Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 138


__ADS_3

"Bu, Bia pamit pulang ya? Udah mau magrib!", kataku pamitan.


"Ngga tidur sini aja nduk? Biar kamu ngga kesepian! Tidur di rumah mas Sarman kan?"


Aku menggeleng,"Di rumah bapak, Bu!"


Asih nampak menghela nafasnya, entah apa yang dipikirkan oleh ibu beranak tiga itu.


"Ya udah, tapi kamu hati-hati di rumah ya Nduk."


"Iya bu!"


"Pak, Bia pamit pulang dulu!", aku mencium punggung tangan bapak Anton.


"Iya, besok ke sini lagi. Main sama adik-adik mu, biar ada hiburan", kata Anton sambil tersenyum.


"Insyaallah pak."


"Mba Bia, nginep sini aja sih!", Esa menggelayut manja di lengan ku.


"Lain kali ya Sa!", aku mengacak rambutnya.


"Janji ya mba!", kata Esa.


"Iya, insya Allah Sa...!"


"Wibi mana?", tanyaku.


"Biasanya main sama mba di gang belakang Nduk." Aku mengangguk pelan.


"Ya udah, Bia balik sekarang. Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam!", jawab mereka semua.


"Kok ngga pamit sama aku sih?", tanya William tiba-tiba yang keluar dari kamar Esa.


Anton melotot pada adik sepupunya itu.


"Ya udah, mas William saya pulang dulu!"


"Mau di anterin ngga?"


"Tidak , terimakasih!"


Aku pun menuju ke mobil ku. Selang beberapa menit kemudian, azan magrib berkumandang. Cukup lima belas menit untuk sampai ke warung sekaligus rumah lek Sarman.


Sesampainya di warung, langsung ku parkiran mobilku.


Lek Sarman sudah berdiri di depan sana. Apa dia marah karena aku terlalu lama membawa mobil?


"Assalamualaikum lek!"


"Walaikumsalam, kamu tuh dari mana saja nduk. Lek mu khawatir tuh!", kata lek Dar.


"Heheheh maap lek, tadi main sama Esa."


Lek Dar dan lek Sarman saling berpandangan. Apa ada yang aneh?


"Kamu sudah menerima kehadiran mereka nduk?", tanya lek Dar. Aku mengangguk yakin.


"Iya lek. Mereka kan adik-adik Bia juga. Bapak juga laki-laki yang baik, bisa menggantikan tugas almarhum bapakku untuk menjaga Ibu."


Lek Sarman merangkul bahuku, lalu berjalan beriringan.

__ADS_1


"Ada hikmah di setiap ujian yang kamu hadapi. Mungkin... kami akan kehilangan sosok Alby, laki-laki yang kamu cintai. Tapi...Allah memberi kebahagiaan baru buatmu. Keluarga yang utuh, yang sudah kamu inginkan sejak dulu."


Bahuku masih di usap pelan oleh lek Sarman. Apa yang lek Sarman katakan memang benar. Di ujung perpisahan dengan Alby, hubungan ku dengan ibu dan keluarga barunya pun membaik. Ternyata, selama ini aku sudah salah menilai ibu dan juga bapak tiriku. Aku hanya meyakini apa yang aku pikirkan selama bertahun-tahun. Dan kesalahpahaman itu sudah terlanjur terpatri dalam diriku.


Harus nya saat itu aku mendengar apa yang almarhum bapak katakan. Aku tak pernah mau tahu setiap beliau akan bercerita tentang apa yang beliau rasakan. Yang ku lihat, tiap malam beliau menangis di setiap sepertiga malam. Di tambah lagi, ibu sudah tidak tinggal bersama kami. Tak salah bukan jika pemikiran remaja seperti ku saat itu, adalah bapak di khianati ibu. Tapi ternyata, ibu sudah tak tahan setiap bapak memintanya untuk mencari laki-laki lain yang bisa memenuhi kebutuhan ibu.


Astaghfirullah!


"Kamu udah makan?", tanya lek Sarman setelah kami sudah sampai di ruangan khusus kami.


"Udah lek, tadi di rumah ibu."


Lek Dar tersenyum melihat keakraban suami dan keponakannya itu. Andai putrinya masih hidup, pasti Bia dan Putri akan jauh lebih akrab.


.


.


Aku berpamitan untuk pulang ke rumah ku lagi. Meski mereka sempat melarang. Tapi bagaimana pun, rumah ku adalah tempat ternyaman buatku saat ini.


Sesampainya di rumah, aku membersihkan diri. Lalu menyadarkan badanku ke headboard ranjang. Aku memenuhi janji ku untuk menghubungi Mas Febri. Tapi sepertinya dia sedang offline. Mungkin sibuk. Tapi, aku sudah menceritakan semua, kecuali....ucapan Bu Sri yang mengatakan merestui ku dan Febri. Entah apa tanggapan nya jika dia sampai mendengar ucapan ibunya itu.


Beberapa jam sebelumnya....


[Kamu malah telpon Bia, kalo telpon ibu banyak alasan]


Bu Sri protes saat Febri menghubungi Bu Sri setelah beliau di rumah.


[Bu, Febri tuh serba salah. Telpon ibu, ibu ya marah. Ngga telpon ya marah juga. Maunya gimana toh Bu?]


[Kamu sama Bia ada hubungan apa sih sebenarnya?]


Febri mengusap pipinya. Dia tak menyangka sama sekali jika Bia akan bertemu dengan ibunya.


[Masa???]


Nada suara Bu Sri terdengar sangat menjengkelkan bagi siapa pun yang mendengarnya.


[Iya Bu, Febri sama Bia cuma temenan. Ibu pasti sudah tahu kan kalo Bia sudah menikah, ngga mungkin lah Febri mau macem-macem]


[Serius? Kalo ternyata Bia mau pisah sama suaminya, kamu gimana?]


[Ibu dengar dari mana? Bia yang cerita?]


[Ngga penting ibu tahu dari mana]


[Bu....]


[Ibu udah ngga akan maksa kamu buat di kenalin sama anak-anak teman ibu. Huffft...kayanya...kalo ada kesempatan, ibu restuin kamu sama Bia.]


Febri yang sejak tadi duduk langsung terbangun dari bangkunya. Sontak Dimas, Seto dan Sakti yang duduk agak jauh dari Febri ikut terkejut.


[Ibu...ke..kenapa ngomong begitu Bu?]


Febri tergagap.


[Lha iya, nanti kalo Bia sudah resmi pisah sama suaminya. Tapi kalo sekarang ya ibu gak ijinin. Ibu ngga mau anak kebanggaan ibu jadi pebinor kaya yang di tipi itu]


[Astaghfirullah, Bu. Ya ngga toh Bu]


[Ya wis kalo gitu. Ibu mau ke dapur]


[Iya Bu]

__ADS_1


[ibu janji ga bakal jodoh-jodohin kamu lagi]


[Alhamdulillah]


[Seneng kamu ?]


Nada suara Bu Sri meninggi seperti biasa.


[Seneng lah Bu heheh]


[Ya udah, assalamualaikum.]


[Walaikumsalam]


Usai menutup panggilannya dengan sang ibu, Febri mendekati ketiga sahabat nya.


"Mukamu seneng men rek?", tanya Dimas.


"Huum. Biasa aja!"


Tapi wajah Sakti yang mendung. Dia memikirkan pertemuan nya dengan anak sahabat ayahnya nanti.


"Ngga usah terlalu di pikirkan, kali aja nanti jodoh mas!", ledek Seto.


Sakti melirik tajam pada Seto. Dia mendengus kesal. Demi sang ayah, dia memilih tukar shift dengan rekan dokter lainnya.


"Benar kata Seto, sak!", Febri menepuk bahu Sakti.


"Apa gue segitu gak laku nya sampe di jodoh-jodohin!?", Sakti memangku tangannya di dagu.


"Bukan ga laku mas, tapi belum bisa move on aja. Coba belajar move on! Kalian berdua terlalu Ter-Bia-Bia sih!", celetuk Dimas. Hanya Febri yang memanggil Sakti tanpa embel-embel Mas.


"Kamu kalo ngomong suka benar!", sahut Seto.


Febri kembali fokus ke ponselnya, dia baru membaca balasan dari Bia yang katanya akan membahasnya nanti jika sudah di rumah.


"Sa!", panggil Bapak.


Keempat pria tampan itu berdiri.


"Iya yah!"


"Belum siap-siap?"


Sakti menghela nafasnya. Melirik ke arah Febri.


"Iya, sebentar lagi yah."


Bapak pun meninggalkan keempat pria itu. Mungkin juga akan bersiap.


"Kalian semua harus ikut!", perintah Sakti. Febri, Seto dan Dimas mengangguk.


"Seneng kan Lo, ngga ada saingan buat dapetin Bia!", bisik Sakti pada Febri. Tapi Febri malah cengengesan.


"Bia masih punya suami, Sak! Gue juga ga mau jadi perebut istri orang. Biarlah...nanti kalo jodoh juga ga kemana."


Sakti melotot tajam pada sahabatnya itu, tapi dasar Febri. Dia justru malah semakin meledek Sakti.


******


Kira-kira seperti apa calon jodoh nya Sakti???? 🤔🤔🤔🤔


Makasih ✌️✌️✌️😅

__ADS_1


__ADS_2