Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 165


__ADS_3

Alby uring-uringan sejak pulang dari rumah sakit. Marsha yang melihat rekannya tak baik-baik saja pun bingung sendiri.


"Mas Alby, ada apa?", tanya Marsha saat mereka istirahat makan siang di restoran Xxx karena tadi sempat ada pertemuan dengan rekan bisnis.


Tak ada sahutan dari Alby. Pria tampan itu hanya memainkan sendok di piringnya. Makanannya pun masih utuh.


"Kalo ada yang pengen di ceritain, aku siap mendengarkannya kok."


Alby meletakkan sendoknya lalu menatap Marsha.


"Bia benar-benar mau cerai dari ku Sha!", Alby mendesah.


"Eum...dia di kampung kan? Bukankah kamu udah dari sana kemarin tuh, ngga coba buat ngomong dari hati ke hati gitu? Mencoba memperbaiki hubungan kalian?",tanya Marsha.


"Iya, aku memang ketemu sama dia kemarin. Tapi ...", Alby mengusap kasar wajahnya.


"Tapi apa? Dia ngga mau ngomong sama kamu?"


Alby menggeleng.


"Aku...aku salah. Aku...udah kasar sama Bia, Sha!"


"Maksudnya? Ngga mungkin kan kamu mukulin dia?"


"Aku... minta hak aku secara paksa sama Bia!", jawab Alby lirih.


Marsha yang notabene masih perawan ting-ting mencoba mencerna ucapan Alby sampai akhirnya kedua matanya membola.


"Mas Alby perkosa mba Bia gitu maksudnya?"


"Gak perkosa juga kali Sha, dia istriku! Aku masih berhak sama Bia."


"Ya, aku juga tahu mas. Tapi kalo kondisi nya kaya sekarang nih, ya itu sebutannya. Apalagi kalo mas Alby memperlakukan mba Bia kasar."


"Aku ngga bermaksud kasar Sha!"


"Terus?"


"Tau ah.... intinya, abis aku tinggalin dia di rumah aku langsung balik ke sini. Aku ngga tahu kalo dia sampai sakit dan ditemukan pingsan."


"Ya Tuhan!", Marsha menggeleng heran.


"Dan entah kebetulan atau apa, yang nemuin Bia itu bapaknya Febri. Mantannya Bia yang sampai sekarang masih ngejar-ngejar Bia. Dan tadi pagi, aku ketemu dia di rumah sakit. Dia mukulin aku!", adu Alby pada Marsha.


Marsha menarik nafasnya pelan.


"Kalo aku jadi mantannya Bia pun, aku bakal melakukan hal yang sama ke kamu Mas!", sahut Marsha datar.


"Kok gitu?"


"Iya, kamu pikir Bia itu apa? Kamu habis pakai dia, terus kamu tinggal gitu aja? Aku juga jadi kesel dengernya! Udah ah!", Marsha meninggalkan meja makan mereka.


Alby ternganga, tidak percaya reaksi Marsha sampai sebegitunya. Sekarang Alby benar-benar merasa sendiri.


Brakk!! Alby memukul mejanya.


Sontak ia menjadi pusat perhatian pengunjung restoran itu. Tak terkecuali Sabrina yang sedang mengangkut bekas makan meja yang tak jauh dari meja Alby.


'Itu bukannya mas Alby?', gumam Sabrina. Tapi dia juga tak berani menegur pria tampan itu.


Saat Alby akan bangkit dari duduknya, ia melihat keberadaan Sabrina yang sedang menatapnya. Sabrina hanya mengangguk pelan sebagai sapaan pada Alby. Tapi sepertinya Alby tak menggubrisnya sama sekali.


'Lha, dia judes amat ya?'


Sabrina meneruskan pekerjaannya. Sebenarnya dia sudah tak konsentrasi dengan pekerjaannya. Pikirannya masih terbayang-bayang tentang pertemuan nya dengan ayah nya Sakti.


Sabrina heran, kenapa Sakti bisa seyakin itu tentang perasaan nya pada Sabrina. Padahal Sakti benar-benar baru mengenal dirinya.

__ADS_1


Tapi dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri, apa pun yang terjadi nanti dia akan pasrah. Karena dia sendiri sudah sering merasakan yang namanya kecewa.


Marsha kembali kantornya. Entah lah, sebagai sesama perempuan dia merasa dirinya turut sakit hati. Kesannya Bia itu habis manis sepah di buang!


Berbeda dengan Alby, ia melesat ke kampus untuk menemui Malvin. Ia mengesampingkan rasa malunya untuk mencari tahu nomor keluarga Bia di kampung.


Mobilnya terparkir didepan pintu gerbang kampus. Matanya menelisik ke hampir segala penjuru untuk mencari keberadaan Malvin. Tapi sampai lima belas menit berlalu, tak ada tanda-tanda yang menunjukkan batang hidung Malvin. Akhirnya dia pun turun dari mobil. Wajah tampan nya menarik atensi kaum hawa di kampus itu. Sebagian memang ada yang tahu jika dirinya suami silvy, tapi tidak semua.


Akhirnya, Alby memutuskan untuk bertanya pada salah seorang mahasiswa di situ.


"Permisi!",ujar Alby.


"Ya mas?", sahut mahasiswa itu.


"Kenal Malvin ngga?"


Bukannya menjawab, mahasiswa itu malah memandangi Alby dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Eh, iya kenal. Situ...suaminya Silvy kan?"


Alby menghembuskan nafasnya kasar. Mau mengiyakan tapi rasanya berat sekali.


"Liat ngga kira-kira sekarang Malvin di mana?"


"Kalo ngga salah sih tadi di kantin mas."


"Eum, kantin nya di mana?"


"Dari gedung itu, ke belakang mas."


"Ya, makasih!", Alby pun meninggalkan mahasiswa itu.


"Njir, lakinya Bia sumpah ya... ganteng banget diliat dari Deket ya!", celetuk salah satu mahasiswi yang tadi bersama mahasiswa yang di tanya Alby.


"Gantengan gue lah!", ujar mahasiswa itu lalu beranjak dari sana.


Teman Malvin menyadari kehadiran Alby, dia menyikut lengan Malvin untuk memberi kode.


Malvin menengok ke arah Alby yang ternyata sudah berada di belakangnya.


"Vin, ada waktu? Gue mau ngomong!", kata Alby.


"Sama gue?", Malvin balik tanya. Alby mengangguk. Malvin meminta teman-temannya untuk meninggalkan dirinya dengan Alby.


"Ada apa?", tanya Malvin.


"Gue...minta nomor telepon om Lo, mertua gue"


Malvin mengernyitkan alisnya.


"Buat apa?"


"Gue ada perlu, bisa kan Lo kasih nomornya?"


Malvin mengambil ponselnya. Tapi ia tak buru-buru memberikan nomor itu pada Alby. Entah kenapa ia merasa ada baiknya kalau ia menghubungi om nya lebih dulu, apakah beliau mengijinkan atau tidak.


"Bentar, gue telpon om Anton dulu!", ujar Malvin. Lalu mencari kontak nomor Anton di ponselnya.


"Vin, apa susahnya sih Lo tinggal kasih ke gue. Udah, gue ngga bakal ganggu waktu Lo!", kata Alby kesal. Tapi Malvin mengatupkan telunjuknya di bibirnya sendiri.


[Assalamualaikum Vin]


[Walaikumsalam, sibuk om?]


[Ngga, tumben telpon om. Oma Marini ngga kenapa-kenapa kan?]


[Oma baik-baik aja kok om]

__ADS_1


[Alhamdulillah kalo gitu, terus kenapa?]


[Eum...ada yang minta nomor telepon Om Anton, katanya penting!]


[Oh ya? Siapa?]


Malvin mengarahkan kameranya pada Alby.


[Kok???]


Alby merebut ponsel Malvin.


[Assalamualaikum,pak!]


Terdengar helaan nafas dari seberang sana.


[Walaikumsalam, kenapa By?]


[Pak, Alby ingin tahu kabar Bia. Tapi sepertinya nomor Alby di blokir. Nomor lek Sarman juga ngga bisa Alby hubungi. Tiap Alby memakai nomor lain pun tak pernah di angkat Pak.]


[Buat apa kamu cari tahu kabar Bia? Bukankah kamu udah ngga peduli? Meninggalkan Bia begitu saja setelah menuntaskan hasrat mu?]


[Astaghfirullah Pak! Alby ngga bermaksud begitu! Demi Allah, pak. Alby cinta sama Bia!]


[Saya memang bukan ayah kandung Bia, By. Tapi sebagai seorang ayah sekaligus seorang suami, saya benar-benar kecewa sama kamu! Malvin benar, sebelum dia memberikan kontak nomor saya ke kamu dia lebih dulu menghubungi saya. Kamu tunggu saja, surat panggilan sidang dari PA. Assalamualaikum]


Anton langsung mematikan ponselnya.


Alby menggeram kesal. Kenapa semua menyalahkannya! Kenapa semua seolah hanya memposisikan dirinya dari sisi Bia. Tidak ada yang paham dan mengerti sedikit saja posisi yang ia rasakan. Semua hanya menyudutkannya. Malvin kembali mengambilnya ponselnya, lalu memasukkannya ke kantong jaketnya.


"Gue emang cinta sama Silvy, istri Lo. Tapi gue ngga bisa maksain dia buat mau sama gue!", Malvin menepuk bahu suami dari mantan kekasihnya itu. Cowok tampan berusia dua puluh satu tahun itu bangkit dari duduknya. Tapi sebelum ia menjauh, ia membalikkan badannya sambil berkata.


"Sorry, gue ga bisa bantu Lo. Pilihan Lo cuma satu, lepaskan Bia! Setidaknya setelah itu, Silvy bisa mendapatkan hak nya dari suami zolim kaya Lo! Itu cara gue mencinta Silvy. Ternyata usia memang tak selalu mencerminkan sisi kedewasaan seseorang!"


Usai mengatakan itu, Malvin pun meninggalkan kantin.


Arrrgggghhh! Alby berteriak emosi! Dia sudah tak peduli tanggapan orang di sekelilingnya.


Alby memilih keluar dari kantin menuju mobilnya. Entah setelah ini ia akan ke mana.


Setelah berhasil keluar dari kampus, pemandangan di hadapan Alby hanya lah kemacetan ibu kota. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukan hampir jam empat sore. Itu artinya ia sudah membuang banyak waktu tapi tak mendapatkan apapun yang dia inginkan.


Cuma mau tahu kabar mu saja sulit banget sih, neng!


Alby memukul setirnya hingga menimbulkan kebisingan yang sebenarnya sudah cukup memekakan telinga di jam macet seperti sekarang. Tapi sepertinya hampir semua orang pun jenuh dengan situasi seperti ini.


Pandangan Alby berhenti saat ia melihat masjid besar di salah satu universitas negeri. Hatinya terpanggil untuk segera menunaikan ibadah solat ashar. Ia pun menepikan mobil ke parkiran masjid.


Setelah turun dari mobil, justru Alby tertunduk sambil memejamkan matanya. Bagaimana mungkin dia bisa lupa! Masjid ini pernah menjadi saksi dimana dirinya dan Bia solat Iedul Adha saat awal menikahi dulu.


Badan Alby luruh di samping mobilnya. Ia menakupkan kedua tangannya di wajah. Entah itu berlanjut berapa lama, sampai ada seseorang yang menegur nya.


"Mas, mas ngga apa-apa?", tanya orang itu.


Alby mendongak menatap sosok yang menegurnya.


"Ah, iya pak. Ngga apa-apa. Eum, saya belum solat ashar."


"Oh, ya udah ayok bareng. Saya juga belum. Baru pulang dari toko nih!", katanya sambil terus.


Alby pun mengangguk, lalu ia mengikuti orang tersebut untuk segera solat ashar.


*****


Besok lagi ya...! Happy weekend 🤗🤗🤗🤗


Makasih 🙏🙏🙏👍

__ADS_1


__ADS_2