
Alur Febia di sini lebih cepat di banding kolom nya A Alby anu kasep tea nyak 🤭🤭🤭
****
Mas Febri mengantar ku ke rumah sakit untuk menjenguk Mas Sakti yang dalam fase ngidam parah. Kasian sebenarnya, kaum Adam yang harusnya bekerja tapi gara-gara istrinya hamil malah dia yang harus mengalami morning sickness.
Kata orang-orang sih, kalo suami yang ngidam itu tandanya pak suami sangat mencintai istrinya. Dan pada saatnya sang istri melahirkan nanti, pak suami juga akan merasakan mulas. Tak masuk akal sebenarnya, tapi hal itu sering terjadi heheheh
"Assalamualaikum!", aku memasuki ruangan Mas Sakti.
"Walaikumsalam!", jawab mas Sakti. Aku menghampiri mas Sakti yang sedang berbaring di brankar nya.
"Gimana keadaan mu mas?", tanyaku sambil meletakkan makanan yang dia inginkan. Dia langsung menoleh ke kantong yang ku bawa tadi.
"Alhamdulillah sudah lebaran baik Bi. Kamu sendiri? Febri mana?"
"Mas Febri udah langsung jalan ke kantor. Tadi di antar sampe depan sih! ngomong-ngomong, Bina mana?"
"Lagi beli minum di kantin kayanya!", jawab Sakti. Aroma masakan ku cukup lumayan tercium meski sudah tak terlalu panas. Kan lumayan jalan dari rumah ke rumah sakit ini. Masih cukup hangat untuk dinikmati lah. Mas Sakti masih fokus dengan pemandangan di mejanya.
Ya Allah, lucu sekali dia! Apa sebegitu ingin nya makan makanan itu? Tanpa ku sadari aku tertawa sendiri.
"Kenapa?", tanya Sakti bingung. Bersamaan juga Bina yang masuk ke dalam ruangan ini.
"Assalamualaikum, eh...Bia kapan datang?", tanya Bina. Ia berjabat tangan dengan ku lalu kami cipika-cipiki.
"Walaikumsalam, belum lama kok Bina!"
Bina menatap suaminya yang terlihat bingung sendiri.
"Kenapa mas?", tanya Bina.
"Ngga apa-apa. Mas heran aja, kenapa tiba-tiba Bia ngetawain mas!", adu Sakti pada istrinya. Bina menoleh padaku. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak kembali tertawa.
"Heh? Ada apa Bi?", tanya Bina padaku.
"Suami mu udah ngiler banget Bin, buruan di siapin. Dari tadi ngelirik bungkusan mulu!", kataku sambil melanjutkan tawaku.
Mas Sakti terlihat malu karena sindiranku. Dan akhirnya, Bina mengambil bungkusan yang ku bawa tadi. Dengan pelan, ia membuka bungkusan itu. Setelah di buka, aroma makanan itu menggugah selera mas Sakti.
"Ya Allah mas, kamu mau makan ini?", ledek Bina. Seperti anak kecil, Sakti mengangguk.
"Apa ku bilang Bin!", kataku. Bina pun menyiapkan makanan itu lalu menyuapi Sakti.
"Makasih lho Bia, suami ku malah ngerepotin kamu."
"Ngga repot lagi Bin, kan aku juga bikin bekal buat mas Febri sekalian, sama buat Ayah!", kataku. Aku ikutan memanggil pak Jend dengan panggilan ayah, seperti yang beliau katakan saat di telpon kemarin.
"Makasih banyak ya Bi!", kata Sakti sambil mengunyah makanannya.
"Iya, sama-sama. Pelan aja makannya, ga ada yang minta juga?!"
__ADS_1
"Isshhh....!", Mas sakti mencebikkan bibirnya. Usia makan, mas Sakti meminum obatnya. Aku dan Bina mengobrol ngalor ngidul membahas banyak hal. Terutama kehamilan Bina yang ternyata sudah mendekati tiga bulan, tapi dia baru bilang pada sakti baru-baru ini.
Hampir tengah hari, aku berpamitan pada Bina karena mas Sakti masih tidur karena efek obatnya.
Aku keluar dari lorong bangsal mas Sakti, tanpa sengaja aku hampir menabrak babystroler.
"Maaf?!", kataku.
"Tidak apa-apa Bu, saya yang kurang hati-hati!", jawab seorang perempuan yang kutebak adalah baby sitter bayi itu.
Aku melihat bayi itu sebentar.
"Nabil?", tanyaku. Babysitter itu mengangguk. Nabil berceloteh khas bayi nya.
"Ma..mmamam!", sambil menggigit jarinya.
Hatiku mencelos melihat Alby junior. Wajah mereka benar-benar sangat mirip. Aku berjongkok untuk menyentuh pipinya. Dia menggapai tangannya di pipiku. Wajah tampan nya mengingatkan rasa sakit yang tidak akan pernah ku lupakan.
Meski di sudut kecil hatiku, aku selalu berusaha untuk bersikap baik pada bayi tidak berdosa ini.
"Ibu mengenal den Nabil?", tanya Teh Ani.
Aku mengangguk tipis. Nabil minta di gendong karena ia mengulurkan tangannya padaku.
Tangan ku reflek mengangkat tubuh mungil itu. Nabil mengecup pipiku dengan gemas. Teh Ani ikut tersenyum melihat Nabil yang bercanda dengan ku.
"Mata ya mba, saya main ambil Nabil aja. Padahal saya orang asing!"
"Jangan terlalu cepat percaya, apalagi mba baru kenal. Kadang yang udah kenal lama aja bisa menyalahi kepercayaan kok!", kataku dengan entengnya. Sebenarnya aneh, kenapa mulutku bisa berkata demikian??? Bahkan konteksnya berbeda dengan bahasan antara aku dan babysitter nya Nabil.
"Teh, Nabil ga rewel kan?", tanya seseorang di belakang ku. Dan aku tahu persis siapa pemilik suara itu.
"Ngga pak, den Nabil mah pinter. Tah, minta ikut sama Tante cantik!", kata Teh Ani.
"Neng ?", sapa Alby. Padahal aku belum memutar badanku. Aku meneguk ludahku. Kenapa harus sering kebetulan bertemu dengannya.
Aku membalikkan badan ku. Sebisa mungkin aku menunjukan senyum terbaik ku. Bukan untuk menggodanya melainkan untuk membuktikan bahwa aku baik-baik saja.
"Itu ayah mu Bil, sama ayah mu ya?", kataku pada Nabil. Aku lupa, panggilan apa yang biasa Alby gunakan sehari-hari. Aku mencoba menyerahkan Nabil pada Alby atau babysitter nya. Tapi dia tak mau. Padahal terakhir aku bertemu dengannya, dia masih bayi. Sedang sekarang seperti nya bayi ini sudah bisa berjalan.
"Dia betah sama kamu Neng?", kata Alby. Aku mendesah pelan.
"Nabil, Tante mau pulang. Udah di jemput sama suami Tante. Nabil sama ayah Nabil aja ya?", kataku berbicara pelan pada Nabil. Semoga saja bayi ini mengerti.
Suami! Ada rasa tak terdefinisi yang Alby rasakan saat ini. Sudah berusaha untuk bersikap biasa, nyantanya tetap saja perasaan itu masih ada.
Pelan, babysitter Nabil mengambil Nabil dari belakang. Nabil sempat merengek tapi aku tetap memberikan bayi itu pada babysitternya.
"Kamu di jemput Febri?", tanya Alby.
"Iya, paling sampai depan mas Febri juga udah nunggu."
__ADS_1
"Kamu ngapain di sini neng?"
Apa dia tidak bisa merubah panggilan itu padaku?
"Nengok mas Sakti."
"Sakti sakit? Di ruang mana?"
"Di ruang Xxxx."
"Oh...!"
"Aku permisi, duluan?!", kataku. Tapi mendadak kepala ku keleyangan dan hampir roboh. Apa jangan-jangan vertigo ku kambuh ya...???
Aku terhuyung sedikit sampai akhirnya Alby menangkap ku agar tak jatuh. Aku reflek melepaskan diri dari tubuhnya.
Aa rindu neng! Teriak Alby dalam hati.
"Maaf!", kata kami berdua. Setelah aku menyesuaikan diri, aku berniat meninggalkan Alby. Di saat yang bersamaan, ternyata mas Febri benar-benar menjemput ku.
"Nduk?", sapa mas Febri padaku. Matanya beralih pada Alby.
"By, ngapain Lo di sini? Ada yang sakit?", tanya Febri.
"Ngga, ini abis imunisasi Nabil." Febri mengangguk.
"Nduk, mas mau jenguk Sakti dulu ya? Kamu mau ikut lagi?"
"Balik lagi dong mas?"
"iya , sebentar aja!"
Akhirnya aku mengiyakannya aja. Mas Febri menggenggam tanganku.
"Kami duluan ya By!", pamit Febri. Alby hanya mengangguk.
.
.
Kami baru keluar dari kamar rawat Sakti, tapi lagi-lagi aku merasa pusing. Sepertinya vertigo ku benar-benar kambuh.
"Kenapa nduk? Pusing?"
"Huum mas. Keleyangan pisan!"
"Ya udah sekalian aja ke dokter ya?"
"Cuma pusing mas. Ngapa ke dokter?"
"Biar tahu pusing nya kenapa!"
__ADS_1
Dengan mengikuti langkah Febri, aku pun menuruti perintah pak suami.