Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 52


__ADS_3

Hujan semalaman menyisakan banyak genangan di sekitar rumah. Terlebih di dekat kolam ikan, banyak sampah yang berserakan di tepiannya.


Jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Tidak banyak hal yang ku lakukan hari ini. Usai mandi dan solat subuh, aku hanya duduk bersantai di teras belakang dekat kolam. Aktivitas memasak pun tak ku lakukan. Toh, aku hanya makan sendiri. Tidak ada yang wajib ku layani.


Eh??? Aku lupa! Bukankah mas Febri meminta ku untuk memasak menu harian nya? Aku sampai melupakannya karena terlalu fokus dengan masalah rumah tangga ku.


Aku beralih ke kulkas. Tak ada bahan masakan selain telur. Tapi mau belanja ke pasar pun rasanya malas sekali. Mungkin sebaiknya nanti aku ke warung dekat rumah teh Salamah.


Sambil menunggu agak siang, aku memilih duduk di bangku dekat kolam seperti biasanya.


Sayup-sayup ku dengar percakapan seseorang yang tak jauh dari tempat aku duduk. Suara yang sangat ku kenali tentu saja. Mas Febri sedang berkomunikasinya dengan benda pipihnya. Tapi, sepertinya dia berbeda hari ini. Dia tak memakai seragam lorengnya seperti biasanya. Justru ia memakai celana bahan dan kemeja. Mungkin dia sedang ada acara!


Aku mengedikan bahuku. Apa peduliku ya dia mau ada acara atau tidak. Aku akan mulai memasak untuknya mulai besok saja.


Jam segini, si Aa udah bangun belum ya? Pengen telpon, tapi takutnya nanti malah berujung bertengkar kalau ternyata di sebelahnya ada istri baru si Aa. Mungkin sebagian aku menunggu Aa yang menghubungi ku.


Eh?? Tapi kok kesannya seperti aku yang jadi selingkuhannya A Alby sih???? Aku menggeleng. Ngga, aku sudah memutuskan untuk menerima keadaan ini.


"Nduk!", panggil Febri. Panggilan dari Febri menyadarkan ku dari lamunanku.


"Ya mas!", aku berdiri di hadapannya.


"Kamu, ada saudara lain ngga di sini? Maksud mas, saudara Alby mungkin?"


"Ya...ada, kenapa mas?Kok kamu tiba-tiba tanya kek ngono?", tanyaku heran. Ku dengar ia menghela nafasnya yang sedikit berat.


Mas Febri belum menjawabnya, sampai aku ingat sesuatu.


"Oh ya mas, lali aku. Maaf ya. Harusnya aku masakin kamu selama ini, tapi ternyata aku malah sibuk sama urusan ku sendiri. Mulai besok aja ya aku masak nya?"


"Nduk, ga usah...ga usah. Eum...ini nduk, mas akan pindah tugas di kabupaten", ujar Febri.


Aku diam beberapa saat. Sampai akhirnya ia kembali melanjutkan ucapannya.


"Mas akan dinas di kodim nduk. Dan sepertinya...mas akan tinggal di mess. Kalau harus stay di sini, jaraknya lumayan jauh."


Oh...aku paham, dia sedang berpamitan padaku. Ya ampun, sepenting itu dia harus pamitan Tah?


"Oh, ya udah atuh. Sebentar, aku ambil uang nya dulu. Soalnya aku kan ga bisa masak buat kamu. Ngga mungkin juga aku antar ke sana kan!", ujarku sambil beranjak dari hadapannya. Tapi mas Febri menahanku.


"Aku ngga butuh duit itu. Udah, buat kapan-kapan saja nduk."


Aku berbalik badan menghadap dia lagi. Buat kapan-kapan?

__ADS_1


"Maksud nya?"


"Tiap weekend, aku ke sini. Rumah itu udah aku kontrak untuk enam bulan Nduk. Sayang kalau harus di biarkan begitu saja."


Aku mengangguk paham.


"Maksud mas, Alby punya saudara yang lain ngga buat nemenin kamu di sini?"


"Oh...gitu, udah ngga apa-apa. Aku bisa sendirian kok. Tenang aja sih."


"Masalahnya kamu kan lagi hamil, sendirian pula di rumah segede ini. Apalagi jarak tetangga kan cukup jauh. Mas khawatir kamu kenapa-kenapa. Kalo mas masih di rumah, minimal mas bisa denger kalo kamu panggil atau butuh sesuatu meski kita beda rumah. Nah, kalo mas pergi kamu beneran sendirian nduk!"


Ya Allah mas, segitunya kamu cemas sama aku??? Bahkan kita tidak ada hubungan apa-apa. Apakah A Alby juga mencemaskan ku???


"Eum..mas Febri ngga usah khawatir sama aku. Tenang aja. Aku bisa jaga diri kok mas. Nanti aku bisa minta temenin cucunya Wak Mus buat nemenin aku."


Hah! Gimana mau minta temenin anak kang Asep, mereka saja di pondok semua. Tapi, semoga saja hal ini tak membuat mas Febri khawatir berlebihan padaku.


"Oh, bagus lah kalo gitu. Mas cuma takut aja kamu sendirian nduk!"


"Makasih udah khawatir sama aku."


"Meskipun kamu bilang kalau kita tidak ada hubungan apa-apa, mas tetap menganggap kamu bagian dari hidup mas nduk!"


"Ngga usah ngomong macem-macem mas."


"Motor nya alby aku balikin ya, nanti kalo aku pulang baru ku pinjem lagi."


"Iya mas."


Mas Febri pun mengambil motor Alby di rumah nya lalu mendorong nya sampai ke teras belakang.


"Eum...udah siang nduk. Mas berangkat ya. Kamu baik-baik di rumah. Jaga diri, Jang capek-capek ya."


"Mas, kenapa kamu berlebihan seperti itu."


"Mas cuma cemas nduk. Mas pernah kehilangan istri dan anak sekaligus. Dan...mas cuma ngga mau merasakan hal itu. Makanya kamu jaga diri baik-baik."


"Tapi aku bukan siapa-siapa buat kamu mas. Jadi, maaf! sepertinya khawatir mu itu sangat berlebihan."


Lagi-lagi Febri mendesah kasar di hadapan ku.


"Waktu memang sudah berlalu, tapi perasaan mas tak berubah dari dulu. Mas ngga tahu kelak akan seperti apa, tapi ...jika suatu saat nanti kamu memang sudah tidak sanggup menjalani seperti ini, aku akan ada buat kamu Nduk."

__ADS_1


"Doakan saja yang terbaik buat aku mas."


Mas Febri tak menyahut apa pun setelahnya. Dia hanya memandangi ku. Entah apa yang ada dalam pikirannya.


"Udah mau jam tujuh mas, kamu ngga berangkat?", tanya ku memecah kebekuan. Sepertinya tidak etis jika ada yang melihat kami berduaan cukup intens seperti ini. Meski kami tak melakukan apa-apa. Tapi pandangan dan pemikiran orang kan beda-beda.


"Ya udah, mas berangkat. Pokok nya mas cuma pengen bilang, kamu harus jaga diri baik-baik."


"Iya, insyaallah Allah lindungi aku dan calon bayiku juga."


"Mas jalan ya, Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam, hati-hati di jalan."


Dia mengangguk dan tersenyum tipis. Setelah itu, ia memasuki mobilnya yang terparkir di samping rumah ku.


Dia menyalakan mobil lalu melaju sedikit.


"Nduk, kalo ada apa-apa tolong jangan segan-segan hubungi mas ya!"


"Iya mas."


Setelah itu mengklakson mobilnya dan mobil itu pun menjauh dari rumah ku.


Baru saja aku akan masuk ke rumah, tiba-tiba Wak Mus memanggil ku.


"Neng Bia?", panggil Wak Mus.


"Eh...Wak!"


"Kemarin, komandan pamitan sama Wak. Katanya mau dinas di kabupaten. Kalo rumah ini kosong, mending kamu teh ikut Wak aja di rumah Asep. Dari pada di sini sendirian!", ujar wak Mus.


"Hehehe Wak, ngga usah Wak. Bia berani sendirian kok."


"Tapi maneh karunya neng, sorangan di imah."


"Wak tenang aja. Insyaallah Bia bisa jaga diri kok. Oh ya Wak, mau ngopi dulu?", tanyaku.


"Alim ah. Arek ka kebon", sahut Wak Mus.


(Ngga mau ah. Mau ke kebon)


"Oh nya nggeus atuh. Hati-hati Wak, licin abis ujan."

__ADS_1


"Heuh!", sahut Wak Mus.


Usai kepergian Wak Mus, aku kembali ke dalam rumah.


__ADS_2