
"Terima kasih dok!",kata seorang pasien pada seorang dokter kandungan.
"Sama-sama nona! Semoga lekas sembuh!",kata dokter Anita.
Gadis itu keluar dari ruangan dokter Anita. Ia baru saja check up kesehatan rahimnya. Sejak ia menggugurkan kandungan nya secara ilegal, rahimnya cukup bermasalah.
Di lorong rumah sakit, tanpa sengaja ia melihat sosok mantan sahabatnya, Anika. Gadis itu di kawal oleh dua orang ajudan. Seperti biasanya! Nampaknya dia sudah go publik, menunjukkan dirinya anak dari orang penting.
Gadis itu mengikuti Anika yang masuk ke sebuah ruangan. Dia meminta ajudannya untuk menunggu di tempat lain saja. Takut mencolok jika di pandang pengunjung rumah sakit itu.
Anika masuk ke dalam ruangan itu. Gadis yang mengikuti nya pun mengendap-endap mengikuti Anika.
"Hai, Vy! Apa kabar Lo hari ini?", sapa Anika. Dia tetap melakukannya meski dia tahu bahwa Silvy tak akan menjawabnya.
"Gue...ada kabar baik buat Lo!", ucap Anika.
Tanpa Anika sadari, sosok yang mengikutinya berada di ambang pintu yang tak sepenuhnya tertutup.
'Itu Silvy?', batin gadis itu.
"Lo tahu ngga Vy! Kemarin kita abis jalan-jalan ke **fan! Nabil keliatan seneng banget ketemu orang banyak!"
"Dan...ada yang harus Lo liat!", Anika menyalakan video yang menunjukkan saat Bia menggendong Nabil dan mengusapnya penuh kasih sayang. Anika sadar, Silvy tak melihatnya saat ini. Tapi... mungkin di alam bawah sadarnya, Silvy bisa merasakan itu.
"Mba Bia baik kan? Dia benar-benar tulus jadi orang! Makanya...gue harap Lo bangun! Lo harus minta maaf sama dia. Emang Lo ngga capek berbulan-bulan tidur Mulu?"
'Silvy koma?' batin gadis itu lagi.
"Bangun yuk Vy! Gue yakin, mba Bia akan maafin Lo! Semangat berjuang, buat Nabil sama Mas Alby!", kata Anika lagi.
Gadis itu beranjak dari tempat ia berdiri tadi.
.
.
"Hei, cemberut aja! Kenapa Lo?"
"Silvy koma, Lo tahu?", tanya gadis itu pada temannya.
"Tahu lah! Udah jadi rahasia umum kali, apalagi udah di share di grup kelas kita."
__ADS_1
"Gue kan udah di DO, ogeb!", kata gadis itu menoyor temannya.
"Hahaha sorry, gue lupa!"
"Ckkkk....kenapa ngga mati aja tuh bocah sialan!"
"Ya elah, udah sih! Gimana juga dia pernah jadi sohib Lo! Doain dia cepet sembuh kek, malah marah-marah gitu!"
"Dih, najis!", sahutnya ketus.
"Segitunya amat Lo!"
"Gara-gara Malvin belom move on dari tuh anak, gue di depak gitu aja. Malvin cuma nikmatin tubuh gue, tapi tetap aja dia masih kecintaan sama si ca*** itu!"
"Bukannya Lo yang selingkuh ya dari Malvin?"
"Kalo Malvin sepenuhnya peduli sama gue, gua ga bakal selingkuh lah. Malvin sialan emang, udah puas sama gue dia ngedepak gue!"
"Ya udah lah Ve. Lagian Silvy sekarang juga lagi koma. Dia juga udah merit kan? Tuh bocah koma juga gegara abis lahiran kan? Beruntung banget ya dia, lepas dari Malvin langsung punya laki ganteng. Ya... walopun cuma supir sih!"
"Halah! Laki dapet dari ngerebut aja bangga!"
"Hehehe Lo lupa Ve, Lo juga rebut Malvin dari Silvy kali?"
Sahabat gadis itu hanya menghela nafas. Tak pernah habis pikir bagaimana bisa sahabatnya masih saja iri pada Silvy. Padahal Silvy dengan ikhlas melepaskan Malvin pada pengkhianat itu.
"Apa gue habisin aja tuh cewek ya?!", monolog gadis itu.
"Lagak Lo mau ngabisin orang, nginjek kecewa aja Lo geli hahahaha! Udah, ngga usah aneh-aneh deh mikirnya!"
"Lo lupa gue gugurin anak gue hah?"
Sahabatnya menggeleng heran, tak tahu harus bicara apalagi.
.
.
Aku menuju ke kantor pusat HS pagi ini. Lek Sarman dan yang lain sudah kembali ke kota kami semalam. Setelah mengambil barang bawaan kami di penginapan, mereka langsung pulang sedang aku di antar oleh mas Febri menginap di hotel yang tak jauh dari kantor HS grup.
Febri sendiri kembali ke mess setelah mengantar ku.
__ADS_1
Aku berjalan kaki sekitar lima belas menit untuk menuju ke gedung tinggi itu. Sekitar pukul delapan aku sampai di gedung itu. Aku menunjukkan tanda pengenal ku, barulah setelah itu aku di berikan card pengunjung gedung.
Sampai di depan resepsionis, aku pun bertanya.
"Permisi mba!"
"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?", tanya resepsionis tersenyum ramah.
"Eum...saya..."
"Neng?", sapa Alby di belakang ku.
"Selamat pagi pak!", sapa resepsionis itu pada Alby.
"Pagi!", sapa Alby ramah.
"Neng, langsung ke ruangan saja!", ajak Alby padaku.
"Tunggu A!", kata ku.
"Kenapa?"
"Naik lift?",tanya ku.
"Ya... tentu saja neng, masa mau naik tangga darurat ke lantai dua puluh?"
"Cuma kita berdua?"
Alby tersenyum tipis. Alby mungkin paham apa yang aku pikirkan.
"Aa ngga akan ngapa-ngapain neng!"
"Tapi...aku ngga mau ada fitnah!'', jawab ku.
Alby menghela nafasnya pelan.
"Neng, kemarin Aa udah ngobrol sama Febri. Aa udah berusaha ikhlasin neng, buat Febri!"
"Oh...ya udah!", sahutku santai. Akhirnya aku pun ke ruangan itu bersama Alby.
*****
__ADS_1
Bersambung besok lagi....makasih 🙏🙏🙏🙏