Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 183


__ADS_3

Menyingkir sejenak dari drama melow Albia ✌️🤭


*****


"Jadi, Bia itu siapa mas?", tanya Bina yang sedang makan malam di sebuah kafe.


"Penasaran banget ya?", tanya Sakti.


"Huum??? Ngga sih, kalo mau cerita ya cerita aja mas. Ngga ya gak apa-apa kok!",Bina menyeruput minumannya.


"Tapi janji, kalo mas cerita kamu ngga bakal marah! Apalagi cemburu!", canda Sakti.


"Dih, percaya diri sekali anda!", cebik Bina.


Sakti terkekeh pelan lalu memajukan bangkunya. Dia menarik nafas beberapa saat.


"Jadi, Bia itu mantan nya Febri."


Sakti memulai ceritanya.


"Mantannua Febri? Lalu apa hubungannya sama kamu mas?"


"Intinya gini. Dulu, setelah Bia putus dari Febri, mas sempat Deket sama Bia."


Sabrina tersenyum.


"Lalu?", tanya nya lagi.


"Dulu, Bia bekerja di salah satu minimarket yang dekat rumah sakit. Dari situ kami kenalan. Mungkin karena dia yang baru patah hati, Bia mulai membuka hatinya untuk orang baru seperti Mas ini."


Sakti tersenyum malu.


"Sayangnya mas bukan salah satu kriteria yang Bia inginkan. Dia selalu bilang kalau dirinya tak pantas sama Mas."


Sabrina masih mendengar penjelasan tunangannya itu.


"Jadi, intinya mas ngga pernah ada hubungan sama Bia gitu?"


"Heeum. Kami murni hanya berteman. Dan setelah mas fokus dengan skripsi mas, kami jarang bertemu. Di saat mas sudah punya waktu luang, ternyata mas dengar Bia sedang menjalin hubungan dengan salah seorang laki-laki yang bekerja di salah satu pabrik, dan ya... mereka akhirnya menikah meski mas batu tahu belakangan ini sih."


Sabrina mengangguk lagi.


"Sekitar setengah tahun lalu, mas ngga sengaja di pertemukan lagi sama Bia yang ternyata di sebuah kota dimana mas praktek. Dia menemani Ibu mertuanya yang ternyata pasien Mas. Dan kamu tahu apa yang terjadi setelah itu?"


Sabrina menggeleng.


"Ngga lah, kan Mas Sakti belum cerita sama aku?"


Sakti menggenggam tangan tunangan nya itu.


"Ternyata biaya operasi hitung mertuanya ditanggung oleh salah seorang pemegang saham terbesar dirumah sakit tersebut."


Sabrina menautkan alisnya.


"Lalu?"


"nama pemegang saham tersebut itu Tuan Hartama. Dia memiliki kekuasaan yang bisa menyetir rumah sakit itu. Termasuk tentang penanganan ibu mertua Bia."


Sakti mengambil jeda sejenak.


"Tuan hartama tidak cuma-cuma memberikan bantuan untuk biaya pengobatan ibu mertua Bia. Tapi ia minta suami Bia untuk menikah dengan anak tuan Hartama. Dan makan mas sendiri yang jadi saksi pernikahan tersebut. Bia menyaksikan pernikahan suaminya sendiri di depan matanya."


Sabrina menakupkan tangan nya ke mulut.

__ADS_1


"Di saat yang bersamaan Febri masuk ke dalam ruangan di mana akad nikah itu dilangsungkan."


"Ada mas Febri juga?", tanya Sabrina. Sakti mengangguk.


"Kok bisa mas Febri di situ?", tanya Sabrina bingung.


"Jadi mengontrak rumah yang bersebelahan dengan rumah Bia. Awalnya Febri hanya ingin menjenguk ibu mertua Bia. Tapi ternyata dia juga harus menyaksikan pernikahan suami Bia."


"Dan sejak saat itu Mas, Bia dan juga Febri semakin dekat meski hanya berstatus sebagai teman."


Sabrina mengangguk.


"Memangnya mas Febri belum menikah gitu?", tanya Bina.


"Udah. Tapi istri sama anaknya meninggal saat wabah covid kemarin. Almarhumah istri nya itu perawat."


"Oh...emang ya, TNI itu cocoknya nikah sama perawat, bidan atau ngga guru. Yang sepadan lah!", celetuk Bina yang sakti yakini jika itu ungkapan isi hatinya Bina.


"Ngga juga Sayang, ibuku cuma ibu rumah tangga kok."


Sabrina tersenyum canggung.


"Lanjut deh!"


"Terakhir kemarin mas dengar, Bia sedang dalam proses perceraian dengan suaminya."


Sabrina manggut-manggut.


"Kamu masih ada perasaan gitu sama Bia, mas?", tanya Bina.


"Heheh masih ,tapi sudah berbeda."


"Maksudnya???"


"Mas hanya menganggap Bia sebagai adik. Karena yang mas cinta saat ini, Sabrina Maulida yang kelak akan jadi istri dan anak-anak Mas!"


"Serius!", sakti menowel hidung mungil Bina.


"Ya...ya... percaya kok. Buktinya udah di khitbah kan kemarin?", kata Bina sambil tersenyum.


"Pinter aja jawabnya. Sekarang giliran Mas yang tanya sama kamu!"


"Boleh, tanya aja!"


"Kamu kenapa bisa putus sama Dimas? Berapa lama kalian berhubungan?", tanya Sakti.


"Aku sama Dimas pacaran 3 tahunan kayaknya mas."


"Terus, kenapa bisa putus?"


"Ngga cocok aja sih!"


"Alasannya apa?"


Sabrina tampak menghela nafas sebelum ia melanjutkan cerita masa lalunya.


"Kamu kan mas tahu ibuku sakit-sakitan. Sebagai istri seorang prajurit bukankah istri harus mengikuti kemanapun suaminya bertugas? Dan aku tidak bisa seperti itu mas. Hanya ibu yang aku punya."


"Memang Dimas mempermasalahkan itu?"


Sabrina menggeleng.


"Aku cuma bilang kalau dukungan kami harus berakhir, tanpa aku bilang alasannya apa."

__ADS_1


"Jadi, selama ini Dimas masih teguh dengan kesalahpahamannya terus tentang kamu?"


"Ngga apa-apalah Mas. Toh tidak akan mengubah apapun. Insyaallah dia juga sudah melupakan aku begitupun sebaliknya."


Sakti menggenggam erat tangan Sabrina.


"Tapi Mas harap setelah ini hubungan kalian membaik ya? Meskipun Dimas ajudan ayahku tapi dia sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Kami bersahabat dan dekat. Terlepas dia kekasihnya Anika, adikku."


"Insyaallah mas."


"Jadi, apa ada lagi yang mau kamu tanya lagi mas?"


"Ngga, pelan-pelan aja. Masih banyak waktu buat kita tukar cerita."


"Iya mas."


"Oh ya, btw...kamu mau mas kasih mahar apa buat pernikahan kita?"


"Sertifikat!", sahut Sabrina.


Sakti melotot seketika dan itu membuat Bina tertawa lepas.


"Hahahaha sertifikat vaksin mas!", lanjut Bina.


"Ngawur!", Sakti memencet hidung Bina sampai memerah.


"Ngga mas, becanda! Sekalipun kamu mampu memberikan rumah, mobil beserta sertifikat apa pun itu aku mau kamu kasih aku yang tak berlebihan."


Sakti tersenyum.


"Kirain kaya yang lagi viral itu?"


"Dih, dokter kok kebanyakan nonton inpotemen lambe-lambean!"


"Kamu juga, tuh buktinya tahu!", sahut Sakti tak mau kalah.


"Ya kan sok lewat di beranda tok-tok, pesbuk sosmed lah pokoknya."


"Dan ngga sengaja nonton gitu?", tanya sakti.


"Heheh iya itu tahu."


"Ya udah sekarang serius, mau mahar apa?"


"Ngga usah aneh-aneh lah mas. Cincin satu gram juga ngga masalah."


"Kamu mau menghina kemampuan mas?", tanya Sakti sambil memicingkan matanya.


"Hahah ya ngga lah mas. Pokoknya mah terserah. Aku maunya sih cincin. Terserah mau beratnya berapa gram. Aku ngga permasalahin mas. Yang penting aku pakai setiap saat."


"Oke! Kenapa ngga minta seperangkat alat sholat gitu? Biasanya banyak yang kaya gitu?"


"Berat mas. Kalo ngga nantinya nya aku ngga memanfaatkan dengan baik, yang dosa bukan cuma aku tapi kamu juga yang ngasih. Toh, nantinya kalo seserahan juga di bawain kan seperangkat alat sholat?"


"Iya sih! Jadi fix ini, cuma cincin?", tanya Sakti lagi.


"Iya mas. Gampang nanti kalo udah nikah, nyusul pengen ini itu!", jawab Sabrina sambil terkekeh. Dan itu membuat Sakti semakin gemas, pengen buru-buru di sahkan!


****"


Maaf kalo GaJe & banyak typo 🙏🙏🙏


Mon maaf juga kalo dari awal bab sampai bab ini, kehaluan mamak ngga sesuai dengan ekspektasi atau keinginan reader's kesayangan yakkkk soale mamak udah punya rancangan dari awal tulisan ini di buat.

__ADS_1


Pokoknya Mak kasih tahu, endingnya Bia akan bahagia kok sama si Anu 🤭


Makasih ✌️✌️😅🙏😉


__ADS_2