Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 189


__ADS_3

"Neng!"


"Nduk!"


Suara itu sangat aku kenal. Tapi belum sempat aku menyahut salah satunya, seseorang meraih piring yang ada di tangan kiriku lalu memberikan kepada petugas yang menjaga stand.


Dan ternyata orang itu adalah Bapak. Bapak menggandeng pergelangan tangan kananku yang berbalut mangset hingga ke telapak tangan ku. Jadi, aku dan bapak tak bersentuhan langsung dengan beliau.


"Bapak?"


"Lebih baik kita pulang, bapak masih mampu jajanin kamu makanan seperti ini Bi. Ayo!",ajak Anton.


"Bapak!", panggil Alby dan Febri bersamaan. Aku persis anak kecil yang sedang dijaga oleh ayahnya. Ya, meskipun tiri bapak Anton adalah ayahku juga kan.


Anton menghentikan langkahnya dan sudah tak menggandeng tangan ku.


Dia berbalik badan, ke arah dua pria tampan ku. Eeehhh????


"Nduk, kamu keluar dulu sama Esa!"


"Tapi pak?"


Anton hanya memberikan kode agar aku patuh. Aku dan Esa pun meninggalkan ketiga pria beda generasi itu.


"Mau apa lagi kamu? Kayanya ngga pantas kalo kamu masih berusaha mendekati Bia lagi?", tanya Anton pada Alby.


"Pak, Alby hanya ingin menjalin silaturahmi sama Bia. Alby mau tahu kabar Bia dan keadaan Bia, Pak. Itu saja."


"Kamu lihat kan kalo Bia baik-baik saja? Bahkan saya rasa dia jauh lebih baik ketimbang saat bersama kamu kemarin."


Tak ada sahutan apapun dari Alby. Kini Anton beralih pada Febri.


"Dan kamu Feb, bisa kan untuk sementara tidak menggangu Bia dulu? Beri dia waktu untuk sendiri dan beradaptasi dengan status barunya. Saya tahu kamu cinta sama anak saya, tapi bukan berarti kamu bebas semau mu. Kamu paham kan maksud ucapan saya?"


"Paham,pak."


"Masa Iddah Bia bahkan belum setengah jalan sama sekali, tapi kamu sudah curi start! Saya sebenarnya tak mau ikut campur, hanya saja tidak etis. Saya tidak mau orang lain menganggap buruk anak saya yang baru berpisah tapi sudah dekat dengan laki-laki lain."


Febri menelan salivanya. Pantas aja jadi kades dua periode. mental pemimpin nya kelihatan banget! Batin Febri.


"Saya memang hanya ayah tiri Bia, tapi buat saya Bia adalah anak perempuan saya! Permisi! Assalamualaikum!", Anton meninggalkan kedua pria tampan itu.


Beberapa tamu menyaksikan perdebatan kecil itu tapi tak sampai menjadi pusat perhatian tamu yang hadir.


Alby menatap datar ke arah Febri, pun sebaliknya. Keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing. Tak ada yang memulai untuk bertegur sapa dia antara mereka.


Kemunculan Anika mencairkan suasana yang cukup menegangkan tadi. Sedikit menegangkan bagi kedua pria ganteng itu.

__ADS_1


"Mas Feb!", Anika menepuk bahu Febri.


"Apa dek?", tanya Febri.


"Eh, ada mas Alby juga toh?!",sapa Anika yang mengabaikan pertanyaan Febri. Febri memutar bola matanya jengah.


"Iya, aku ke sini juga karena undangan kakakmu!", kata Alby.


"Owh...ya berarti mas Sakti masih anggap mas Alby itu temen dong!"


Alby tersenyum kecut. Ya, selama ini hubungan Alby dengan sakti cukup baik. Tidak seperti dengan Febri.


Jika bertemu langsung, sudah kaya pada masuk oven. Panas!


"Ya mungkin!"


"Mas Alby sendiri?"


"Iya, sama siapa lagi?"


"Oh, kirain Silvy ikut mas!", tanya Anika basa-basi.


"Ayok dek, mas mau ke yang lain!" ajak Febri pada Anika. Anika hanya menuruti ajudan ayahnya itu.


"Permisi ya mas Alby!", ujar Anika berpamitan sebelum Febri benar-benar membawa nya pergi. Alby hanya mengangguk kecil.


Tinggallah sepasang suami istri yang baru saja sah menjadi pasangan tadi pagi. Kini keduanya sudah berjalan beriringan menuju ke kamar yang sudah mereka sewa tadi.


Sakti mengantar Bina ke kamar yang digunakan untuk make up tadi. Masih ada petugas MuA yang membantu melepaskan perkakas yang ada di badan Bina.


Mulai dari baju pengantin sekaligus jilbab yang menghiasi kepala Bina.


Jangan bayangkan seperti di cerita novel, pengantin mengangkat istrinya ala bridal style setelah itu 'nganu'. Ngga, masih banyak proses yang harus mereka lalui untuk sampai tahap beristirahat di kasur.


Sabrina sudah rapi dengan jilbab yang lebih sederhana tapi tak menghilangkan jejak kecantikannya.


"Kita langsung makan malam?", tanya Sakti.


"Ayok aja aku mas!", sahut Sabrina riang. Keduanya keluar dari kamar itu usai mengucapkan banyak terima kasih pada petugas MuA yang membantu mereka.


Suami istri baru itu berjalan bergandengan menuju ke restoran yang ada di bawah. Candle light dinner ala sakti dan Bina. Keluarga nya sudah pulang ke rumah masing-masing.


Btw, Naya yang pernah jadi pengagum Sakti dan tak lain kekasih Seto juga datang ke acara pernikahan mereka.


Sakit menarik kursi untuk di pakai Sabrina.


"Makasih mas!", kata Sabrina sambil memberikan senyum terbaiknya.

__ADS_1


"Sama-sama sayang!", sahut sakti. Sontak ia menjadi tersipu meski ini bukan hal baru yang ia dengar selama mereka berdua.


Meninggalkan sepasang suami-istri baru....


Aku, esa dan bapak sudah berada di dalam mobil yang di supiri oleh supir keluarga Oma Marini. Bapak menjelaskan apa saja yang ia katakan kepada dua pria yang masih mencintai putri tirinya itu


Sepertinya apa yang bapak katakan ada benarnya. Dia hanya melakukan kewajibannya pada anaknya.


Mobil itu sampai di halaman rumah megah milik keluarga Oma Marini.


Oma Marini dan ibu menyambut kami yang baru masuk ke dalam rumah. Akhirnya, ibu diterima dengan baik oleh keluarga besar bapak yang ternyata...beliau orang berada.


Oma Marini terlihat sangat senang berkumpul dengan anak dan menantu serta cucu-cucunya. Eh, tapi aku kan bukan cucu kandung Oma marini?


Tapi, beliau juga tak membedakan kami. Apalagi aku yang paling besar di sini, tentu saja cara memperlakukan ku tak sama seperti memperlakukan ke Wibi.


"Kenapa harus balik besok sih Ton! Kamu udah lama banget baru ketemu mama dan Papa udah mau balik aja!", kata Oma Marini sedih.


"Ma, Anton kan kerja. Kerja melayani masyarakat. Masa mau kerja seenaknya!", jawab Anton sambil menggenggam kedua tangan Oma marini.


"Ton, kenapa harus jadi kades kalo papa bisa biayain kamu jadi anggota dewan?", tanya papa Anton. Mereka sempat tak akur hingga akhirnya Anton terdampar di kampung Bia, bekerja pada bapak nya Bia dan ya... berakhir jadi ayah tiri Bia. Beruntung semua sudah membaik. Hubungan yang pernah terputus kini kembali menyatu.


Suasana semakin ramai saat keluarga Malvin memasuki ruang tamu. Papa Malvin adalah kakak Anton.


Malvin mengajak ku menjauh dari kerumunan orang-orang tua. Dengan santainya, Malvin mengajak Esa dan Wibi ke taman samping dekat kolam renang. Esa dan Wibi nampak akrab dengan cowok ganteng yang sedang beranjak dewasa itu.


"Mba Bia, udah pantes kalo jadi ayah yang baik belum?", tanya Malvin dengan senyuman sok imutnya


"Pantes, pantes banget jadi kakak adik Vin!", jawabku.


"Ah, mba Bia ngga seru!", celetuk Malvin dan tentu saja membuat dua adiknya tertawa.


Aku pun ikut tertawa melihat mereka bertiga tertawa lepas seperti tak ada beban apa pun.


"Kalo jodoh emang ga kemana!", celetuk seseorang dari belakang kami. Sontak Ali dan ketiga bocah laki itu menengok ke asal suara itu.


"Om willi...!", teriak Wibi dengan riang.


Malvin memutar bola matanya jengah. Aku juga hanya mampu menarik nafas, bawaannya kesel kalo denger William ngomong begitu.


Wibi menghampiri William. Balita itu langsung minta gendong om nya itu.


"Hai, calon masa depan? Apa kabar?", tanya William yang ia tujukan padaku.


"Om, ngga usah ngadi-ngadi. Sono ah, ngga usah gangguin kita!", kata Malvin.


"Apa sih Vin??? Ga seneng banget liat om nya seneng!"

__ADS_1


Dari pada melihat mereka adu mulut, aku memilih ikut duduk di samping ibuku saja. Ikut ngobrol sama orang-orang tau di ruangan itu.


__ADS_2