Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 224


__ADS_3

Acara doa bersama di lakukan setelah magrib. Kali ini Febri dan Bia sudah tak ikut dalam acara tersebut. Bia sudah kembali ke kampung halaman, Febri masih sibuk di kantor instansinya.


Sakti dan istri serta adiknya masih setia menemani Alby di rumah keluarga Hartama. Kebetulan juga, Marsha tak bisa ikut menghadiri karena ternyata ada pertemuan dengan keluarga tunangannya.


Tanpa di duga, dosen cantik nan galak pun turut hadir. Dia menyapa Alby dan yang lain. Setelahnya, ia memilih duduk di samping Anika.


"Bu, kirain ga datang!", sapa Anika.


"Saya sempat, pasti datang!", sahutnya. Mereka agak jauh dari bapak-bapak. Dan hanya ada Anika, Bina serta Yana di situ. Ada Nabil juga sih!


"Bu!"


"Apa Anika?"


"Ibu...mantan pacarnya mas Alby ya?", tanya Anika. Yana menaikan salah satu sudut bibirnya.


"Ya, jaman SMA dulu."


"Eum, kalo boleh tahu kenapa bisa putus?", Anika mulai kepo.


"Karena saya galak hehhehe!"


Anika tersenyum kaku. Bu Yana emang kelewat galak sih! Batin Anika.


"Bercanda!", lanjut Yana.


Tapi galaknya mah serius, ngga bercanda.


"Abah saya ngga bolehin saya pacaran! Apalagi sama Alby, yang waktu itu cuma lulusan SMA. Abah maunya saya saya cari yang mapan, berpendingin dan yang penting agamis."


Anika mengangguk.


"Terus? Sekarang Bu Yana sudah menikah?"


Yana tersenyum tipis.


"Keliatannya gimana?", tanya perempuan berjilbab pasmina itu.


"Kalo tahu, saya ngga tanya Bu!", kata Anika cemberut.


"Heheh Alhamdulillah, sudah. Cuma suami saya lagi ambil pendidikan di Kairo!", jawab Yana.


"Owh....!", Anika dan Bina manggut-manggut.


Berbeda dengan ciwi-ciwi, sekali Sakti tengah memegang buku Yasin yang nanti akan di gunakan untuk pengajian. Meski dia hafal, sebagai formalitas ia turut memegang seperti bapak-bapak yang lain.


Dalam hati, sakti berpikir.


Andai Bia mau bersabar sedikit lagi, dia ga perlu harus bercerai dengan Alby. Toh pada akhirnya, Alby dan Silvy berpisah saat ini. Bukan hanya bercerai, tapi pisah selamanya.


Sayangnya, ingin berbicara seperti itu di hadapan Alby atau Bia, dia tak sampai hati. Sakti tersenyum miris dalam hatinya. Seorang sakti saja dulu mengharapkan Bia berpisah dari Alby kan??? Kenapa sekarang jadi munafik begini? Sakti memukul kepalanya sendiri.


"Kenapa bro?", tanya Alby yang ternyata sudah duduk disampingnya.


"Eh, ngga apa-apa."


"Lo pasti capek bantuin gue terus, lebih baik Lo balik aja deh. Apalagi Lo tadi dinas pagi kan?"


"Ngga apa-apa By! Santai aja!"


"Apa ada yang sedang Lo pikirkan?", tanya Alby yang penasaran karena raut wajah Sakti menurutnya seperti sedang menyimpan sesuatu hal.


"Eum...gue...udah lah lupain, ga enak juga gue ngomongnya!"


"Soal Bia?", tanya Alby sambil melirik ke arah Sabrina yang sedang mengobrol dengan Yana.


Sakti tersenyum tipis.


"Sorry bro, bukan gue ngga simpati sama Almarhumah Silvy. Cuma...."

__ADS_1


"Cuma apa?"


"Cuma... seandainya Bia lebih sabar dikit lagi, kalian ngga perlu berpisah ya By!"


Alby tersenyum kecut.


"Ngga usah bahas itu. Toh itu sudah masa lalu, lagian...waktu itu Lo juga udah siap buat menunggu janda nya Bia kan?", sindiran Alby ngena sampai ke ulu hati Sakti. Sakti terhenyak. Tenggorokan nya tercekat. Kok bener ya si Alby berpikir seperti itu kaya gue???


"Udah, gue udah coba buat ikhlas kok. Bia juga udah move on dari gue. Ada Febri yang jauh segala-galanya dibandingkan gue!"


Sakti menepuk bahu sahabatnya itu.


"Gue... untuk sekarang mau fokus sama Nabil aja. Mereka yang gue punya dan mereka butuh perhatian dari gue."


"Heum, Lo bener!", kata Sakti. Lalu mata sakti beralih ke pada Yana.


"Dosen itu, mantan Lo?", tanya Sakti. Alby menoleh sekilas pada Yana lalu tersenyum. Yana masih fokus dengan Anika.


"Heum Jaman gue SMA dulu. Tapi ya...gue mah orang susah Sak. Sedang dia, bapak nya aja juragan tanah."


"Cerita nya cinta ngga direstui gitu?"


"Hah! Ada-ada aja! Itu mah cerita jaman ABG, ga inget juga gue."


"Tapi...dia cantik Lo By!", kata Sakti. Alby memundurkan kepalanya memandang sahabat nya dengan pandangan aneh.


"Eh, Lo jangan salah sangka gitu dong. Gue ga naksir kali. Cuma mo ngomong, cewe yang sama Lo cantik-cantik!"


Untuk pertama kalinya usai meninggalnya Silvy, Alby tersenyum agak lebar.


"Dia udah punya suami Sak. Dosen juga!", kata Alby.


"Yah... penonton kecewa gengs! Gue pikir, dia bakal jadi kandidat calon Lo!"


"Ishhh... gue ga mau mikirin kaya gitu dulu! Tanah kuburan istri gue aja masih basah kali!"


Obrolan mereka terhenti saat pak ustadz menitahkan untuk segera bersiap pengajian.


.


.


Segala persyaratan sudah kami penuhi. Yang paling penting, surat yang menjelaskan bahwa aku sudah pernah menikah sebelumnya.


Aku memilih tinggal dirumah lek Sarman dulu. Padahal, ibu juga meminta ku di sana. Tapi...aku memang lebih nyaman di rumah Lek ku ini.


Aku ingat obrolan beberapa waktu lalu, usai kami berfoto untuk kelengkapan pernikahan.


"Kamu mau mahar apa nduk?", tanya Febri saat kami makan di sebuah warung makan Padang yang dekat dengan studio foto.


"Apa pun yang ngga memberatkan mu lah mas!", jawabku usai kami selesai makan.


"Selama itu wajar, insya Allah mas mampu! Mungkin perhiasan atau apa gitu?"


"Hehe aku mau pulau mas!", jawabku ngawal. Febri terdiam.


"Ya Allah mas, bercanda kali!", kataku menepuk bahu kirinya.


"Ngga usah aneh-aneh deh nduk! Kamu kan tahu gaji mas berapa? Uang jatah kamu dari warung aja udah berapa kali lipat di bandingkan gajiku. Mendadak insecure deh mas, nduk!"


"Apaan sih? Berapapun gaji kamu, aku akan menerima nya mas. Kamu lupa, bahkan dulu aku di jatah seminggu empat lima ratus ribu aku terima. Ngga masalah mas. Bukan maksud ku membandingkan. Tapi... berapa pun yang suami berikan padaku, selama itu halal aku pasti terima dan semoga menjadi berkah!"


"Masyaallah...!", gumam Febri sambil menatap calon istrinya itu.


"Bisa ngga liatin aku jangan kaya gitu?"


"Ngga bisa?!", jawab nya.


Aku mencebikkan bibirku.

__ADS_1


"Jadi intinya kamu mau mahar apa nduk?"


"Uang tunai aja, terserah mas berapa aja!"


"Oh...oke lah kalo begitu!", kata Febri.


"Seperti yang ku bilang, aku tak mau memberatkan mu."


"Iya sayang, makasih!", katanya.


.


.


Warung ku di tutup untuk beberapa hari karena tempat ini kami gunakan untuk resepsi pernikahan ku dan Febri.


Gratis? Ngga lah! Tetap bayar, urusan manajemen warung. Febri tetap bayar ke warung lek Sarman heheheh...


Aku sibuk sendiri mempersiapkan undangan spesial untuk yang pro dan kontra hubungan ku dengan mas Febri 🤣🤭


Aku harap mereka bisa kondangan yang banyak besok ya 🙈 minimal kado sprei MemeLove 🤪


Bagi yang di sebut namanya harap kondangan yang banyak ya! Nanti di sediakan makanan secara Virtual 🤣


Vivi Bidadari, Mursiana, Miki Miko, Yuliana Tunru, Elang Dimas,Ratry chayank Novan, Pendra sari, Naysa Kirana, Emon, Dayung bagang, Special to Aa Alby Mukfu yang kebetulan namanya sama kaya Aa mantan 🤭,Endah Sri Rahayu, Dini Ramadhani, Nana fajar, hanipah Fitri, Arumi nazifa, Dery herdiyanto, Wulan Sari, misik Japar, Isnan Susilowati, Ajeng Ina, Devi safara dan yang lain kalo ngga kesebut harap acungkan jempol 🤣😆🤭.


Setelah urusan undangan selesai, saatnya aku merebahkan diri dan main dengan benda pipihku Nan canggih berlogo apel krowak.


Sekarang aku memandangi galeri foto di ponsel ku. Satu per satu aku menghapus di foto-foto Alby dan foto kami berdua yang tersisa. Sejak bercerai dengan nya, aku hampir tak pernah melihat-lihat isi galeri foto ku di ponsel.


Aku menghapus kenangan-kenangan bersama nya sejak awal bertemu hingga awal kami bermasalah yang berujung dengan perpisahan.


Ku hela nafas saat melihat moment lebaran terakhir kebersamaan ku dengan Mak dan Alby. Lebaran tahun ini, aku sudah tak merayakan dan memasak makanan lebaran untuk mereka.


Disela menghapus foto, Mas Febri menelpon ku. Saat ini dia dalam perjalanan menuju kampung halaman kami dengan kereta.


[Assalamualaikum, nduk?]


[Walaikumsalam mas!]


[Kok belum tidur? Masih online tadi WhatsApp nya?]


[Ga bisa tidur mas]


[Mikirin apa?]


[Kamu mas]


[Gombal]


Di seberang sana Febri tergelak.


[Di rayu sama calon istri aja lebay gitu!]


[Hahaha seneng aja gitu nduk!]


[Ya udah, ada apa telpon toh? Besok juga ketemu]


[Kangen aja, ngga boleh?]


[Ga usah alay!!!]


[Ishhh... gemas deh sama kamu nduk!]


[Udah ah, aku ngantuk mas!]


[Ya udah, istirahat gih. Insyaallah besok mas sampe rumah, mas langsung kabarin kamu]


[Iya mas. Hati-hati, Assalamualaikum!]

__ADS_1


[Walaikumsalam]


Ku letakkan ponselku. Besok lagi bisa ku teruskan acara pilah pilih foto di galeri. Sekarang saatnya aku memejamkan mataku.


__ADS_2