
"Assalamualaikum!", Sakti memasuki apartemen nya.
"Walaikumsalam, mas? tumben pulang cepet?", tanya Bina sambil meraih punggung tangan suaminya.
"Masa sih ? perawat udah waktunya pulang deh?", kata Sakti sambil melihat jam tangannya.
"Iya mas. Tapi ngga apa-apa sih, malah lebih baik lagi kalo pulang nya lebih siang hehehe."
"Tuh kan???", sakti menowel hidung mungil istrinya itu.
"Oh ya sayang, habis magrib ke kediaman Alby ya? Dia mengadakan pengajian tugas harian om Tama."
"Eum, ya udah. Aku ikut kamu aja mas. Lagian aku ga pernah ke mana-mana selain ke rumah ibu. Yang penting bareng kamu mas hehe!"
"Ya main kemana gitu kek, biar ngga suntuk!"
"Sama siapa? Nur? Nur kan masih kerja! Libur nya ngga tentu mas."
"Mau ikut mas ke rumah sakit tiap hari?"
"Ngga lah, kaya apaan aja!"
"Emang adek ngga pernah ke sini ya?"
"Sejak pulang liburan ya belum mas, mungkin dia main sama temen-temennya kali. Namanya anak muda!", sahut Bina.
"Coba nanti telpon deh, kali aja adek mau ikut pengajian."
"Eum...oke!"
"Udah mandi ya sayang?", tanya Sakti sambil mengalungkan tangannya ke bahu sang istri.
"Udah wangi begini, masa ngga bisa bedain sih mas? Kan kalo suami pulang, udah enak dilihat nya ngga buluk! Pegawai rumah sakit kan banyak cewek-cewek cantik! Yang di rumah ngga boleh kalah dong sama yang di luar sana!"
"Udah mulai agresif nih! Tapi mas suka!", kata Sakti.
"Ya iya lah...pelakor di luar sana lebih bahaya dari penjahat!"
"Bisa...ae... Bambang!", Sakti memencet hidung istrinya.
"Bisa lah, kan di ajarin sama pak dokter ganteng!", Bina menaik turunkan alisnya.
"Yuk ah ...mandi bareng!", sakti menyeret bina menuju kamar mandi.
"Lha??? Aku udah mandi mas?", kata Bina.
"Mandi bareng aja sekalian, dari pada nanti mandi lagi?"
"Hah? Maksudnya?"
"Mandi sambil ibadah!", bisik Sakti. Sebenernya tanpa berbisik pun, tidak ada orang lain selain mereka berdua.
"Heum... modus!", sahut Bina.
"Tuh tahu, ayolah sayang....!", rengek Sakti.
__ADS_1
"Iya...iya....!", Bina hanya menuruti kemauan suaminya.
Hampir magrib, sepasang suami istri itu selesai ibadah menyenangkan. Selanjutnya mereka mendirikan tiga rakaatnya berjamaah.
"Mau makan dulu apa ngga mas?"
"Kamu udah laper?", tanya sakti balik.
"Belum sih!"
"Nanti aja abis pengajian mau ngga? Makan di luar gitu?"
"Yah... masakan ku gimana dong mas?"
"Emang masak apa?"
"Cuma ikan goreng sama sambel plus lalapan doang sih hehehh."
"Itu mah gampang, nanti juga bisa di angetin, bisa kita makan lagi. Atau buat sahur aja gimana?"
"Boleh juga mas, kita besok bisa sahur pake lauk itu deh."
"Duh....istri Solehah nya akuhhh....!", Sakti mencubit pipi Bina.
"Ya Allah mas, inget umur. Kamu udah kepala tiga lho!", kata Bina.
"Emang kenapa? Alay sama istri sendiri mau bebas!"
"huum, apa katamu saja sayangku. Yok jalan, udah lewat magrib nih. Paling sampe sana acara udah di mulai."
Sekitar dua puluh menit, Sakti dan Bina sudah sampai ke rumah Alby. Ternyata dugaannya salah. Mereka pikir, mereka sudah terlambat datang ke sana. Tapi nyatanya masih sepi. Ada beberapa orang yang memang sudah siap duduk lesehan. Tapi tak lebih dari sepuluh orang.
"Assalamualaikum!", Sakti dan Bina mengucapkan salam. Mereka berdua meminta ijin untuk masuk.
"Lho, adek udah di sini?",tanya Bina pada Anika.
"Udah kak, dari sore malahan. Abis jenguk Silvy langsung ke sini."
Bina mengangguk.
"Eh, bro! Makasih udah datang!", kata Alby menyapa Sakti.
''Iya, sorry telat ya!"
"Ngga kok, ayo silahkan duduk!", Alby mempersilahkan sahabat nya itu.
"Eum, Mak sama anak kamu mana?",tanya Sakti.
"Mak di dalam situ, nemenin Nabil."
Sakti mengangguk pelan.
"Mas, acara nya sudah bisa di mulai?", tanya Marsha.
"Oh, ya udah. Aku bilang sama pak ustadz dulu!", kata Alby. Sakti pun mengekang di belakang Alby. Keduanya duduk bersebelahan.
__ADS_1
Ternyata, ada kaum mak-mak yang turut dalam pengajian tersebut. Anika, Bina dan Marsha bergabung bersama merasa. Sedang Mak berada di kamar Nabil.
"Orang kaya ya kayak begini nih, tetangganya yang sama-sama kaya mana mau ikut doa bersama kaya gini. Mendirikan kita, orang kampung belakang. Biar malas, kita masih mau ke sini. Untung aja almarhum tuan Hartama suka sedekah sama kita-kita ya."
Anika dan Bina saling berpandangan.
"Eh, lu mah kagak nyadar. Lo ke sini juga gegara nasi box nya doang kan?"
"Kaya Lo ngga aja!"
"Kasian ya, meninggal nya ngedadak gitu."
"Namanya juga takdir."
"Ya sih, tapi herannya kok dia meninggal nya di atas makam sahabatnya. Jauh lagi di Jawa timur. Kaya udah niat banget meninggal di sana."
"Ya elah, Lo tuh ye. Kaya ngga bakal dapat giliran aja. Kita semua juga bakal mati. Emang bisa minta mati nya di mana? Kapan ? kagak kan?"
"Kayanya sih, dia meninggal nya kena tulah deh. Jahat sama orang sih! Makanya kena karmanya tuh!"
"Iya...iya... apalagi non Silvy juga koma kan ya? Kayanya beneran gegara dosa mereka banyak sih. Udah ngerebut laki orang, sampe cere lagi!"
"Lo kata sapa?"
"Dah, ketinggalan cerita Lo! Non silvy kan ngerebut lakinya dari istri pertamanya sampe mereka cere. Udah jadi rahasia umum kali!"
"Sssst... ibu-ibu maaf ya...saya ga bermaksud menggurui. Menggunjing atau ghibah itu dosa lho ibu-ibu. Apalagi orang yang di gunjing sudah meninggal. Alangkah baiknya kita doakan almarhum agar di ringankan dan di ampuni dosa-dosanya. Serta mba Silvy yang sedang sakit, segera di sembuhkan."
Ibu-ibu itu terdiam mendengarkan ucapan Bina.
"Dalam QS surat Al Hujraat ayat dua belas di sebutkan 'Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhny sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha penerima taubat, Maha penyayang' , kira-kira seperti itu ibu-ibu, maaf kalau salah. Kalian bisa buka Al Qur'an dan terjemahannya."
(Mohon maaf kalo mamak salah 🙏🙏🙏🙏🙏)
Semua terdiam. Termasuk Anika dan Marsha. Anika sempat tak percaya jika kakak iparnya bisa tahu hal itu.
Sedang Marsha, yang notabene tak pernah tahu menahu soal hadis atau surat itu hanya membenarkan. Di agama yang dia anut pun tentu saja mengajarkan untuk tidak bergunjing seperti yang Bina katakan tadi.
Acara pengajian itu pun di mulai. Selain mendoakannya almarhum Hartama, Alby juga meminta para tamu untuk mendoakan kesembuhan silvy.
Azan isya berkumandang, para tamu pun sudah pulang.
"Mas Alby, ada rencana buat aqiqah Nabil?", tanya Anika.
"Belum dek, mungkin nanti kalo acara pengajian papa udah selesai."
"Kalo gitu, kita pamit ya By. Salam buat Mak!"
"Makasih ya, kalian udah mau datang."
Usai berpamitan, Sakti dan istrinya pun pulang ke apartemen.Sedang Anika pulang di jemput ajudan baru nya.
*****
Bersambung....😁
__ADS_1
mksh 🙏🙏