Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 51


__ADS_3

"Pagi papa!", sapa Silvy girang.


"Pagi juga sayang? Eh...udah rapi, mau ke kampus hari ini? Bukannya masih capek?", tanya Hartama sambil memotong roti tawar di hadapannya.


"Capek apa sih pa. Malah Silvy semangat banget, kan di anterin sama supir kesayangan Silvy."


Silvy melirik suaminya yang dari tadi di paksa duduk di samping Silvy. Tapi Alby masih bergeming tak ikut menyantap sarapan seperti mereka.


"Kok kamu ngga ikut makan sih sayang?", ujar Silvy sambil mengelus lengan Alby.


"Nanti saja!", sahut Alby datar.


Hartama menatap menantunya sekilas. Tapi dia kembali fokus dengan sarapannya.


"Mama, masih di kamar pa?",tanya Silvy.


"Iya, Mila udah anterin sarapan ke kamarnya."


Ada rasa lega di dada Alby saat tahu Mak nya di perlakukan baik oleh papa Silvy.


"Alby, setelah mengantar Silvy langsung ke kantor. Marsha akan mengajarimu pekerjaan yang akan kamu pegang."


Alby mengangguk pelan.


"Oh ya, mana nomor rekening istri mu?", tanya Hartama lagi.


"Untuk apa tuan?", tanya Alby heran.


"Hubby, panggil papa. Jangan tuan!" pinta Silvy.


"Tahu nih, udah sering di bilangin. Panggil saya papa!"


Alby menghela nafasnya.


"Untuk apa papa meminta nomor rekening Bia?", tanya Alby lagi.


"Mau papa transfer lah. Paling tidak cukup untuk biaya hidupnya selama kamu di sini, sebelum kamu pulang kampung lagi."


"Tidak usah pa, bukannya nanti Alby juga bekerja? jadi, tunggu Alby gajian saja! Terimakasih sebelumnya!"


Hartama terkekeh.


"Pekerjaan mu saja belum di mulai!", kata Hartama sinis.


Alby terdiam beberapa saat.


"Anggap saja, saya sedang berbaik hati!",kata Hartama sambil menyandarkan punggungnya ke bangku.


"Maksud anda apa pa?"

__ADS_1


"Ya...anggap aja kompensasi dari saya , dia sudah berbagi dengan Silvy mungkin!", sahut Hartama santai.


Mendengar kalimat itu, otak Alby mendidih. Tapi ia hanya mampu meremas jemarinya di bawah meja.


"Apa? Mau marah? Merasa tak punya harga diri?", sindir Hartama lagi.


"Papa ih...ya udah sih, kalo my hubby ngga mau. Mungkin Bia masih punya simpanan duit buat satu bulan ke depan. Eh...kan ada mas-mas TNI itu kan? Ngga susah kali si Bia pa!", kata Silvy.


Alby langsung menengok ke arah istri yang baru ia nikahi dua hari itu.


"Terima saja kenyataannya sayang! Kalo Bia udah ngga tahan berbagi suami sama aku, aku rasa mas TNI itu mau menerima Bia dengan senang hati. Keliatan kok! Atau...mungkin dokter sakti? Sepertinya dia juga menaruh hati sama Bia! Tinggal Bia nya saja gimana!"


"Jaga ucapan mu Silvy. Bia bukan perempuan seperti itu. Tolong jangan hina istri ku. Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan Bia. Kalian boleh saja menghinaku, mengintimidasi hidup ku tapi jangan sekali-kali menjelekkan Bia ku!", kata Alby. Meski suaranya pelan, tapi dari nada bicara nya terdengar penuh penekanan.


Setelah itu, ia bangkit dan menjauh dari meja makan. Tak ada yang menyahuti Alby, entah itu Silvy atau pun Hartama.


"Ya udah deh pa. Silvy berangkat ke kampus!", pamit Silvy.


"Alby sedang marah Vy, jika dia bersikap buruk terhadap mu jangan segan bilang sama papa ya sayang!"


"Tentu saja papa. Tapi ...Silvy yakin, Alby tidak akan macam-macam sama Silvy. Percaya sama Silvy pa!"


Hartama mengangguk paham. Usai mencium pipi papanya, Silvy pun bergegas menuju ke rumah belakang untuk menghampiri Alby.


Benar saja, Alby sedang duduk berhadapan dengan Mak Titin. Silvy menghentikan langkahnya saat mendengar obrolan mama kandungnya dan Alby.


"Maafin Mak ya Jang!", Titin mengusap punggung tangan putranya.


"Tapi ini semua gara-gara Mak. Berawal dari Mak. Seandainya Mak ngga sakit, seandainya kamu ngga susah banting tulang buat ngobatin mak yang bikin kamu terdampar di sini dan bertemu mas Hartama, mungkin semua tidak akan terjadi seperti ini Jang!", sesal Titin.


"Mak, Mak ngga usah nyalahin diri Mak terus."


"Tapi kasian Bia Jang. Dia jadi korbannya di sini. Dia ngga tahu apapun, tapi dia yang harus merasakan seperti ini."


"Insyaallah Bia kuat mak."


Titin menghapus air matanya. Dia benar-benar merasa sangat bersalah.


Di tengah kekalutan ibu dan anak itu, Silvy menghampiri keduanya.


"Hubby, kita berangkat!", kata Silvy ketus. Titin menatap sekilas putri kandungnya itu.


"Iya!", hanya itu sahutan Alby.


"Nak, kamu udah sarapan?", tanya titin basa basi pada putrinya.


"Udah!", sahut Silvy datar.


"Ayok Hubby!", Silvy menyeret lengan suaminya. Alby pun hanya pasrah mengikuti kemauan istrinya. Tapi sebelum pergi, Alby masih sempat berpesan pada ibunya.

__ADS_1


"Jangan lupa di minum obatnya ya Mak!", pinta Alby. Mak pun mengangguk pertanda mengiyakannya.


Sepasang pengantin baru itu langsung masuk ke mobil menuju ke kampus Silvy. Tak ada obrolan apapun di antara keduanya sampai mobil benar-benar memasukkan wilayah kampus.


"Sudah sampai!", ujar Alby memecah keheningan.


"Antar sampai ke dalam!", kata Silvy sambil membuka pintunya. Alby terdengar menghela nafasnya. Tapi sedetik kemudian, ia mengikuti Silvy.


Silvy menggandeng mesra tangan suami tampannya itu. Sontak pemandangan tersebut mencuri atensi mahasiswa yang ada di kampus ini.


"Widddddiih... pengantin baru nih!", celetuk salah satu mahasiswa yang baru saja mereka lewati. Silvy tak menanggapi dengan ucapan, hanya senyuman sekilas ia tunjukkan pada mahasiswa tersebut.


"Vy....!", pekik Anika heboh saat melihat Silvy menggandeng lengan Alby.


"Anika!", balas Silvy.


"Selamat ya gaes! akhirnya...nikah juga. Tapi aku kesel kok kamu ngga ngajakin aku liat nikahan kamu sih!", kata Anika mengurai pelukannya.


"Nanti aja kalo pas resepsi BESTie! Bukan begitu sayang?", tanya Silvy pada Alby. Alby hanya mengangguk, wajahnya datar-datar saja.


"Eum...kapan Vy?"


"Gampang lah ntar!", sahut Silvy santai.


"Jangan lama-lama, nanti keburu tekdung Lo heheheh."


Alby menghela nafasnya pelan.


"Biarin , tekdung ada lakinya kok bingung!"


"Hahaha...iya ya Vy."


"Saya mau langsung ke kantor, sudah ada yang nemenin kamu kan?", tanya Alby.


"Huum! Jangan lupa nanti jemput aku jam dua!", kata Silvy. Alby mengangguk. Setelah itu ia pun menjauh dari dua gadis cantik itu.


"Vy... cerita dong acara nikahan Lo....!", rengek Anika. Akhir, keduanya pun melanda ke kalas mereka.


Berbeda dengan Alby, saat ia akan membuka pintu mobilnya tiba-tiba saja ada tangan yang mencegahnya.


"Ya?", tanya Alby sambil menatap wajah orang yang meraih tangannya barusan.


"Kamu, suami nya Silvy?", tanyanya.


Alby ragu sebentar,tapi setelah itu ia mengangguk.


"Kenapa?",tanya Alby datar.


"Dibayar berapa Lo sama papanya Silvy biar mau nikahin cewek c***t itu?!"

__ADS_1


Dada Alby terasa sesak. Dia baru menyadarinya, pria yang di depan nya adalah mantan kekasih Silvy.


"Bukan urusan mu!", sahut Alby. Setelah itu ia langsung masuk ke mobilnya meninggalkan Malvin yang juga sedang tersulut emosi.


__ADS_2