
Aku mengobrol heboh dengan Anika. Entah kenapa kami bisa sedekat ini. Padahal...ada Bina juga bukan yang kakak ipar Anika.
"Masak apa mba?", tanya nya setelah kami sampai di dapur.
"Makan siang mah cuma pake sosis sama telor. Ada sayur yang beli tadi pagi. Nanti sore baru masak buat makan malam."
Anika mengangguk.
"Ngga apa-apa kan mba nawarin makan pake sosis doang?"
"Aku udah makan mba. Tapi ga nolak ngemil sosis hehehe."
"Iya, mba gorengin nih?!"
Kami mengobrol banyak bahkan hal-hal random yang sepertinya tak penting untuk di bahas. Sampai akhirnya ia mengingat sesuatu.
"Oh iya mbak!"
"Heum? Apa dek?"
"Aku bentar lagi di panggil aunty lho!", katanya riang.
"Maksudnya?"
"Alhamdulillah, aku mau punya keponakan hehehe!"
"Bina sedang hamil? Alhamdulillah....!", kataku. Anika mengangguk cepat.
"Iya, tapi anehnya mas sakti yang mabok!"
"Oh ya? Kok bisa?", tanyaku masih dengan sutel dan saringan minyak.
"Iya tuh. Yang ngidam sama muntah-muntah mas sakti. kasian sampe di rawat di rumah sakit hahahaha!"
"Dih? Kakaknya sakit bukannya di temenin sana, malah di ketawain. Ngga ada prihatin-prihatinnya acan!"
"Apaan?!!! Dia tuh ngga mau di deketin aku mba, katanya aku bau. Padahal aku wangi terus lho?!"
"Hehehe bisa begitu ya?"
"Tau tuh! Maunya deket-deket kak Bina mulu!"
"Ya kan istri nya, wajar lah dek!''
"Tapi kasian kak Bina mba, ga boleh kemana-mana. Mas sakti manjanya.... masyaallah!"
Aku tersenyum tipis. Sebahagia itu mas sakti???
Tangan ku reflek mengusap perut ku. Aku jadi teringat akan kehamilan pertama ku dulu. Hampir tak merasakan apa pun saat itu. Entah itu aku ataupun Alby.
__ADS_1
Janinku terlalu pengertian. Sangat mengerti kondisi orang tuanya. Bahkan dia lebih memilih untuk meninggalkan kedua orang tuanya yang mungkin memang tak pantas mendampingi dan merawat nya.
"Mba?", Anika memelukku.
"Maaf!", katanya lirih.
"Maaf buat apa sih Dek?"
"Karena cerita ku barusan, pasti mba Bia teringat sama kehamilan mba dulu ya?"
Aku tersenyum tipis. Setelah itu aku pun mengangguk.
"Tapi kamu ngga usah minta maaf juga. Mba aja yang lagi inget soal kehamilan itu."
Anika melepaskan pelukannya. Dia kembali duduk. Aku kembali fokus memotong sosis untuk ku gorenh bentuk sate.
"Mba Bia insya Allah juga bakal hamil lagi kok, yang sabar ya?"
Aku mengangguk tanpa menoleh padanya.
"Mba, aku ambil hp dulu di ruang tamu ya?'', kata Anika.
"Iya!", jawabku.
Padahal...Anika menyadari kedatangan Febri yang meminta nya untuk kedepan. Febri ingin mengejutkan sang istri, tapi tidak untuk di konsumsi bocil macam Anika.
Febri melingkarkan tangannya di pinggang ku sambil meletakkan bibir nya di cerukan leher ku dari belakang.
"Astaghfirullah!"
Aku menoleh tapi justru mempertemukan bibir kami berdua.
"Mas ih....ngagetin aja! Awas ih, ada dek Ika!", kataku sambil berusaha melonggarkan tangan nya dari pinggang ku.
"Ada di depan kok dia! Mas yang minta hehe!"
Aku berbalik badan , memukul lengan nya dengan sedikit keras. Tapi bukan nya sakit, dia malah terkekeh.
"Malu mas....!", kata ku. Karena dia malah mengeratkan pelukannya kembali pinggang ku.
"Ngapa kudu malu? Kita suami istri!"
"Iya tapi kan....mmmphh!"
You know what happened!!! Sensor....tit....
Aku memukul lengan nya lagi agar tak melakukan ini di dapur apalagi ada orang lain di rumah ini.
"Mas, kamu tuh ya bener-bener deh! Nyosor mulu kaya soang!!!"
__ADS_1
Mas Febri lagi-lagi terkekeh sambil mengacak rambut ku.
"Pake jilbab, ada tamu di depan. Selain Anika tentunya?"
"Oh ya? Siapa?", tanyaku sambil memasang jilbab ku lagi.
"Teman!", kata mas Febri. Dia menggandeng ku menuju ke ruang tamu. Tapi belom sampai ke ruang tamu, mas Febri kembali menarik ku.
"Apa sih mas?", tanyaku sambil berbisik.
"Ada adegan dewasa di depan?!"
"Hah? Adegan apaan sih? Dewasa? Lha...kita bukan orang dewasa???", kataku bersiap melangkah ke luar. Tapi mas Febri kembali menarik ku. Dia menyadarkan ku ke dinding yang berada di balik ruang tamu.
"Ada apa sih mas???", bisikku. Wajah Febri tepat di depan wajahku. Bahkan deru nafas nya saja sangat terasa menerpa kulit wajahku.
Aku semakin puas menatap wajah ganteng suami ku heheheh
Dia sesekali seolah mendongak ke ruang depan tapi posisinya masih sama, di depan ku.
"Apa sih mas ih...aku mau lihat!", kataku. Tapi Febri meminta ku untuk diam.
Aku yang di pepet seperti ini pun merasa risih. Ada-ada aja kelakuannya!!!
Ada ide jahil terlintas di benak ku. Jakun mas Febri naik turun tepat di depan mataku. Dengan konyol nya, aku mencium jakunnya....sontak dia langsung mengalihkan perhatian nya pada ku. Aku menahan tawaku, tapi malah mata mas Febri melotot.
"Ngga usah mancing!", bisiknya.
"Ya udah makanya awas minggir dong mas?", bisikku lagi.
"Ntar!"
"Di depan ada Anika sama siapa sih?", tanyaku penasaran.
"Ada yang lagi melepas kangen di depan! Kamu diem aja nduk!", kata Febri.
"Melepas kangen?", aku membeo.
"Huum, Dimas yang dateng. Dia di mutasi ke sini lagi. Ga tahu kalo dek Ika ternyata malah ada di sini. Pucuk di cinta ulam tiba!", bisik nya.
Hah? Jadi...Anika sama Dimas lagi....
"Mas! Jangan aneh-aneh deh! Pamali! Nanti mereka kebablasan gimana? Ini di rumah kita lho mas!"
"Ga lah! Senekat-nekatnya Dimas ga bakal merusak Anika. Paling Jontor doang tuh bibir hehehe!"
Plukk! Aku memukul bibir mas Febri yang isengnya ga ketulungan.
"Ssst...nduk! Ke kamar aja yuk!"
__ADS_1
"Hah?",belum sempat aku mengiyakan, badanku sudah melayang. Ngalamat palsu....
Ga inget nih mantan duda ada temannya di depan sana!!!