
Ketiga cowok ganteng itu memasuki ruang makan. Bingung! Ya, mereka bertiga merasa bingung berada di antara keluarga atasannya itu.
"Duduk!", titah Galang. Dimas memilih duduk di samping Anika yang sedang tersenyum. Itu artinya ia duduk berhadapan dengan.... Sabrina.
Seto memilih duduk di samping Sabrina, sedang Febri di samping Dimas.
"Ayah mau, kalian anggap ayah ini ayah kalian. Ayah tidak akan membeda-bedakan perlakuan ayah pada kalian. Entah itu Sakti, Febri, Dimas atau pun Seto. Kalian anak-anak ayah. Terutama...kamu Mas Sakti, Dimas!"
Sakti dan Dimas mendongak.
"Kalian anak laki-laki ayah, di depan semuanya ayah mau bilang. Ayah merestui sakti dan Bina, begitu pula Anika dan Dimas."
Dimas meneguk ludahnya dengan kasar. Tak menyangka jika atasannya itu akan bicara seperti itu.
"Iya yah, makasih!", ucap Sakti senang dan saling berbalas senyum dengan Sabrina.
"Yah...!", panggil Anika dengan suara manjanya. Lalu ia berbalik menatap wajah kekasihnya yang terlihat sangat terkejut.
"Ayah ngga masalah kan kalo Anika...nikah muda? Anika masih mau kuliah kok!", celetuk Anika.
Lagi-lagi Dimas meneguk ludahnya. Kering! Kering banget itu tenggorokan!
"Kok adek ngomong kaya gitu sih? Tanya sama Dimas lah, mau ngga halalin kamu?", tanya Galang.
Dimas melotot, tak menyangka jika calon bapak mertua nya bicara seperti itu. Febri dan Seto hanya saling lirik dan memberi kode dengan dagu masing-masing.
"Gimana Dimas? Kamu mau serius juga kan sama anak bungsu ayah? Kaya sakti ke Sabrina?", tanya Galang seolah sedang menantangnya.
"Insyaallah siap, pak!", sahut Dimas dengan suara bergetar.
Galang tersenyum.
"Ngga lagi dinas. Panggilnya ayah aja, kecuali kalo lagi jam kerja baru panggil bapak!", Galang mengulas senyuman.
"Iya pak, eh...yah!", sahut Dimas.
"Mas, kira-kira kapan ayah melamar Bina ke orang tuanya?", tanya Galang.
Sakti menoleh.
"Secepatnya yah. Kalo bisa mah langsung nikah aja. Biar pacaran habis nikah gitu, kan halal."
"Makasih sindirnya ya mas!", celetuk Anika. Semua tertawa mendengar jawaban Anika.
__ADS_1
.
.
.
Alarm Ki berdering nyaring tepat di jam dua. Aku memang sudah menyetel di jam itu agar aku bangun untuk solat malam.
Usai mematikan alarm ponsel ku, aku pun bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.
Sepi? Iya sepi, kedua lek ku pasti masih tidur. Sekarang, mereka sudah tak terlalu sibuk harus bangun pagi buta untuk belanja kebutuhan warung. Sudah ada anak-anak yang bertugas untuk belanja dan lain-lain.
Jam dua lewat sepuluh aku sudah bersimpuh di hadapan sang Illahi. Memanjatkan doa serta meminta pengampunan dosa atas semua dosa ku di masa lalu.
Penggalan cerita ku dengan Alby bersekelebatan di ingatan ku. Masa-masa di mana kami baru berkenalan sampai di titik kami melanjutkan ke jenjang pernikahan.
Aku tergugu dalam doa ku. Benarkah keputusan yang ku ambil ini. Kenapa sesakit ini rasanya ya Allah? Sakit!
Ku pejamkan mataku, meresapi setiap 'istighfar' yang ku lantunkan. Alby ku ...oh tidak. Dia bukan lagi Alby ku.
Mungkin setelah kami berpisah nanti, hubungan kami akan jauh lebih baik. Tidak ada lagi yang akan tersakiti.
Aku tidak akan lagi merasa di madu suamiku. Alby tidak lagi pusing saat harus membagi waktu dan hatinya pada dua orang perempuan yang tentu saja menginginkan dirinya di perhatikan. Dan Silvy bisa mendapatkan haknya sebagai seorang istri. Lalu...anak Alby akan memiliki keluarga yang utuh.
'Mungkin inilah cara kami! Dengan melepaskan, membuktikan bahwa cinta tak selamanya harus saling menggenggam bersama.'
'Perlahan, semua perasaan akan terobati dan terlupakan oleh waktu. Cepat atau lambat.'
'Aku hanya memasarkan diriku pada Mu ya Rabb. Kuatkan aku'
.
.
Di lain tempat....
Alby bangun dari tidurnya. Ia bergegas menuju ke kamar mandi. Dia sudah terlelap sejak pukul delapan malam usai solat isya.
Pria tampan itu mendirikan solat Sunnah nya seperti yang pal Aris katakan. Insyaallah, DIA akan memberikan jalan keluar yang terbaik.
'Ya Allah, jika memang aku harus berpisah dari Bia, tolong ikhlas kan hati kami masingmasing ya Allah. Tapi jika Bia memang masih jodoh ku, tolong.... kembali persatukan kami. Hamba sangat mencintai Bia ya Allah. Entah apa yang terjadi jika Bia benar-benar meninggalkan ku.'
Alby bersimpuh sambil menengadahkan tangannya. Dia masih memekakan matanya. Bahkan pria itu masih terisak di sela doanya. Isakan itu menarik atensi Silvy yang terbaring di ranjangnya.
__ADS_1
Tanpa ia sadari, ia melelehkan air matanya. Sakit sekali ia melihat suaminya menangisi perempuan lain meskipun dia tahu, perempuan itu lebih dulu hadir dalam kehidupan Alby.
Aku terlalu banyak berbuat kesalahan. Aku membuat mereka seperti ini! Tangan Silvy mengusap perutnya yang sedikit membuncit. Sesekali ada sensasi berkedut di perut nya. Dan itu sering terjadi.
Sayang, sehat-sehat di dalam sana ya! Batin Silvy. Tanpa ingin mengganggu kekhusyukan Alby, Silvy bangun dari ranjang perlahan-lahan menuju ke kamar mandi yang tak jauh dari ranjangnya.
Setelah ia selesai membuang hajatnya, Alby masih terlihat duduk bersimpuh di sajadah.
Pelan tapi pasti, Silvy melangkahkan kakinya menuju Alby.
"By!", panggil Silvy lirih. Alby pun menengok.
"Kamu turun, dari mana?"
"Kamar mandi!", ujar Silvy. Alby bangkit lalu membopong Silvy kembali ke ranjang.
"Kenapa ngga panggil aku!", tanya Alby datar.
"Kamu lagi khusuk berdoa By!", jawab Silvy tanpa melepaskan pandangannya dari suami tampan nya itu.
"Lain kali bangun kan aku."
Alby merapikan kembali selimut untuk menutupi tubuh Silvy. Dia sendiri melepaskan sarung nya dan merapikan kembali tempat ia solat tadi.
"Masih malam, tidur lagi!", titah Alby sambil merebahkan diri di samping Silvy.
"By...?", panggil Silvy. Tapi tatapannya masih mengarah ke awang-awang.
"Apa Allah mau menerima taubat ku?", tanya Silvy. Alby menengok ke arah perempuan yang baru genap dua puluh tahun itu. Masih muda, selisih tujuh tahun darinya. Bia seumuran dengan Alby, hanya beda beberapa bulan. Tapi sebagai rasa hormatnya, Bia selalu memanggil nya Aa.
"Allah maha pemberi ampunan", jawab Alby singkat.
"Lalu, apal kamu dan Bia mau maafin aku?", tanya Silvy. Kini ia menghadap ke Suaminya. Mata mereka saling bersirobok.
"Aku sudah memaafkan mu, tapi...entah dengan Bia."
Silvy memejamkan matanya.
"Maaf!", ujarnya lirih tapi setelah itu terdengar suara isakan dari bibir mungilnya. Dan... reflek, Alby merengkuh tubuh istrinya itu.
"Sudah istirahat saja. Masih malam!", pinta Alby lagi. Silvy mengangguk dalam dekapan Alby. Ada rasa nyaman yang tak tergambarkan. Silvy tahu, Alby tak ada memilik rasa cinta padanya. Silvy tahu, Alby hanya kasian pada nya yang ringkih ini. Bahkan mungkin sebentar lagi akan tiada. Tapi...apa kesempatan Alby dan Bia untuk kembali masih ada?
*******
__ADS_1
GaJe ya??? Maap deh 🙏🙏🙏🙏