Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 22


__ADS_3

Alby


Aku melangkahkan kakiku menuju ruang tengah milik keluarga kaya ini. Dalam hatiku terus melafalkan asma Allah.


Ya Allah, jika memang hal ini harus terjadi. Aku ikhlas ya Allah! Namun jika ada kesempatan lain, tolong berikan hamba pertolongan di waktu yang tepat.


Samar-samar ku dengar obrolan dua orang di dekat kolam renang. Benar, tuan Hartama dan Silvy sedang duduk di kursi taman pinggir kolam.


"Permisi Tuan, non!", sapaku. Kedua orang itu menengok ke arah ku. Tuan Hartama tersenyum sinis, tampak sekali ia mengejekku. Tapi tidak dengan Silvy, dia menatap ku tanpa ekspresi. Padahal tadi sebelum aku ke sini, aku mendengar ia tertawa bersama papa nya.


"Mau apa kamu kesini? Mau mengundurkan diri?", tanya Hartama. Lagi-lagi Hartama menyunggingkan senyum mengejek.


"Tuan...ibu saya masuk rumah sakit", jelasku mengawali obrolan ku dengan sang tuan.


"Lalu? Apa masalah untuk saya?", tanya Hartama tenang.


"Tuan...ibu saya harus melakukan operasi secepatnya!", kata ku pelan.


"Hahahaha....ibu yang masuk rumah sakit, apa urusannya dengan ku?"


"Apakah tuan merealisasikan ancaman tuan sebelumnya?"


Silvy memicingkan matanya lalu menatap ke arah papanya.


"Oooh...soal itu? Kenapa memangnya? Bukannya kamu yang sudah mengibarkan bendera perang dengan ku?"


Aku menggeleng.


"Tidak tuan, saya tidak bermaksud...,!"


"Tidak bermaksud, tapi kamu sudah mengecewakan ku.Menyakiti Putri ku!"


"Maaf tuan, nona tapi saya benar-benar tidak ingin menyakiti non Silvy."


"Dengan kamu menolak nya saja, itu sih menyakiti hati nya. Kamu yang hanya sopir dari kampung saja berani menolak pesona putriku ,apa karena keca****nya??? Bagaimana pria-pria yang memiliki kelebihan dari pada kamu?!"


"Maaf tuan saya tidak ingin menzolimi siapapun, termasuk istri saya dan juga non Silvy!"


"Tapi aku sendiri yang bilang mau di madu sama kamu A! Mungkin kalian berpikir jika aku ini terlalu berambisi memiliki mu. Benar! Benar sekali! Tapi apa aku salah jika hatiku sudah terlanjur mencintai mu A?"


"Non...!", suaraku tertahan.


"Kamu dengar sendiri kan? Betapa beruntungnya kamu yang cuma orang kampung mendapatkan putriku?"


Aku tertunduk, tak tahu harus mengucapkan apa lagi.


Tuan Hartama menyodorkan ponselnya yang memperlihatkan adegan beberapa detik antara aku dan non silvy. Sepertinya itu penggalan video dari cctv rumah ini. Aku tak lagi bisa mengkondisikan mataku. Menatap tak percaya,tapi itu kenyataannya, bahkan aku sangat ingat betul kejadian singkat tadi.


"Video itu, sudah ku kirim kan pada istri mu!", Hartama duduk menyilangkan kakinya.


"Tuan?", suaraku bergetar.

__ADS_1


Ya Allah, apa Bia tahu hal ini? Tapi jika dia tahu, kenapa ia tak membahas nya tadi saat menghubungi ku? Atau jangan-jangan...Mak sampai terkena serangan jantung karena video itu. Tapi bagaimana ini bisa terjadi?


"Tapi sepertinya istrimu tak merespon, atau jangan-jangan... jangan-jangan ibu mu yang melihat ini?"


"Astaghfirullah!",hanya itu yang mampu kuucapkan.


Serrr....


Hartama melempar sebuah map.


"Aku tidak akan mengulangi penawaran seperti kemarin. Jika mau, tanda tangan! Jika tidak, kamu sendiri yang rugi!"


Dengan sedikit gemetar aku meraih map itu. Ada dua lembar kertas di dalamnya.


Mataku membulat melihat poin-poin yang ada dalam surat perjanjian tersebut. Benar, isinya sedikit lebih banyak di banding kemarin .


"Tapi tuan...ini...ini terlalu berpihak kepada anda, mana mungkin....?"


"Terserah!", lagi-lagi arogansi seorang Hartama di tunjukkan di hadapan ku.


Aku mengambil lembar berikut nya.


"Ini kosong?", tanyaku.


"Akan ku isi saat istri mu menandatangani diatas materai."


"Kenapa melibatkan istri saya?"


"Karena aku ingin putriku mendapat pengakuan di lembaga hukum!", kata Hartama tegas.


Hartama menunjukkan kertas yang lain padaku. Aku membaca seksama.


Aku punya waktu seminggu penuh dalam dua bulan untuk menemui istri dan makku di kampung halaman.


"Soal keuangan, jangan cemas. Sudah ada di surat perjanjian pertama! Surat yang berisi tanda tangan istrimu benar-benar berisi seperti contoh tadi. Aku tidak akan merubah nya sedikitpun!", lanjut Hartama.


Aku mendesah panjang. Apakah semua harus berakhir seperti ini?


Bismilah, jika memang ini keputusan terbaik ya Allah!


"Baiklah, saya akan menandatangani surat perjanjian itu. Begitu juga dengan surat perjanjian untuk istri saya. Tapi saya harap anda benar-benar menjadi janji anda untuk pengobatan ibu saya. Dan operasinya segera di lakukan tuan!"


Hartama tersenyum puas. Lalu ia sodorkan map satu lagi.


"Tanda tangan di sini! Dan yang ini kamu bawa pulang! Aku beri kesempatan kamu untuk menjenguk ibu mu sekaligus meminta tanda tangan istri mu."


"Papa...A Alby pulang?", tanya Silvy.


"Setelah ia mendapatkan tanda tangan istrinya, papa mau kamu secepatnya menikah. Begitu kan keinginan putri cantik papa heum???"


"Beneran pa?", tanya Silvy girang.

__ADS_1


"Tentu saja."


Mata Hartama kini beralih kepada ku lagi.


"Apa lagi yang kamu tunggu? Setelah kamu tandatangani ini, aku akan menghubungi rumah sakit!"


Tangan ku gemetar meraih pulpen. Ku tatap kertas itu dan akhirnya aku membubuhkan tanda tangan di sana.


Huft...ya Allah, astaghfirullah! Maafkan Aa ya neng!


Hartama tersenyum puas. Lalu ia merogoh kantongnya mengambil ponsel. Dan berjalan menjauh dari aku dan Silvy. Selang beberapa lama, dia kembali ke arahku.


"Kamu bisa bawa salah satu mobil saya untuk pulang kampung menjenguk ibu mu!", Hartama melempar kunci mobil.


"Dan ini, bekal mu di jalan. Anggap saja gaji mu bulan ini!", Hartama melempar sebuah amplop.


Ku tatap kedua benda itu.


"Kamu tidak percaya jika hari ini juga ibu mu di operasi?", tanya Hartama lagi.


"Terimakasih tuan!", aku pun meraih kunci mobil dan juga amplop itu. Aku benar-benar sudah tak punya harga diri lagi.


"Jangan lupa, bawa surat perjanjian yang berisi tanda tangan istrimu!", perintah nya.


Aku pun mengangguk pasrah.


"A Alby, jangan lama-lama pulang kampung nya!", kata Silvy manja. Aku hanya bisa mengangguk pelan. Apa daya ku mengubah keadaan????


Setelah melewati ketegangan itu, aku kembali ke belakang. Teh Mila dan mang Sapto menghampiri ku.


"Kumaha Jang?", tanya mila. Aku menatap wanita dewasa itu yang sudah seperti kakak ku sendiri meski belum lama saling mengenal.


"Maafkan saya teh. Saya sudah mengambil keputusan untuk... menerima permintaan tuan Hartama!", kataku menunduk.


"Astaghfirullah!", Mila terduduk di bangkunya.


"Jangan begini bu. Mungkin sejauh ini, ini keputusan terbaik yang Alby ambil. Bukan saatnya kamu memojokkan Alby. Justru kita harus mendukungnya apa pun yang jadi keputusannya."


"Aku hanya menempatkan diri sebagai Bia, istri Alby. Aku juga merasakan sakit hati jika ini terjadi padaku pak!"


"Bu, ssssttt....dengarkan bapak. Kamu sudah anggap Alby seperti adik sendiri, jadi mulai saat ini apa pun keputusannya kita dukung ya!"


Teh Mila menghela nafas. Aku paham cara berpikir teh Mila. Sebagai wanita, tentu saja ia tak ingin di duakan. Wanita manapun ingin menjadi satu-satunya wanita yang berada di kehidupan dan juga hati suaminya.


Aku pasrah ya Allah.


''Teh, boleh pinjam hp? Aku mau telepon istri ku. Aku mau mengabari jika aku akan pulang mendampingi operasi Mak."


Mila memberikan ponselnya padaku.


[Assalamualaikum neng, ini Aa!]

__ADS_1


*******


Maaf ya jika tidak masuk akal, banyak typo dan banyak jeleknya lah. Mohon koreksi dan sarannya ya teman2 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2