Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 158


__ADS_3

Beberapa hari sebelumnya....


"Maaf pak, ada laporan dari RT 02 katanya proyek tuan Hartama di lanjutkan,tapi tidak jadi mengutak-atik sawah milik putri pak lurah."


Anton mengernyitkan alisnya.


"Oh ya? Lalu?"


"Ada yang bilang, katanya mereka mengubah konsep sebelumnya jadi tidak perlu lagi mengganggu sawah mba Bia."


Anton mengangguk paham.


"Tapi pak...."


"Kenapa?"


"Mereka membawa pekerja dari luar daerah kita pak. Mungkin karyawan yang sudah terikat kontrak dengan perusahaan tuan Hartama."


"Mereka sudah melaporkan kepada rt setempat?"


"Sudah pak, bahkan ada daftar namanya sebanyak lima belas orang."


"Baguslah kalau begitu, jadi setidaknya kita tahu bahwa mereka pekerja legal. Tapi bagaimana dengan pekerja sebelumnya yang kerja di sana? Mereka kan asli daerah kita?"


"Katanya masih ikut kerja kok pak, cuma mungkin tuan Hartama ingin secepatnya menyelesaikan proyek itu. Makanya pekerja dari luar ikut di proyek itu."


"Iya juga sih."


"Dan.... penanggung jawab yang baru dari proyek itu... menantu bapak."


Anton meletakan pulpennya, lalu menatap asistennya itu.


"Dia ikut ke sini?"


"Saya belum lihat sendiri sih pak, tapi katanya sih iya. Dia ikut mengawasi, bahkan ikut terjun langsung ke lapangan."


Anton menghela nafasnya pelan.


"Ya udah, terima kasih. kamu lanjutin aja pekerjaan mu."


"Iya pak, permisi."


Sore harinya saat anton pulang, ia mendapati anak tirinya sedang bermain dengan anak-anaknya. Bia tampak tulus menyayangi kedua anaknya.


"Assalamualaikum!", Anton memberi salam.


"Walaikumsalam!", Esa dan Wibi menghambur ke arah anton. Mereka berebut menyalami bapaknya. Dengan sedikit ragu, Bia pun mengikuti jejak adik-adiknya.


"Udah lama Bi?", tanya Anton pada Bia.


"Sudah pak, dari siang."


"Oh...eh ibu mana? Kok cuma bertiga?"


"Ibu di dapur pak!", jawab esa.


"Ya udah bapak mau ke dapur sekalian, maaf ya Bia. Kalo adek-adekmu ini ngerepotin."


"Ngga lah pak, Bia malah senang banyak temannya. Jadi ngga kesepian."


Anton melihat mata Bia yang nampak sendu meski ia berusaha tersenyum melihat adik-adiknya.


Anton pun menuju ke dapur menemui istrinya.


"Kopi Bu!", ujar Anton.


"Lho, bapak udah pulang? Tumben gasik?", tanya Asih.


"Iya Bu. Kopinya Bu, abis itu ke sini temenin bapak. Ada yang mau bapak omongin."


Asih pun membuatkan kopi untuk suaminya setelah itu, ia pun ikut duduk di depan Anton.


"Ini pak."


Anton meraih kopinya lalu meniup-niup sebentar lalu menyeruput sedikit.

__ADS_1


"Ada apa toh pak?",tanya Asih.


"Bia dari siang di sini?"


''Iya, pengen main sama adik-adiknya? Bapak keberatan?", tanya Asih.


"Hehehe ya ngga lah Bu. Bapak malah seneng ko, Bia udah menerima mereka sebagai adiknya meski bukan bapak yang sama."


"Terus, kenapa?"


"Proyek tuan Hartama di lanjutkan."


Asih menautkan alisnya.


"Proyek homestay itu? Terus, apa hubungan sama Bia? Tadi bahas Bia di awal?", tanya Asih bingung.


"Sekarang Alby yang bertanggung jawab dengan proyek itu. Dan...bapak rasa, Alby pasti akan ke sini. Entah itu untuk bekerja, atau menemui Bia."


"Apa ibu perlu beri tahu Bia ya pak? Ibu rasa, Bia ngga tahu kalo Alby bakal kesini."


"Mungkin ngga sekarang juga Bu. Cuma bapak khawatir kalo mereka nanti bertengkar kalo ketemu. Bapak kasian sama Bia. Kasian liat Bia sedih terus, liat badannya makin kurus. Coba ibu masakin makanan kesukaan Bia. Siapa tahu napsu makannya bertambah, jadi ngga terlalu kurus kaya sekarang."


"Iya pak. Makasih ya pak, udah perhatian sama Bia."


"Bia kan juga anak bapak lah Bu."


"Ehem....", Bia berdehem tak sengaja melihat kemesraan sepasang suami istri yang ada di meja makan.


"Eh, nduk. Mau ibu buatin teh?",tawar asih.


"Ngga usah bu, Bia mau wudhu. Tadi belum solat ashar."


"Oh, ya wis sana."


"Bu, bapak juga mau ke kamar deh. Mau bebersih dulu."


"Iya pak."


Asih masih duduk di meja makan. Pikiran melayang, memikirkan nasib pernikahan putrinya. Tak sengaja ia menoleh ke arah kalender.


Bia udah mulai solat, apa ajak Bia sekalian ya buat KB. Kan dia dalam masa subur nih??? Batin Asih.


"Nduk!", panggil asih saat Bia baru selesai solat ashar.


"Ya Bu!"


"Temenin ibu ke bidan Sus yuk, ibu mau suntik KB."


Bia menautkan alisnya.


Ibu masih subur ternyata?! Batin Bia.


"Bia malu ketemu sama mba Sus,Bu."


"Kenapa harus malu? Temenin ibu ya? Biar anak-anak sama bapak di rumah."


"Ya udah deh Bu, iya."


Usai berpamitan pada Bapak dan adik-adiknya, Bia pun mengantarkan Ibunya ke rumah bidan Sus yang tak terlalu jauh dari rumah ibu.


"Eh, Bu Lurah?", sapa Mba sus pada ibu.


"Mba sus, seneng ngeledek", sahut Asih. Lalu mata Sus beralih ke Bia.


"Masyaallah Bia, suwe ga ketemu nduk!", Sus menyalami Bia dan saling berpelukan.


"Iya mba sus, baru ketemu kita ya. Padahal Bia udah lama di rumah."


"Makanya, keluar. Jangan dirumah terus!", canda Mba sus.


"Iya mba."


"Oh ya mba asih, mau suntik lagi toh?", tanya mba sus.


"Iya lah mba sus, takut Bia punya adik lagi heheh", canda asih sambil melirik anak sulungnya. Bia hanya menaikkan sudut bibirnya ke atas, terlihat sinis sekali.

__ADS_1


"Bercanda Nduk!", asih menepuk bahu putrinya.


"Apa sih Bu!", sahut Bia.


"Oh ya mba sus, Bia juga sekalian deh. Suruh KB", ujar Asih tiba-tiba.


"Dih? Emoh aku, buat apa aku ikut suntik KB. Sebentar lagi juga...."


Mba sus dan asih saling lirik.


"Nduk, ibu ngga tahu kamu sama Alby kedepannya seperti apa."


"Tapi ibu tahu mba sus juga tahu kan kalo aku mau gugat Alby?", tanyaku.


Asih dan mba sus mengangguk.


"Begini nduk, kamu kan habis keguguran. Lumayan udah gede juga kan usia kandungannya pas keguguran?", tanya Sus.


Bia pun mengangguk.


"Nah, ada baiknya kamu KB nduk. mengingat kamu pernah keguguran. Seenggaknya tiga bulan, rahim kamu juga udah pulih dan siap dibuahi."


Bia tersenyum tipis.


"Mba sus bercanda, kan aku mau...."


"Nduk, coba nurut sama mba sus. Dia kan lebih tahu urusan kaya gitu. Ya, ibu tahu kamu juga pinter. Tapi kan ngga paham sama beginian kan nduk?", ibu meyakinkan anaknya.


"Baiklah!", sahut Bia pasrah.


"Ini....program desa ya Bu? Biar laku nih suntikkan KB nya?", ledekku pada ibu.


"Ya Allah...ini anak!", ibu menggeleng heran.


"Mba asih dulu apa Bia dulu yang mau di encus duluan?", ledek Mba sus.


"Ibu aja dulu deh, yang muda ngalah!", ujar Bia.


Asih mencebik. Tapi dalam hatinya ia sangat bahagia, putrinya sudah bisa di ajak bercanda dan senyumnya sudah sering menghiasi wajah cantiknya.


Setelah asih, giliran Bia.


"Efeknya berapa lama mba sus?", tanya Bia.


"Itu yang tiga bulan nduk."


Bia mengangguk paham.


"Tapi katanya bikin gemuk ya mba Sus?", tanya Bia lagi.


''Banyak yang bilang iya, tapi ngga semua seperti itu. Tuh, buktinya ibu mu masih singset. Kalian kaya kakak adik tahu, muka mirip postur tubuh sama lagi."


Bia dan Asih saling berpandangan. Ya, mereka memang mirip sekali.


"Langsung pulang Bu?", tanya Bia pada ibunya.


"Iya nduk!"


Bia pun mengantarkan Ibunya ke rumah lebih dulu. Lalu setelah itu , Bia pun kembali ke warung untuk membantu lek nya.


"Kok cepet Bu?", tanya Anton.


"Iya pak, ngga antre."


Anton pun kembali menemani dua anaknya bermain.


Asih duduk di ranjang kamarnya. Dia melingkari tanggal hari itu dengan pulpen. Untuk mengingatkannya tiga bulan ke depan.


******


Hehehehe ....ngehalunya akut ya????


Tebak-tebakan nya udah ketebak kan? Hayo....masih nanya Bia sama siapa besok


Makasih ya...udah dukung mamak terus. Eh, jangan lupa like ,komen dan fav nya dong ya...ya...ya...🥲🥲🥲🤭

__ADS_1


__ADS_2