
Dering ponsel sejak tadi tak berhenti. Alby yang sejak tadi sedang mencoba beristirahat di kamarnya pun merasa terganggu. Akhirnya ia menghampiriku ponsel sang istri yang ada di atas nakas.
Ternyata Sakti yang menghubungi istrinya. Baru saja akan diangkat, ponsel itu berhenti berdering.
Ada chat dari sakti yang belum di baca.
[Bia, kok belum kirim alamat mu? Kira-kira kapan selesainya, biar nanti orang ku ambil ke situ?]
Begitu isi chat dari sakti. Istrinya masih sibuk berkutat dengan masakannya, Alby pun membalas chat dari sakti.
[Ngga usah diambil. Nanti aku antar ke sana. Aku masih sibuk,belum selesai]
Alby membalas chat sakti seperti itu. Setelah itu ia kembali meletakkan ponsel istrinya.
Ia berjalan ke arah dapur. Disana ia mendapati sang istri sedang mengemas masakan mereka ke dalam box makanan. Ternyata pesanan sakti ngga nanggung-nanggung. Pantas saja sakti bersedia mengambil nya di rumah.
"Masih lama neng?", tanya Alby padaku. Aku yang sedang mengemas pun menengok ke arah suamiku.
"Dikit lagi selesai A. Tinggal buat kang Cecep sama yang lain."
Alby ikut duduk di samping ku. Turut memasuk-masukan timun yang sudah ku potong-potong.
"Kenapa A? Aa mah makan lagi?", tawarku.
Alby menggeleng sambil tetap memasukkan timun itu ke dalam plastik.
"Nggak. Tadi si sakti telpon. Tapi ga aa angkat. Males. Jadi dia chat,tanya udah kelar apa belum." Alby menjawab sedikit ketus. Teh Salamah dan si bibik saling berpandangan.
"Terus?", tanyaku.
"Ya Aa bales neng. Biar ntar di antar ke rumah sakit, ngga usah pake acara ambil ke sini segala. Modus dia aja itu mah. Pengen ketemu sama neng!", Alby terlihat misuh-misuh. Lagi-lagi teteh dan si bibik saling lirik.
"Oh...ya udah kalo udah Aa bales mah."
Aku mencoba santai saja menghadapi suamiku. Tak enak mau membahas yang lain-lain, soalnya ada teteh sama bibik.
Jam hampir menunjukkan pukul setengah sebelas siang. Semua pesanan sudah beres. Tak lupa aku juga membawakan hasil masakan kami buat teteh dan bibik.
"Hatur nuhun ya teh, bik. Udah bantu Bia!", ujarku.
"Sami-sami neng!", kata mereka berdua. Tak lupa ku selipkan amplop buat mereka. Ya, aku tahu teh Salamah memang bukan orang susah. Tapi masa iya aku udah minta tolong, tapi ngga kasih apa-apa.
"Di terima ya teh, bik. Maaf, udah bikin kalian repot."
Si bibik menerima dengan senang hati amplop dariku. Meski tak seberapa, aku tahu ini sedikit membantu perekonomian keluarga nya minimal untuk belanja besok. Karena saat ini aku memberi lauk cukup banyak untuk nya.
"Aih...Bia, teteh mah ga usah. Serius!", kata teteh sambil mengembalikan amplop itu padaku.
"Jangan gitu atuh teh!"
"Eh, di bilangin. Lain kali teteh ga mau bantu kalo kamu kaya gini lho Bia!", ujar si teteh. Akhirnya setelah perdebatan alot itu, mereka berdua pun pulang.
"Neng mandi dulu, biar Aa yang masuk-masukin ke mobil."
"Iya A, makasih ya!", kataku. Aku pun bersiap untuk mandi. Rasa lelah dan lengket menjadi satu. Mungkin benar, mandi adalah hal yang harus ku lakukan saat ini.
Tak butuh waktu lama, aku pun selesai mandi. Dan setelah itu, aku melaksanakan sunah dua rakaat.
"Udah selesai neng?", tanya Alby menghampiriku. Sedang aku saat ini masih menyisir rambut ku. Ya, aku keramas siang-siang begini gara-gara serangan fajar dari A Alby tadi usai subuh.
"Bentar lagi A."
Alby menunggu ku.
Setelah di rasa rapi, aku pun berdiri di hadapannya. Alby menelisik wajahku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kenapa?", tanyaku heran.
"Neng cantik, mau pakai makeup atau ngga tetap cantik."
Apa aku merasa geer di puji seperti itu? Hah! Sudah biasa! Sombong amattttt....
"Cantik aja ngga cukup A. Buktinya, udah di bilang cantik masih saja di madu!", sindir ku. Lalu berjalan meninggalkan Alby di kamar. Alby yang merasa tersindir pun mengikuti langkah istrinya.
"Neng, jangan sindir aa kaya gitu terus kenapa? Kan neng tahu, ini bukan mau Aa. Tolong jangan bahas ini terus neng!", Alby memelas di hadapan ku.
"Heum. ya udah atuh ayok berangkat. Mampir dulu ke kantor kang Cecep, baru ke rumah sakit."
Alby pun patuh. Selama di perjalanan menuju kantor Cecep, keduanya terdiam. Padahal hampir lima belas menit lho ke sananya. Tapi suasana di mobil justru hening.
Mobil yang ku kendarai berhenti tepat di depan kantor Koramil.
"Biar Aa yang turun. Neng di sini aja. Berapa pesanan mereka?"
__ADS_1
"Emang kenapa kalo aku ikut turun A?"
"Berat, neng di sini aja. Kasian si utun kalo neng kecapekan!", kata si Alby. Dia pun mulai menurunkan sekitar dua puluh box makanan kami.
"Udah bayar belum neng?", tanya Alby.
"Belum A, totalnya tiga ratus ribu gitu ya!"
Alby mengangguk paham. Dia menghampiri salah satu rekan Cecep.
"Selamat siang! Punten, saya mau mengantar pesanan kang Cecep!", kata Alby.
"Oh, iya. Ini teh pesanan kami sama neng Bia ? neng Bia nya ngga ikut turun?"
"Ngga biar saya saja yang bawa."
Teman Cecep pun mengangguk.
Selang berapa lama, Cecep pun keluar.
"Eh, A Alby!", sapa Cecep.
"Cep!", Alby menyahuti salam Alby.
"Iraha balik A?", tanya Cecep.
"Tadi subuh Cep. Oh iya, ini pesanannya. Kata Bia tiga ratus ribu."
"Oh, iya!", kata Cecep. Ia pun mengeluarkan tiga lembar uang berwarna pink lalu di serahkan kepada Alby.
"Makasih cep!", kata Alby.
"Sami-sami A."
"Kalo gitu, Aa langsung ya. Mau anterin ke rumah sakit."
"Iya A, hati-hati bawa mobilnya ya."
Alby memberikan jempolnya di depan Cecep.
Setelah Alby menaiki mobil, dan mobil pun menjauh rekan-rekan Cecep menggerumuti Cecep. Mengambil jatah mereka satu persatu.
"Bayar lima belas ribuan ke saya ya!", kata Cecep lantang.
"Bro, tadi tuh siapa?", tanya teman Cecep yang pertama kali tadi di sapa Alby.
"Suaminya neng Bia lah!"
"Busetttt...meuni kasep nyak? Pantes atuh neng Bia kecantol ku manehna."
"Heum!", sahut Cecep. Dia pun mengambil box makanannya.
Mobil melesat menuju ke rumah sakit. Sesekali aku dan Alby mengobrol ringan. Iya, kami lelah berdiam-diaman dari tadi. Bukankah ini yang ku mau? Selalu dekat dengan suamiku???
.
.
[Mas, aku udah di parkiran nih! Mas jemput ke sini dong!]
Anika baru saja sampai ke rumah sakit. Tapis sebelumnya, ia sudah lebih dulu ke hotel.
[Ya, bentar. Mas ke situ!]
Beberapa menit kemudian, Sakti sudah berada di parkiran menghampiri sang adik.
Dia bertegur sapa dengan ajudan ayah nya yang selama ini mendampingi Anika.
"Kak, kalian pulang aja. Ika sama mas Sakti kok", kata Anika kepada dua ajudan ayahnya. Keduanya pun berpamitan kepada dua anak atasannya tersebut.
"Mas, kangen!", rengek Anika sambil memeluk kakaknya itu. Sakti pun membalas pelukan adiknya itu.
Mungkin ini yang namanya takdir, saat adegan berpelukan antara Sakit dan Anika, suster Naya memergokinya. Naya yang notabene menyukai sakti dalam diamnya pun hanya pasrah. Ya, siapalah dirinya! Batin Naya.
"Mas juga kangen dek! Maaf ya, mas sibuk terus."
"Tapi sekarang lagi ga sibuk kan? Ngga ada pasien kan? Ngga ada jadwal operasi apalagi dadakan kaya tahu bulat kan?", cerocos Anika.
"Nanya tuh satu-satunya dek!", kata sakti.
"Hehehe kan sekalian mas!"
Sakti masih merangkul bahu adiknya.
__ADS_1
"Laper Mas, makan yuk?", kata Anika.
"Mas udah pesen makanan sama teman mas. Paling bentar lagi ke sini!", kata Sakti. Anika hanya mengangguk samar.
Keduanya berjalan ke taman yang tak jauh dari parkiran. Sakti menangkap sosok teman barunya yang sekarang menjelma sebagai sahabat.
"Ndan!", panggil sakti.
Febri yang tadinya akan masuk ke gedung rumah sakit pun urung. Dia menghampiriku sahabatnya yang sedang duduk dengan seorang gadis.
"Hei, ternyata di sini!", kata Febri.
"Iya, oh ya kenalin. Adek gue!", kata sakti memperkenalkan Anika pada Febri. Anika terpesona dengan wajah gagah Febri yang berbalut seragam loreng.
"Dek, Salim sama komandan."
Anika tak bergeming, masih memandangi wajah tampan itu.
"Dek, ih....!", sakti menyenggol lengan adiknya dan membuat Anika tergagap.
"Eh, iya. Ndan!", kata Anika gugup.
"Panggil saja Febri!", kata Febri mengulas senyum.
Ya tuhan, kenapa dia tampan sekali? Batin Anika.
"Ika, mas Febri!", kata Anika gugup.
"Jadi , Ika ini baru sampe ke sini. Gara-gara ayah dinas ke sini. Dia ikut ke sini juga!", jelas sakti.
"Oh ya? Emang ayah Lo dinas di mana?", tanya Febri. Sakti menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Eum...di kantor Lo. Lagi ada perjalanan dinas aja sih."
Febri mengernyitkan alisnya.
"Di kantor gue?", tanya Febri.
Sakti mengangguk.
"Galang Wibisono!", kata sakti singkat menyebut nama ayahnya.
"Hah?!", kata itulah yang keluar dari mulut Febri.
"Iya, bokap gue. Eh, bokap kita berdua."
"Jadi, jenderal Galang Wibisono itu bokap Lo?", tanya Febri. Sakti pun mengangguk.
"Kok Lo ngga pernah cerita sih?"
"Dih, ngapain gue cerita begituan. Ya udah lah ya, yang penting Lo udah tahu."
"Tapi kalian kan anak atasan gue?", kata Febri.
"Mas Febri ngga usah sungkan, kami biasa aja kok", akhirnya Anika ikut menyahut.
Ketiganya terlihat mengbrol santai. Di saat yang bersamaan, mobil yang dikendarai Alby masuk ke parkiran.
Anika yang mengenali mobil itu pun menggumam pelan.
Kaya mobil Silvy? Tapi masa iya sih dia kesini? Bukannya dia bilang mau berobat ke Singapura ya?
Ponsel sakti berdering nyaring.
"Eh, Bia telpon. bentar ya?!", kata Sakti.
"Dih, seneng amat mukanya mas dapet telpon dari Bia. Eh...Bia, bia yang di taksir mas dari dulu bukan sih?", tanya Anika. Tapi tentu saja tak ada jawaban dari kakaknya.
"Kamu kenal Bia juga Ika?", tanya Febri.
"Heheh ngga sih mas. Cuma dulu sering aja denger namanya kalo mas lagi curhat sama almarhum ibu."
"Owh...!", Febri mengangguk pelan.
"Bia dianterin sama Alby. Tuh mereka disana!", kata Sakti. Febri dan Anika menatap arah yang sakti katakan.
"Mas Alby?", gumam Anika yang di dengar oleh Febri dan sakti. Dia pria tampan itu menatap Anika bersamaan.
"Dek, kenapa?",tanya sakti.
"Itu,mba Bia? Cewek yang mas taksir dari dulu? Dan...itu, mas Alby? Siapanya mbak Bia?", tanya Anika.
Anika masih terpaku di sana menatap suami sahabatnya bersama perempuan yang di sukai kakaknya selama ini.
__ADS_1