
Febri melangkahkan kakinya keluar dari gedung kosan Bia. Dia yang terbiasa cool kini semakin kaku. Tak ada sedikitpun celah dan senyuman di wajah tampannya. Saat sekuriti menyapa nya saja seolah ia abaikan. Hanya Sakti yang sedikit menganggukkan kepalanya.
"Feb!", Sakti berhasil menyusul Febri. Febri bersandar di kap mobil. Cuacanya tak terlalu panas saat ini. Bahkan mobilnya pun terparkir di bawah pohon pinggir jalan.
"Feb!", tegur Sakti lagi. Febri memilih untuk diam.
Kedua pria tampan itulah duduk di kap mobil. Sakti mensejahterakan badannya di samping Febri.
"Kenapa Lo bisa seemosional itu Feb?", tanya Sakti.
Tak ada sahutan dari Febri. Terdengar nafasnya masih memburu, lalu wajahnya berpaling ke arah lain.
"Feb, gue tahu Lo sayang sama Bia. Gue pun sama. Kita ngga mau ada hal buruk yang menimpa Bia. Tapi, benar yang Alby bilang. Dia masih bersuami, kita yang terlalu agresif mendekati Bia."
Febri menaikkan Keduanya kakinya. Tangan nya ia letakkan di atas lutut.
"Huffft... Feb, gue emang cinta sayang sama Bia. Tapi mungkin, perasaan Lo ke Bia lebih dalam di bandingkan gue. Apalagi, kalian berpisah karena kesalahan pahaman. Kalian berpisah dengan perasaan yang masih sama."
Mata Febri masih menatap arah tak tentu.
"Feb, apa pun keputusan Bia. Itu yang Bia pilih. Dan pasti itu terbaik buat Bia!", kata Sakti lagi.
"Tapi gue ngga rela liat Bia tersakiti seperti itu!", sahut Febri pada akhirnya.
"Gue juga sama Feb."
"Harusnya, Alby itu mikir. Kalo emang Bia ngga mau di madu, ya udah cerein aja! Kalo emang milih Bia, tinggikan Silvy!"
"Feb, ini ngga sesederhana yang Lo pikir Feb."
Sakti menepuk bahu Febri pelan.
"Lo tahu alasan Bia bertahan sebelumnya karena anak mereka. Tapi, saat ini anak yang menjadi alasan Bia bertahan sudah tidak ada.Dia pasti merasa sedih saat ini. Ditambah lagi Alby yang tak kooperatif dengan janjinya."
Febri meremas tangannya sendiri hingga terlihat memutih. Saking kencangnya kali???!!
"Gue tahu rasanya kehilangan anak dan istri bersamaan Sak. Lo ngga udah ngajarin gue rasanya kehilangan!", kata Febri.
Sakti terdiam. Ya, benar! Bahkan Febri lebih paham rasa itu.
"Oke! Sorry!", kata Sakit. Ia menyesal seolah ia tengah mengungkit kesedihan seorang Febri.
__ADS_1
"Gue sadar gue bukan siapa-siapa Bia. Sekian lama gue berusaha mengubur perasaan pada Bia yang sudah gue kenal dari kami masih remaja."
Sakti fokus mendengar cerita sahabat sekaligus ajudan adiknya itu.
"Kami melewati banyak hal bersama-sama. Lima enam tahun kebersamaan kami bukan lah hal yang mudah buat gue lupain Sak."
Febri menunduk memandangi sepatu nya.
"Bia menerima semua kekurangan gue, bahkan gue sempat hampir pernah merusak masa depan Bia. Lo bisa bayangin sedekat apa kami."
Sakti melongo beberapa saat. Dia paham sekali apa maksud kata 'merusak' yang Febri katakan.
"Kenapa Lo ga nikahin Bia aja waktu itu, kawin lari gitu?", tanya Sakti penuh selidik. Febri langsung menoleh.
"Kalo gue nikahin Bia waktu itu, Lo belum tentu kenal sama Bia!", kata Febri. Sakti tampak menggaruk pelipisnya. Berteman dengan Febri membuat imej dokter jenius dan dingin mendadak hilang.
"Kalo Lo berdua udah berhubungan sejauh itu, kenapa Bia memilih buat ninggalin Lo?", tanya Sakti penasaran. Febri pernah spil cerita lamanya dengan Bia saat itu, tapi tak sedetail sekarang.
"Ibu gue ga restuin hubungan kami. Bia lebih memilih mengalah dari pada gue harus bertengkar melawan ibu gue!"
"Bia udah kenal dekat dengan keluarga Lo?"
Febri mengangguk pelan.
Sakti masih menjadi pendengar setia. Dia turut menaikkan kedua kakinya ke kap mobil.
"Dari awal, Ibu ngga mau gue sama Bia. Bukan karena Bia seratus persen sebenarnya. Tapi gara-gara rumor yang berkembang. Ibu nya Bia selingkuh bahkan menikah dengan selingkuhannya. Ibu.... berpikiran jika Bia pun nanti nya akan melakukan hal yang sama. Apalagi menjadi istri abdi negara ngga gampang. Dia harus bisa berpisah dengan ku kapan pun dan dalam waktu yang tidak bisa ditentukan kalo aku tugas."
Kok ibu nya Febri mikirnya kaya gitu? Padahal dia guru, orang berpendidikan juga. Pikir Sakti.
"Andai... andakan Bia benar-benar lepas dari Alby, dan dia milih kembali sama Lo. Apa Lo yakin ibu Lo bakal nerima Bia?", tanya Sakti. Febri langsung menoleh pada sang dokter.
"Gue ngga terlalu mengkhayal Sak. Bagi gue, kebahagiaan Bia saat ini lebih utama."
Sakti mengangguk. Dia pikir, cinta nya selama ini pada Bia sangat lah luar biasa. Terbukti hingga saat ini ia belom bisa move dari perempuan yang tak terlalu tinggi itu.
"Kira-kira... setelah ini Bia bakal balik lagi ke Alby? Bakal kasih kesempatan Alby lagi?", tanya Dokter Sakti pada Febri.
"Dari yang gue pahami tentang Bia, gue rasa iya. Dia gampang luluh. Gampang terharu dan gampang maafin. Meskipun saat ia benar-benar di puncak kemarahannya, aku pun gak bisa nahan dia."
"Bisa begitu?", tanya Sakti. Febri mengiyakan dengan anggukan.
__ADS_1
"Andai gue tahu alasan Bia ninggalin gue dari dulu gara-gara omongan Ibu, mungkin Bia ngga perlu merasakan seperti ini."
"Udah jalannya harus begini Feb."
"Gue nyesel ngga bisa pertahanin hubungan gue sama Bia."
"Udah lah, benar kata alby. Mungkin kita terlalu kentara mendekati Bia yang statusnya masih istrinya Alby."
"Liat kelakukan Alby kaya tadi, justru bikin gue ingin berusaha melindungi Bia."
Sakti menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Entah, dia sendiri bingung!
"Kita cukup pantau aja Bia Feb. Kalo emang dia butuh bantuan, pasti hubungan Lo atau gue!"
Febri menggeleng.
"Gue yakin, habis ini Alby akan semakin posesif sama Bia."
"Ya, gimana...?", tanya Sakti.
Febri pun terdiam. Selang beberapa saat, muncul lah Dimas dan Anika.
"Lho, kok pada di sini? Mba Bia tidur?" tanya Anika pada kedua pria tampan itu.
"Ada Alby, dek!", jawab Sakti.
Anika membulat kan mulutnya.
"Oh, pantes pada di sini. Terus gimana makanannya nih?", tanya Dimas.
"Kita pulang aja deh!", kata Febri turun dari kap mobil. Sakti pun mengekor.
"Lha, kie pada kenangapa sih ?", tanya Dimas. Dia kembali menggunakan bahasa daerahnya dengan fasih.
"Kenapa kak?", tanya Anika.
"Ngga tahu dek!", jawab Dimas menggeleng. Lalu keduanya kembali masuk ke mobil dengan membawa makanan yang sudah mereka beli tadi.
Febri duduk di bangku penumpang. Membiarkan Dimas mengendalikan setirnya.
****
__ADS_1
Lagi gak...?????