Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!
Eps 9


__ADS_3

"Mak, sarapan udah bia siapin. Nanti Mak tinggal makan ya. Jangan lupa minum obatnya, ingat Mak ngga usah ngapa-ngapain. Kerjaan udah Bia beresin. Pokoknya Mak istirahat, Mak ngga...."


"Ngga boleh capek-capek. Gitu kan?", tanya Mak menghentikan ucapan ku.


Aku pun tersenyum.


"Neng, Mak ngga apa-apa kok. Tenang aja sih! Timbang nyapu bari nungguan pilem mah gampang!"


"Hahaha Mak mah mood booster Bia banget pagi-pagi gini!", kataku.


"Tos ...gera init, neangen cicis anu loba. Ngke pameliken Mak pesawat!"


(Udah sana berangkat, nyari duit yang banyak. Nanti beliin Mak pesawat)


"Hahah Mak mah ....!", aku menggelayut manja pada Mak ku.


"Ya udah Mak, Bia berangkat dulu ya. Jangan jauh-jauh dari hp ya Mak. Biar kalo ada apa-apa gampang hubungin."


"Beres neng!", sahut Mak.


"Assalamualaikum!", pamitku.


"Walaikumsalam."


Aku pun berjalan menuju rumah teh Salamah, kakak dari kang Cecep.


Sedikit ragu-ragu aku melewati rumah Wa Mus. Takut saat aku lewat, mas Febri keluar. Aku memilih menundukkan kepala ku saat melintas di depan rumah itu.


"Bia....!", panggil Febri pelan tapi masih bisa ku dengar karena ini masih setengah enam pagi. Belum ada kebisingan apa-apa di jam segini.


Aku pun mengangkat kepala ku, mencari sumber suara itu.


Deg!


Mata kami saling beradu saat ini. Tapi buru-buru aku memutus pandangan kami.


"Jadi, Saiki koe wes rabi nduk?",tanya Febri yang mendekat padaku.


(Jadi , sekarang kamu sudah menikah Nduk?)


Aku menghela nafas panjang.


"Ya! Permisi mas!", sahut ku singkat. Tapi Febri mencekal tanganku.


"Kenapa kamu menghilang dan pergi begitu saya Nduk!", tanyanya. Ku coba lepaskan cengkeraman tangan Febri dari pergelangan tangan ku.


"Maaf mas! Kita bukan mahram!"


Febri pun melepaskan cengkraman nya.


"Jawab aku Nduk. Kenapa kamu ninggalin aku begitu saja? Apa demi suami mu sekarang ini?", cerca Febri.


"Maaf mas! Permisi!", aku pun mempercepat langkah ku menuju rumah teh Salamah. Setelah memastikan dia tak mengikuti ku, aku bisa bernapas lega.

__ADS_1


"Assalamualaikum!", aku memberi salam saat samping di pintu dapur teh Salamah. Tapi ternyata di sana sudah ada beberapa tetangga.


"Walaikumsalam, asup neng geulis!", kata salah seorang yang sedang duduk di depan tungku.


Aku pun menuruti masuk ke dapur.


"Maaf , Bia telat ya bik!"


"Emangnya teh lagi sekolah, ya teu nanaon neng. Urang ge paham, pan Mak Titin kudu di urusin heula."


Aku tersenyum mendapati jawaban dari bibik tetangga.


"Bia bantu apa nih bik?", tanyaku.


"Masak sayur sama goreng ayam aja neng!", sahut salah satu tetangga ku lagi.


"Asssiapppp....!", jawabku.


Kami bercanda ala-ala Mak. Ya.... sedikit banyak aku tahu bahasa mereka lah, meski tak faseh mengucapkannya.


Ponsel ku bergetar. Ada chat masuk dari suamiku, seperti biasa. Say Hay pagi sebelum memulai aktivitas.


Menjelang dhuhur, aku ijin pulang untuk solat sekalian melihat Mak. Aku tak perlu takut lagi melintas halaman rumah kontrakan Febri, karena jam segini pasti dia sedang berdinas.


"Mak...kernaon?", kataku sambil masuk lewat pintu dapur. Tak ada sahutan apa pun.


Kulihat meja makan sudah bersih, berati Mak sudah makan. Ku ketuk pintu kamar Mak, tapi tak ada jawaban. Akhirnya aku membuka perlahan. Ternyata Mak sedang tidur siang. Aku mendengar dengkuran halus dari mulut nya. Pasti beliau sudah minum obat, makanya dia sudah tidur pulas.


Aku pun mengambil wudhu lalu mendirikan empat rakaat ku. Selesai solat dhuhur, aku kembali merapikan meja makan. Tadi aku bawakan emak makanan dari rumah teh Salamah untuk sekedar cemilan sore hari buat Mak minum teh nya.


Waktu pun bergulir cepat. Ternyata Mak menyusul ku ke rumah teh Salamah.


"Mak, kok nyusul?", tanyaku menghampiri nya.


"Mak kesepian neng dari pagi maneh pergi!"


Aku dan para tetangga pun tersenyum. Lalu ku persilahkan Mak duduk. Teh Salamah dan ibu nya pun menyambut kedatangan Mak.


.


.


Febri


"Ndan, bada magrib ke rumah saya ya!", kata Cecep.


"Ada acara apa?", tanyaku.


"pengajian peringatan setahun meninggalkan bapak Cecep Ndan!",sahut Cecep.


"Insyaallah cep, tapi rumah kamu yang mana sih?"


"Hahaha...nanti jalan aja ke depan Ndan. Keliatan kalo ada rame-rame bada mah, berati rumah saya."

__ADS_1


Aku pun mengangguk.


"Cep...!"


"Ya Ndan?"


"Saya mau tanya, tapi...tolong jangan berprasangka yang tidak-tidak."


"Tanya apa Ndan?"


"Bagaimanapun kehidupan Bia selama di sini?"


Cecep memandangi ku sesaat.


"Maksud komandan gimana?"


"Maksud saya tuh, apa dia terlihat bahagia dan semua kebutuhannya tercukupi? Ya...saya...saya...."


"Ndan. Ini udah jam pulang kantor kan?"


Aku pun mengangguk.


"Teh Bia sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang Ndan. Kang Alby memang kuli bangunan beberapa waktu. Tapi sekarang dia merantau ke kota, jadi supir pribadi katanya. Setahu kami, dilihat dari kacamata kami sebagai tetangga. Kehidupan rumah tangga mereka terlihat harmonis. Mungkin uang bukan segala-galanya bagi mereka. Apalagi Mak Titin kan sakit, pasti mereka banyak pengeluaran."


"Teh Bia suka bantu tetangga yang butuh jasanya. Masak misalnya. Kaya sekarang, teh Bia masak di rumah saya. Atau... kemarin, dia yang bebersih rumah kontrakan komandan."


Aku terperangah sesaat.


"Apa sebegitu kekurangannya Cep, kenapa dia memilih pekerjaan yang ...."


"Teh Bia ngga pernah mematok berapa tarif tenaga nya. Jika dia bisa bantu ya bantu, kalo tidak ya tidak. Tapi emang dasar nya teh Bia baik dan ramah ke semua tetangga kok."


"Kalo kamu tahu Cep, bahkan di kampung nya dia bisa menyewa jasa art. Tapi di sini???"


"Saya ngga tahu ada masa lalu apa di antara kalian, yang saya tangkap di sini. Anda masih berharap sama teh Bia?"


Aku pun terdiam. Mau mengiyakan ragu, mau menjawab tidak pun aku membohongi perasaanku sendiri.


"Ndan, teh Bia sudah berumah tangga. Jadi, kalo boleh saya bilang mah jangan usik kehidupan rumah tangga teh Bia. Insyaallah dia udah bahagia dengan kehidupannya bersama kang Alby."


"Kamu tahu Cep, saya sama Bia lima tahun pacaran. Sejak Bia kelas dua SMA sampai saya selesai pendidikan pun kami masih bersama. Tapi saya ngga tahu kenapa tiba-tiba dia ngilang gitu aja. Bahkan keluarga nya tidak ada yang mau memberi tahu saya keberadaan nya. Pernikahannya pun saya ngga tahu. Sampai saya terkejut kok kami bisa ketemu di sini!"


Cecep menatap iba pada atasnya.


"Saya menikah sama almarhum istri saya karena di jodohkan, meski pada akhirnya kami berpisah seperti sekarang."


"Tapi Ndan...semau sudah berubah. Teh Bia sudah memilih jalannya sendiri."


"Saya ngga ada niat buat ganggu hubungan mereka selama Bia bahagia Cep."


"Komandan harus move on!", kata Cecep tersenyum.


"Maaf, saya jadi curhat sama kamu!"

__ADS_1


"Santai aja Ndan!", kata Cecep. Aku pun menepuk bahu Cecep. Kami bersiap pulang karena memang sudah jadwal pulang kantor.


__ADS_2