Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 92


__ADS_3

[Beneran Lo sekarang jadi bodyguard nya Ika, gantiin Dimas?]


Sakti menyahuti telpon dari Febri padahal dia ada di mobil menuju Jakarta. Sudah dekat pula. Tapi dia sudah tahu jadwal adiknya akan keluar dari kelasnya sebentar lagi.


[Heum! Paling juga ada yang ngadu sama bapak]


Sahut Febri dengan cengengesan.


[Heheheh iya, gue yang ngadu. Dimas marah ya?]


[Mama ada Dimas berani marah sama Lo, Sak! Mau di libas sama bapak mu?]


[Bilang deh sama Dimas, gue ga ada maksud apa-apa. Sebagai kakak, gue cuma ngga mau Ika terlalu intens ketemu sama Dimas. Namanya godaan, siapa tahu kan mereka macem-macem!]


[Dih...yang posesif sama adek!]


[Wajar lah posesif, kan adek gue masih kelewat polos. Takut di manfaatin sama Dimas yang udah pro!]


Febri yang meloudspeaker percakapannya dengan Sakti pun menoleh pada Dimas. Ya, Dimas ada di samping Febri. Nguping lebih jelasnya!


[Hahahaha! Pro dari Arab! Emang selama ini ada gitu yang mau sama Dimas? Ika doang yang mau kali, mungkin Ika juga lagi khilaf! Hahahaha]


"Luambeee mu ***! Pen Tek unyel-unyel dadi gethuk koen", kata Dimas di sebelah Febri. Sakti pun yang sebenarnya tak begitu paham artinya pun ikut terkekeh jarak jauh.


(Bibirmu ***! Pengin Tek unyel-unyel jadi gethuk kamu)


What is the meaning of unyel-unyel??? 😄😄😄😄 pasti paham lah ya


[Ada Dimas di situs Feb?]


[Iyo, biar denger langsung alasannya apa Sak. Jadi ga nuduh gue mau nikung Ika!]


[Hahahaha ya kali, kalo Lo mau nikung ya sana. Tapi bersaing secara sehat ya]


[Dih...ogah ah! Kasian anak perawan dapat duda kaya gue!]


[Mas sakti bilang gitu biar Febri ngga jadi saingannya buat dapetin Mba Bia toh?]


Dimas menyahuti ucapan Sakti.


[Eh...kalo ngomong??? Suka bener!]


[Udah...udah...sana, kasian pasien Lo! Masa mau berantem sama calon ipar!]


Ledek Febri.


[Ya...ya...gue restuin kok. Cuma ya gitu, Lo harus bisa meluluhkan hati bapak dulu ya Dim!]


Dimas menghela nafasnya kasar, alhasil Febri dan Sakti pun tertawa.


"Weih...lagek Ono sing seneng Iki?", tanya Seto tiba-tiba. Ya, mereka sedang istirahat saat ini.

__ADS_1


(Lagi ada yang seneng nih)


"Seneng Mbah mu robot! Koen seneng, aku senep!", sahut Dimas.


"Hahahah....sabar bro, anggap aja pendekatan sama camer!", kata Seto menepuk bahu sahabatnya itu.


"Ambil positifnya Dim, bener kata Seto!", lanjut Febri.


"Ya wis Sono, Ndang jemput Ika. Setengah jam neh de'e metu!", kata Dimas kesal.


(Ya udah sana, buruan jemput Ika. Sebentar lagi dianya keluar)


"Siap Ndan!", kata Febri sambil bersikap hormat.


"As* koe Feb!", kata Dimas mengumpat sahabatnya. Sedangkan Febri sendiri berlari ke halaman bersama Seto. Sebenarnya ada ajudan lain yang mendampingi pak jenderal, tapi saat ini dia sedang ada tugas lain.


.


.


Silvy berjalan tertatih menuju ke pintu keluar. Hari ini, ia dijemput oleh supir kantor. Saat ia menunggu mobilnya, ia melihat Febri dan salah seorang pria berdiri tak jauh dari pintu masuk kampus.


"Feb, aku beli minum dulu ya. Kamu udah kenal ini sama Ika."


Wajah ganteng Febri dan fisiknya gagah khas prajurit menarik perhatian kaum hawa yang ada di sekitar kampus. Meski tak memakai seragam, siapa pun tahu jika ia adalah abdi negara. Ada yang tahu ciri khasnya selain jam tangan mereka???


Febri pun mengiyakan ucapan Seto. Selang beberapa menit kemudian, Anika pun nampak keluar dari gedung fakultas. Matanya menangkap sosok Febri yang berdiri di dekat pintu masuk. Pun dengan Silvy yang sepertinya tak asing dengan Febri.


Anika menghampiri Febri, jarak beberapa meter Silvy pun melirik Febri.


"Iya, Dimas ikut bapak. Dan mulai sekarang, saya yang nemenin non Ika!", kata Febri.


"Iih...mas Febri, Ika ngga suka ah mas Febri formal begini." Ika memanyunkan bibirnya.


"Hahah kan sekarang saya sedang bekerja nona Ika!", sahut Febri. Senyum Febri yang menawan menarik perhatian teman-teman mahasiswa Anika, terlebih kaum hawa.


"Siapa An?", tanya teman Anika.


"Tahu ih, kenalan dong?", kata teman yang lain.


Silvy yang tak jauh dari sana menatap jengah Febri. Dan Febri menyadari tatapan mual Febri padanya.


"Jangan kepo kenapa!", kata Anika.


"Saya A...!", belum sempat Febri menyelesaikan ucapannya, Anika keburu memotong


"Dia kakak ku! Kenapa?", tanya Anika. Teman-teman Anika tidak ada yang tahu jika dirinya adalah anak petinggi di angkatan darat. Termasuk Silvy, yang notabene sahabatnya. Tapi itu dulu, sekarang bukan hehehe


Febri menggeleng pelan. Silvy sebenarnya penasaran, kok bisa Anika kenal dengan laki-laki yang mengejar-ngejar istri pertama suaminya itu.


Febri mengalihkan pandangannya ke arah Silvy. Tapi Silvy justru membuang muka. Sombong cyin!!!!

__ADS_1


"Boleh dong nyalon jadi kakak ipar?", ledek temannya lagi.


"Dih, ogah! Gue gak mau punya kakak ipar kaya Lo!", kata Anika sinis.


"Sombong amattttt!", sahut temannya.


"Biarin weeek....!"


"Ya udah, mari pulang nona!", kata Febri sambil tersenyum ramah.


"Dibilang jangan non, ih...mas Febri ngga seru!", sahut Anika kesal. Tapi Febri terkekeh.


Anika pun jalan lebih dulu di banding Febri. Bahkan teman-teman Anika hanya berdecak kesal.


"Mari, nona Silvy!", ucap Febri berpamitan pada Silvy yang sedang melipat kedua tangannya di dada. Teman-teman Anika pun kompak menengok ke arah Silvy. Tapi Silvy hanya buang muka. Selang beberapa detik, suara klakson menghentikan langkah Anika dan Febri. Seorang pria tampan keluar dari mobilnya.


"Maskuuuu....!", Anika menghambur memeluk kakaknya. Tak lama kemudian, Seto menghampiri mereka semua.


Lagi-lagi, teman Anika terperangah. Anika di kelilingi cowok-cowok gagah gaes. Selama ini mereka hanya tahu Anika yang cupu.


Sakti mengecup puncak kepala adiknya berkali-kali. Mata Silvy membulat saat menyadari siapa yang berada di pelukan mantan sahabatnya.


Itu bukan dokter sakti? Gumam Silvy.


"Mas kok ngga bilang mau pulang?", tanya Anika manja. Ya, mungkin sudah saatnya semua teman-temannya tahu kalo Anika anak jenderal hahahaha


Jadi tidak ada lagi yang berani membullynya lagi.


"Kejutan! Mas juga akan pindah ke rumah sakit di sini!", kata Sakti.


"Beneran??? Alhamdulillah! Ika ngga kesepian lagi."


Sakti mengusap kepala adiknya. Dan...tak sengaja ia melihat Silvy yang menatap ke arahnya. Tapi dengan singkongnya, sakti melambaikan tangannya ke Silvy. Anika yang menyadari kakaknya berulah pun menurunkan tangan kakaknya. Sedangkan Silvy sendiri di buat bingung dengan apa yang ada di depannya.


"Vy, yang sama Anika itu kakaknya semua? Gila, kelas kakap semua!"


Silvy tak menjawab pertanyaan temannya. Pikiran nya sedang fokus dengan pemandangan aneh menurutnya. Kenapa Febri dan Sakti bersama Anika. Ada hubungan apa diantara mereka semua????


"Wes ah, ayo balik!", ajak Febri.


"Mas, aku mau sama mas sakti aja!", rengek Anika.


"Manjanya!", sakti memencet hidung Anika.


"Yo Ben, sama kakak sendiri masa ngga boleh!", kata Anika. Sakti pun membuka pintu mobilnya untuk Anika.


"Tahu gitu gue sama Seto ngopi aja di rumah. Ya bro?", kata Febri.


"Hahah, udah tugas Lo Bray!", sahut sakti. Kedua mobil itu pun meninggalkan kampus.


Silvy yang masih tak habis pikir, kenapa Anika bisa mengenal kedua pria yang dekat dengan Bia? Benarkah mereka kakak Anika? tapi kenapa dia tidak tahu????

__ADS_1


*****


Makasih 🙏🙏🙏😉


__ADS_2