
Febri dan Anika berjalan beriringan menuju ke resepsionis untuk menanyakan ruangan Silvy. Setelah di beri informasi, keduanya pun menuju ke kamar rawat Silvy.
Tok..
tok..
Titin membukakan pintu untuk Febri dan Anika.
"Nak Febri?", sapa Titin sedikit terkejut karena melihat keberadaan Febri di hadapannya.
"Assalamualaikum Mak, sehat?", tanya Febri sambil menyalami Mak Titin.
"Alhamdulillah, Nak Febri."
Mata Titin beralih ke Anika.
"Eum...Bu, boleh saya nengok Silvy?", tanya Anika ragu-ragu. Titin menengok ke arah Silvy yang sedang terpejam. Tapi akhirnya ia pun mengangguk dan mengijinkan Silvy serta Febri masuk.
"Dek, mas tunggu di luar aja ya!", bisik Febri pada Anika. Anika pun mengangguk.
"Eum, kebetulan ada nak Anika, ibu mau ke ruangan papanya Silvy dulu ya! Titip Silvy ya nak Anika, nak Febri!"
"Iya Mak!", sahut Febri. Sedang Anika hanya mengangguk pelan.
Silvy yang merasa ruangannya mendadak ramai pun membuka matanya. Mata Silvy dan Anika saling beradu pandang.
"An?", gumam Silvy lirih. Anika menampakkan senyum manisnya.
"Gimana keadaan Lo?", tanya Anika. Silvy tersenyum membalas senyuman sahabatnya itu.
"Sorry!", kata Silvy lirih.
Anika menggeleng."Gue juga minta maaf sama Lo, ga seharusnya gue ikut campur urusan rumah tangga Lo!"
"Gue tahu Lo kecewa sama gue An!"
Dengan anggukan kecil, Anika mengiyakan ucapan Silvy.
Sekarang mata Silvy beralih ke Febri yang tak jadi keluar dan duduk di sofa.
"Lo, sama mas Febri?", tanya Silvy.
"Heum, iya. Cowok gue lagi tugas sama bokap."
Febri memilih duduk dan fokus dengan ponselnya.
"Lo sakit apa Vy?", Anika mencoba bersikap akrab seperti dulu sebelum kejadian itu.
Terdengar helaan nafas dari mulut Silvy. Akhirnya ia menceritakan perihal sakit nya pada Anika.
"Dokter ngasih pilihan, gue atau anak gue yang lebih utama di selamatkan!"
Anika cukup terkejut, begitu juga dengan Febri.
__ADS_1
"Vy....!", Anika menggenggam tangan Silvy. Perempuan hamil itu menatap langit-langit ruangannya.
"An, gue tahu. Gue sadar udah merebut Alby dari Bia. Tapi, gue bener-bener cinta sama Alby, An. Terlepas seperti apa pun kelakuannya ke gue. Gue maklum."
Anika mengusap lengan Silvy pelan.
"Alby minta gue gugurin bayi ini!", Silvy mengusap perutnya. Anika masih mendengarkan sahabatnya.
"Maaf, sebaiknya mas keluar aja ya dek!", pamit pada Anika, Febri siap berdiri.
"Mas Febri di sini saja ngga apa-apa mas, siapa tahu...nanti mas Febri bisa cerita sama Bia. Mas masih suka kan sama Bia?", tanya Silvy. Febri mengurungkan niatnya untuk keluar tapi juga tak menjawab pertanyaan Silvy.
"Ya udah mas, sini aja nggak papa." Anika meminta Febri tetap di sana.
"Alby berharap setelah bayi ini nggak ada gue bisa melanjutkan hidup dengan orang yang benar-benar sayang sama gue. Karena Alby bilang dia tidak akan pernah bisa membuka hatinya buat gue"
Entah kenapa Anika dan Febri mendadak iba pada ibu hamil ini.
"Tapi, maaf ya Vy... apa yang dikatakan Mas Alby ada benarnya juga. Lo juga berhak bahagia dan mendapatkan orang yang tulus sayang sama Lo", ujar Anika. Tapi Silvy menggeleng.
"An, andai saja nanti gue nggak ada setidaknya gue bisa merasakan seperti apa menjadi seorang ibu. Sebenarnya gue berharap jika Alby bisa lihat gue sedikit aja disisa waktuku sebelum bayi ini lahir."
"Astaghfirullah! Vy, hidup mati seseorang Allah yang tentukan bukan dokter!", kata Anika mencoba menguatkan. Anika menggeleng.
"Mungkin ini teguran dari yang di atas karena gue udah mendzolimi Bia dan Alby selama ini."
Febri tertegun di sofa sana. Dia hampir tak percaya jika seorang Silvy bisa berkata seperti itu.
"Vy....!"
"Astaghfirullah! Lo kok ngomong gitu Mulu sih Vy!", Anika menggenggam tangan Silvy.
"Gue tahu Bia sangat mencintai Alby, begitu pun sebaliknya.Gue tahu gue bodoh, gue sadar gue salah. Tapi Tuhan tidak pernah salah menitipkan rasa cinta di hati seseorang? Gue pernah putus asa saat Malvin ninggalin gue, Vega khianatin gue, bahkan Lo juga marah sama gue. Tapi... seburuk apa pun yang Alby lakukan ke gue, gue ga tahu kenapa ngga bisa marah sama Alby. Gue tulus sayang Alby, an!"
Sekarang Silvy sudah tak bisa lagi membendung air matanya. Anika memeluk tubuh sahabatnya itu. Ia menghapus air mata yang menghiasi pipi sahabat nya yang kini justru semakin kurus tak terawat.
Apakah Silvy semenderita ini??? Batin Anika. Febri masih diam di sudut sana.
Tanpa mereka sadari, Alby sebenarnya sudah ada di saja sejak tadi. Tapi ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan istri nya itu saat mendengar ada orang yang menjenguk Silvy yang tak lain adalah Anika.
Hati Alby merasa terharu saat mendengar obrolan silvy dan Anika. Apalagi keinginan Silvy yang hanya ingin diperhatikan selama ka hamil. Silvy masih Keukeh mempertahankan bayi itu meski nanti nyawanya yang akan di pertaruhkan.
Alby tak pernah mencoba mengerti perasaan Silvy yang sebenarnya pada Alby. Hati Alby sudah merasa tertutup, hanya berisi tentang Bia dan Bia terus.
Tapi obrolan Silvy tadi benar-benar membuat nya merasa bersalah! Dia tidak bisa adil pada kedua istrinya bukan? Bahkan tak ada satupun dari mereka yang Alby bahagiakan. Hanya luka dan sakit hati yang Bia dan Silvy terima darinya.
Alby tak jadi menjenguk istrinya. Ia memilih duduk di bangku depan kamar rawat.
Febri yang tak sanggup melihat dua perempuan itu menangi berpeluang, memilih untuk keluar dari ruangan Silvy.
Tanpa memandang ke sekitar, pria gagah itu mendudukkan bokongnya ke bangku. Ia tak menoleh ke kiri kanan hingg gak menyadarkan jika ada Alby di sana.
Pria itu menyenderkan kepalanya ke punggung bangku, lalu memejamkan matanya. Hari ini ia sangat lelah. Usai dari markas, ia langsung menjemput Anika.
__ADS_1
"Lo udah denger sendiri Feb!", kata Alby tiba-tiba. Febri langsung membenarkan posisi duduknya saat ada seseorang yang menyebut namanya tadi.
''Lho, By? Sejak kapan Lo di sini?", tanya Febri heran.
"Sejak denger Silvy cerita sama Anika, dan Lo...juga dengerin kan?"
Febri tak mengangguk juga tak menggeleng. Pria itu justru melipat kedua tangannya di dada.
"Kalo gue jadi Lo, gue juga bingung By!", kata Febri tenang. Alby menengok ke Febri.
"Ckkk...Lo mau berkata peduli?", sarkas Alby.
"Gak. Gue emang peduli kok. Hah! Terdengar kaya boong ya By. Gue pernah kok ngerasain di posisi yang sama sekali tidak ada pilihan. Almarhum istri gue, meninggal saat usia kehamilannya sudah menginjak delapan bulan. Ya, memang ...mungkin beda kasus dengan yang Silvy alami, karena almarhumah istri gue meninggal saat bertugas menjadi tim nakes waktu wabah covid sedang ganas-ganasnya."
Alby tertegun beberapa saat, ternyata kisah Febri tak semulus yang dia bayangkan.
"Gue... gue nyesel kenapa ngga bisa dampingi almarhum selama berjuang hingga dia dan bayi kami tak bisa diselamatkan."
Alby meremas tangannya sendiri yang mulai berkeringat dingin. Takut? Mungkin!
Alby melihat Febri memejamkan matanya. Mungkin dia juga teringat perasaan kehilangan istri dan anaknya dulu.
"Lo tahu, sekali pun Bia bukan istri gue, gue juga ngga kalah sedih waktu Bia keguguran. Gue tahu seperti apa hancur nya Bia waktu itu, apalagi... ditambah masalah kalian."
Febri menatap Alby yang menunduk sambil meremas kedua tangannya.
"By, gue harap...Lo bisa memberikan keputusan yang menurut Lo baik buat semua. Karena masing-masing dari kalian juga berhak bahagia. Maaf, gue tahu gue lancang! Tapi ...kalo Lo udah ngga bisa lagi jaga perasaan Bia, tolong...lepaskan Bia. Biarkan Bia mendapatkan kebahagiaannya sendiri, yang mungkin...udah ngga bisa lagi Lo kasih!"
"Lo mau rebut Bia dari gue?", Alby menatap nyalang pada pria gagah itu. Febri menggeleng.
"Gue udah sering bilang, gue bukan pebinor. Andai kata suatu saat nanti Bia lepas dari Lo, gue juga berharap Bia akan menemukan kebahagiaannya. Entah itu sama gue atau siapapun nanti."
Dada Alby naik turun menahan emosinya. Ingin rasanya ia memukul wajah pria berseragam itu, tapi...ya...ini di rumah sakit.
"By, terserah Lo anggap gue saingan Lo atau apa pun itu, tapi...gue rasa...apa yang Silvy bilang ada benarnya. Dia hanya ingin Lo liat keberadaannya sedikit saja By. Dia juga berhak atas perhatian Lo."
Tak ada sahutan dari Alby lagi. Febri menepuk bahu Alby, tapi Alby menepisnya. Sedang si Febri malah tersenyum.
"Bertahan di posisi seorang Bia itu sakit, tapi buat Lo, gue juga tahu melepaskan Bia buat kebahagiaannya bikin Lo tersiksa."
"Dan kalo gue benar-benar lepasin Bia, Lo orang pertama yang akan memanfaatkan kesempatan itu kan?", Alby memicingkan matanya.
Febri tersenyum simpul. Bersamaan pula dengan Anika yang keluar dari ruangan silvy.
"Pulang yuk mas!", ajak Anika pada Febri.
"Eh, ada mas Alby ternyata!", gumam Anika tanpa menyapa Alby.
"Gue ikutin alur othor aja gimana baiknya By! Kalo Bia emang buat gue, ya Alhamdulillah. kalo pun ngga, gue bakal maksa biar dia mau sama gue lagi!", Febri menepuk bahu Alby dengan wajah tengilnya. Alby menatap geram pria berbadan tegap itu. Di tatapnya punggung kekar itu menjauh dari lorong rumah sakit. Setelah menenangkan diri, Alby masuk ke dalam ruangan istrinya itu.
*****
Ada yang nunggu ga seeeh... ? 🤭🤭✌️✌️
__ADS_1
Hayo .... kira-kira Alby mau ga neh memenuhi keinginan Silvy? Tapi... serius nih, Silvy kudu end??? Eits ...ngga dong hehehhe....tunggu aja ya ....
Makasih 🤗🤗🤗😉🙏🙏🙏🙏