
"Vy ...!", pekik Anika.
"Hem!", sahut Silvy dengan sedikit tertatih duduk di bangkunya.
"Lo ga pernah cerita ama gue soal Lo punya calon suami. Lo ga anggap gue?", tanya Anika.
"Paan sih Lo Nik! Kan sekarang Lo tahu sendiri, calon suami gue!", sahut Silvy dengan santainya. Jawaban dari Silvy menarik atensi anak-anak.
"Iya sih, tapi kok selama ini Lo....?"
"Gue cerita ke Lo kalo semua udah jelas. Tapi ya... ternyata ini lebih cepat dari rencana gue hehehe. Kejutan buat Lo!", Silvy mencubit pipi Anika.
"Btw... Lo kenal di mana sama mas-mas ganteng itu? Oke lah...dia staf di kantor papa mu, tapi kan...Lo sendiri ga pernah ke kantor!"
"Ya...ya...di rumah lah. Kadang kan suruh bawa berkas penting bokap!"
Mulut Anika membulat berbentuk 0.
"Tapi sumpah deh... mas-mas itu ganteng maksimal. Malvin aja lewat Vy!"
Tuk! Silvy memukul Anika den pulpen nya.
"Awww...sakit *ego!", kata Silvy sambil mengusap kepala nya.
"Mas-mas, dia orang Sunda. Panggilannya Aa Alby!", kata Silvy riang.
"Aisss....kenapa harus gitu manggilnya Aa???", bibir Anika mencebik.
"Iya kan tadi gue bilang, dia bukan orang Jawa wajar dong gue panggil dia Aa sesuai sama asal daerah nya?"
"Serah Lo deh Vy....!", ujar Anika.
Silvy mencubit gemas pipi sahabatnya. Sedang Anika lebih memilih mengabaikannya.
Saat Silvy dan Anika tengah serius dengan bahan diskusinya, tiba-tiba Vega datang menghampiri kedua sahabat itu.
"Heh! Lo sadar diri dong, ga usah sok kecakapan! Pake bawa-bawa orang luar masuk ke kawasan kampus. Lo pikir Lo siapa hah?", Vega tiba-tiba datang sambil berkacak pinggang.
"Weeeeisssh...sabar boskuh!", ujar Anika.
"Gue ngomong sama si c***t bukan sama Lo penjilat!", kata Vega lebih kasar.
"Anika! Lo duduk. Biar gue yang ngomong!"
Silvy pun berdiri dihadapan Vega.
"Mau Lo apa sih Ga? Masalahnya apa sih buat Lo kalo calon suami gue memastikan gue masuk ke kelas?"
"Ya...ya... dia kan orang luar!", kata Avega tergagap.
"Iya, dia memiliki bukan mahasiswi atau karyawan kampus ini. Dia orang luar. Tapi ga ada urusan nya sama Lo kan?"
"Bilang aja ngiri kalo liat Lo udah move dari Malvin , dapet yang lebih ganteng lagi", celetuk Anika. Kata Vega menyorot tajam ke arah Anika.
"Cuih...gue iri sama Lo? Gak banget!"
"Ya udah, terus kenapa Lo marah-marah ke sini? Gue udah lama ikhlas kok ngasih bekas gue buat Lo! Eh...salah! Di ralat. Gue rela lepasin sahabat laknat dan kekasih pengkhianat seperti kalian!", Silvy menunjuk hidung Vega.
"Iri bilang bos!", sahut anak-anak yang lain. Setelah itu riuh suara tawa anak-anak.
Dengan kesal , Vega keluar dari kelas Silvy dan Anika.
"Keren Lo vy, langsung mundur alon-alon waton kelakon tuh bocah", kata Anika.
"Au ah...ngemeng apa sih Lo ah!", Silvy mulai sibuk dengan buku di hadapan nya.
.
.
"Siang pak, saya mau bertemu dengan tuan Hartama , beliau ada di tempat?", tanya Alby pada resepsionis.
Resepsionis sempat terpana melihat ketampanan Alby.
"Mbak?", Alby melambaikan tangannya di depan wajah resepsionis.
"Eh, iya mas. Ada, tuan Hartama ada di ruangannya."
__ADS_1
"Oh...iya makasih mba!", kata Alby. Sang resepsionis masih menatap punggung Alby.
Usai di beri tahu dimana letak ruangan Tuan Hartama, Alby pun menuju ke sana. Tidak sulit menemukan keberadaan ruangan sang bos.
Ada tulisan CEO Room tertera di pintu yang tampak mewah itu. Dan di sebelah pintu tersebut ada meja yang di tunggui oleh seorang perempuan, mungkin sekertaris tuan Hartama.
"Permisi mba!", sapa Alby.
Perempuan itu pun bangkit.
"Ya, pak. Ada yang bisa saya bantu?", tanya Marsha, sekretaris Hartama.
"Saya Alby, sudah ada janji bertemu dengan tuan Hartama. Beliau ada di ruangannya?", tanya Alby sopan.
Gila, sumpah nih cowok ganteng banget ya? Marsha berminat dalam hatinya. Wajah tampan Alby membuat ia sedetik terpaku.
"Mbak?", Alby mengibaskan tangannya di depan wajah Marsha.
"Eh..iya pak, tuan Hartama ada di ruangannya", sahut Marsha sedikit tergagap.
"Mari saya antar!", kata Marsha. Alby pun mengangguk. Lalu Marsha mengetuk pintu ruangan bosnya. Setelah ada sahutan dari dal, Marsha pun masuk di ikuti oleh Alby.
"Permisi Tuan, pak Alby ingin bertemu anda!", kata Marsha.
Hartama mendongak, lalu tersenyum tipis.
"Iya, silahkan duduk!", ujar Hartama. Alby pun menuruti permintaan bosnya.
"Kalo begitu, saya permisi Tuan...pak...!", kata Marsha sopan.
"Eh ...ngga! Kamu tunggu disini, duduk juga!", perintah Hartama. Marsha yang bingung pun akhirnya duduk di sebelah Alby.
"Marsha, kenalkan! Ini Alby, calon menantu saya. Mulai hari ini, kamu jadi partner Alby."
Alby terperangah mendengar ia diperkenalkan menjadi calon menantu bosnya. Marsha pun tak kalah terkejutnya.
Yah...gagal mepet cogan, ternyata calon mantu bos! Marsha kesal dalam hati nya.
Mulut Alby ingin berucap tapi gagal karena Hartama lebih dulu menggeluarkan suaranya.
"Tap...tapi....!", Alby pun sulit untuk berkata.
"Mari...pak Alby, saya antar ke ruangan anda!", kata Marsha.
"Tapi...saya...?!", kalimat Alby lagi-lagi menggantung.
"Ikut Marsha dan ikuti saja perintah saya. Kalo kamu sudah tahu ruangan mu, kembali ke mari!" , titah Hartama.
Dengan rasa kebingungan yang tinggi, Alby pun mengikuti Marsha.
"Silahkan pak, ini ruangan anda!", kata Marsha.
"Tapi mba Marsha...saya...saya ngga tahu kenapa di tempatkan di sini? Saya pikir....?"
"Maaf pak Alby, saya hanya mengikuti perintah tuan Hartama."
Marsha pun menunduk. Setelah tahu bahwa pria tampan yang ada di depannya adalah calon menantu bosnya. Dan...pasti suatu saat akan menggantikan posisi tuan Hartama di masa depan.
"Ini laporan saya kemarin pak, silahkan di cek
Jika ada kesalahan, tolong hubungi saya di meja saya pak. Permisi!", ujar Marsha.
Alby pun mengangguk.
Dia memilih duduk di bangku yang berada di balik meja mewah itu. Ia mengusap pelipis nya.
Calon menantu? Bekerja di ruang seperti ini??? Lagi-lagi Alby mengusap pelan kening nya. Sedikit memijatnya. Sudah di pastikan, kepala nya mendadak pening.
Masih sambil memegang kepalanya, Alby meraih laporan yang Marsha berikan.
"Laporan apa?? Aku bahkan tak tahu menahu urusan seperti ini???", Alby bermonolog.
Masih dalam kebingungannya, telpon di meja berdering. Mau tak mau Alby mengangkat nya .
[Halo?]
[By, ke ruangan papa sekarang!]
__ADS_1
Sambungan itu pun langsung terputus.
Apa katanya? Papa?? Alby menggeleng pelan kepalanya. Tapi ia pun melangkah keluar menuju ruangan Hartama.
Usai masuk ke ruangan Hartama, beliau meminta Alby duduk di hadapannya.
"Tanda tangan di sini!", ujar Hartama.
"Tanda tangan? Untuk apa tuan?", tanya Alby.
"Baca saja! dan mulai sekarang, panggil saya papa!"
Alby terperangah tak percaya.
"Tapi tuan....?"
"Baca dan tanda tangan secepatnya!", perintah Hartama.
Alby pun meraih lembaran putih tersebut. Matanya menatap nanar tulisan demi tulisan yang tertera di dalam kertas tersebut.
"Maaf tuan, saya tidak bisa!", Alby menggeleng.
Hartama menggeleng pelan dan menampilkan senyum sinis nya.
"Saya tidak suka penolakan! Silahkan saja kamu menolak, setelah itu...saya pastikan...tidak akan ada rumah sakit yang melayani ibu mu!"
"Astaghfirullah! Tuan...!"
"Alby....Alby... harusnya kamu bersyukur! Putri saya suka sama kamu. Dan asal kamu tahu, saya akan melakukan apa pun untuk putri saya!"
Alby membeku di tempatnya.
"Saya kurang berbaik hati seperti apa? Bukannya saya sudah berjanji akan membantu pengobatan ibu mu?"
"Tapi maaf tuan, jika saya harus mengabdi mungkin saya tidak keberatan. Tapi...jika harus menikah dengan non silvy itu tidak mungkin tuan, saya sudah beristri!"
"Bukannya poligami itu tidak di larang?", tanya Hartama. Alby pun menggeleng.
"Benar tuan, saya mengimani nya, tapi saya tidak ingin melakukan nya!"
"Jadi, kamu menolak perintah saya???", kata Hartama.
"Maaf tuan!", kata Alby.
Hartama menghubungi seseorang.
[Hubungi semua rumah sakit, blacklist......]
[.....]
Alby terkejut mendengar ucapan bosnya.
"Silahkan keluar, dan pastikan! Tidak ada rumah sakit yang menerima dan melayani pengobatan ibumu. Yah .. mati itu pasti, hanya saja perlu ikhtiar bukan jika sakit???", sindir Hartama.
Alby diam membeku.
"Pikirkan baik-baik!", perintah Hartama. Lalu setelah itu, Hartama hendak keluar dari ruangannya. Tapi terdengar jika Hartama tengah menghubungi seseorang, Silvy.
[Iya pa? Gimana?]
[Kamu tunggu saja sayang! Apa pun akan papa lakukan untuk kebahagiaan mu nak]
Matanya melirik Alby yang kebetulan sedang menatap bosnya.
[Thanks papa...love you!]
[Love you more]
"Pikirkan baik-baik!", ujar Hartama lalu ia membuka pintu ruangan nya.
Kini hanya Alby yang berada di ruang tersebut .
"Kenapa aku sebodoh ini???", Alby meremas rambut nya sendiri.
*****
Huffft....😔😔😔😔
__ADS_1