
Sebulan berlalu, perut ku kini terlihat sedikit membuncit padahal usia kandungannya baru masuk hampir lima belas Minggu.
Tapi mungkin karena aku mengandung bayi kembar, jadi perubahan perut ku begitu kentara.
Dari hari ke hari, Mas Febri juga semakin posesif dan over protektif. Dia tak mengijinkan ku mencuci baju apalagi masak. Semua pekerjaan rumah tangga di ambil alih olehnya.
Alasan nya?? Kasian kalo aku kecapekan! Padahal jika ku tak melakukan apapun, aku juga sudah capek karena hanya banyak diam.
Dan hari ini, jadwal ku untuk check up kandungan. Jadwalnya sih jam sebelas siang, tapi untuk menghemat waktu, Mas Febri mengajakku ke kantornya.
Malu gaes! Ngapain orang sipil nangkring di sana hahahah....
Sayangnya mas Febri tak menerima penolakan. Dan ya...hari ini aku akan tahu seperti apa mas Febri di kantor. Sebentar apa yang dia kerjakan di kantor dari pagi sampai sore.
"Sudah siap?",tanya mas Febri padaku. Aku mengangguk.
Mengingat badanku yang kian berisi, saat ini aku lebih nyaman dengan gamis berbahan katun dengan size yang ya... segitu lah.
"Sudah mas!", Febri membukakan pintu untuk ku.
"Nanti mampir ke Indojuni dulu ya. Beli cemilan buat kamu. Biar ngga bete nungguin mas."
"Siap Kapt!", kataku sambil hormat. Dia terkekeh sambil mengusap perut ku.
Karena Indojuni tak terlalu jauh dari rumah, kami pun sampai ke sana.
"Mau pilih sendiri, apa mas beliin?"
"Ikut turun aja deh!"
Mas Febri membantuku turun dari mobil. Setelahnya menggandeng tangan ku. Kebetulan sekali, kasir yang berjaga saat ini adalah kasir yang sama saat itu.
Dia menyapa dan mengangguk ramah padaku dan Febri. Apa dia ingat ya yang mengira Febri tukang ojek?
"Jangan jajanan yang banyak mengandung MSG ya Nduk!"
"Iya mas. Kalo biskuit sama kacang-kacangan boleh kan?"
"Heum! Ambil aja!"
Aku mulai memasukkan makanan yang ku pilih.
"Mie Popa boleh ngga mas? Di kantor ada air panas buat nyeduh kan?"
"Jangan mie dong sayang!"
"Sekali ini aja, please...!", aku mengguncang lengan nya agar aku diijinkan membeli mie Popa itu. Persis seperti anak kecil yang memaksa ayahnya
"Oke. Sekali ini aja!"
__ADS_1
Aku mengangguk senang. Akhirnya belanjaan ku di tenteng oleh mas Febri menuju kasir. Mba kasir itu nampak takut-takut menatap kami berdua.
"Kenapa mba?", tanyaku.
"Ngga apa-apa mba!", jawab nya.
"Yakin? Bukan karena takut sama suami saya kan? Dia kang ojek yang baik lho!", kataku. Mas Febri melotot padaku. Bukan serem, malah jadi pengen uuucchhhh....
Mba kasir itu tersentak. Tapi setelah itu dia nyenyak kuda. Ia menyebutkan nominal yang harus ku bayar. Mas Febri menyodorkan kartunya.
"Terimakasih mba, pak! Selamat datang kembali?",kata kasir.
"Kamu manggil istri saya mba, kenapa ke saya pak? Memang saya setua itu?", tanya Febri. Aku mencolek lengan Mas Febri untuk tidak iseng pada mba tadi.
"Terima nasib mas!", aku menepuk bahu mas Febri meski agak susah karena dia jauh lebih tinggi dari ku.
"Makasih ya mba!", kataku berpamitan pada mba kasir itu.
.
.
Setelah menempuh waktu sekitar setengah jam, kami sudah sampai di kantor tempat mas Febri dinas. Meski bukan yang pertama, tapi aku tetap merasa malu. Apalagi aku ke sini bukan dalam rangka pertemuan ibu-ibu Persit.
Mana badanku sudah mulai membengkak lagi! Tapi tetap saja aku merasa seksi! Hihihi... buktinya kakanda makin hari makin ah... sudah lah...ngga usah di bahas kalian tahu lah dari awal menghalalkan ku, tapi bukan berarti aku haram lho! Suamiku emang over... gitu deh!
"Ayo sayang!",katanya sambil membantu ku turun dari mobil.
"Ckkk...bodo amat aja kenapa sih? Cuekin aja kalo ada yang mau ngomongin kamu jelek-jelek! Tapi kayanya mustahil deh!"
"Lha? Kenapa?"
"Berani ngomongin istri kapten Febri, siap-siap wleeekkkk!", tangan nya memperagakan menggorok leher.
''Yiiiuuuu...takut...!", ledek ku. Tapi setelah itu, ia menggandeng ku menuju ke pintu masuk kantor. Tangan kirinya menggandengku, jajanan ku ku pegang sendiri.
Bukan mas Febri tega, tapi nanti jika dia berpapasan dengan bawahan nya kan kudu ikutan membalas hormat toh. Jangan mentang-mentang merasa atasan, terus jadi mengabaikan deh.
Sebenarnya sih, aku ngga keberatan ngga di gandeng yang penting kantong jajanan ku dia yang bawa. Tapi ternyata tidak, dia lebih milih menggenggam tangan istrinya yang makin bohay ini.
"Selamat pagi Kapt!",sapa anak buah Febri. Febri pun membalas sapaan mereka.
Setelah itu, dia membawa ku ke ruangannya. Menarikku duduk di sofa yang ada di dekat pintu.
"Mas ada apel pagi. Kamu di sini aja ya Nduk! Ngga lama kok! Nanti temenin mas kerja."
"Sebenarnya kerjaan mu ngapak sih mas? Kan bukan orang kantoran?"
Mas Febri mengulas senyum, lalu dia mengecup puncak kepalaku dan meninggalkan ku di ruangannya.
__ADS_1
Suara kegiatan apel rutin terdengar dari ruangan Febri. Aku penasaran seperti apa saat suami ku bekerja. Di jam dinas sepertinya sekarang ini.
Aku membuka sedikit pintu untuk menonton kegiatan apel.
Masyaallah... suamiku ganteng kuadrat ternyata kalo lagi pose elegan seperti itu. Keren banget deh ah! Keliatan sekali berwibawa dan damagenya seperti...lah itu lah siapa namanya. Pokoknya mas Febri ku!
Aku cekikikan sendiri membandingkan dia saat ini sedang berdinas di lapangan dengan anak buahnya dengan dinas saat bersamaku. Amat sangat berbeda!
Aku sampai mencubit tangan ku sendiri untuk menghentikan tawaku meski pelan. Takut jika ada anak buahnya yang memergokiku tertawa cekikikan sendiri.
Pelan-pelan aku kembali menutup pintu ruangan Febri. Aku memilih untuk mencicil jajanan ku.
Setelah habis satu jenis jajanan, mas Febri masuk ke dalam ruangannya.
"Lama ya?", tanya nya duduk di samping ku. Aku menggeleng.
"Bosen?", tanya nya lagi.
"Heum! Udah biasa. Di rumah juga gini. Makan tidur doang, makanya istrimu ini makin bohay!", kataku sambil memasukkan biskuit ke dalam mulut ku.
"Heheheh bohay gini, tapi mas makin suka !"
"Ckkk...ngga jauh-jauh bahasannya kek gitu! Padahal aku udah kagum waktu kamu mimpin apel tadi mas. Eh, sampe sini kembali ke asal lagi!"
"Lho, kan mas kudu profesional sayang?"
"Heum! Em...iya. Eh, mas aku kebelet pipis! Aku ke kamar mandi dulu ya?!"
"Mas antar!"
"Ngga usah mas!", tolakku.
"Tapi hati-hati ya, takut kepeleset."
"Huum. Aku hati-hati kok!"
Aku pun menuju ke kamar mandi yang agak jauh dari ruangan Febri. Sesekali aku bertegur sapa dengan rekan Febri.
Saat di kamar mandi, aku tanpa sengaja mendengar obrolan seorang perempuan yang menyebut nama Alby! Tapi entah siapa itu.
Aku mendengar suara perempuan itu sepertinya sedang sedih. Tapi aku berpikir positif, bisa saja Alby yang lain. Nama Alby kan banyak!
Tapi saat aku keluar dari kamar mandi, ternyata yang tadi di sebelah kamar mandi ku adalah....Amara!
Apa Alby ada hubungan dengan Amara? Apa Alby menyakiti Amara???
Stop Bia! Ini bukan lapak kamu!!!!
Amara hanya mengangguk dan tersenyum padaku. Aku pun melakukan hal yang sama, setelah itu aku kembali ke ruangan Febri.
__ADS_1
*****
Ada yang nunggu ga?