Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 255


__ADS_3

Perjalanan ke rumah sakit tempat ku periksa kehamilan di tempuh sekitar tiga puluh lima menit.


Dan ternyata saat sampai ke sana, dokter Nadia sedang istirahat. Alhasil, aku dan Mas Febri memilih menunggu di kantin.


Aku dan mas Febri makan siang di kantin rumah sakit. Tanpa sengaja, kami bertemu dengan mas Sakti yang juga sedang istirahat makan siang.


"Hei...kapten, kalian di sini rupanya??", sapa Sakti sambil menepuk pundak Febri.


"Iya, mau periksa kandungan Bia",jawab Febri. Aku tersenyum tipis sekedar menyapa mas Sakti sebab sedang mengunyah makanan.


"Oh gitu. Dokter siapa?", tanya nya.


"Dokter Nadia", jawab Febri.


"Uuuh...galak tuh dokter heheheh!"


"Dih, ngatain! Nanti gue bilang ke dokter Nadia kalo dokter Sakti udah ngatain Dokter Nadia galak!", kata Febri sambil cekikikan.


"Semua juga tahu kali, udah jadi rahasia umum warga rumah sakit ini kalo dokter Nadia itu galak."


Dua sahabat itu menjadi pusat perhatian orang-orang. Terutama suamiku. Kaum hawa yang ada di sekitar meja kami memperhatikan dua cogan yang ada di meja ku.


Insting ku sebagai seorang istri pun mendadak tajam. Aku melotot pada perempuan-perempuan yang menatap kagum pada suamiku. Kok tahu yang diliat suamiku? Bukan mas Sakti?


Ya iya lah, mas Sakti baru selesai makan dan dia sudah memakai kembali masker medis nya karena dia bilang sedang sedikit flu.


Sayangnya pelototan ku tak mempan. Atau jangan-jangan muka ku ngga cocok galak kali ya...???


"Udah selesai makan nya mas?", tanyaku pada mas Febri.


"Udah nduk!", dia mengelap bibirnya dengan tisu.


Kebetulan, aku selalu membawa masker ke mana pun. Kebiasaan saat pandemi masih kebawa sampai saat ini.


Setelah ku pastikan wajah mas Febri bersih tanpa sisa makanan, aku langsung memasang masker pada wajahnya seperti yang Mas Sakti lakukan.


Febri cukup kebingungan, tapi dia ikut saja apa mau istrinya. Dari pada nantinya malah merajuk di kantin. Yang ada malu sama semua orang.

__ADS_1


"Sayang, kok mas di suruh pake masker juga?",tanya Febri.


"Gue ga kena covid kok Bi, lagian gue juga baru gejala flu. Gue juga duduknya jauhan sama Febri!", celetuk Sakti.


"Biar aman!", kataku asal.


"Aman dari apa? Kan Sakti juga belum tentu..."


"Aman dari tatapan lapar noh... ciwi-ciwi yang liatin kamu sampe segitunya!", kataku mencebikkan bibirku.


Febri dan Sakti memutar badan sambil menatap ke sekeliling. Benar saja, mereka jadi pusat perhatian kaum hawa di sana. Jangan kan yang muda, ibu-ibu aja ikutan sibuk liatin mereka.


Febri dan Sakti saling melemparkan pandangan dan tersenyum kaku di balik masker.


"Posesif detected!", bisik Sakti.


"Huum. Sejak hamil, makin sensi aja!", bisik Febri.


"Berati udah cinta beneran dong? Atau malah jangan-jangan cuma bawaan bayi? Nanti habis lahiran, dia bakal inget lagi sama Alby!", Sakti kembali berbisik yang akhirnya mendapat toyoran dari Febri.


"Ngapain sih bisik-bisik? Bangga jadi pusat perhatian mereka? Iya?", tanyaku.


Sakti menahan tawanya. Lalu setelah itu dia berdiri.


"Sorry bro, gue ada praktek habis ini. Bye!!! Semoga bisa di jinakkan ya hahahah!", sakti sedikit berlari hanya berdadah-dadah alay padaku. Ga usah di bayangkan gimana dadahnya!


"Apa sih sayang?", Febri mengusap lenganku dengan lembut.


"Kamu pasti seneng kan banyak yang liat kagum kaya gitu?"


"Sayang, kok gitu sih ngomongnya?", dia jongkok di depan kursi ku.


"Tahu ah!"


"Jangan marah-marah ntar Fesha sama Ribi ikutan emosian lho kalo ibunya suka marah-marah kek gini?", kata Febri sambil mengelus perut ku.


"Siapa Fesha sama Ribi?"

__ADS_1


"Hehehe calon anak-anak ayah dong!"


"Emang tahu jenis kelamin nya apa? Main kasih nama aja!!"


"Tahu lah, udah di bisikin katanya anaknya cewe dua! Hehehe!"


Karena ucapan ngasalnya itu aku justru jadi tertawa. Bisa aja bikin aku luluh,bang!


"Udah, ngga usah cemburu. Mau Selena Gomez atau Song Hae Kyo yang liatin mas, mas juga ngga peduli kok. Kan mas punya bidadari di sini hehehh!"


"Halah! Ya iya lah, mana ada mereka melirik mu. Kenal aja gak!"


"Nah itu tahu, biarin aja mereka liatin mas. Yang penting mas kan ngga ambil pusing. Itu hak mereka, terserah mereka!"


"Tapi jangan cemburu buta gitu dong sayang!"


"Dih, sapa yang cemburu? Geer! Udah ah, dokter Nadia udah selesai istirahat kali. Habis periksa, kita mampir solat Dhuhur di sini."


"Iya nyonya Febri!", kata suamiku. Mau tak mau aku kembali tersenyum. Dia menggandeng tangan ku menuju tempat praktek dokter Nadia.


Kaum hawa yang ada di sana masih saja memandangi pak kapten!


Aku minta Mas Febri melepaskan genggamannya karena tanganku melingkar di pinggang langsing dan kokoh miliknya. Tangan satu lagi mengelus perut ku sendiri bahkan tanpa malu-malu mas Febri juga melakukan hal yang sama.


Baru kali ini aku pamer kemesraan di depan umum! Halal mah bebas ye kan??? Yang penting masih dalam tahap wajar. Apalagi seragam mas Febri sangat mencolok. Ga ada lah yang aneh-aneh meski hubungan kami sah.


Beberapa saat kemudian, kami sudah berada di ruangan dokter Nadia. Dia mulai memeriksa kesehatan ku dan juga kandungan ku. Alhamdulillah semua sehat!


Setelah periksa kandungan, kamu berdua menuju ke mushola rumah sakit. Kami menjalankan kewajiban kami sebagai umat muslim.


"Ikut ke kantor lagi ya Nduk? Nanggung nih, mas ada kerjaan dikit. Takut ngga keburu kalo nganter kamu dulu! Ngga keberatan kan?"


"Huum, ngga apa-apa mas. Tapi, aku tidur dulu ya? Ngantuk banget. Nanti kalo sudah di kantor, bangunin aku!"


"Ya udah, sini kursinya di turunin biar bisa buat rebahan. Jadi pinggang mu ngga sakit!"


"Iya mas, makasih!", sahutku. Setelah itu, aku benar-benar tertidur. Ngantuk tak tertahan pokok nya.

__ADS_1


__ADS_2