Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 93


__ADS_3

[Aa pulang ke Jakarta neng. Jaga diri neng baik-baik. Aa akan menyelesaikan semuanya. Kita akan kembali seperti dulu, neng.]


Begitu isi chat Alby yang di kirim sepuluh menit yang lalu.


Aku masih berada di kamar, dirumah Lek Sarman. Kedua lek ku kembali ke warung, akan pulang nanti saat jam makan malam.


Sudah lewat magrib, aku memilih duduk di ruang tamu. Sambil sesekali memainkan ponselku. Ku buka akun IG ku yang entah kapan terakhir ku buka. Ada beberapa DM dari teman yang memang memfollow ku. Tiba-tiba saja follower ku jadi segini banyak. Aku tidak tahu alasan awalnya seperti apa sampai ada yang bertanya tentang William padaku. Gara-gara foto ku yang William unggah, teman-teman ku yang mem-follow ku jadi banyak yang bertanya tentang kebenarannya. Andai saja para deterjen tahu, akan banyak hal yang kebetulan terjadi di dunia. Kalau mereka bisa berpikir positif, bisa saja kan aku dan William tidak sengaja bertemu? Dan kenyataannya seperti itu.


William benar-benar merepotkan ku! Dari pada menambah beban pikiranku, aku lebih memilih menutup aplikasi berwarna ungu itu.


.


.


Hari sudah berlalu, Alby masih intens mengirimkan chat padaku. Entah kenapa tiba-tiba saja aku ingin mencium aroma tubuh suamiku. Aku mengusap perut ku yang masih rata. Dan janin yang mungkin baru sebiji jagung atau lebih, aku ajak bicara.


"Nak, kamu kangen ayah mu kah? Jangan ya sayang!", kuusap perlahan perutku yang kurasa sedikit mengeras dan meninggi di bagian bawah, tapi belum terlalu kentara.


"Nduk!", tiba-tiba lek Dar memanggil ku.


"Iyo , Lek."


"Di depan ada mba Asih. Temuin sana!", pinta lek Dar. Aku menghela nafas ku. Sejak mendengar penjelasan mereka, perasaan sedikit goyah. Apa aku akan memaafkan mereka? Terlepas mereka benar atau salah, rasa trauma ku sudah terbentuk sejak aku muda dulu. Dan sampai kapan pun tidak akan terlupakan.


"Ayo, keluar nduk!", ajak lek Dar lagi.


Dengan sedikit malas, aku pun keluar dari kamar ku. Kuikat rambut ku asal saja. Toh aku belum mandi, dan tidak pula ada rencana keluar.


Ku hampiri perempuan yang selisih tujuh atau delapan belas tahun dengan ku itu.


"Nduk!", sapa asih.


"Iya, ada apa?", tanya ku datar.


"Kemarin, nak Alby sempat nemuin ibu!", kata Asih sambil menatap anak sulungnya.


"Ngapain Alby ke sana?"


"Nak, ibu tahu. Mungkin ibu terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mu. Tapi nak, berpisah bukan hal yang mudah nak. Ada banyak yang harus kamu pikirkan."

__ADS_1


"Aku sudah memikirkan semuanya."


Asih pindah duduk di samping putrinya yang sudah tumbuh dewasa tanpa dirinya.


Aku masih di posisi sebelumnya. Ku biarkan perempuan yang sudah melahirkan ku duduk di samping ku. Tiba-tiba ia memelukku begitu erat. Pelukan hangat yang bertahun-tahun tak pernah ku rasakan. Tanpa terasa, air mataku meleleh begitu saja. Aku tak ingin membalas pelukannya.


"Kamu tahu nduk. Bapak sangat menyayangi kamu!", Asih mengusap kepala putrinya.


"Ya, tentu saja aku tahu bapak sayang sama aku! Dan hampir tiap malam sebelum bapak ngga ada, aku lihat bapak nangis. Itu pasti karena rasa kecewanya di khianati."


Asih menggeleng, mengusap air matanya.


"Nduk, sumpah demi apa pun ibu ngga pernah mengkhianati bapak. Apa yang kamu lihat tak selamanya seperti apa yang ada dalam pikiran mu. Iya, yang kamu lihat yang bapakmu sering menangis di tengah malam di sepertiga malamnya. Bukan karena beliau di khianati ibu. Bukan nak...."


Asih sedikit terisak mengingat masa lalunya.


"Bapak sering minta ibu buat ninggalin bapak. Karena bapak merasa sudah tidak mampu memberi nafkah batin sama ibu."


Hatiku mencelos, hanya karena itu???


"Bagi ibu, ibu tak pernah mempermasalahkannya nduk. Tapi tidak dengan bapakmu. Bapak mu memikirkan kebahagiaan dan kebutuhan ibu. Padahal ibu hanya ingin selalu bersama kamu dan bapak."


Aku mengusap air mataku.


"Nak, maafkan ibu yang sudah bikin kamu sedih seperti ini. Ibu hanya ingin bilang, kamu masih punya Allah nak. Dia tidak akan membebani mu melebihi kemampuan mu. Ibu bisa merasakan kekecewaan kamu nduk. Tapi ibu juga bisa lihat seperti apa rasa cinta Alby sama kamu."


Mataku menatap lantai yang ku pijak. Aku membenarkan ucapan ibuku, tapi tentu saja terkait dengan poligami yang sudah Alby lakukan sungguh tidak bisa ku terima. Aku wanita egois yang tidak ingin berbagi lelaki ku dengan siapa pun.


"Tapi aku tidak suka berbagi Bu. Bahkan saat ini Silvy sudah hamil anaknya Alby bu. Sakit hati ku Bu, sakit!", akhirnya aku tergugu sambil memeluk ibuku.


Asih membalas pelukan putrinya. Ada secercah kebahagiaan yang menyelinap didalam hatinya. Putri sulungnya sudah kembali menyebut nya ibu.


"Maaf, kalo ibu keterlaluan nak." Asih menghapus air mata putrinya. Aku mengangguk.


Benar kah aku sudah memaafkan ibuku ???


"Dibalik masalah besar yang kamu hadapi, ada rasa syukur di dalam hati ibu dengan keadaan yang lain. Kamu kembali sama ibu, kamu percaya sama ibu setelah kesalahpahaman yang sudah bertahun-tahun nak. Terima kasih!", ibuku mengecup ku penuh kasih sayang. Dan aku hanya mengangguk dalam dekapannya.


"Jangan menghindari masalah nak. Tunjukan pada dunia, kamu bukan perempuan lemah. Kamu buktikan, bahwa kamu pemilik Alby sebenarnya nak. Insyaallah Allah akan selalu bersama mu, menjaga hati mu."

__ADS_1


Lagi, aku mengangguk lagi.


"Jadi, aku harus apa Bu?"


"Pulang ke tempat di mana kamu harus pulang. Suami mu adalah rumah mu bernaung!"


Aku menggeleng.


"Rumah ku sudah di huni orang asing, Bu!"


Hadehhh....pake basa kalbu sepertinya....????


"Orang asing itu ibarat tamu, dan kamu adalah tuan rumahnya. Pastikan jika kamu lebih berkuasa dari tamu itu. Jangan malah kamu tinggalkan rumah mu!"


Entah istilah apa yang ibu pakai. Tapi cukup mengena menurut ku.


"Sekalipun kamu mau seribu kali meminta cerai dari Alby, tidak akan berpengaruh nak. Tapi jika kata itu keluar dari mulut Alby. Baru ada akibatnya. Apalagi, ceria itu ngga mudah nak. Kamu sudah tahu persyaratan dan dokumen yang di butuhkan untuk mengajukan gugatan kan? Dan kamu tidak bisa melengkapi nya???"


Aku terdiam.


"Nduk, memberi kesempatan kedua bukan berati kita menjadi bodoh. Tapi kita hanya berusaha berlapang dada nduk."


"Aku sayang sama Alby Bu, cinta sama alby. Maka nya aku ingin lepasin Alby bu. Aku ngga mau di jadi suami yang zolim terhadap aku atau pun Silvy. Ini tidak adil buat kami Bu!"


"Ikuti hati nurani mu nduk. Kamu tahu rasanya hidup dan tumbuh di dalam keluarga yang tak lengkap. Apa kamu mau anak kamu merasakan hal sama nduk? Pikirkan!"


"Ibu tidak pernah berniat sedikit pun meninggalkan kamu, tapi kamu sendiri yang sudah terlanjur benci sama ibu dan tak mau mendengarkan penjelasan ibu dari dulu. Mumpung belum terlanjur, cobalah perbaiki semuanya."


Aahhhhh....ibuku bikin bimbang lagi πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”padahal aku sudah bertekad untuk menyerah saja.


*****


Hujan Bae euy...mager pisan 😩


Jangan kecewa pemirsahh yang budiman, sesuai dengan judulnya


Bertahan atau Lepaskan, endingnya....??? Sabar.....


Kan atok dalangnya belum kena karma hehehe

__ADS_1


Makasih ya udah mampir, btw .. kalo banyak typo mon maap! Padahal udah di cek , masih sok kelewat Bae πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2