Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 210


__ADS_3

Aku memasukkan ponsel dalam saku gamisku. Tak lupa dompet kecil juga ku masukan ke kantong yang lainnya. Aku bergegas menuju ke warung.


"Lek, kunci Paryono mana ya?", tanyaku sambil mencari kunci sepeda motor matic ku.


"Kayanya di bawa sama Suprih, DO ke desa sebelah. Mau ke mana toh? Bawa mobil aja?", tanya Lek Sarman.


"Eh, kamu habis nangis? Kenapa?", tanya lek Sarman tiba-tiba panik.


"Mau ke rumah Bu Sri lek!", sahutku.


"Ada apa? Tumben?"


"Eum...ternyata firasat Bia beneran lek. Ada sesuatu yang terjadi sama mas Febri."


"Febri kenapa?", tanya lek Sarman makin penasaran.


"Mas Febri kena luka tembak, Lek! Tadi, rekannya telpon Bia. Tapi sekarang udah selesai di operasi. Mas Febri juga udah siuman, cuma masih lemah Lek. Makanya, Bia mau ngabarin orang tua mas Febri."


Lek Sarman menghela nafasnya berat.


"Kamu yakin mau ngasih tahu mereka? Nanti malah mereka panik nduk?!", kata lek Sarman.


"Justru karena mereka orang tuanya mas Febri, Lek. Mereka lebih berhak untuk tahu. Tapi kebetulan Lettu Amara ngga punya nomor Bu Sri atau pak Bambang. Dia cuma di kasih nomor Bia dari Seto."


"Ya sudah kalo mau kamu begitu, udah bawa mobil aja. Lagian udah mau hujan, lebih aman pake mobil!", lek Sarman memberikan kunci mobilnya padaku.


.


.


Aku memarkirkan mobilku di pinggir jalan halaman rumah pak Bambang. Aku melihat ada mobil lain disana, mungkin ada tamu.


Saat aku turun dari mobil, ternyata tiba-tiba gerimis. Aku mempercepat langkah ku menuju ke rumah pak Bambang.


Ternyata benar, di dalam ada tamu. Aku jadi ragu-ragu mau masuk, takut mengganggu tuan rumah dan tamunya.


Jadi aku memilih berdiri di teras saja. Lamat-lamat ku dengar obrolan di dalam sana. Bukan maksud menguping, tapi memang tak sengaja mendengarkan obrolan mereka.


"Masiyo Febri arepan rabi neh, ambek Rondo? Ga enek wedokan liyo toh?", tanya seorang. Dari suaranya jelas dia perempuan. Tapi entah siapa.


(Masa Febri nikah lagi, sama janda? Ga ada perempuan lain?)


"Insyaallah wes jodone, mba!", kata Bu Sri.


Tumben nih orang suaranya lembut? Terkesan takut malahan! Oopsss....aku kembali mendengar obrolan mereka.


"Kasian ya Aisyah, posisinya mau di gantiin sama janda!", lanjut nya lagi.


"Bu, sudah dong. Kita kan ke sini mau silaturahmi, bukan mau bahas almarhumah Aisyah. Dia udah tenang di sana!", kata seorang pria.


Apa merasa mantan mertua mas Febri ya?

__ADS_1


"Ngga habis pikir aja sih pak, dulu aja Bu Sri menolak calon mantu nya sekarang eh...udah jadi janda aja, malah restuin! Apa namanya kalo kaya gitu? Jilat ludah sendiri?", sindir ibunya Aisyah.


"Astaghfirullah, ibu!", bentak suaminya.


"Apa sih pak? Beneran kan? Kalo dulu Bu Sri gak jodohin Aisyah sama Febri, mungil dia belom meninggal, apalagi dia lagi hamil besar begitu!"


"Bu, Aisyah meninggal karena kena covid Bu. Bukan karena apa, apalagi gara-gara menikah sama Febri! Ibu lupa apa gimana? Ibu juga saat itu dukung pernikahan mereka. Jangan gitu lah, Bu!", kata bapak nya Aisyah.


Ibunya Aisyah masih saja manyun.


"Maaf ya Bu Sri?!", kata bapak nya Aisyah.


"Iya pak, saya paham kok. Pasti kalian masih sangat terpukul karena Aisyah meninggal."


"Itu tahu!", sahut ibunya Aisyah ketus.


"Ibu, kita ke rumah Bu Sri ini mau menjalin silaturahmi. Kok malah jadi ungkit-ungkit almarhumah Aisyah, udah dong Bu!", kata Bapaknya Aisyah.


Ibu nya Aisyah memilih diam tapi bibirnya masih komat kamit.


"Maaf ya pak!", kaya Bu Sri tak enak.


Sedangkan di luar, pak Bambang baru saja dari gudang samping. tidak tahu jika ada mantan besannya datang. Terlebih mengejutkan, calon menantu nya justru berdiri di teras. Padahal kondisi sedang gerimis. Kenapa tak masuk saja, padahal pintu juga terbuka.


"Nduk? Lha po ndek kene?", tanya pak Bambang.


(Kok di sini)


"Eh, pak! Assalamualaikum!", aku mencium bibirku tangan beliau.


"Mau ketemu ibu atau bapak kan? Ayo masuk saja!", aiak pak Bambang.


Akhirnya aku pun mengekor beliau.


"Assalamualaikum!", pak Bambang menyapa orang-orang yang ada di ruang tamu. Aku pun turut mengucapkan nya meski pelan.


"Waalaikumsalam!", sahut semua yang ada di sana.


"Lho, nduk? Kapan datang? Sini duduk!", titah Bu Sri.


Ibunya Aisyah menatap sinis ke arahku.


"Sibuk ya pak?", tanya bapaknya Aisyah pada pak Bambang.


"Ngga pak, biasa lagi di gudang samping tadi."


Kedua lelaki itu basa basi sebentar.


"Oh iya, kenalkan. Ini Bia, calon istri nya Febri, pak...Bu...!",kata pak Bambang.


Ibunya Aisyah menatap ku dari ujung kepala sampai ujung kaki.

__ADS_1


Cantik sih! Tapi janda! Heh! Batin Ibunya Aisyah.


Bapak Aisyah terlihat lebih ramah di banding istrinya. Atau mungkin lebih tepatnya, melirik situasi.


"Oh ya, ngomong-ngomong tumben ini ke sini. Sudah lama sekali ya pak ,Bu?", tanya pak Bambang.


"Iya pak, niatnya kami ke sini mau menyambung tali silaturahmi pak!"


"Oh begitu, iya betul. Biar pun Aisyah sudah meninggal, kami masih menganggap dia seperti putri kami sendiri kok pak!"


"Terimakasih pak Bambang. Sebenarnya...awalnya niat kami itu...mau menjodohkan Febri sama Anita, adiknya Aisyah. Turun ranjang begitu maksudnya, tapi sepertinya Febri sudah punya pilihan lain!",kata Bapak nya Aisyah.


Lha? Mau turun ranjang maksudnya toh? Lha terus kenapa dia marah-marah, pake acara nyesel anaknya pernah di jodohin sama Febri? Ini malah mau minta Febri jadi mantu nya lagi? Wong gendeng! Batin Bu Sri.


Aku menarik nafas perlahan. Bukan urusan ku sebenarnya, tapi aku sudah mendengar sendiri tadi kalo Bu Sri mengatakan aku calon nya Febri.


"Ooh... begitu rupanya ya Pak. Tapi...gimana ya, maaf sebelumnya. Kebetulan kami sudah melamar nak Bia untuk menjadi menantu kami. Mohon maaf ya pak, Bu!", kata pak Bambang sopan.


"Oh...iya pak, tidak apa-apa. Lagi pula ini kan baru niat kok pak. Saya malah bersyukur kalo ternyata Febri sudah siap untuk menikah lagi. Kasian, dia kan masih muda!"


Bapaknya Aisyah bijak sekali ya???


Usai memutuskan soal 'turun ranjang' itu tidak pernah terjadi, kedua orang tua Aisyah pun berpamitan. Ya, ibunya Aisyah bahkan menolak bersalaman dengan ku. Sabar Bia..


sabar?!!?


Sepenuhnya dua tamu agung itu....


"Ada apa toh nduk, tumben ke sini?", tanya Pak Bambang. Bu Sri juga mengangguk.


Aku menggenggam tangan Bu Sri, takut beliau shock saat aku mengatakan kondisi mas Febri saat ini.


"Ada apa sih Nduk? Jangan bikin ibu deg-degan! Udah dari semalam lho ibu ngga tidur mikirin Febri. Tumben banget, ngga tahu kenapa!", kata Bu Sri.


Benar kan? Ikatan batin seorang ibu memang tak perlu di ragukan.


"Begini Bu....tapi, Bia harap ibu jangan cemas berlebihan ya Bu."


"Apa sih Bia? Jangan bikin ibu penasaran!", kata Bu Sri lagi.


"Jadi...mas Febri...kena luka tembak Bu, ada musuh yang menembak mas Febri. Tapi mas Febri sudah di operasi. Tadi juga sudah siuman Bu, pak!"


"Innalilahi...!", ucap pak Bambang.


"Astaghfirullah, ya Allah pak. Beneran kan firasat ibu, pak?", kata Bu Sri menangis tergugu.


Aku pun menjelma kondisi mas Febri yang sudah membaik. Dan memberikn alasan kenapa rekan Febri menghubungi ku, bukan orang tuanya. Aku takut jika kedua orang tua itu salah sangka. Padahal aku ini belom resmi jadi anggota keluarga mereka.


"Syukur lah kalo Febri sudah membaik. Dari semalam ibu itu gelisah nduk!", kata Pak Bambang. Aku mengangguk pelan.


Bukan cuma ibu yang gelisah Bu, Bia juga!

__ADS_1


******


Lanjut besok lagi. Makasih 🙏🙏🙏🙏✌️🙏🤭 maap banyak typo 🙏


__ADS_2