Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 106


__ADS_3

Silvy melenguh sambil memegangi kepalanya yang terasa berat akibat mabuk. Matanya mengerjap perlahan. Sambil terus memijat kepalanya, ia menatap ke sekelilingnya. Tiba-tiba saja matanya melebar. Dia berada di sebuah tempat dan yang jelas itu bukan kamarnya. Di tambah lagi sebuah tangan bertengger di atas perutnya.


Lebih mengejutkan, tangan itu adalah milik seseorang yang sangat dia benci. Ya, tangan itu milik Malvin.


Silvy berusaha menguasai dirinya, dia tak habis pikir apa yang sudah terjadi antara dia dan Malvin. Tidak mungkin tidak terjadi apa pun setelah melihat kondisi dirinya dan Malvin yang berada dalam satu selimut tanpa sehelai benang pun.


Silvy membanting tangan Malvin yang masih betah di atas perutnya.


"Brengsek!", pekik Silvy. Sontak pekikan Silvy mengejutkan Malvin dan membuatnya terbangun dari tidurnya.


"Argggggghhhh! Brengsek Lo Malvin!", Silvy memukuli Malvin. Dan sayangnya, Malvin membiarkan mantan kekasihnya itu memukulinya.


"Bang*** Lo! Brengsek! Malvin brengsek!", Silvy masih terus mengumpat. Pukulannya yang tak seberapa, tak membuat Malvin beranjak sedikit pun dari sisinya.


Silvy menangis tergugu. Kenapa dia bisa melakukan hal bodoh seperti ini! kenapa Malvin bisa bersamanya! Dan masih banyak kenapa-kenapa yang ada di dalam pikirannya.


"Udah? Udah puas mukulin gue?", tanya Malvin sambil berusaha menyentuh Silvy.


"Jangan sentuh gue!", teriak silvy.


"Oke...oke...!", Malvin mengangkat tangannya.


"Kenapa gue bisa sama Lo? Dan kenapa kita bisa kaya gini? Hah! Jawab!"


"Vy, semalam Lo mabuk."


"Emang kenapa kalo gue mabuk hah? Ga ada urusan sama Lo?!"


"Lo ga mikirin diri Lo, tapi Lo harusnya mikirin kandungan Lo dong Vy!"


"Peduli apa Lo sama kandungan gue hah? Dan...dan...Lo laki-laki paling brengsek yang pernah gue kenal vin. Lo manfaatin gue yang lagi mabuk? Iya?", Silvy menghapus air matanya.


"Oke Vy. Selama ini gue punya banyak salah sama Lo. Semua berawal dari gue yang udah nyakitin Lo, khianati Lo! Tapi perlu Lo tahu, sampe sekarang gue masih cinta sama Lo!"


"Perse*** sama omongan Lo vin. Yang jelas gue benci sama Lo! Lo udah lakuin ini ke gue? Lo gampang banget minta maaf sama gue?!"


"Gue ga manfaatin Lo! Semalam kondisi Lo mabuk berat Vy. Lo meracau ngga jelas."


"Dan lo manfaatin mabuk gue, iya? Brengsek!"


"Gue emang brengsek Vy. Tapi gue bukan cowok yang udah nikmatin tubuh Lo, habis itu berniat ninggalin Lo! Apalagi Lo lagi hamil! Gue bukan suami Lo yang Lo banggain itu Vy!"


"Jaga omongan Lo!", Silvy menuding Malvin dengan telunjuknya. Tapi Malvin menangkap telunjuknya lalu menurunkannya dari depan wajah Malvin.


"Gue tahu karena racauan Lo semalam. Alby ga pernah nyentuh Lo lagi setelah pernikahan itu!"


Silvy menatap mantan kekasihnya itu dengan nyalang.


"Gue brengsek, tapi gue ga bang*** kaya laki Lo yang udah bikin Lo hamil lalu mau ninggalin Lo! Asal Lo tahu Vy, gue bisa ngasih semua yang Lo butuh! yang ngga pernah Lo dapat Daru Alby! Balik sama gue Vy! Cari kebahagiaan Lo tanpa harus menyakiti diri Lo dan orang lain! Gue terima apa pun keadaan Lo Vy!"


Plakkkkk!!!


Tamparan keras mendarat tepat di pipi Malvin. Ocehan Malvin benar-benar membuat seorang Silvy. Malvin mengusap-usap pipinya yang pasti sangat merah itu.


"Tanpar, pukul semau Lo! Asal Lo puas! Dan setelah itu sadar, kalo omongan gue bener! Gue harap, setelah Lo sadar dari kesalahan Lo, Lo bakal balik sama gue. Kita mulai semuanya dari awal!", Malvin turun dari ranjangnya dan berlalu ke kamar mandi.


Silvy meremas rambutnya yang sudah tak berbentuk itu. Dia sungguh menyesal kenapa harus mabuk malam ini dan berakhir di ranjang bersama mantan kekasihnya itu.


Beberapa menit kemudian, Malvin keluar dari kamar mandi. Dia sudah terlihat lebih segar usai membersihkan diri.


"Bersihkan dirimu, setelah ini gue antar lo pulang!"


Tanpa menghiraukan ucapan Malvin, Silvy berjalan tertatih sambil menggelung dirinya dengan selimut. Dan itu semakin mengusahakan langkahnya.


"Lo ga usah susah-susah nutupin tubuh Lo! Gue udah tahu semua nya! Bukan karena gue yang maksa tapi Lo yang udah nyervis diri Lo ke gue!"


Silvy masih tetap membawa selimut itu kedalam kamar mandi, meski untuk berjalan saja dia kesulitan.


"Keras kepala!", gumam Malvin tapi masih di dengar oleh Silvy.


.


.


"Gue temenin turun?", tawar Malvin.


"Ngga usah!", Silvy pun turun dari mobil Malvin lalu memasuki rumahnya. Dia berikan lewat pintu belakang.


"Dari mana kamu?", tiba-tiba Hartama sudah berada di hadapannya.


"Dari rumah teman!"


"Teman siapa? Papa semalam ke rumah Anika!"

__ADS_1


"Emang teman ku cuma Anika! Udah ah pa, Silvy malas!", Silvy berjalan mengacuhkan papanya.


"Silvy!", bentak Hartama. Titin hanya mengelus dada melihat mantan suaminya itu memarahi putrinya. Bagaimana Hartama tak marah, ia melihat jejak percintaan di leher Silvy.


"Apa sih pa? Silvy capek!"


Plak! Tangan Hartama mendarat di pipi silvy. Gadis itupun mengaduh, Titin langsung mendekap putrinya itu.


"Mas! Sudah! Jangan main tangan begitu! Kamu lupa, Silvy sedang hamil!", Titin mengusap lengan putrinya.


"Kamu dari mana semalaman? Jawab papa!"


"Silvy udah bilang, dari rumah teman!"


"Teman siapa? Teman yang sudah mengajakmu tidur?", hardik Hartama. Silvy terkesiap.


"Dengan siapa kamu melakukannya? Suami mu saja masing di rumah sakit! Jawab papa!"


"Mas!", teriak titin yang tak tahan mendengar Hartama berteriak di depan putrinya. Silvy mengusap pipinya yang memerah.


"Terus! Papa salahain aja Silvy terus! Ini semua karena papa! Papa yang minta Alby buat ninggalin aku kan pa? Iya kan? Bahkan sebagai istri saja aku ngga mendapatkan hak ku! Dan sekarang, papa justru lebih berpihak sama Alby. Bukan sama Silvy!"


''Sekarang papa cuma bisa salahin aku! Papa lupa sama janji papa yang akan menuruti semua keinginanku? Papa lupa?!", Silvy berjalan menjauh dari papanya berdiri. Dia sudah tidak tahan semua menyudutkannya.


"Papa belum selesai bicara silvy!", bentak Hartama.


"Sudah mas. Silvy butuh menenangkan diri dulu!", Titin berusaha menenangkan Hartama.


''Tahu apa kamu tentang putriku? Kamu hanya wanita yang bertugas melahirkannya, tapi tidak pernah merawatnya!"


Hartama berlalu dari hadapan Titin. Selama ini, untuk pertama kalinya ia marah besar pada Silvy.


Mila dan Sapto pun cukup heran, karena selama ini mereka tak pernah melihat tuannya memarahi Silvy sampai seperti ini.


"Astaghfirullah!", Titin menggumam.


Ya, Titin memang salah. Dia sudah meninggalkan Silvy dan Hartama. Hartama benar, dia hanya wanita yang melahirkan Silvy tapi tak tau apa-apa tentang putrinya.


"Bu, kita ke dapur saja yuk?!", ajak Mila. Titin pun mengiyakan ajakan Mila.


.


.


"Heum?"


"Neng mau cari kosan di mana? Kita udah lama ngga tinggal di Jakarta neng."


"Gampang nanti A. Kalo aa udah sampe rumah tuan Hartama, aku langsung cari."


"Kenapa ngga sama Aa aja neng nyarinya?"


"Terus, selama aku nunggu Aa sembuh, aku di mana? Di rumah tuan Hartama? Kamu mau aku tinggal satu atap dengan maduku? Jangan harap!"


Alby pun terdiam. Dia tak bisa membantah ucapan istrinya itu. Baginya, Bia masih bisa bertahan sampai sekarang adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang Alby.


Alby menarik tanganku, kami duduk berhadapan di pinggir brankar.


"Maaf!", ucap Alby lirih. Ya, empat huruf ajaib itu selalu membuat ku luluh saat Alby mengucapkan nya. Aku mengangguk pelan.


Perlahan, Alby mendekatkan wajah kami. Melakukan hal yang biasanya kami lakukan di kamar kami beberapa saat hingga akhirnya terlepas begitu saja karena tiba-tiba pintu terbuka.


Aku dan Alby terkejut saat melihat ternyata mas Febri dan Seto masuk ke dalam ruangan Alby. Ah, iya aku lupa tak menutupnya rapat setelah aku keluar tadi. Aku pikir, tidak akan ada adegan saling gigit dengan Alby. Tapi ternyata justru mas Febri menyaksikannya, mungkin.


"Maaf, tadi aku sudah ketuk pintu dan ngucapin salam. Tapi sepertinya kalian...sibuk!", kata Febri gugup. Sedang Seto, dia hanya menahan untuk tidak tertawa. Gimana ngga tertawa, rekannya nonton mantan kekasihnya lagi beradegan mesra dengan suaminya. Sakit, tapi tidak berdarah! Hareudang!!!!


Aku jadi merasa malu sendiri, tapi tidak dengan alby. Justru ia menghapus sisa salivanya di bibirku dan bibirnya juga. Memalukan!


"Ngga apa-apa Feb, masuk aja!", pinta Alby. Aku masih tertunduk karena malu. Benar-benar memacu adrenalin, kaya lagi ke gep satpol PP. Eh bukan, pak TNI karena Febri dan Seto memakai seragam lorengnya.


Febri dan Seto pun mendekati brankar Alby.


"Gimana keadaan Lo By, udah sehat? Sepertinya kalian sudah bersiap untuk pulang?"


"Alhamdulillah, gue udah baikan. Makasih udah sempetin ke sini. Pasti dokter sakti yang kasih tahu ya?"


Febri tersenyum sambil mengangguk, ku lihat Febri menatapku sekilas.


"Kok bisa aja kebetulannya Feb. Waktu di kampung, Lo ngontrak di rumah Wak Mus. Di kabupaten, Lo ketemu juga sama istri gue. Eh, istri gue di Jakarta Lo juga tugas di Jakarta."


Alby menekan kata istri dari setiap ucapannya. Aku tahu, Alby pasti sedikit cemburu parah!


"Heheh kebetulan yang di harapkan sepertinya!", jawab Febri sekenanya. Aku membelalakkan mataku. Cari perkara nih orang!

__ADS_1


"Kalian udah selesai berkemas, gimana kalo gue anterin kalian aja?", tawar Febri.


"Eh, ngga usah mas. Aku bisa cari taksi kok!", jawabku. Dan aku yakin, suamiku juga setuju dengan ucapan ku.


"Ngga apa-apa kan gue anterin By!"


"Ngga usah bro, bener kata istri ku. Kami naik taksi aja!"


"Oh, oke lah kalo gitu!"


Ponsel Febri bergetar. Ada nama Anika di sana.


[Halo Ika?]


[Mas Febri, di mana?]


[Di rumah sakit. Lagi jenguk mas Alby, kenapa?]


[Ada mba Bia doang?]


Febri melirikku.


[Iya ada]


[Wah, mana? aku mau ngomong dong!]


Febri menyerahkan ponsel nya padaku.


"Ika mau ngomong sama kamu nduk!"


Aku pun menerima ponsel Febri.


[Halo dek!]


[Mba, kamu di Jakarta? ketemu dong mba?]


[Iya, kan A Alby sakit Ika.]


[Mau kan ketemu Ika?]


[Iya Ika. Tapi maaf, mba mau antar A Alby ke rumah Silvy dulu]


Aku melirik suamiku yang melotot.


[Oh, kalian udah mau pulang? Ada mas Febri kan, suruh anterin mas Febri aja. Yang tinggal di rumah Silvy, mas Alby doang kan? Ngga mungkin mba Bia mau tinggal di sana kan?]


Tenggorokan ku tercekat. Ika benar-benar ceplas ceplos. Dan Alby juga menatap ku tajam.


[Iya, mba mau cari kosan setelah anter A Alby! setelah dapet, nanti Alby tinggal sama mba]


Febri tampak gelisah sendiri mendengar obrolan kami.


[Ya udah mba, mas Feb aja yang anterin. Nanti habis anter mas Alby kita ketemu. Mas Feb jemput aku di kampus, abis itu Ika temenin cari kosan buat kalian. Emang mas Alby tega biarin mba Bia keliling Jakarta sendiri?]


Anika bener sih, tapi masa iya harus biarin Bia sama Febri? Tapi...ada Seto juga! Nanti sama Anika juga sih!


[Eum, Mba tanya Alby dulu ya Ika!]


Aku melirik Alby, tapi Alby malah mengangguk.


"Aa mau mas Febri yang anterin?", tanyaku. Alby mengangguk pelan.


"Yakin?"


"Iya!", jawab Alby. Febri dan Seto saling melempar senyum.


[Mas Alby nya setuju kan mba?]


[Iya. Ya udah, kami siap-siap ya Ika]


[iya mba. Sampai ketemu nanti ya!]


[Iya]


Sambungan berakhir, ponsel febri ku kembali kan.


Kami berempat pun bersiap untuk pulang. Terhormat banget rasanya, pulang dari rumah sakit kaya di kawal dua prajurit ganteng 🀭.


******


Setelah ini, masalah di mulai πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰


Matur nuwun πŸ™πŸ™πŸ™yang udan mampir

__ADS_1


__ADS_2