
Hatchim...hatchim
Aku mendengar suara bersin-bersin sejak menjelang subuh tadi. Aku rasa itu suara Febri. Aku membuka jendela kamar ku yang berhadapan langsung dengan teras Febri. Ternyata dia tak sendirian, ada Cecep di sana. Samar-samar aku mendengar obrolan mereka.
"Kan saya mah udah bilang Ndan. Tidur di dalam! Malah maksa diluar. Jadi flu kan?", kata Cecep ngomel.
"Cep! Kamu ngomelin aku? Cuaca kaya gini udah biasa kali buat kita!", jawab Febri ngeyel.
"Bukan ngomel mas Feb. Cuma bilangin aja."
"Aku ngga apa-apa. Cuma alergi dingin aja kok. Sama mungkin kondisi badan yang lagi ga fit, kemaren nyetir mobil dari kota."
"Lagian sih dibilangin, neng Bia ngga bakal apa-apa. Dia mah ngga takut sendirian di rumah kali mas."
Oh, jadi semalam Febri tidur di luar? Cuma mau memastikan keadaan ku? Ya Allah!
Aku beranjak ke dapur. Nasi di mejikom ku sudah matang. Aku juga sudah memasak air panas.
Aku berinisiatif untuk membuatkan teh jahe buta mas Febri. Setelah ku seduh, aku lebih dulu membuka pintu dapur. Tapi kedatangan Cecep yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu membuat ku terkejut.
"Astaghfirullah!", pekik ku.
"Eh, neng! Maap? Kaget ya?", tanya Cecep basa-basi.
"Teu kang!"
"Hehehe kumaha damang neng?", tanya Cecep.
"Alhamdulillah, cager kang!"
(baik)
"Oh, syukur atuh!", sahut Cecep.
"Eum... kang hampura, mau minta tolong. Tolong anter minuman buat mas Feb, sama buat kang Cecep juga!"
Cecep mengernyitkan alisnya.
Lha, gue baru mau minta tolong di bikin sama dia? Eh...malah udah di siapin? Apa ini yang namanya rejeki anak Soleh? Batin Cecep.
"Oh, ya udah atuh. Saya baru mau minta tolong ke neng, minta teh panas buat mas Feb."
"Tadi ngga sengaja saya dengar obrolan kalian, makanya sekalian saya buatin minum nya."
"Aih...meuni pengertian pisan si neng mah. Beruntung kang Alby teh boga pamajikan kos neng. Mas Febri ge teu acan bisaeun move on!"
(Pengertian banget si neng. Beruntung Alby punya istri kaya neng. Mas Febri juga belum bisa move on)
Aku hanya tersenyum kecut. Beruntung??? Alby beruntung memiliki aku???
"Saya bawa ya neng minum nya!"
"Oh, sok atuh kang!"
(Silahkan)
__ADS_1
Cecep membawa baki berisi dua gelas teh dan cemilan yang ku siapkan. Semoga Febri tak terlanjur sakit.
Cecep meletakkan baki di depan Febri.
"Sok...mangga atuh Ndan!", kata Cecep mempersilahkan.
"Kok cepat cep?", tanya Febri heran.
Bukannya menjawab, cecep malah tersenyum.
"Cah gendeng, di tako'i kok malah ngguya ngguyu! Entek opo piye kie obat'e?!", kata Febri heran. Untung Cecep ngga tahu artinya.
(Bocah gila, di tanya malah ketawa! Habis apa gimana nih obat nya)
"Ngomong apa sih Ndan? Urang ngadenge tapi teu ngarti!"
(Ngomong apa sih? Aku dengar tapi ngga ngerti)
"Kenapa kamu ketawa-ketawa? Aku tanya kenapa kok cepet minta tolong buatin teh ke Bia?"
"Hehehe tos di siapkeun ku manehna Ndan!"
"Bisa di transelet pake basa Jerman ?", ledek Febri.
"Hahaha komandan pagi-pagi udah ngelawak aja! Maksudna teh, neng Bia udah nyiapin minumannya. Saya mah tinggal ngambil."
"Oh ya?", tanya Febri heran.
"Heum! Neng Bia denger kita ngobrol tadi, apalagi mas Febri bersin Mulu. Makanya sama neng Bia di buatin ini nih. Teh jahe!"
"Jangan cuma di lihat Ndan, ngga bakal kemana-mana juga gelasnya. Saya juga di bikinin, nih!', Cecep mengangkat gelasnya.
Febri mendengus kesal karena ledekan cecep.
Semoga perasaan gue aja sih yang salah! kok kayanya antara mereka masih ada sisa rasa gitu ya??? Ckkk...mikir apa sih gue? Neng Bia kan masih istri nya kang Alby! Cecep menggelengkan kepalanya menolak pemikiran nya barusan.
"Aku ngga nawarin apa-apa ke kamu Cep. Ngapa kamu geleng-geleng?", Febri mengangkat satu alisnya, curiga!
"Teu!", sahut Cecep singkat. Setelah itu keduanya terdiam.
"Ya udah kalo kamu mau pulang ya ngga apa-apa cep. Katanya kamu ada tugas ke kabupaten?"
"Heheh iya, lupa saya Ndan!", kata Cecep cengengesan.
"Makasih ya, udah nemenin saya."
"Iya, saya mah cuma takut aja kalo komandan lepas kontrol. Nanti malah ikutan nginep di Sono!", Cecep menunjuk rumah Bia dengan dagunya.
"Astaghfirullah! Kok kamu tahu sih cep!", Canda Febri.
"Eh??? Beneran gitu Ndan?", Cecep bangkit dari bangkunya.
"Hahahaha bercanda kali cep!"
"Iya, saya juga tahu kalo komandan bercanda. Ngga mungkin dong, seorang pria sejati mau merebut istri orang? Ya kan? Kita ini prajurit penjaga keamanan negara tercinta. Tapi ngga salah juga sih, jaga istri tetangga hahahaha!"
__ADS_1
"Sialan koe cep!", umpat Febri. Sedangkan Cecep sudah lebih dulu berlari menuju ke rumah nya.
Hari sudah mulai terang. Aku mencoba memasuki kamar Mak yang gak terkunci. Maaf ya Mak, Bia ngga sopan! Monolog ku!
Aku membuka lemari pakaian Mak. Ada laci rahasia di bawah lemari. Aku membuka tutupnya.
Benar saja, ada banyak dokumen keluarga yang tersimpan di sana. Termasuk BPKB motor matic ku.
Aku mengambil dokumen yang aku butuhkan untuk mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan agama kota ku. Saat di perjalanan menuju ke kampung, aku sempat searching apa-apa saja yang aku butuhkan.
Ternyata, buku nikah ku ada di rumah. Lalu, waktu Alby menunjukkan pada ku saat itu....
Itu artinya...buku itu bukanlah buku nikah ku dan alby. Mungkin saja itu milih Silvy!
Ckkkk...bodoh sekali aku! Gampang sekali di bohongi oleh suamiku yang sudah mengkhianati ku, yang kata nya....tak berniat dan tak bermaksud entah apa...lah itu....
Setelah terkumpul, aku membawanya ke kamar ku. Ku simpan dalam tas kain yang biasa di dapat saat pulang kondangan. Lumayan!
Usia menyimpan dokumen itu, aku bermaksiat ke warung. Setidaknya, aku bisa membuat sarapan untuk ku dan mas Febri. Aku akan segera pulang kampung siang ini. Lebih cepat lebih baik bukan? Aku hanya takut tiba-tiba Alby sudah sampai di sini seperti yang sudah-sudah.
Aku berjalan lewat pintu belakang. Aku tak melihat keberadaan Febri di teras. Mungkin dia sudah berada di dalam. Tujuan ku saat ini adalah warung. Ya, aku ingin membeli sayuran.
"Assalamualaikum Wa!", sapaku.
"Walaikumsalam, eh...neng Bia? Dugi iraha?"
"Kamari peting wa!"
(Kemaren sore)
"Sorangan? jeng Alby Lin?"
(Sendiri? Sama Alby bukan)
"Sorangan wa"
Setelah itu, hanya obrolan tentang barang belanjaan ku yang terdengar. Tak sampai lima menit, aku sudah sampai di rumah. Tak banyak masakan yang ku buat. Yang penting untuk sarapan aku dan.... Febri!
Ya Allah....salah ngga sih aku ini??? Tapi serius ya Allah, aku hanya ingin membalas kebaikan Febri saja kok. Ngga lebih!
Aku mengantar makanan untuk Febri saat Febri baru saja keluar dari rumahnya sudah dengan seragamnya.
"Lho, nduk?", sapa Febri.
"Sarapan mas. Maaf aku cuma sempet masak itu aja!"
Ku letakkan rantang makanan ku.
"Kok repotin awakmu nduk?!"
"Ngga repot kok. Di makan ya!"
"Iya Nduk makasih ya!", ucap Febri. Aku pun meninggalkan halaman rumah Febri.
Ya Allah, gimana menurut kalian hey para pembaca? Aku dan Febri pernah hampir 'itu' bahkan sering dan berulang. Tapi kami tak di pertemukan dalam hubungan yang halal. Harusnya aku malu saat bertemu dengannya bukan???
__ADS_1
Tapi kenapa aku masih penuh percaya diri berada di hadapan nya?? Meskipun aku sudah bertaubat dari kesalahan masa laluku bersama Febri dulu, tapi kan....kami tidak mungkin lupa?????