
Hartama dan Silvy duduk di teras samping yang menghadap kolam renang.
"Kamu tunggu saja setelah ini, Alby akan jadi milik mu sayang!", kata Hartama mengusap kepala sang putri tunggalnya.
Di meja , ada selembar surat perjanjian yang Hartama buat. Dia menyiapkan surat tersebut untuk di tandatangani Alby.
.
.
Setelah satu jam lebih, mobil sudah terparkir di halaman rumah sakit kota G.
Febri membopong Mak lalu meminta brankar pada perawat jaga. Dan setelah itu, Mak langsung di larikan ke UGD.
Aku menunggu Mak di depan pintu UGD.
"Kenapa tadi kita ngga ke puskesmas dulu nduk?"
"Di puskesmas peralatan ngga lengkap mas. Lagi pula, jam segini di puskesmas juga sudah ngga banyak yang jaga. Di kampung hanya puskes pembantu. Ngga ada poned."
"Tapi setidaknya kan ada ambulans, yang mungkin bisa mengantarkan lebih cepat dan.... pertolongan pertama Nduk!"
"Ambulans ngga standby di puskes pembantu mas."
Febri bingung ingin berkata apa lagi. Lalu ia berdiri mengambil ponsel di sakunya. Jemari Febri mendial nomor Alby. Dia menunggu jawaban dari Alby. Tapi sampai beberapa kali di hubungi, Alby tak menjawab panggilannya.
__ADS_1
Febri kembali memasukkan ponsel ke dalam sakunya.
Suasana hening. Tak ada obrolan antara aku dan mas Febri. Setelah hampir satu jam, dokter keluar dari ruang UGD. Aku dan mas Febri bergegas menghampiri dokter tersebut.
Aku sempat terkejut saat tahu ternyata yang memeriksa Mak adalah kenalan ku saat masih bekerja dulu sebelum mengenal A Alby.
"Shabia?", sapa dr. Sakti.
"Mas sakti? em... maksud saya dokter. Bagaimana keadaan ibu saya?", tanyaku pada dr. Sakti.
"Ibu mu?", tanya sakti memastikan.
"Ibu mertua nya!", sahut Febri.
"Bagaimana keadaan Mak Titin, dokter sakti?", tanya Febri lagi.
"Saya harap secepatnya beliau di operasi. Tadi...detak jantungnya sempat sangat melemah", kata dr. sakti.
Ya Allah, operasi?
"Tolong segera urus administrasinya ya Shabia? Agar ibu mertua mu segera di tangani."
"Iya dok!", sahutku. Dokter sakti pun meninggalkan aku dan mas Febri.
"Mas, aku ke ruang administrasi dulu ya."
Febri mengangguk.
"Ya, aku tunggu di sini."
Kaki ku melangkah menuju ke ruanga administrasi.
"Sore mbak, saya wali yang bertanggung jawab atas nama pasien Titin."
Si admin pun menjelaskan bahwa ternyata rumah sakit tidak bisa menerima pasien atas nama dan alamat yang ku sebutkan.
"Bagaimana mungkin mbak? Saya sudah sering berobat ke sini!",kataku sedikit emosi dan menaikkan intonasi suara ku.
"Tapi maaf mbak, kami sudah ada perintah dari atasan."
"Saya mau bayar mba, bukan gratisan!", kataku kesal. Jika A Alby melarang ku menggunakan uangku, kali ini aku tidak bisa menuruti nya.
"Kalo ngga di sini saya harus ke rumah sakit lain, dan itu jauh mba! Bagaimana mungkin ada rumah sakit yang melakukan hal seperti ini?"
"Maaf mba, kami hanya menjalankan tugas!",
Dengan gontai, aku meninggalkan ruang administrasi. Air mataku menetes dengan sendirinya.
"Nduk? Kenapa?", tanya Febri saat aku kembali ke ruang UGD.
"Mas, rumah sakit ini menolak menangani Mak."
"Kok bisa? Mana ada begitu?"
Aku menggeleng.
"Entah apa alasannya mas. Mereka hanya bilang mengikuti perintah atasannya."
"Ini salah Nduk!", kata Febri menggeleng. Tapi mau protes pun, ini bukan kapasitasnya.
Febri mencoba kembali menghubungi Alby. Benar saja saat panggilan biasa, Alby langsung mengangkat panggilannya.
[Hallo assalamualaikum!]
Febri langsung memberi salam. Aku langsung menengok ke arah mas Febri.
[Walaikumsalam, mas Alby. Saya Febri.]
[Komandan Febri?]
[Iya. Sebentar, saya berikan ponselnya ke Bia dulu]
Aku pun menerima ponsel Febri.
[Hallo A?]
[Neng, ada apa? kok bisa komandan yang telpon Aa?]
__ADS_1
[Kuota Aa habis? Bia sudah menghubungi Aa dari siang. Mak masuk rumah sakit A]
[Astaghfirullah!]
Alby langsung terduduk di bangkunya. Di sana juga ada Mila dan mang Sapto yang saling berpandangan.
[Maaf A, Bia ngga becus jaga Mak]
[Jangan bicara begitu neng. Memang nya Mak kenapa kok bisa masuk rumah sakit?]
[Ngga tahu a, habis Bia solat Bia pikir Mak tiduran di sofa. Ngga tahunya Mak pingsan. Dan...dan...Bia meminta mas Febri mengantar kami.]
Alby mengusap kasar wajahnya.
[Lalu Mak gimana?]
[Kata dokter, Mak harus secepatnya di operasi A. Tapi...tadi waktu Bia ke ruang admin mau ngurus administrasi...rumah sakit ini menolak melayani Mak]
[Apa????]
Febri memekik sesaat.
Jadi, tuan Hartama benar-benar melakukannya???
[Bia juga ngga tahu A. Padahal Bia bilang mau bayar mandiri A, tapi tetap saja di tolak. Bisa saja ke rumah sakit lain, tapi jarak nya jauh A. Masa Mak ngga di tangani lagi sebelum ketemu rumah sakit lain?]
Dan jika ternyata di rumah sakit lain Mak di tolak juga, bukan kah itu sia-sia juga? Apa aku harus benar-benar menuruti perintah tuan Hartama untuk menikah dengan Non Silvy???
[Nanti Aa kabarin ya neng. Sekarang neng tenang dulu. Aa akan mencoba memikirkan nya]
[Tapi A...]
[Sudah, dengar kan Aa baik-baik! Tolong jaga Mak. Insyaallah Mak akan segera di operasi! Mak akan selamat! Percaya sama Aa]
[Iya A.]
[Tolong berikan hp nya ke komandan!]
Aku memberikan ponsel mas Febri.
[Halo mas Alby?]
[Ndan, maaf merepotkan! Terimakasih atas bantuannya.]
[Sama-sama mas, sudah kewajiban saya]
Usai basa basi, panggilan jarak jauh itu pun berakhir.
Saat ini aku dan mas Febri sama-sama duduk terdiam di bangku.
Di pihak Alby, pria tampan itu sedang bimbang.
"Kenapa Jang?"
"Tuan Hartama benar-benar menutup akses pengibaran Mak. Saat ini Mak harus di operasi, tapi rumah sakit menolaknya. Bia ingin meminta pindah rumah sakit, tapi ...aku tahu itu juga sia-sia. Tuan pasti melakukan hal yang sama dengan rumah sakit lain."
"Ya Allah!", Mang sapto mengusap bahu Alby.
"Apa aku terima saja tawaran tuan ya mang?", tanya Alby. Sepasang suami-istri itu saling bertatapan. Mereka pun sama dilema nya. Alby di hadapkan dengan situasi yang sulit.
Terdengar mang sapto menghela nafasnya.
"Kalo kata mamang, ya sudah terima saja tawaran tuan. Demi ibumu. Dan soal Bia, kamu perlu menjelaskan secara perlahan. Insyaallah neng Bia paham kesulitan mu."
"Bapak!", pekik teh Mila.
"Bu, Alby juga tidak punya pilihan lain. Ibu dan istri nya sama pentingnya!",jawab Sapto.
"Tapi...apa Alby bisa bersikap adil setelah memiliki dua istri? Dia orang berilmu pak. Apa Alby nantinya tidak mendzolimi salah satunya atau bahkan keduanya????", sanggah Mila. Memang, Mila sangat tidak bisa menerima poligami. Baginya, ikhlas berbagi di mulut tidak akan bisa sebanding dengan perasaan sakit di hat istri yang di poligami.
(Ini pandangan Teh Mila, mohon maaf jika ada yang kurang berkenan)
"Situasi nya yang tidak memungkinkan Bu."
"Baiklah, aku akan menyetujui persyaratan tuan!", Alby langsung bergegas menuju rumah induk majikannya. Tekadnya sudah bulat, dia akan menjelaskan pada Bia jika waktu nya sudah tepat.
*****
__ADS_1
Ini murni kehaluan Mak ya! Mohon maaf🙏🙏🙏🙏🙏